"SEKARANG!"
Dan dengan cepat Gen, Elves dan Ruve menghunuskan senjata mereka masing masing tepat ke jantung musuh Dona itu.
Panah Elves menembus jantung pengikut Lori, dan kesepuluh rantai Ruve juga tak ketinggalan ikut menghabisi sisanya.
Gen yang akan menusuk jantung Lori, berhasil Lori tahan, dengan gesit ia mengayunkan pedangnya pada Gen. Gen menghindar cepat. Dentingan pedang terdengar nyaring.
"Hurgh!"
"RAGH!" Sayatan di lengan Gen. Ia lengah. Ia akui lawannya ini cukup tangguh. Tawa terkekeh terdengar dari Lori.
Gen menatap sengit, sebagai ras ular, ia peka terhadap sekitar, Gen menemukan cela nya. "Anak muda kau terlalu dini untuk mengungguli ku!" Kata Lori meremehkan.
"Bahkan sekelas Paldo saja bisa kubunuh dengan mudah" Gen biarkan Lori mengoceh. Ia bersiap dalam diamnya. Dan …
Pedang Gen menghunus jantung Lori, dengan menembus liontin semerah darah yang tergantung di dadanya itu pecah berantakan, Liontin yang tersimpan jantung asli Lori.
"Heh pak tua, kau terlalu sombong untuk ukuran penyihir hitam yang bisa merasakan pedangku" Mata Lori melebar, nafasnya sesak, tidak ada udara di sekitarnya. Dan putus. Ia tersungkur dengan Gen mencabut pedangnya.
Penyihir hitam tak semuanya jahat dan kejam, namun mereka memiliki dark side tinggi dan jangan mencoba mengusiknya. Dan membunuh di BlackMud adalah sesuatu yang dipandang biasa.
Sama halnya saat kasus Paldo, Suami Dona, ia meminta keadilan namun tak ada satupun kalangan atas memperdulikannya, Dan yang membuat Dona semakin terpuruk, kebanyakan kalang atas itu berteman dengan suaminya, relasi kerja suaminya. Racun, Racun yang suaminya racik menjadi langganan para kelas atas.
"Kau tahu Dona merekalah yang melenyapkan suamimu!" Suara Lori terdengar.
Tubuh Lori yang segar seketika berubah keriput, dan kurus kering, meninggalkan kulit dan tulang lalu menjadi abu, terbang terbawa angin, Yang tersisah dari Lori adalah Liontin merah yang pecah.
Perubahan yang membuat Ruve dan yang lainnya tak percaya ini terjadi. Sihir awet muda.
Dona tak peduli siapa yang menyuruh Lori membunuh Paldo namun, yang ia tidak percaya adalah Lori menyanggupi untuk membunuh anaknya sendiri. Lori adalah mertua Dona. Ayah dari Paldo. Sekejam apa lelaki itu bisa menghabisi anaknya sendiri.
Asap muncul dari liontin Lori. Asap itu membumbung membentuk tubuh manusia. Lelaki. Ia menatap Dona dengan senyuman hangat.
"Sayang" lirih Dona ia perlahan mendekat ke gumpalan asap itu.
"Aku tahu, aku akan bertemu denganmu, ini sudah takdir, aku tahu mereka akan datang dan akan membawamu keluar dari desa yang tak kau sukai ini" Dona hanya menggeleng, air matanya luruh, ia tak percaya dirinya bisa memegang tubuh Paldo, Suaminya.
"Jangan tinggalkan aku" Dona berharap, Namun Paldo tak menjawab, suaminya itu hanya tersenyum dengan tangan yang menangkup tubuh istrinya. Dengan jemari ia mengusap air mata dipipi sang istri.
"Jika waktunya tiba aku akan menjemputmu, tapi tidak sekarang." Tubuh Paldo perlahan menjadi asap dan menghilang.
"Kalian aku beri kuasa untuk ladangku, terima kasih" Paldo berucap dengan menatap Elves, Ruve dan Gen.
"Aku mencintaimu, Dona" Dona menggeleng keras, Paldo tersenyum sangat tampan, ia berubah menjadi asap dan hilang. Ternyata selain menyimpan jantung aslinya pada liontin merah itu, ia juga menyimpan sumber kekuatan yang ia ambil paksa dari Paldo didalamnya.
Dona menatap langit, ia mengusap air matanya, dalam hati ia menantikan hari dimana nanti Paldo akan menjemputnya.
***
Perjalanan ke ladang Mopia milik Paldo, ternyata tak terlalu jauh dari tempat mereka bertarung, mereka memasuki barier yang Paldo buat. Takjub, pada pemandangan yang mereka lihat, disana Mopia hitam memenuhi ladang.
Disudut mereka melihat pondok, yang tak terlalu besar, tapi nyaman, Dona memang tak pernah Paldo ajak ke ladangnya, karena tak ingin istrinya terlibat dengan orang yang mengincar suaminya.
"Aku tak pernah tahu kamu membangun ini" Dona yang berucap sendiri. Disana ia menemukan banyak potret dirinya dan suaminya.
Disana juga ada aliran sungai. Tepat berdampingan dengan bangunan pondok, dan juga satu pondok lagi yang berada tak jauh dari pondok satu.
Elves masuk kedalam, ia melihat banyak alat yang ia kenal di dalamnya. Alat membuat ramuan. Ada pengering, juga alat menjadikan bubuk, ia tak sabar ingin mencobanya.
Dan diladang itu bukan hanya ada Mopia tapi ada berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Dona baru tahu suaminya selalu mendapatkan sayur dan buah dari ladang yang ia tanami sendiri. Dona kira suaminya selalu membelinya.
Ia melihat catatan yang suaminya tinggal. Catatan perkembangan sayur yang ia minta. Kembali ia meneteskan air matanya. Ia bisa merasakan rasa suaminya dalam setiap goresan pena yang suaminya tulis di dalam catatanya itu.
Dona memeluk erat catatan itu.
Ruve menghabiskan dua hari tinggal di ladang Paldo. Dona memutuskan ia akan tinggal dalam ladang ini saja. Tempat dimana suaminya menghabiskan waktunya.
Mungkin ia akan sesekali ke rumahnya untuk mengambil barang-barang yang tak ada di dalam pondok Paldo yang berada di ladang.
Ruve dan yang lain bersiap melanjutkan perjalanan. "Kalian akan susah keluar dari BlackMud, aku akan memberi kalian mantra agar kalian tak dikerjai oleh para penyihir jabil yang kalian temui nanti. Aku mendapatkannya juga dari Paldo"
"Saat masih hidup, Paldo mendapatkan tamu dari kaum elf," Dona menatap Elves.
"Namun Paldo mengusir tamunya, aku tak tahu apa yang terjadi, yang aku tahu suamiku tampak marah kala itu"
"Kau bisa ingat namanya?" Dona mengernyit, ia kembali membuka memori dalam otaknya, lalu menggeleng, "Maaf otak tua renta, tak ingat, kejadian sudah lama sekali aku teringat setelah melihat kuping runcing mu"
"Tak mungkin juga Hudson kemari saat itu, untuk apa"
"Ah salah satu dari mereka ada yang bernama Hudson"
"Apa seperti ini?" Elves memberikan potret Hudson. "Ya sepertinya, ada namun dengan tubuh yang agak lebih kurus, maaf aku hanya mengingatnya samar" Dona merasa penasaran.
"Ada apa? Kalian kehilangannya?" Ruve mengangguk.
"Lebih tepatnya kami mencari penculik, Lavender adik Elves diculik oleh Hudson" Dona merasa kasihan namun ia juga tak bisa membantu banyak.
"Perjalanan kalian ini untuk mencari adik Elves?" Tanya Dona. "Juga mencari batu kristal" Ruve bersuara lagi.
"Yang aku tahu, Dragon eye tempat kristal-kristal berada, tapi sayang tak banyak yang tahu dimana keberadaan Dragon eye, tentu tempat berharga itu disembunyikan"
Mereka sudah keluar dari ladang Mopia milik Paldo dan Dona. Perbekalan pun semakin banyak. Elves puas menggunakan fasilitas yang Paldo miliki. Ia membuat banyak bubuk untuk ramuan obatnya.
Mereka melewati jalanan yang berbeda, mereka menemukan peta BlackMud milik Paldo. Dan dengan izin Dona mereka membawa bersamanya. Mereka sampai di persimpangan jalan.
"Kemana selanjutnya?" Gen bertanya. Ia menunggu sang pembawa peta.
Ruve membaca petanya, ia menjadi bingung. Menggaruk kepalanya. Membolak-baliknya. Ia tetap tak mengerti. Elves merebut petanya dan "Kekiri" dan kembali melanjutkan perjalanan. Ia sudah menghafal sebagian peta itu.
Elves menatap tajam Ruve yang menyengir memperlihatkan gigi ratanya. Dan melempar peta Paldo.
Sengatan terasa di punggung mereka, mereka saling melirik, ada kelompok jahil sepertinya. Para penyihir hitam yang akan menyerang mereka.
Mereka menggunakan sigil Paldo. Dan menyalurkannya pada senjata mereka masing-masing. Kembali mereka bertarung. Bunyi besi terbentur besi. Beberapa si jahil membawa batang kayu besar. Kelompok penyihir hitam ini bertudung.
Siap mengebuk apa saja. Dan dengan rantai hitamnya Ruve meraih kayu-kayu itu lalu melemparnya menjauh.
"Hargh!" Teriakkan menghiasi bercampur dengan dentingan besi nyaring.
Elves melepaskan busur panahnya. Ia ingin melihat tampang mereka. Busur Elves mengenai tudung salah satu dari mereka.
Namun dengan cepat ia berpaling. Rambut bergelombang panjang dengan warna madu menutupi wajah si jahil. Wanita pikir Elves.
Wanita itu kembali menggunakan tudungnya. Namun Elves menangkap kuping wanita itu, sama dengan kuping rasnya. Wanita itu menatap dari balik tudungnya sekilas sebelum melarikan diri dengan kudanya.
Matanya tak akan salah, itu dia, Lavender. Adiknya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Emak
nyesek, kasihan dona🥺
2023-01-11
0