Ruve, Elves dan Gen berada di pondok milik wanita tua yang mereka tolong. Setelah Elves memberikan ramuan stamina dan juga air, beberapa saat wanita itu mereka baringkan di bawah pohon sekitar tempat ia ambruk.
Mereka menunggu hingga wanita itu pulih. Baru Gen menanyai dimana wanita tua itu tinggal, mereka akan mengantarkan.
Dan disinilah mereka. Wanita tua itu bernama Dona. Dona menjamu mereka makan malam. Pondok wanita tua itu juga besar.
Dona mengeluarkan berbagai cemilan yang ia punya. Dan ia kembali berkutat di dapurnya. Ruve ingin membantu namun tolakan kencang terdengar dari kedua lelaki yang berada di samping-sampingnya.
Dona mengerutkan kening. Dan ia menerima bantuan Ruve. Bukannya membantu Ruve malah mengacaukan dapur Dona.
Dona seorang wanita tua tinggal di hutan dengan pondokan besar sendiri. Tentu tamu membuat suasana rumahnya ramai. Dan ia suka itu.
Sudah lama sekali ia tak menerima tamu.
"Kalian dari mana?" Tanya Dona menyantap daging panggangnya ia melihat Gen menikmati daging rusa panggang itu dengan lahap.
"Kami dari Mymaba, sedangkan dia dari kerajaan Elf"
"Apa yang membawa kalian kemari? Aku rasa cukup jauh dari desa kalian, aku pernah kesana dulu" Dona melihat Gen, ia mengingatkannya pada sang anak yang telah tiada. Sendu tapi ia tepis dengan senyuman.
"Enak?"
"Enak sekali, Dona, sudah lama aku tak memakan daging rusa. Rasanya lembut" Dona tersenyum,
"Makan yang banyak" Dona meletakkan beberapa iris daging pada piring Gen.
"Kami mencari bunga Mopia, dan kata orang-orang yang kami tanya, bunga itu banyak di desa BlackMud." Ruve menimpali. Ia menuang sangria yang Dona buat. Manis buah menghangatkan. Sangat enak ia suka.
"Untuk apa kalian mencari Mopia? Kalian penyihir jahat kah?" Dona menatap mereka curiga.
"Bukan! Kami tidak menggunakan untuk kejahatan" Elves yang giliran mencela, ia tak ingin membuat Dona yang baik hati mau menampung mereka ini salah paham.
"Kami menggunakannya untuk pengobatan, penyembuhan" Kambali Elves menjelaskan. Memang benar adanya mereka memang menggunakan Mopia untuk mengembalikan kekuatan Ruve, berarti itu untuk pengobatan kan? Ia tak bohong.
"Pengobatan" Guman wanita tua itu.
"BlackMud? Kalian sudah berada di BlackMud saat ini" lanjutnya saat menyesap sangria miliknya.
"Maksudnya kami telah berada di desa BlackMud?" Dona mengangguk. "Dan suamiku memiliki ladang bunga Mopia" bagai angin segar ketiga tamu Dona itu tersenyum sumringah.
"Bisa bawa kami bertemu suamimu" Rive menyambar. Tak menyangka sangat mudah mendapatkan bunga Mopia.
"Sayangnya ia telah meninggal" Dona menatap ketiga nya raut wajah yang Dona tampilkan sendu.
"Maaf kami turut berduka"
"Oh tak apa anak muda, itu peristiwa lama, dan untuk ladang itu, aku tak mengurusnya lagi, entah jadi apa, tapi jika kalian mau aku akan mengantarkan kalian, besok." Dona melakukannya untuk balas budi, para anak muda itu menolongnya.
"Ramuan apa yang kau beri padaku anak muda?" Ia melihat Elves.
"Hanya ramuan stamina, dan air saja, dehidrasi dan perlu banyak minum" Dona tersenyum,
"Maklum orang tua, bisa kau ajar kan aku membuatnya, entah mengapa setelah meminum ramuan mu, tubuh rentah ini semakin ringan" Elves mengangguk, karena tanaman untuk meracik ramuan ini sangat mudah didapat.
"Baik, sekalian besok saat kau mengantar kami ke tempat Mopia." Elves begitu mudah memberikan ramuannya pada Dona sedangkan Ruve harus memohon dan hingga kini, tak pernah sekalipun Elves mengajarinya.
Ya karena Elves berada di sekitarnya dan ia tinggal meminta Elves akan membuatkannya. "Aku sudah menyiapkan kamar kalian, ayo aku antar" Sona menaiki tangga dan menunjukan pintu pertama untuk Gen dan pintu kedua "Ini untuk kalian" Dona membukakan kamar kedua.
"Kalian?" Ruve mengkonfirmasi apa yang ia dengar barusan. Dona mengangguk. "Kalian pasangan kan?"
Ruve akan mengelak dan meminta satu kamar lagi tapi Elves lebih dulu menyelanya, dan membekap mulut Ruve "Iya benar kami pasangan, terima kasih atas makan malam yang lezat, Dona, selamat malam" Elves menggiring Ruve masuk ke kamar. Tanpa wanita itu bisa memprotesnya.
Dona hanya menggeleng, "dasar anak muda" ia turun menuju kamarnya.
Dibalik pintu, mereka melihat satu ranjang besar dengan satu lemari dan kamar mandi, Membuat mereka terdiam.
"Apa-apaan! Kenapa kau membekap mulutku, aku kan ingin meminta kamar satu lagi" cerocos Ruve.
"Sudah lah tak usah malu, kita sering menghabiskan malam dalam satu ranjang kan" Elves menuju kamar mandi.
Pipi Ruve memerah teringat beberapa kali ia menjumpai wajah Elves saat membuka mata dipagi hari. Suatu ketika ia menganggap itu hanya mimpi, Ruve memainkan jarinya pada wajah Elves, mengagumi keindahan rupa ras itu.
Saat tanganya ditangkap, dan mata pemuda tampan itu terbuka ia sadar bahwa ia tak sedang bermimpi. "Aku tahu kau suka diriku, tapi aku tetap menunggu kau taklukkan" Elves menarik jemari Ruve dan mengecupnya.
Dan bukannya membuat Elves jatuh padanya malah Ruve yang terkena mantra pemuda itu dan jatuh berkali lebih dalam pada netra hazel terangnya yang terkena sorot sinar matahari pagi.
Wajahnya seperti kepiting rebus sekarang. Ia mendengar pintu kamar mandi yang terbuka. Dan tanpa kata, Ruve menerobos masuk ke dalam sana. Ia butuh air untuk mendinginkan kepalanya yang akan meledak karena malu.
Lama di kamar mandi Ruve keluar, tadinya ia ingin tidur dalam kamar mandi tapi, sepertinya sangat tak mungkin, selain basah ternyata udara semakin dingin.
Ruve berjalan lambat ke dekat ranjang. Elves telah menyisakan tempat untuknya. Udara dingin membuat Ruve mengalah. Ia duduk dipinggir ranjang.
Ia terlentang, diam dengan mata menatap langit-langit. Angin dingin masuk dalam cela dinding kayu, dingin menusuk
Ia melirik Elves yang tidur terlentang di sampingnya dengan selimut tebal dan hangat. Ruve tak tahan, perlahan tapi pasti ia memasukkan kakinya pada selimut yang Elves kenakan.
Ia merasa hangat, dan Ruve mencoba memasukan satu lagi kakinya. "HGRH!" Elves tersentak, kaki dingin Ruve mengenai tubuhnya.
"Kau mandi lama sekali" Elves mengerjapkan mata, ia mendudukkan tubuhnya. Dan selimut itu melorot. Ruve dengan cepat mengalihkan wajahnya. Elves topless.
Elves kembali berbaring, ia mendekatkan diri pada Ruve dan memeluk juga mengeratkan selimutnya. Mereka berpelukan di bawah selimut yang sama.
Tak bisa, tubuhnya menjadi panas. "Kau berpakaianlah" desis Ruve, tapi Elves tak mendengarnya. Ia telah merasa nyaman dan hangat. Dan Elves lebih mengeratkan pelukakannya.
Tak ada jalan, biarlah ia kedinginan, daripada tubuhnya panas. Ia ingin melepaskan diri namun kaki Elves memenjarakan kakinya.
Segala usaha ia kerahkan namun kekuatannya tak bisa membuka cengkraman Elves. Alasan! bilang saja kau mau dipeluk, pakai alasan tak bisa lepas! Setan dalam batin nya berkata, Diam! dirinya menimpali si setan itu.
Wajahnya semerah tomat, dengan bibirnya melipat, ada rasa tak rela jika dekapan Elves ia lepas. Nah kan! Ruve tak mengindahkan perang batinnya. Ia sibuk menenangkan diri, malam ini, sekalipun ia tak bisa memejamkan mata hingga pagi menjelang.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments