Tubuh Elves merulur ditanah, ia merasa kecolongan. Ia gagal, tak bisa merasakan energi portal yang dibuat oleh Hudson. Harusnya ia bisa merasakan energi Portal itu.
"Ba jingan! Be rengsek! Sialaan kau Hundson! Siaall! Siall!" Elves menghantamkan kepalan tangannya ke tanah.
"Lav, maafkan kakak" lirihnya,
Ruve mendekati Elves memberikan pelukannya.
***
"Gen!" Seru Ruve.
"Wanita ini! Kau kemana saja! Kau tak tahu Gma hampir saja mengusirku! Auch!" Kepala Gen dipukul centong sayur oleh Gma Mima.
"Astagaa sayang ... " Gma memeluk Ruve, Ia melirik tajam Gen, "Kau! Diamlah, sana siapkan meja makan, sebentar lagi makan malam" Gen melotot tak terima, ia masih mengusap kepalanya yang nyeri akibat centong kayu itu.
"Yang cucu kandung itu siapa sebenarnya" gerutu Gen.
"Tunggu!" Gen yang menghentikan langkahnya melihat sosok tinggi di belakang Ruve.
"Lalu siapa lelaki dibelakangmu itu Ruve?" Alis Gen menukik tajam melihat ke arah Elves.
Ingatan Ruve kembali pada kejadian dimana Elves menatap Ruve yang sedang berkemas. Ia akan kembali ke Bymaba dan mencari batu kristal.
"Ruve, Bawa aku" Ucap Elves pada Ruve, membuat tubuh Ruve terdiam di tempat. Ia menengok ke arah lelaki itu berdiri.
"Mmm … tapi … aku memang mencari batu kristal, aku tak yakin batu yang aku cari ada disana"
"Aku yakin batu kristal yang kau cari itu pasti berada disana, Dragon Eye, batu yang Lelaki itu inginkan adalah kunci untuk ke tempat itu.
Disana pusat kekuatan kristal. Kekuatan yang menyeimbangkan dunia kita"
"Aku yakin batu yang kau cari ada disana" Elves terlihat lebih tenang, tapi pancaran matanya berbicara lain, adanya kemarahan dan keinginan kuat untuk membunuh disana, dan sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Dan Ruve tak tahu sebesar apa sisi gelapnya akan membawa Elves untuk masuk. Dendam.
Ruve memikirkannya, keuntungan untuk dirinya. Dengan Elves ikut dengannya, ia tak perlu lagi mengemis ramuan dan ide gila melintasi kepala wanita dengan rambut sebahu itu.
"Oke, kita buat kesepakatan, aku punya dua syarat" Rube berdiri dengan percaya diri didepan Elves. Elves menunggu.
"Gimana kau setuju?" Cengiran menggoda terbit di bibir Ruve.
"Apa kesepakatannya?" Elves tak sabar.
"Satu, aku ingin ramuan itu," Ruve tersenyum licik,
"Aku akan membuat sebanyak apapun yang kau minta" jawab lugas Elves.
"Dan yang kedua?" Lanjut lelaki itu. Ruve mendekatkan dirinya pada Elves. Ia mendudukan pemuda itu pada batu didekatnya. Ruve bergerak lambat mendekatkan wajahnya pada wajah pemuda elf itu.
"Kau benar seorang pangeran?" Ruve sengaja menjeda ucapannya tentang syarat keduanya, ia ingin menikmati memandang wajah tampan dengan mata coklat terang itu.
Elves mengangguk. Sebagai jawabannya.
Kulit yang putih, mata tajam dengan bola mata indah, bibir yang merah. Bulu mata lentik yang membuat Ruve iri. Mata Ruve menjelajah wajah Elves. Ia melihat garis rahang yang seakan minta dikecup.
Elves merasa tak nyaman. Adam apel nya naik turun, dan membuat Ruve melipat bibirnya. Mata mereka saling bersiborok. Jarak wajah mereka hanya sejengkal.
"Apa syarat keduanya?" Serak, suara Elves kembali ia menelan salivanya. Dan Ruve senang melihat kegugupan Elves. Ruve lebih mendekat pada wajah Elves. Sesenti lagi bibie keduanya bisa bersentuhan.
"Kau jadi kekasihku" bisik Ruve didepan bibir Elves. Kacau. Hormon ingin kawin, seakan terpompa tinggi. Membuat Ruve menjadi liar dan tak terkendali.
Elves sudah bisa menormalkan kegugupannya, terimakasih pada syarat kedua dari Ruve. Gugupnya hilang begitu saja begitu mendengar tentang kekasih dan percintaan tak ada dalam kamusnya saat ini.
Terkejut. Ini pilihan sulit bagi Elves, ia sama sekali tak berniat dengan hubungan. Tapi ia membutuhkan bantuan Ruve, untuk mencari sang adik. Elves terdiam lama. Ruve mencoba menunggu. Ia yakin pemuda elf itu akan menolaknya lagi.
Elves melirik Ruve, wanita di depannya ini sepertinya serius terhadapnya. Keputusan yang akan ia ambil akan membuatnya menemukan dunia baru.
Sebenarnya Ruve hanya bergurau. Ia mengangkat tangannya dan akan menepuk pemuda di depannya yang terlihat frustasi.
"Buat aku jatuh cinta padamu!" Ucapan Elves membuat tangan Ruve menggantung. Wanita derik itu terkejut. Dan sedetik kemudian.
"Sepakat!" Pekiknya kesenangan. Ruve menarik tangan lalu menjabatnya kencang. Elves tersenyum tipis, semoga keputusannya tak salah. Matanya kembali menajam. Ia harus menyelamatkan adiknya. Dan tak akan melepaskan Hudson.
"Ah ... dia, kenalkan namanya Elves, pengikut ku, teman menjelajah, jadi kau tak perlu lagi merasa disusahkan" Ruve menepuk bahu Gen. Netra lelaki itu melebar tanda tak menyetujui keputusan Ruve.
"Nah aku disini, mau berpamitan denganmu, Gma, sepertinya aku akan memerlukan waktu lama untuk kembali kemari" Ruve memeluk tubuh renta itu. Ia sangat menyayangi keluarga ini.
"Hei! Hei! tak bisa begitu! tak bisa begitu! Aku akan ikut dengan kalian!" Gen melepas paksa pelukan Gma dan Ruve.
"Kau ini!" Gma memukul cucunya yang bertindak kasar.
"Maaf Gma, aku tak setuju dengan keputusan wanita tak tahu terima kasih ini dengan seenaknya menendangku begitu saja setelah aku menolongnya!" Kesal Gen. Ia berdiri di depan Ruve dengan tangan dipinggang. Melotot agar Ruve tahu ia tak terima.
"Oke, kalau kau ingin ikut, aku tak keberatan" Ruve menghela nafas pasrah. Dan raut wajah Gen berubah sumringah. Lalu memeluk bahu Ruve, "Nah begitu!"
"Sudah-sudah, ayo anak muda, ikut makan bersama kami, tinggalkan saja, mereka akan lama, ngomong-ngomong kamu siapa?" Gma Mima mengarahkan Elves pada meja makan.
Setelah kejadian Lavender yang diculik oleh Hudson, Elves menceritakan pada Ruve tentang benda yang Hudson inginkan, benda itu adalah sebuah kunci untuk membuka portal untuk menuju kota Dragon eye.
Dragon eye adalah tempat dimana sumber kekuatan kristal yang ada didunia ini. Elves berani memberikannya pada Hudson karena ia yakin Hudson tak akan bisa menemukan dimana pintu portal itu berada. Karena dirinya pun tak tahu dimana letak lokasi portal itu.
"Bagaimana jika penjahat itu sudah mengetahui lokasi portalnya, makanya ia datang padamu"
Elves terlalu gegabah ternyata, ia tak berpikir sampai sana. Dan dari situ ia memutuskan untuk ikut dengan Ruve yang ternyata mencari batu kristal. Dan tak menutup kemungkinan batu kristal yang Ruve cari ada di Dragon Eye.
Hudson adalah sahabatnya, dulu, sebelum orang-orang mengucilkan Elves yang dianggap tak pantas menjadi pangeran yang digadang-gadang akan menggantikan Raja sekarang. Raja dunia sedang.
Rakyat yang didoktrin oleh para pemberontak untuk memilih kandidat lain, yaitu Hudson. Seorang anak pemberontak yang juga pejabat kerajaan.
Karena Elves lebih tertarik pada ilmu pengobatan dari pada jabatan di kerajaan. Semakin para rakyat memojokkannya.
Para pemberontak menyebarkan rumor bahwasanya pangeran Elves tak kompeten menjadi seorang Raja.
Raja harus tangguh dan berani bak ksatria yang melindungi kerajaan dan rakyat. Dan rakyat yang gampang terhasut itu tak melihat bahwa Elves tangguh. Mereka tak tahu saja.
Dunia sedang adalah dunia para Elf yang berada diantara dunia atas dan dunia bawah.
Jika dunia atas dijaga oleh Ratu Putih, dari ras serigala dan dunia bawah dijaga oleh Raja Lycan. Dan dunia tengah dijaga oleh Raja Elf.
Atas dasar memiliki tujuan yang sama. Mereka melakukan kesepakatan simbiosis mutualisme. Dan ya petualangan yang sebenarnya baru saja dimulai.
***
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments