"Dimana kau mendapatkan liontin ini?" Pertanyaan Greodio, ia tak percaya akan melihat liontin itu lagi.
Liontin itu menghilang bersama mendiang istrinya. Dan mustahil ada yang menemukannya.
"Kau mendapatkan dari mana liontin ini?" Ulang lelaki tua yang alisnya menungkik tajam.
"Saya menemukannya di Gunung Aranea tepatnya dalam Goa Aran" Greodio, menggenggam erat liontin itu.
"Ia sangat cantik saat mengenakan liontin ini" tatapan lelaki tua itu menerawang. Dan meluncurlah cerita masa lalunya.
"Sungguh saat itu ia hanya izin untuk mencari tumbuhan obat"
"Ia tak kembali, aku terus menunggu, dan kemudian aku mencarinya. Bertanya pada siapa saja, hingga gila, dan saat aku ke Gunung itu. Aku melihat bukunya yang selalu ia bawa, tergeletak di mulut Goa." Helaan nafas panjang dengan nada lemah. Terlihat kesedihan dalam pancaran netranya.
"Aku terus mencari hingga dalam Goa dan aku tak menemukannya. Hanya banyak sarang laba-laba di sana" Greodio mengusap sudut matanya yang berair. Ia tak kuasa, mengingat saat-saat putus asa dan terpuruk kala itu.
"Kami menemukannya di antara potongan laba-laba raksasa." Elves melihat rahang Greodio mengetat.
"Silahkan" Fanta meletakkan nampan yang berisi minuman hangat. Ia meletakkan di depan Elves. Fanta menatap pada Elves, seperti wanita itu pernah bertemu dengannya. Tapi entah ia lupa. Kemudian ia kembali masuk kedalam.
"Aku sudah menduga, karena aku tak menemukan tubuh istriku kala itu, ia lenyap seperti ditelan bumi, aku terus berdoa hingga kini jika ia masih melanjutkan hidupnya dan meninggalku saja. Tapi kenyataannya —" Tak kuat lelaki tua itu menangis.
"Oh Emmaku yang malang … "
"Emma aku mencintaimu sayang … "
"Emma … Emmakuu …. " tangisannya pecah dengan Greodio mengelus foto sang istri yang selalu ia bawa kemanapun.
Selama ini ia tak ingin memikirkan kemungkinan istrinya telah tewas, tapi ia selalu berdoa bahwa istrinya kabur darinya dan melanjutkan hidup tanpanya. Setidaknya istrinya itu masih hidup.
Perasaannya saat ini sangat buruk. Semua pengandaiannya selama ini runtuh dengan datangnya kenyataan yang selalu ia tepis. Istrinya jadi santapan hewan buas.
Elves menunggu hingga Greodio tenang. Dan setelah dirasa cukup tenang.
"Buku?" Elves bertanya, Greodio menyesap minumannya. Dengan mengusap sisa air matanya.
"Buku yang Emma selalu bawa, itu buku ramuan milik ayahnya, Emmaku sangat tertarik tentang ramuan, makanya aku selalu mengizinkannya untuk mencari tumbuhan apapun yang ia inginkan,"
"Ramuan?" Bisiknya Elves yang memang tertarik dalam dunia pengobatan pun semakin ingin tahu.
"Ia terlihat sangat mempesona saat sedang fokus pada apa yang ia sukai. Jadi aku selalu mendukungnya,"
"Tapi nahasnya kesukaan itu juga yang memisahkan kami." Greodio berjalan kearah lemari kayu, ia mengambil sesuatu disana.
Sebuah buku ada dihadapan Elves. Ia ingin sekali membukanya. "Boleh saya melihatnya?"
"Silahkan buka saja, hanya ada ramuan di dalam situ peninggalan ayah Emma, Gilberto, ia menjadi penyembuh di kerajaan Efl, mungkin sekarang Emmaku telah bersama ayahnya disana." Kembali terdengar nada kesedihan dari bibir lelaki tua itu.
"Gilberto penyembuh di Kerajaan Elf?" Elves menarik buku itu dan membukannya dan melihat tulisan didalamnya, disana juga terdapat gambar Gilberto muda dengan mengendong anak perempuan kecil. Juga bubuhan tanda tangan diujung kiri bawah buku.
Ia mengeluarkan buku kecilnya yang juga terdapat tanda tangan dari sang guru. Mencocokannya dan benar. Guru Gilberto ternyata adalah ayah dari Emma.
Ia pernah dengar sang guru memiliki keluarga di desa lain dan ia memiliki anak perempuan yang sudah menikah.
"Ah aku ingat!" Fanta mendekat ke arah Elves. Ia memegang kepala Elves. "Kau pekiknya. Kau pangeran yang selalu menyendiri itu"
"Kau mengenalnya Fanta?" Tanya Greodio. Fanta mengangguk.
"Dulu Bibi pernah membawaku ke tempat Granpa, aku melihatnya, kau anak pendiam yang selalu mengikuti Granda kemana pun kan?"
Elves terlihat bingung. Ia merasa tak pernah melihat Emma ataupun Fanta. Ia tak pernah melupakan seseorang yang pernah ia temui, apa lagi jika ia memiliki hubungan kerabat dengan orang yang ia idolakan. Gilberto, ia yang bisa membuat hari buruk Elves menjadi terang karena ia memiliki tujuan di hidupnya.
Menjadi penyembuh dengan ramuan dan obat yang ia buat. Ia melihat bagaimana menakjubkan saat Gilberto bisa menyembuhkan seseorang dulu. Dari ia akhirnya dijauhi oleh teman-temannya. Ia memilih mengikuti Gilberto kemanapun.
"Kau tak akan melihat kami, karena saat kami datang kau ada di kerajaanmu untuk entahlah pesta mungkin aku tak tahu, pokoknya kau pernah menangis karena acara itu kau tidak diijinkan keluar."
Elves kikuk tak mengerti kalau dulu ia pernah berkelakuan seperti itu. Ia ingat pernah menangis karena pengawal tak mengijinkannya keluar ke tempat Gilberto.
Tapi tak menyangka akan ada yang melihat kelakuannya, apalagi Gilberto disana. Sangat memalukan.
"Jadi kau muridnya Gilberto?" Elves menggerakan kepalanya. "Kalau begitu kau bisa memilikinya, mungkin akan lebih berguna bila kau yang menyimpan buku ini,"
"Aku mempunyai ini," Greodio. Memperlihatkan liontin itu. "Bawalah ini bersamamu, jangan sungkan" ia menggeser buku itu pada Elves.
"Fanta siapkan kamar, kau bisa menginap disini, Perjalananmu sangat jauh?"
"Tidak usah repot, Greodio, aku menginap di Garden Angel."
"Garden Angel, Tony, kau pasti telah bertemu dengannya. Ia penjaga penginapan itu" Greodio, menenggak minumannya.
Mereka keluar toko milik Greodio menuju tempat penginapan Elves. Greodio mengajak Elves dan Fanta minum di bar yang berada di Garden Angel.
Elves tak bisa menolak. Ia seperti bertemu dengan saudara lama. Greodio sudah mabuk, tapi lelaki tua itu bersikukuh untuk melanjutkan minum-minumnya di bar Toni.
"Toni siapkan yang seperti biasa toni dua, dan beri Fanta air saja"
"Kau itu sangat pelit Bos" jawab kesal Fanta. "Tuan Greo, Jangan seperti itu, bisa-bisa dia pindah ke tempatku," setelah mengatakan itu Toni, pemuda itu mengerlingkan matanya pada Fanta yang tersipu.
"Memang lebih baik aku bekerja dengan Toni" kesal Fanta.
"Ya baiklah disana kau bekerjalah dengan pujaan hatimu ... hnmm … " Fanta membekap mulut Greodio. Dan ia tertawa kikuk, "Jangan dengarkan lelaki tua ini, ia suka melantur"
"Pak Tua kau sudah mabuk, kita harus pulang" Fanta menarik tubuh besar Greodio.
"Tidak! Aku baru tiba, lihat ini minumakan saja masih utuh, kau lihat ini!" Ia mengambil gelas Elves yang memang belum lelaki itu sentuh, ia tak ingin mabuk malam ini.
"Masukan minuman ini pada billku" kata Elves dan ia buru-buru membantu Fanta membopong Greodio.
Toni hanya menggeleng, kelakuan tamunya yang layaknya angin ribut itu. Ia kembali berkutat dengan gelas-gelas yang mengantri ingin dikeringkan.
***
Ruve bosan, ia menunggui Gen yang tertidur nyenyak. Dan lelaki itu mendengkur keras. Ruve memutuskan untuk keluar, ia ingin menyusul Elves ke pasar malam. Sekalian menghirup udara malam yang mulai dingin.
Ruve menenteng mantelnya. Ia menuruni tangga, ia mendengar suara ribut di daerah bar penginapan.
Ruve mendapati sosok lelaki tua yang mengoceh dan disebelah lelaki tua itu ia melihat punggung yang tak asing untuk Ruve.
Ia mendekati. Namun ia urungkan. Mendapati Elves berdekatan dengan seorang gadis cantik. Netra Ruve mengikuti Elves dan si gadis yang membopong lelaki itu keluar bar.
Ruve mengikuti kemana Elves akan membawa lelaki tua mabuk itu. Dan mendapati Elves masuk kedalam salah satu toko aksesoris.
Ruve menunggu diluar, dari tempatnya berdiri ia bisa menyaksikan bayangan orang yang sibuk mondar-mandir. Ruve menunggu lama hingga salah satu lampu di ruangan paling samping dimatikan.
Ruve menduga jika itu kamar lelaki tua yang Elves bopong tadi. Ruve mengeratkan mantelnya, angin malam semakin tak bersahabat. Ruve masih menunggu Elves keluar dari bangunan di depannya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments