Lagi Elves menyendokkan makanan yang lainnya. Dan mencicipinya sedikit demi sedikit makanan yang ada di piring-piring itu.
Dan ya memang tampilannya menggugah selera tapi masalah rasa hancur.
"Kamu tidak makan?" Ruve menggeleng.
"Sudah kamu coba?" Elves curiga, dan Ruve diam kemudian menggeleng.
"Aku masak buat kamu" ia berkata dengan manis dan bibirnya tertarik lebar.
Benar dugaan Elves, "Gen mana?" Ruve melemparkan pandangannya tak berani menatap Elves.
"Mmm … Dia … dikamar, iya dia masih tidur." Ucap Ruve gugup. Elves beranjak dari kursinya. Dan melangkah menuju tangga. Ruve berdecak, ia memukul kepalanya pelan. Gagal sudah rencananya.
"Elves … kau mau kemana?" Ruve mengejar Elves.
"Gen itu bocah pasti sudah tidur." Ia telah menjajari langkah Elves.
"Daripada kita mengganggu Gen mending kita ke pasar malam … Ya ke pasar malam! Ayo, bukannya kau ingin kesana." Elves menghentikan langkahnya dan menatap Ruve dengan mata menyipit. Ruve yang ditatap seperti itu, langsung membuang tatapannya ke segala arah.
Elves mendekat kan wajahnya mencari kebohongan yang sangat kentara dari wajah wanita itu.
Lebih mendekat, sangat dekat, degupan dalam dada Ruve membuncang hebat. Ia melirik ke arah lelaki yang dapat menghipnotis dirinya itu.
Ia pun memejamkan mata. Menunggu dengan bibir mengatup rapat dan maju. Ia menunggu, sesuatu yang hangat menghampiri.
Ctak!
"Ark!" Sentilan yang menyakitkan hinggap di dahinya. "Apa yang kau pikirkan" wajah Ruve bersemu merah.
Elves menjauh ia mengetuk pintu Gen. Tak ada jawaban. Ia sekali lagi melihat Ruve yang tak berani menatapnya.
Elves penasaran, ia mendorong pintu kamar Gen dan tak terkunci.
"Ruve kau kah itu?" Ucap Gen dengan rintihan.
"Apa kau bawa obat untuk ku, perutku rasanya tak enak" rintihnya lagi.
"Kau kenapa Gen?" Tanya Elves mendekat ke ranjang lelaki itu. Ia memegang tangan Gen dan memeriksa. Lalu mendekat ke wajahnya tangannya membuka mata lelaki itu.
"Julurkan lidahmu" Gen menurutinya dengan perlahan ia menjulurkan lidahnya.
"Kau keracunan" Elves mengeluarkan botol kecil dan mengambil satu bola kecil berwarna coklat dan menyerahkannya pada Gen.
"Minumlah, Ruve ambilkan air." Ruve dengan cepat memberikan gelas berisi air pada Gen.
"Kau harus istirahat, dan Kau temani dia, aku pergi" Elves akan melangkah, "Aku ikut denganmu"
"Tidak! Kau jaga dia, kau yang menyebabkannya" Ruve tak berkutik ia menurut dengan wajah kesal. Elves keluar kamar Gen. Ia akan mencari Greodio.
***
Elves menyusuri jalanan desa pada malam hari. Banyak penduduk menikmati suasana, suara ramai riuh rendah. Dengan tawa juga kegembiraan tergambar jelas di sekeliling. Ini perayaan yang memunculkan rindu dalam dirinya. Dulu. Ia pernah menjadi bagian kegembiraan seperti mereka.
Elves menyusuri jalanan yang banyak orang yang menjajakan apa yang mereka jual. Ia memperhatikan satu per satu hingga ia melihat kios dengan banyak aksesoris di dalamnya.
Elves mendekat, melihat bandul yang setipe dengan liontin yang ia temukan, walau tak sama persis tapi dari gaya dan bahan yang digunakan. Sudah pasti ini tempatnya.
"Untuk siapa Tuan? Pacarnya?" Wanita muda itu menanyainya. Wanita itu terus memandangi lelaki yang terus memandang aksesoris di lapaknya.
Lelaki dengan jubah tudung berwarna gelap itu sangat mencurigakan. "Jika kau ingin berbuat jahat disini menyingkirlah lebih baik! Aku memperingatimu" wanita itu menatap tajam Elves.
"Ada apa?" Suara tua menyela keadaan sengit antara Elves dan wanita itu. "Ada yang bisa dibantu Tuan, Kau masuklah!" Lelaki tua bertubuh hijau, berbadan gempal dengan janggut putih memanjang juga kacamata bertengger di wajahnya. Wanita itu masih menyorot tajam ke Elves sambil berlalu masuk kedalam.
"Kau Greodio?" Tanpa basa basi. Wajah ramah lelaki tua di depannya itu berubah datar. Disini tak ada yang mengenalnya dengan nama Greodio, mereka memanggil lelaki tua itu dengan sebutan Greo.
"Siapa kau?" Ia melirik pada tudung Elves yang menyembunyikan wajahnya. "Aku ingin mengembalikan sesuatu padamu, sebuah liontin." Elves merogoh kantongnya.
"Jangan coba-coba menipuku dengan barang yang kau dapat bukan dari tokoku, anak muda!"
"Lebih baik kau pergi dari tokoku! Aku tak bisa kalian tipu dengan barang palsu yang kau akui membelinya dari tempatku!" Cecar Greodio.
"Cepat pergi, sebelum aku memanhgil pihak keamanan" lelaki tua itu tak memberi sedikit pun kesempatan Elves untuk berbicara.
"Ada apa paman?" Wanita itu keluar dari tokonya setelah mendengar Greodio yang berteriak.
"Ini coba Anda lihat" Elves tahu, jika ia hanya berbicara tanpa bukti, itu tak akan membuat lelaki tua dan wanita di depannya ini mendengarkannya.
Liontin berkilau menggantung di tangan Elves didepan wajah Greodio. Seklias saja ia tahu tapi mustahil. Greodio menyambar.
"Jangan — "
"Masuklah … kau tutup sebentar lapak ini" Ucapan Wanita itu terpotong dengan nada perintah dari Greodio, Elves mengikuti Greodio masuk ke dalam toko, sedangkan wanita itu membereskan lapak mereka walau pasar malam belum berakhir.
Di dalam toko Elves melepaskan tudungnya. Mengamati dinding-dinding toko yang bergelantung aksesoris buatan Greodio.
"Duduklah!"
"Fanta buatkan minuman untuknya" Wanita yang dipanggil Fanta itu mendekat, ia mengangguk dan kemudian masuk kedalam.
Elves masih mengamati seluruh ruangan, dan Lelaki tua itu juga tak melepas matanya dari liontin yang Elves berikan.
"Dimana Kau mendapatkan liontin ini?"
***
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Emak
jiahhh, bener🤣🤣🤣🤣
2022-12-20
0