Lagi-lagi seperti dejavu, Elves harus mengurusi Ruve yang mabuk. "Uhhh … Anjing kecilku, sini sama kakak" Ruve dengan kasar menarik Elves dan memeluk kepala pemuda itu.
Elves yang terkejut, susah lepas dari cengkraman Ruve. "Aku ingin memberitahumu kalau kekuatanku kembali, Yeeaaah … walau tak sepenuhnya tapi pencarianku tak sia-sia"
"Ini juga berkat dirimu, tapi melihatmu bersedih, aku yakin kau memiliki hati yang rapuh" Ruve berkata dengan menangkupkan kedua tangannya pada kepala Elves.
"Rasanya aku iri pada Lavender, apa jika suatu hari nanti kita tak lagi bersama kau akan mencariku," Ruve melepaskan tangannya dan terduduk dengan kepala menunduk.
"Tentu … Tentu tidak, Ahahaha hmm … miris ya" Ruve terpingkal dengan menepuk kedua tangannya, tubuhnya bergoyang dengan kepala yang tegak menatap Elves.
"Cintaku, manisku, sayangku, sini kiss" Ruve memajukan bibirnya, mengalungkan lengannya pada Elves. Dan terus mendekat.
Elves hayan menatapnya datar, walau ia merasakan percikan hangat dalam dadanya.
"Hoek" Ruve memuntahkan minuman tangbia minum pada tubuh Elves. Elves hanya bisa memejamkan mata dan mendongak, ia ingin mengumpati wanita dihadapannya ini.
***
"Bubuk apa yang kalian temukan?" Ucap Fanta, "Bisa aku melihatnya? Emma sering mengeringkan bahan ramuannya dan tugasku menjadikannya bubuk, siapa tahu aku pernah melihatnya"
"Aku mempunyainya, sebelumnya aku kembali ke tempat itu dan mengambil beberapa untuk diteliti, karena bubuk itu seperti tersedot masuk ke dalam tubuh Ruve begitu saja,"
"Bubuk itu ada di dalam sini" Ruve meraihnya, Gen dan Elves melihat Ruve akan menuangkan pada tangannya.
"JANGAN!" Terlambat, wanita itu telah menuangkan bubuk berkilau itu pada telapak tangannya.
Mereka menunggu bubuk itu tersedot dalam diri Ruve. Setelah tiga puluh menit menunggu, bubuk itu tetap pada tempatnya. Tak hilang, tidak tersedot.
"Mana?" Mereka pun heran. "Aku melihatnya dua kali bubuk itu masuk dalam tubuhmu"
Fanta menarik telapak tangan Ruve yang pegal. Fanta sangat ingat bubuk apa ini, Emma menyebutnya obat rahasia, obat ampuh penyembuh segalanya.
Tapi sangat susah ditemukan, karena ini juga Emma pergi untuk selamanya.
"Kalian dapatkan ini dimana?"
"Tempat persembunyian Hudson, dan disana juga ada bunga Mopia" Ruve memberitahukan.
Fanta meraih tas yang selalu ia kenakan dipingganya, membukanya, didalamnya terdapat banyak botol kaca mini, berisi banyak serbuk.
Ia meraih salah satu botol, melihatnya, hanya sedikit tersisa, ia membuka dan menaburkan semuanya ke atas serbuk berkilau.
Brzzztztzz …
Bubuk itu langsung masuk kedalam tubuh Ruve. Ruve melebarkan mata begitupun dengan yang lainnya.
Tersentak kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Apa aku bilang kan, serbuk itu mas— tunggu, Fanta serbuk apa yang kau tuangkan tadi?" Gen tersadar bahwa serbuk Fanta yang membuat serbuk berkilau masuk dalam tubuh Ruve.
"Serbuk bunga Mopia"
"Dan yang berkilau ini?"
"Batu kristal abadi" lirihnya.
"Batu Kristal abadi? Bukan kah itu batu yang kita cari? Ruve?" Gen menatap Ruve yang terdiam.
"Ruve kau tak apa?" Eves merasa ketar-ketir. Elves menunggu efek samping bubuk itu pada Ruve.
"Aku Okay, hanya merasa tubuhku, lebih bersemangat"
"Kalian menemukannya, kita kesana lagi, dan memulihkan kekuatanmu" Elves tak melihat tanda-tanda efek samping bubuk berkilau.
"Tak ada lagi, sudah habis tersedot tubuhnya. Aku melihatnya melayang dan sebul memyelubungi tubuhnya dan aku tak ingat lagi, yang aku ingat kami keluar tempat itu langit sudah malam. Dan sepertinya kami tak sadarkan diri.
"Jadi kekuatanmu akan kembali dengan mencari batu kristal abadi, tapi tadi bubuk itu tak bereaksi jika aku tak menaburkan bubuk Mopia"
"Kesimpulanku, kekuatanmu akan kembali bukan dari batu kristal abadi tetapi dari percampuran batu kristal abadi dengan bunga Mopia, dimana kau harus ketempat dimana Mopia tumbuh subur, BlackMud, desa penyihir gelap, dan aku dengar susah untuk keluar jika kau sudah masuk kedalamnya." Penjelasan Fanta membuat Gen bergidik ngeri.
"Selain di desa penyihir gelap itu, apa susah kita menemukan mopia-mopia ini?" Wajahnya terlihat cemas.
"Ada, namun jenisnya tak sama dengan yang aku tabur tadi, bubuk ini sudah sangat lama, Emma tak mengajakku, berarti tempat itu sangat berbahaya."
"Dan nampaknya Emma mendapatkan Mopia ini di BlackMud," Fanta menatap wajah-wajah serius di depannya.
"Orca dan Menna mana? Kau tak membawanya kemari?" Tony menghampiri meja yang tampak serius itu.
"Mereka bersama Greodio, lelaki tua kesepian itu sangat senang kedatangan mereka berdua yang antusias dengan pernak-pernik buatannya, apalagi ia sedang membuat pesanan Menna, mahkota putri" antusias Fanta menceritakan, duo bocah yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Hingga nanti, orang tuanya datang.
"Serius sekali?"
"Jadi bagaimana?"
"Kami akan ke Black Mud" keputusan Ruve.
"Kita menemukan bunga itu dan bubu kristal itu di tempat persembunyian Hudson, aku yakin ia juga salah seorang penyihir hitam"
"Dan tak menutup kemungkinan lelaki itu melarikan diri kesana,"
"Tapi ia memiliki serbuk kristal jadi ia sudah menemukan tempat batu kristal abadi itu berada?" Gen menambahkan.
"Kita akan ke Black Mud." Elves tak akan melewatkan apapun petunjuk.
***
Mereka bertiga telah berada dalam hutan, tapi mereka tak tahu dimana sebenarnya keberadaan desa penyihir hitam itu berada.
Kuda Gen berontak, "Hei Hercules ada apa!" Pekikkan Gen, menggema juga dengan kikikan kudanya.
Gen menarik tali kekang. Dan melihat sesuatu tergeletak di jalan yang akan ia lalui.
"Ada apa Gen?" Ruve berada di samping kuda Gen dan Elves yang melewati kudanya dan Gen, pemuda itu turun dari kudanya, perlahan mendekati benda yang tergeletak itu.
"Hati-hati Elves" Ruve cemas.
"Tolong … air … " Benda itu ternyata sosok manusia. Elves cepat kembali ke kuda nya, dan berbalik dengan kantong air miliknya.
Ia menyanggah dan mendudukkannya tubuh itu yang ternyata seorang wanita tua, memberikan kantong air nya. Wanita tua itu menenggak habis air yang Elves beri.
"Terima kasih anak muda"
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments