"Hei tenang, dude! Kita tak akan menyakitimu" Gen menatap lelaki tua itu.
"Murphy apa yang mereka lakukan padamu saat kau mengantarnya?" Tony mendekatinya. Dengan mengisyaratkan menggunakan gerakan tangan. Murphy menjelaskan.
"Ia bisu, tapi bisa mendengar dengan baik" Tony berbisik pada Gen. Gen hanya menatap tak mengerti. Terlihat gerakan dan emosi Murphy yang meluapkan perasaannya. Ekspresi wajahnya sangat menggambarkan tetapi Gen tak bisa mengerti.
"Apa yang ia katakan?" Bisikan Gen.
"Mereka awalnya memang dingin dan tidak menjawab akan kemana, lalu Murphy juga mendiamkan nya, saat sang gadis memberontak. Lelaki itu memukul sang gadis hingga pingsan." Jelas Tony.
"Murphy mencoba menolong tapi ia malah di serang oleh lelaki itu hingga ia dibuang dipinggir jalan sampai pingsan. Saat terbangun ia berjalan menyusuri jalanan yang pasti lelaki itu lewati ia melihat kereta kudanya ada disana dan sudah tak terlihat sang gadis dan lelaki itu." Lanjut Tony yang menerjemahkan bahasa tangan Murphy.
Tony memiliki penginapan dan ia belajar banyak dari tamu-tamu penginapannya. Salah satunya bahasa isyarat.
"Jadi ia tak tahu kemana gadis dan lelaki itu pergi?" Tony bertanya dan dijawab anggukan dengan Murphy.
"Bisa kau bawa aku dan temanku ke tempat terakhir menemukan kereta kudamu?" Murphy menjawab agak lama. Ia akan menunjukan tempatnya tapi keberatan jika mengantarkan.
Gen mengambil peluang yang ada. Ia mengangguk. Murphy memberitahu kemana mereka harus menuju.
Gen, Elves dan Ruve membeli 3 ekor kuda Murphy. Seharga tiga kantong emas. Dengan senang hati Murphy menjualnya.
Mereka menyiapkan perbekalan. Greodio dan Fanta juga Tony, turut membantu. Elves juga membawa buku Emma.
Keesokannya mereka pergi dari Garden Angel. Melanjutkan perjalanan mereka. Mereka sudah masuk jauh kedalam hutan tempat dimana Murphy dibuang.
Gen fokus pada peta yang Murphy buat. "Setelah ini kita ke arah barat dan melihat hutan oak disitu ia mendapatkan kembali kereta kudanya" monolog Gen, Ruve dan Elves mengamati sekitarnya.
Srak!
Ruve melirik ke arah suara berasal. Ternyata bukan hanya Ruve yang merasakan kehadiran orang lain disana.
Dan Gen menarik kendali kudanya. Di depannya sudah ada sekawanan orang dengan cadar.
"Mau kemana ini? Mungkin kami bisa bergabung" ucap para bandit. Gen mengernyit. Tak suka. Mereka menghentikan kuda mereka. Ingin tahu kemauan para bandit ini.
Ia melipat peta buagan Murphy dan mengantonginya. "Tersesat mungkin ketua," celetukan salah satu diantara mereka.
"Kalian tersesat? Wah tenang kami bisa bantu," salah satu anggota kelompok itu menarik kudanya berjalan ke arah Gen.
Ruve sudah siap dengan mantra untuk mengendalikan rantai pada jarinya.
Elves yang berada di paling belakang mendapatkan serangan. Seseorang menggelendot di atas dirinya dengan lehernya dijepit dengan betis?
"Ugh" Ruve mendengar suara di belakangnya refleks menengok dan dengan cepat mengarahkan rantai hitamnya ke bandit yang menjepit leher Elves.
Bandit itu menghindar dengan lincah, dari rantai Ruve. Mata Ruve menajam. Boleh juga pikir Ruve.
Jadi ia tak akan segan. Perkelahian pun pecah. Gen mengeluarkan pedangnya. Begitu dengan Elves dengan panahnya.
Mereka menyerang, dan mengejar para bandit yang suka sekali menghindar. Mereka sengaja digiring masuk lebih ke dalam hutan. Menjauh dari jalan yang biasa orang lalui.
Ruve, Elves dan Gen tak sadar. Mereka fokus untuk menyerang dalam perkelahian ini. Tapi satu titik Ruve mengenal gerakan targetnya. Ia pernah melawan bandit di depannya ini.
Gerakannya yang lincah dan kadang ceroboh. Tipikal perempuan yang ia kenal dan sangat membencinya. Namun apa mungkin? Yang ia tahu, seseorang itu, tak akan meninggalkan kandangnya.
Dan jika memang benar sosok yang ada di depannya ini seperti tebakannya, Ruve pun berhenti menyerang.
Ia mengamati sekitar. Pandangannya mengabur karena banyaknya bubuk-bubuk berterbangan. Ruve menggunakan pakaian tebal dari kepala hingga kaki ditutupi dengan kain tebal. Hanya mata yang terlihat. Sama halnya dengan Elves.
Dimana mereka sekarang. Pohon sekeliling mereka juga aneh. Pohonnya besar-besar dan lebat, juga ditumbuhi banyak benalu. Membuatnya tampak seperti brokoli raksasa.
Ruve menghentikan kudanya, ia merasakan perasaan tak enak. Ruve memberikan lirikan dan bisikan di sebelah Elves. Untuk berhenti menyerang.
"Aku merasa ada yang tak beres dengan hutan ini" bisiknya. Elves yang akan memanah, akhirnya menurunkan panahnya, ia ikut mengamati sekitarnya.
Ia berjalan mendekati satu pohon dan mengamati dedaunan pohon itu yang diatasnya terdapat serbuk.
Elves mencium dan memegang kemudian memerintahkan Ruve jangan sampai bubuk ini mengenai kulitnya.
Elves dan Ruve menjauh. Mereka keluar dari hutan itu. "Ruve mana Gen?" Ruve berdecak, ia baru menyadari Gen sudah jauh di depannya tadi mengejar para bandit yang menggiring mereka masuk kemari.
"Aku akan menyusul si darah panas itu"
"Pastikan semua tubuhmu tertutupi, gunakan ini untuk menutupi matamu" Elves memberinya goggles.
Ruve hanya menatap goggles ditangan Elves. Ia tersenyum. Senyum jenaka nan jahil. "Pakein" genitnya.
Ia sudah lupa soal kecemburuannya pada Fanta, ternyata Fanta naksir Tony. Mengetahui itu membuat hatinya lega. Ia kira Fanta adalah saingannya. Tak boleh ada yang menyainginya untuk merebut perhatian Elves! Ruve akan melibas siapa saja yang berani suka pada Elves.
Decakan terdengar dari bibir Elves. Lelaki itu kesal tapi ia tetap memakaikan goggles itu pada Ruve yang cengirannya melebar hingga matanya menyipit. Ia kesenangan.
"Woohh ada yang sedang saling merayu, kasihan yang satu itu, mungkin di dalam sana ia mati terserang gatal dan dua temannya disini asik bermesraan." Suara nyaring seorang perempuan menarik perhatian kedua sejoli itu.
"Yordal, sudah bisa keluar kandang rupanya dirimu" Ruve menebak dengan tepat. Perempuan licik, dan menganggapnya musuh itu tampak terkejut. Terlihat dari matanya yang melebar saat Ruve menyebut namanya.
Dan ia tak suka dengan senyum merendahkan yang Ruve berikan padanya. Ia mengepalkan tangannya pada kekangan kudanya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Nasnisnus
lebih enak kalo "pakaikan"
2022-11-16
0