Semalam, ralat subuh tadi, akhirnya Ruve kembali ke penginapan Garden Angel. Wajahnya terlihat lesu. Elves tak keluar dari toko itu.
Rasanya hati terasa tak nyaman. Mengapa begini? Rasanya sesak. Apa yang sedang Ruve rasakan ini sebenarnya?
Berjalan gontai, Ruve masuk dalam penginapan. Ia menuju ke kamar Gen. Disana ia melihat Elves, menyodorkan minum ke Gen. Dengan tatapan dua pemuda itu padanya.
"Kau kemana saja?" Omel Gen itu. "Meninggalkan orang sakit sendirian" Ruve menurunkan tudungnya. Berjalan ke tempat Gen.
"Bagaimana keadaanmu?" Ia tak mengindahkan pertanyaan Gen yang kesal diabaikan.
"Sudah enakan, dan lain kali kau tak usah memasak! Kau hampir saja membunuh kami" Gen melengos.
Ruve beranjak. "Aku ke kamarku" Gem menatap tak percaya wanita ular itu. Yang meninggalkan Elves dan dirinya.
Elves juga melihat keanehan Ruve. Tak biasanya Ruve mendiamkannya.
Ruve masih diam. Tak biasanya, mereka akan melanjutkan perjalanan, Fanta datang dan berkenalan dengan Ruve dan Gen.
Gen bertanya pada Fanta, apa mereka pernah mendengar nama Hudson, Fanta menggeleng, tapi berbeda dengan Tony, ia berkata beberapa bulan lalu ia mendapatkan tamu yang aneh.
Ia mendapati seorang lelaki elf yang merangkul wanita elf, "Mereka mengaku suami istri tapi anehnya aku melihat sekilas kedua tangan wanita itu terjerat dengan rumput dan wajahnya wanita itu menunduk saja"
"Apa seperti ini?" Elves memberikan potret diri lavender. Fanta ikut mengintip. Rasanya familiar, ia pernah melihat gadis dengan rambut madu itu, tapi dimana.
"Iya benar,"
"Apa yang lelaki ini?"
"Benar, benar, kalian mengenalnya?" Tony melihat kemarahan dalam diri Elves. Fanta menyenggol Tony. Tony melihat Fanta yang menggeleng. Supaya Tony tak lagi bertanya.
"Apa kau tahu kemana mereka pergi?" Gen menggantikan Elves untuk bertanya. Gen mengerti bahwa Elves sedang meredam amarahnya.
"Ah … aku ingat mereka meminta dicarikan kereta kuda. Aku akan memanggilkan si tua Murphy, ia yang membawa mereka" Tony beranjak dari tempatnya. "Aku ikut" Gen berinisiatif. Tony mengangguk. Mereka pergi berdua. Dan tinggallah Fanta, Ruve dan Elves.
Ruve yang masih diam saja, melirik tak suka pada Fanta. Tapi ia tak bisa mendiamkan Elves lama-lama. Ia menggenggam kepalan tangan Elves yang mengepal keras.
Elves menatap Ruve yang menggenggam tangannya erat. Elves merasakan kehangatan yang menyelingkupi tangannya.
Ia menenangkan dirinya, menghela nafas panjang, meredam debaran kemarahan. Ruve menarik duduk Elves.
Menuangkan secangkir air untuk meredam segala rasa yang berkecamuk di dada Elves. Fanya melihat dalam diam. Ia menyimpulkan Elves dan Ruve memiliki hubungan. Ia merasa iri. Dan menatap lelaki yang datang ke arahnya di ikuti lelaki tua menyusul dibelakangnya.
"Ini Murphy, Murphy mereka yang ingin menyewa kereta kuda mu, kau ingat orang yang kau antar kan beberapa bulan yang lalu?" Tony menjelaskan.
Lelaki tua itu mengangguk, ia tak menjawab. Elves merangsek ia mengguncang pundak lelaki tua itu. Gerakannya cepat, hingga Ruve dan yang lain tak bisa mencegahnya.
Lelaki tua yang terkejut itu mendadak pias. Melihat telinga Elves. Ia melepas paksa cengkraman Elves dan berlari keluar penginapan.
Gen dan Tony yang ikut terkejut akhirnya mengejar lelaki tua itu. "Kendalikan emosimu!" Ruve berkata tegas.
"Kalau kau seperti ini kesempatan menemukan adikmu akan lenyap!" Lanjut Ruve.
Mendengar perkataan Ruve. Wajah Elves menegang. Ia menghela nafasnya panjang, menenangkan dirinya sendiri. Meraih kasar cangkir yang ada diatas meja dan meneguknya habis.
Fanta ingin bertanya, mengapa mereka mengungkit adik Elves, kembali Fanta mencoba mengingat saat Emma mengajaknya ke Kerajaan Elf tempat dimana ayah Emma berada. Ia ingat ia tak hanya melihat Elves yang meronta dan menangis.
Ia juga melihat bocah cantik dengan rambut bergelombang berwarna madu. Dengan mata berwarna biru. Menatap sang kakak yang sedang dibawa masuk kedalam kerajaan oleh para prajurit kerajaan.
Apa gadis itu adik Elves. Melarikan dirikah? Kawin lari? Seorang putri dengan kisah pilu, tak direstui kah? Banyak skenario dalam otak wanita pecinta novel romantis ini.
Di tempat lain, Tony dan Gen yang kehabisan nafas mengejar lelaki tua yang berlari sangat kencang hingga membuat dua lelaki muda itu kualahan.
"Murphy, ada apa?" Tony mendekat. Murphy meringsut ketakutan.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments