"Orca?" Fanta mendekat, ia berjongkok bocah lelaki itu.
"Kau kenal dengan dua anak ini?" Tony menunjuk dua orang bocah yang duduk di salah satu meja barnya.
Ia sangat bingung melihat dua anak kecil di bar. Yang mana ia tak mengingat ada tamu yang membawa anak.
"Iya mereka anak Lura, kalian ingat saat aku menjadi umpan? Wanita yang menghentikan mereka menyerangku, dan menyuruhku pergi adalah ibu anak ini" rasa bersalah menggelayuti Fanta,
"Kemana ibu Orca?" Bocah kecil itu menggeleng. "Menna bangun ibu nggak ada" gadis kecil itu menyela dengan bibir belepotan susu.
"Kalian disini sama siapa?" Fanta, mengamati sekelilingnya. Mencari setidaknya sosok yang ia kenal. Tapi tak ada. Belum lagi mengapa mereka tampak tak terawat. Fanta mengelus kepala Orca.
"Maaf ya lama" Ruve datang kemeja mereka dengan banyak makanan di tangannya.
"Sama Ruve" Menna kembali berkata.
"Iya kenapa Menna?" Ia meminjam dapur Tony. Untuk membuatkan sesuatu untuk mereka.
"Kau yang memasak ini" Tony was-was. Ia tak ingin kejadian dulu terulang lagi. Ruve mengangguk.
"Mereka ingin makan sesuatu yang hangat dan aku masakkan sup" Tony meraih nampan, "sepertinya aku memiliki pumpkin sup, mereka pasti suka" Tony segera membawa masuk masakan Ruve.
"Tony mengapa dengan supku?" Ruve kesal. Tony kembali dengan dua mangkuk pumpkin sup. Dan kedua bocah itu menikmatinya.
"Ruve boleh aku tanya?" Fanta menarik Ruve menjauh. "Kau bertemu dengan mereka dimana?" Terlihat wajah Fanta yang sendu.
"Di perjalanan dari pasar ke sini, aku melihat Orca mencuri roti untuk Menna dipasar" Fanta menutup mulutnya. Matanya berkaca. Penyesalan.
"Ada apa Fanta?" Elves datang saat melihat mereka, Elves menghampiri Fanta yang akan menangis.
Ruve menyapa senang, "Pagi Elves" Elves menatapnya tajam. Ruve menaikkan alisnya. Elves menepuk bahu Fanta. Dan menggiring Fanta menjauhi Ruve.
Apa Elves mengira Ruve menyakiti Fanta? "Elves aku tid—"
"Ruve aku tahu, kamu tidak suka jika aku dekat dengan wanita lain, tapi ini sudah keterlaluan" Ruve hanya mematung. Elves salah paham dengan nya.
"Elves kau—" Elves tak mendengarkan. Ia lebih mengambilkan air untuk Fanta yang terisak. Ruve terus menatap Elves. Sendu. Ia keluar penginapan, amarah dan sedih bercampur.
Tony yang mendampingi bocah-bocah itu hanya menonton saja.
"Ini maafkan Ruve ya, dia memang—"
"Huh! Ruve kenapa?" Tanya Fanta tak mengerti. "Ruve tak berulah kan?" Fanta menggeleng.
"Lalu kenapa kau menangis?" Fanta melirik kedua bocah disana. "Penyesalan." Elves mengikuti pandangan Fanta.
"Mereka anak-anak dari anggota bandit Yordal, yang ditinggal orang tuanya," Elves menatap dua bocah itu.
"Karena kita menyerang mereka?" Fanta mengangguk. "Aku akan mengurus mereka. Greodio pasti akan senang, oh ya Elves kemana Ruve? Aku ingin berterima kasih, ia membawanya mereka kemari,"
Sekarang Elves yang termangu, ia salah, tak mendengarkan penjelasan Ruve dan dengan percaya dirinya menuduh Ruve membuat Fanta menangis karena dirinya.
Elves mengusap tengkuknya, ia merasa aneh jika berdekatan dengan Ruve. Ia merasa salah tingkah dan jantungnya berdebar kencang jika ia berada didekat Ruve. Semua terjadi setelah kejadian sebelum ini.
"Paman kupingnya panjang" Menna memanggil Elves paman, sedangkan memanggil Tony dengan nama saja.
"Menna mengapa kau memanggilku paman?" Gadis kecil itu tersipu, ia malu-malu.
"Karena kau seperti prince Aluwa"
"Kalau aku seperti prince siapa? Kau memanggilku dengan sebutan paman juga?" Gen sudah bergabung untuk sarapan.
"Kau bukan prince kau pembantu prince" ucap lugu Menna. Dan membuat Tony terbahak kencang.
"Menna lihat baik-baik wajah paman!" Gen memegang bahu gadis kecil itu lembut. "Lihat paman tampankan!" Gen bersikeras. Dan Menna menggeleng. "Paman kuping panjang yang tampan, dia akan jadi prince Menna"
"Coba Menna lihat sekali lagi," memaksa Menna yang matanya sudah berkaca-kaca dan menggeleng.
"Apa yang kau lakukan pada anakku"
"Auch!" Gen mengusap kepalanya yang Fanta pukul dengan ujung belatinya. Matanya menatap tajam Gen yang dengan cengiran di bibirnya.
Ia menggendong Menna dan menggandeng Orca menjauh.
"Dude sudahlah, anak kecil itu jujur" Tony membereskan meja, dan masih menahan tawanya.
"Tony kau melihat Ruve dan Elves? Kemana mereka? Apa kesiangan mereka?" Tony meliriknya.
"Mereka keluar, dan dirimu yang sarapan paling akhir" Tony masuk kedapurnya dan Gen menatap bubuk yang ia temukan. Tak berani mengeluarkannya. Melihat bubuk itu masuk kedalam tubuh Ruve.
Mereka harus mencari tahu dengan cepat, melihat wajah Elves yang tertekan kemarin, pasti Efeknya menakutkan. Itu kesimpulan yang Gen dapat.
Maka ia tak berani menyentuh bubuk itu sembarangan. Tapi ia penasaran dengan lubang yang ia temukan ia ingin masuk ke dalam sana.
Elves mencari keberadaan Ruve. Ia salah paham dan menjadi aneh. Ia akan meminta maaf pada Ruve.
Elves menyusuri pasar. Ia sekelebat matanya menangkap bayangan wanita yang ia kenal. Ia tak akan salah, Rambut bergelombang berwarna madu. Euve memacu kudanya. Mengejar wanita itu,
Benar ia tak salah lihat. Pasar nampak sangat ramai pagi ini, Kudanya tak bisa membelah puluhan orang disini, Elves turun dari kudanya.
"Nona!" Panggil Elves. Ia mengikuti gadis berambut gelombang itu. Gadis itu terus berjalan diantara kerumunan.
"Nona tunggu sebentar!" teriaknya. Suaranya yang keras teredam oleh suara orang dipasar yang ramai.
"Nona!" Jarak dengan wanita itu semakin lebar, namun sesaat wanita itu berhenti ia seperti melirik kearah Elves dan menutup tudung pada mantelnya dan kembali berjalan dengan cepat.
"Lavender!" Dugaannya pasti benar. Itu adiknya Lavender. "Lavender!" Teriakkan Elves yang mulai putus asa. Sosok adik ya semakin menjauh. Ia berusaha keluar dari kerumunan.
Ia melihat adiknya berbelok pada satu gang. Ia memaksa diri. Menyenggol beberapa orang yang memakinya.
"Lavender! Berhenti!"
Elves berbelok dan menyusuri gang, ia tak menemukan sosok Lavender. Ia menyusuri gang tempat Lavender berbelok. Dan ujungnya terdapat jalan besar dengan tiga jalur. Elves berlari menyusuri masing-masing jalur. Tapi nihil.
Ia tak menemukannya. Elves frustasi. Keringatnya membasahi seluruh tubuh dengan tubuh yang mendingin. Ia mengusap rambut basahnya. Harusnya ia bisa lebih cepat, tanpa ragu menangkap adiknya.
Di tempat lain, Ruve ternyata kembali ke tempat dimana Gen terperosok. Ia penasaran dengan bubuk berkilau yang sekarang ada dalam tubuh Ruve.
Di sini sangat gelap. Ia membuka sigilnya, tiga bola api seukuran bola tenis melayang di sekitar Ruve.
Ia melihat Obor. Dan menyalakannya. Ia meletakkannya pada kaitan yang berada di dinding tempat itu.
Ruve menduga ini tempat persembunyian Hudson yang Yordal katakan. Ruve pernah pernah melihat bagaimana semut membuat sarangnya. Ia tahu. Dan konsep itu yang Hudson terapkan di persembunyiannya. Jika benar berarti masih banyak ruangan di dalam sini.
"Mopia? Mengapa ada disini?" Ruve tahu bunga apa itu. Sihir hitam sering menggunakan bunga ini. Kaitannya dengan Hudson apa? Ia Elf, pasti memiliki sihir. Apa ia masuk dalam sihir hitam?
KRAK!
Ruve menginjak sesuatu. Bubuk berkilau. Saat Ruve menyentuhnya pedaran kilauan itu muncul. Sinar keemasan berpedar. Dan bubuk-bubuk itu memutari tubuh Ruve. Membentuk spiral yang menyelubungi tubuhnya.
Ruve merasakan tubuhnya melayang. Dan tak lama Gen masuk dalam ruangan itu. Ia melihat cahaya terang disana.
"RUVE!"
"AARGHH …"
"RUVE!" Gen berteriak, ia melihat sinar kekuningan yang masuk melalui mulut Ruve yang berteriak itu.
Tubuh Gen kaku, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Ia ingin sekali menolong Ruve.
Berkali ia meneriakkan nama temannya itu. Namun tetap saja ia tak dapat menggerakkannya.
Hingga pedaran itu menghilang, juga tubuh Ruve yang meluruh di tanah begitupun dengan Gen yang ikut tak sadarkan diri.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments