"Bawa ini" Elves memberikan tasnya yang berisikan, kain, Ruve menerima itu.
Ruve tak mengindahkan Yordal, ia menutup wajahnya dengan kain dan menepatkan goggles yang Elves pakaikan tadi. Ruve memacu kuda nya masuk kedalam hutan bubuk gatal itu.
"Urusan kita belum selesai" Netra Ruve menajam dan mengancam pada Yordal.
"Ya dengan senang hati, aku tunggu!" Yordal yang terkekeh.
Meninggalkan Yordal dan Elves. Wanita itu mendekati Elves, "Daripada mengikuti dia mending kau bersama kami" tanpa basa-basi Yordal ingin merusak apapun hubungan pemuda di depannya dengan musuhnya.
"Kau tak tahu ia diusir dari kawanannya, ia tak kompeten dan lemah" Yordal membual.
"Hanya karena lelaki ia keluar dari desa, sangat egois"
Elves tak menghiraukan wanita asing yang mengikutinya, ia menarik tali kudanya, agar kudanya berjalan perlahan, Ia membuka buku Emma, mencari penangkal gatal dari pohon bubuk gatal.
"Apa yang sedang kau baca?" Yordal mencoba merayu Elves. Ia memepet kuda Elves dan menjulurkan kepalanya mendekat. Elves menarik kekang kuda miliknya dan menjauh.
Ia turun, dan mengikat tali kudanya di pohon dan masuk dalam hutan, ia mencari tumbuhan yang akan diracik menjadi ramuan.
Yordal tak gentar ia mengikuti Elves. Bercerita berbagai hal. "Kau akan menjadi pangeran kalau kau bersamaku" iming-iming yang tak perlu.
"Aku lebih cantik ketimbang ular busuk itu" tangan Yordal terulur ia ingin menyentuh Elves namun dengan cepat pemuda itu tepis. Ia tak mengalihkan pandangannya dari buku.
Dan memperhatikan sekeliling. Ia berjalan pada satu tanaman, memetik dan membauinya. Yordal melirik Elves. Berjalan dibelakang lelaki itu. Ia ingin mendahului langkah Elves dan kakinya menginjak tanah yang tak rata,
"Eh!"
BRUGH!
Ia tergelincir, tubuh Yordal menjadi tak seimbang dan terjatuh.
Ia menutup matanya, mencoba merasakan nyeri yang menghantam tubuhnya, tapi ia tak merasakan apapun, Yordal mengintip. Dan wajah Elves yang datar berada di depannya. Ia terjatuh diatas tubuh Elves.
"Ah, maaf, aku … ak—" Yordal menatap lelaki itu, tudungnya terbuka. Matanya bersimborok dengan Elves. Ia melihat dari balik kain penutup wajahnya. Mata coklat terang menyorot dingin itu. Pasti tampan, ocehan kepalanya.
Beberapa saat Yordal terpesona. Lelaki itu menyugar rambut hitamnya, membuat pesonanya di mata Yordal meningkat berkali lipat.
"Menyingkir" Suara dingin, Matanya menyorot tajam.
"Eh … iya …" Yordal gelagapan. Ia berdiri. Gugup membuat tubuhnya tak bisa diam. Ia salah tingkah, seperti gadis yang baru bertemu pujaan hatinya. Pipi Yordal memerah.
Tangannya menyentuh pipinya yang panas. Ia melirik Elves malu-malu. Tapi yang dilirik tak peduli. Dan sudah sibuk dengan ramuannya.
Ada rasa kesal. Harusnya lelaki itu menanyakan keadaannya, tertarik padanya. Karena Yordal yakin tak ada yang menolak kecantikannya.
Dan apa ini, lelaki itu tak menghiraukannya. Bahkan ia ditinggalkan sendiri. Lelaki itu sudah kembali menaiki kudanya dan lanjut mencari tanaman obat.
Ia tak akan menyerah, trik terpelesetnya cukup membuat Yordal menyukai lelaki itu. Tubuhnya tegap, sangat nyaman untuk dipeluk.
Yordal menggeleng! Memusnahkan pikiran yang tidak-tidak. Senyum licik kembali menghiasi wajahnya, ia akan merebut lelaki itu.
"Ada apa?" Sosok hitam berdiri di belakang wanita itu, Membisikkan sesuatu pada Yordal. Dan menanggalkan senyumannya.
Ia tak menemukan Elves, Yordal menaiki kudanya, wanita itu memacunya dengan kencang. "Kita akan berjumpa lagi, tampan" gumamnya.
***
Ruve memasuki hutan pohon gatal. Serbuk halus berterbangan. Matanya awas mencari Gen. Ia terus memacu kudanya.
Ia melompat turun saat melihat kuda lelaki itu. Tapi Ruve tak menemukan Gen.
"Gen!" Panggil Ruve.
"GEN!"
"GEN!"
"AKU DISINI!" sahutan dari sebelah kirinya. Ruve berlari. Ia melihat keadaan sahabatnya itu.
"Siaal sekali, kemarin hampir mati karena makananmu, jangan sampai, mati gatal disini!" Decak kesalnya.
Ruve melihat, wajah Gen yang memerah, dengan banyak luka gores. "Pakai ini" Ruve segera menyelimuti tubuh Gen dengan kain yang ia bawa.
"Ayo cepat, Elves sudah menyiapkan ramuan untukmu" Gen melirik Ruve. Melihat tampilan Ruve dari atas hingga bawah. Tertutup. Persiapan yang bagus, pikirnya,
"Kalian meninggalkan aku! Kalian kejam!" Ruve memutar bola matanya. Pemuda di depannya ini memang suka drama.
"Makanya jangan, kau terlalu agresif menyerang musuh" jawab Ruve yang sudah membelitnya dengan kain bersih.
"Bandit kurang ajar! Mereka menyenggol aset berharga milikku! Tak akan aku lepaskan mereka!" Sumpah serapah Gen dengan tangannya terus menggaruk wajahnya yang gatal.
"Kita kembali" Ruve memacu kudanya, Gen juga sama tapi mulutnya terus memaki bandit-bandit yang menjebaknya.
Tak lama mereka keluar dari hutan gatal itu. Menghampiri Elves yang sedang sibuk meracik ramuan.
"Elves tolong selamatkan aset berharga milikku" Gen turun dan menghampiri pemuda elf itu. Ia merenggut sedih.
"Berendam lah dalam sungai" Elves mengedikan dagunya. "Buang semua pakaian yang kau pakai"
Gen menurut, rasa gatal ini menyiksanya. Tanpa diperintah dua kali, lelaki itu menanggalkan seluruh kain yang menempel pada dirinya,
"Gosok tubuhmu dengan ini" Elves melempar ranting dengan banyak daun.
"Buang semua pakaian yang kau kenakan." Elves memerintahkan Ruve.
"Dan juga berendam lah di sungai, gosok dengan ini" Elves memberikan hal yang sama dengan Ruve.
"Kau tidak berendam?" Ruve masih melihat Elves masih mengenakan pakaiannya yang tadi ia kenakan.
"Aku masih meracik ramuan" Ruve mengangguk. Ia mencari tempat dengan batu besar sebagai penghalangnya. Agar tak terlihat oleh dua lelaki disini.
"Segar." Gumam Ruve. Ia menenggelamkan dirinya. Mengusap tubuhnya dengan dedaunan yang Elves berikan.
Setelah dirasa cukup Ruve berjalan keluar. Bodohnya Ruve ia hanya membawa kain yang Elves berikan padanya.
Ia lupa pakaiannya ada dalam tas. Udara dingin menyentuh kulitnya. Mau tak mau Ruve mengenakan selembar kain itu.
Ruve melangkah ke tempat Gen dan Elves, tasnya ada di sana. Elves membantu Gen mengoles ramuan buatannya pada punggung Gen.
"Ruve kau harus menggunakan ini, rasanya dingin, menghilangkan rasa gatalnya, Elves memang hebat"
"Wow kau sangat seksi, Kau ingin menggoda kami? Tapi sayang waktunya tak tepat— aduh … sakit!" Gen mendapatkan lemparan kerikil dari Ruve.
Ruve mengeratkan tangannya untuk menutupi tubuhnya, walau ia menggunakan kain tapi ia merasa masih tak berpakaian.
"Aku lupa membawa pakaianku!" Ruve menyambar tasnya.
Grep!
Mantel tebal menutupi tubuhnya. "Ceroboh!" Ucap Elves, Ruve hanya bisa memberi cengiran lebarnya dan menjauh dari mereka. Malu dan merah merambati pipi Ruve.
Ia tak berniat untuk menggoda. Hanya yah ia memang ceroboh.
"Aku akan menuntut balas." Ruve kembali. Ia meletakkan tas dan menjemur kain Elves di batu besar. Sepertinya mereka akan bermalam disana.
Ia melirik Gen dengan wajah yang berwarna hijau. Lelaki itu menepuk-nepuk tumbukan daun racikan Elves pada wajahnya. Lelaki itu terus menggerutu.
"Apa kau merasa gatal?" Ruve menggeleng dengan pertanyaan Elves. "Ini, minum lah, dan itu makan malam aku sudah menyiapkannya, makan lah" Elves menyerahkan cangkir pada Ruve.
"Kau sudah makan?"
"Nanti setelah berendam"
"Kalau begitu aku juga nanti, menunggumu" Senyuman lebar mengembang di bibir Ruve.
"Ya sudah" Elves beranjak, ia mengambil perlengkapannya dan menuju tempat Ruve berendam.
Ruve mendudukan dirinya di sebelah Gen yang terbaring di depan tenda dekat perapian.
"Kau tak makan?" Ruve hanya menggeleng.
"Kata Elves kau kenal dengan bandit-bandit tadi?" Gen menepuk-nepuk pipinya. Menempelkan lebih banyak ramuan Elves pada wajahnya.
"Iya, Yordal, ia dari klan burung bangkai, bukan kenal, lebih ke musuh mungkin, ia selalu mencari gara-gara denganku" sesekali menyesap minuman yang ia terima dari Elves.
"Kau salah apa dengannya?" Gen yang masih sibuk mendempul wajahnya. Ia tak ingin gatal ini menimbulkan bekas pada wajah tampannya.
"Entah" Ruve menghentakkan bahunya. "Setelah aku sembuh, akan ku obrak-abrik tempatnya. Berani sekali dia, oh iya kemarin aku mendengar para bandit itu menyebut-nyebut Hudson."
"Kapan?"
"Sebelum mereka kabur begitu saja, meninggalkan pertempuran dengaku" Gen merasa disepelekan dan itu membuatnya lebih murka.
"Seenaknya kabur begitu saja, mereka mengatakan 'Ketua, Hudson tak suka, jangan ribut di tempatnya' itu yang aku dengar, dan mereka kabur."
"Kita cari tempat wanita itu" awalnya Ruve tak akan terpengaruh oleh Yordal dan bandit-bandit itu, tapi jika para pengganggu itu berhubungan dengan orang yang ia cari, Maka ia tak akan diam saja.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments