"Ngomong-ngomong, kamu sudah bertemu orangtuamu? Bagaimanapun rasanya kembali ke kawanan. Bukankah menyenangkan?" tanya Laras ketika Lion masih berada di atas pangkuannya.
Terdengar Lion membuang napas panjang. Sebelum menjawab, ia menatap manik mata Laras dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak semenyenangkan itu, Laras," ujarnya dengan lemah. Dahi Laras mengerut, tidak mengerti. Di detik berikutnya Lion melanjutkan, "Kalau bisa aku ingin terus seperti ini."
Setelah mengatakan itu, kedua mata Lion terpejam. Keheningan menyergap. Selain suara air di sungai, yang lain terdengar samar dan lemah. Sedangkan Laras pun hanya bergeming sembari mengusap rambut pria di pangkuannya.
"Kehidupan nyata milikku tidak menyenangkan, Laras." Lion melanjutkan, matanya masih terpejam. "Berada di sini seperti aku sedang bermimpi, terbebas dari kenyataan yang melelahkan."
Laras menatap wajah Lion. Seketika ia merasakan kesedihan juga mengalir di dalam dirinya. Entah itu sedih atau kasihan, keduanya nampak sama saja.
"Kalau bisa, aku ingin terus bermimpi di sini. Tempat di mana aku bisa menjadi diri sendiri dan tidak memikirkan apapun, selain kita," lanjut Lion.
Mendengar itu, hati Laras serasa dicubit. Entah bagaimana menjelaskannya, tetapi rasa sakit yang dirasa lebih besar dari saat ia menceritakan tentang orangtuanya. Mungkinkah karena ia sudah mencintai Lion.
Sejenak Laras tak beralih dari diam dan terus menatap wajah pria yang terlihat kelelahan hanya dalam beberapa saat. Benar, terkadang pertanyaan sederhana nyatanya sangat serius bagi sebagian orang.
"Kalau memang se-melelahkan itu, kau bisa datang ke sini kapanpun untuk beristirahat," ucap Laras dengan tulis, berharap kalimatnya bisa sedikit menghibur Lion.
Benar saja, seketika garis senyum terukir di wajah pria di sana. Mata Lion terbuka, menatap Laras dengan senang. "Akan aku lakukan mulai sekarang."
Laras mengangguk. Belaian penuh perhatian belum juga berhenti di rambut Lion.
"Tetapi, bagaimanapun terus bermimpi bukan hal baik. Kita tetap harus bangun dan menghadapi kenyataan. Seburuk apapun itu, akan tetap buruk jika kita menghindar." Laras melanjutkan. Entah tepat atau tidak, tetapi pernyataan seperti itu yang terngiang.
Namun siapa sangka, Lion justeru mengangguk dalam senyum yang tidak dipaksa. Pria itu meraih tangan Laras dan menggenggamnya. "Untuk itu aku hanya akan bermimpi jika berada di sini. Aku tetap harus kembali ke kawanan apapun yang terjadi," ujarnya, membuat Laras mengangguk dan tersenyum lega.
Ketika keduanya menikmati waktu berdua, matahari perlahan turun dari peraduan. Senja mulai terganti dengan temaram, dan langit jingga perlahan menggelap.
Laras berdiri di hadapan Lion dengan raut wajah masam. Ia yang berkata agar mau menghadapi kenyataan, tetapi ia juga yang enggan saat pria itu ingin kembali ke kawanan di dalam hutan. Begitulah wanita.
"Apa harus kembali?" tutur Laras dengan wajah dibuat sedih. Tangannya terus menggenggam erat baju Lion.
Melihat sikap Laras, Lion tersenyum. Ia senang meski wanitanya tengah merasa sedih. Untuk kesekian kalinya ia mengangguk. Namun kali ini merendahkan badan agar wajahnya berada tepat di depan wajah Laras.
"Aku harus kembali. Bagaimana jika mereka ke sini mencariku?" ujar Lion dengan lembut, seperti tengah merayu anak kecil agar tak ikut.
"Kalau begitu kamu bisa memperkenalkanku pada mereka."
Lion tertawa. "Aku tahu jika kamu imut, tapi aku tidak tahu kalau Larasku yang merajuk bisa se-menggemaskan ini." Pria itu mengusap rambut Laras.
Setelahnya menatap manik mata yang terlihat lebih indah dari rembulan. Perlahan wajahnya semakin mendekat, memangkas jarak di antara dua bibir. Kemudian, CUP! sebuah kecupan lembut Lion berikan.
"Aku akan segera kembali."
Meski berat, Laras akhirnya membiarkan Lion pergi. Menatap punggung pria itu hingga tak terlihat di antara hutan yang lebat.
Sementara di bawah rembulan yang semakin terang, Lion berjalan kian dalam dengan pencahayaan minim. Ia terus melangkah, sampai saat keadaan tepat ia berubah menjadi mahluk dengan taring tajam.
Ia terus berjalan. Tak peduli kiri kanan sebab tak ada yang membuatnya takut sekarang. Bahkan jika ada beruang besar, ia yakin bisa mengalahkannya dengan satu serangan.
Ketika ia masih berjalan, tiba-tiba dari semak-semak terdengar suara mencurigakan. Bertepatan dengan itu, dua ekor serigala muncul.
"Akhirnya kamu kembali, Aira," ujar salah satu serigala, Kevin.
"Benar. Kami hampir mendatangi dan menyeretmu tadi," lanjut Vicky.
Aira yang nampak tenang tiba-tiba merasa gelisah dengan kalimat Vicky. "Kalian tahu aku dari mana?"
Kedua teman Aira mengangguk bersamaan. Namun Kevin segera mengetahui keresahan Aira. "Tenang. Kami tidak akan mengganggu wanita itu. Termasuk merahasiakan ini dari siapapun."
Mendengarnya membuat Aira kembali mendapatkan ketenangan. Ia tidak menimpali, hanya mengisyaratkan agar mereka lekas pergi dan kembali ke Fantasiana. Bermalam satu malam di luar masih wajar, ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika lebih dari itu. Jadi lebih baik kembali sekarang.
Ketiganya berlari menyusuri gelapnya hutan. Melewati jalan rawan pemburu karena jauh dari perbatasan, hingga akhirnya sampai di depan dua pohon besar.
"Aku bukan bermaksud apa-apa, Aira. Tapi kau tidak lupa dengan kejadian 30 tahun lalu, kan?" ujar Kevin di sela perjalanan.
Dengan mata tajam menatap ke depan, Aira mengangguk mantap. "Bagaimana aku lupa dengan tragedi yang menjadikan keadaan seperti sekarang?"
"Baguslah. Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan wanita itu?"
Sejenak Aira tak menjawab. Entah apa yang sedang dipikirkan, tapi tak lama ia menoleh. "Jika aku tidak bisa melupakannya, aku akan mengubah peraturan di Fantasiana."
***
Bukan hanya waktu Laras yang berlalu, tetapi waktu semua orang juga berjalan enggan menunggu.
Sudah satu pekan sejak Laras tak berkunjung ke pasar. Ia bisa membayangkan bagaimana kesalnya Kinan sebab pasokan bunga yang dipastikan menipis.
Namun, meski begitu Laras tetap datang kali ini dengan tangan ringan. Ia sengaja belum memetik bunga untuk dijual. Hanya rindu pada Kinan.
"Ternyata kamu masih hidup," ujar Kinan begitu Laras masuk.
Laras terkekeh menanggapi kekesalan sahabatnya itu. "Bukankah kamu yang paling sedih jika aku tidak kembali?"
"Setelah pergi tanpa kabar berhari-hari, kamu pikir aku masih khawatir?" Laras mengangguk. Seketika Kinan menghamburkan diri memeluk Laras. "Aku pasti akan sangat khawatir. Kamu tega sekali membuatku seperti ini, Laras."
Keduanya saling memeluk. Laras merasa lega, setidaknya ia bisa terhindar dari makian karena tidak membawa bunga.
Namun, sepertinya tidak!
"Di mana bunga-bunga itu?" tanya Kinan penuh curiga, "kau tidak membawanya?"
Laras meringis. "Aku belum sempat memetiknya." Akhirnya alasan paling sederhana itu yang ia katakan.
"Selama berhari-hari apa yang sudah kamu lakukan?" Nada suara Kinan meninggi. "Ingat, ya, Laras. Aku memang sahabatmu. Tapi tentang ini, kita sebatas rekan bisnis. Aku tidak akan memaafkanmu kali ini!"
Membalas ancaman Kinan, Laras hanya mengangguk. Ia sangat paham dengan peringai sahabatnya ini. "Lalu aku akan mendapat hukuman apa kali ini, Nona?"
Kinan beranjak, tak lama kembali dengan satu teko penuh. "Terima hukumanmu dan temani aku minum setelah ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments