Ini seperti dunia sedang berhenti. Hembus angin tak dapat menggerakkan sedikit pun dahan. Kehidupan di hutan serasa mati. Semua diam, kecuali Laras.
Wanita itu berjalan pelan dengan luka sayatan di lengan. Matanya sudah basah, kaki yang gemetar tak menghentikannya untuk terus mendekat pada serigala besar di depan.
Perlahan, langkah kecil yang Laras buat mengikis jarak sedikit demi sedikit. Matanya tak ia lepas dari sepasang mata tajam milik Lion. Meski mungkin entah cakar atau taring yang kini menyakiti, tetapi ia tidak peduli. Tidak ada luka yang lebih berarti setelah semua yang terjadi.
Hingga semua benar-benar diam kecuali Laras. Bahkan tiga ekor serigala yang tadi menggeram buas kini mematung. Seolah alam memihak pada wanita yang membawa cinta.
Kemudian sebuah pelukan erat akhirnya berhasil mengembalikan dunia yang berhenti.
"Lion. Akhirnya aku menemukanmu!"
Dahan kembali menari, sinar matahari terlihat memisahkan diri di antara celah ranting. Sementara sang serigala, perlahan menyembunyikan taring miliknya.
Laras menangis, pelukan belum ia lepaskan. Hingga secara perlahan serigala yang nampak sangat menakutkan berubah menjadi seorang pria dengan garis abu muda di antara rambut. Lion terduduk di dalam dekapan wanita yang keras kepala.
Hutan kembali hening. Tak ada suara, kecuali isak tangis yang semakin kencang dari bibir Laras. Ia bukannya sedih, justeru merasa lega bisa kembali merasakan tubuh hangat pria yang selama ini bersemayam di dalam hati.
"L-laras ...."
Wanita yang masih memeluk itu mengangguk. "Kau benar, ini aku. Laras."
Tak puas hanya memeluk, Laras melepasnya berganti dengan menatap sepasang mata yang sangat dirindukannya. Beberapa saat dua tatapan saling bertaut. Seolah di sana tidak ada yang lain selain mereka berdua. Hutan yang bising mendadak sepi. Hingga ... Lion mendapatkan kesadaran kembali.
Lion melepaskan tangan Laras dari bahunya. Bertepatan dengan itu ia menggeleng. "Tidak. Kamu seharusnya tidak di sini," lirihnya.
Dahi Laras mengerut saat mendengarnya. Namun belum sempat ia bertanya, Lion sudah lebih dulu menatap. "Kembalilah, Laras. Setidaknya saat kamu bisa."
"Aku menyukaimu." Laras mengatakannya dengan lantang dan tegas. Bahkan saat mata Lion membulat, hanya ada kejujuran yang tergambar di sorot mata wanita itu. "Kau tidak dengar? Aku menyukaimu, Lion. Aku tidak tahu pasti, tapi aku ingin terus melihatmu," lanjut Laras.
Lion mematung. Sebuah pengakuan lugas dari Laras membuatnya hampir kehilangan suara. Mungkin jika mendengarnya sebelum ingatannya kembali akan sangat menyenangkan. Namun sekarang, setelah pria itu tahu betul siapa dirinya, termasuk sisi gelap yang sangat dalam seperti palung di lautan.
Terkadang, sesuatu jatuh bukan di tempat yang tepat.
"Kenapa hanya diam?" tanya Laras saat pria di hadapannya membeku tanpa suara. "Jangan bilang perasaanmu su--" Dibungkamnya bibir Laras dengan sebuah ciuman.
Kepala Laras terasa kosong. Makian yang hampir keluar kembali ditelan. Matanya membulat sempurna menerima ciuman tak terduga dari Lion. Sesak dan bahagia tercampur dalam satu wadah yang sama. Netranya mulai terpejam, ia sungguh tenggelam dalam rasa nyaman. Sampai, dua bibir yang bertaut terlepas.
Ditatapnya mata basah wanita di hadapannya. Di waktu yang sama, Lion seperti berdiri di antara dua pilihan yang terhalang jurang. Ia bahagia, tetapi juga sedih. Perasaan yang belum pernah ia rasakan.
Hingga setelah beberapa saat, Lion menggeleng. "Aku tidak bisa," ujarnya seraya memalingkan wajah.
"Apa maksudmu tidak bisa?"
"Aku tidak bisa. Pergilah. Ini bukan tempatmu, dan di luar sana juga bukan tempatku."
Laras membeku. Kalimat yang tidak pernah diduga akan keluar setelah sebuah ciuman diberikan membuatnya kehilangan sebagian besar isi kepala, termasuk kata-kata. Hanya tatapan penuh tanda tanya yang mewakili kebingungan.
Wanita itu sungguh ingin mengeluarkan kalimat. Namun sebelum itu terjadi, Lion sudah lebih dulu berbalik dan melangkah pergi.
"Kau sungguh brengsek, Lion!" Langkah Lion terhenti. Sedangkan di belakang pria itu, air mata Laras kembali mengalir deras. "Setelah semua yang kamu perbuat padaku, bisa-bisanya kamu pergi begitu saja?"
Dada Laras terasa sangat sesak. Paru-paru yang seharusnya memompa oksien dengan baik kini serasa tersumbat oleh air mata. "Setelah semua waktu aku habiskan untuk memikirkanmu, setelah apa yang aku katakan saat itu ...." Kalimatnya terhenti.
Laras memberi jeda untuk mengambil napas. Sedangkan di hadapannya, Lion berhenti tanpa menoleh sedikitpun.
"Kau bahkan menciumku tadi. Apa aku hanya permainan bagimu?" Tangis Laras semakin deras. Setelah ia berjalan sepanjang hari di tengah hutan, tentu bukan balasan seperti ini yang ia inginkan. Lututnya terasa kehilangan tulang, perlahan ia terduduk. "Bahkan setelah membuatku jatuh cinta padamu. Kau benar-benar brengsek." Suaranya kian lirih.
Lion semakin membeku. Sakit di dalam hati tak bisa dijelaskan oleh wataknya yang keras. Suara tangisa dari wanita yang mengaduk perasaan membuatnya mengepalkan tangan. Ia senang, sekaligus benci terhadap betapa lemahnya perasaannya sekarang. Ia mengumpulkan serpihan kegarangan yang sempat berhamburan saat mencium Laras barusan.
Setelah memantapkan perasaan, Lion berbalik hendak menegaskan bahwa dirinya benar-benar tidak menyukai Laras. Namun sebelum kalimat menyakitkan itu keluar, wanita yang tadi masih bersuara perlahan ambruk tak berdaya. Laras tak sadarkan diri.
"Laras!" pekik Lion yang di detik sama segera meraih tubuh Laras sebelum wanita itu benar-benar ambruk di atas tanah. "Laras. Kau baik-baik saja?" ucapnya panik. Sejenak ia mengitari sekitar, tetapi dua kawannya sudah tak lagi berada di sana.
Lion terus menepuk pipi Laras, berharap wanita itu segera terbangun. "Apa yang terjadi padamu? Laras, bangun!"
Namun, sekeras apapun Lion membangunkan, ia tidak bisa mengembalikan kesadaran dari tubuh yang hampir kehilangan cairan di dalam tubuhnya.
***
Sementara di pasar, seorang pria berlari kencang dengan keringat dan napas ngos-ngosan. Tubuhnya gemetar hebat, seolah ia baru saja berada di ambang kematian.
"Aku hampir mati!" ujarnya begitu memasukki toko bunga.
Kinan yang sedan menghitung uang segera menghampiri. "Ren! Kenapa wajahmu sangat pucat?"
"Aku hampir mati," ucap pemburu bernama Ren. Kalimatnya terbata, tentu ketakutan masih menguasai tubuhnya.
Mengerti keadaan Ren, Kinan menuangkan air dan menyuruh pria itu melanjutkan setelah tenang.
Ren menatap Kinan usai menghabiskan satu gelas air dalam satu tarikan napas. "Di hutan semalam ...." Kalimatnya terhenti, sedangkan Kinan hanya mengangguk menunggu Ren melanjutkan. "Semalam, aku hampir dimangsa seriga."
Mendengar itu, Kinan refleks berteriak. Namun ia segera menutup mulut saat Ren menyuruhnya memelankan suara.
"Di mana? Apa dekat dengan rumah Laras?" Kinan sangat penasaran.
Ren segera menggeleng. "Jauh di dalam hutan. Aku tidak sengaja hampir melewati perbatasan."
"Maksudmu dua pohon besar yang sering diceritakan orang-orang?"
Anggukan diberikan oleh Ren. "Dan kau tahu, dongeng yang orang-orang ceritakan sepertinya benar." Sementara Kinan hanya melotot menyimak. "Tentang kerajaan manusia serigala."
Kinan semakin membungkam mulut. Matanya membulat sempurna karena terkejut. Manusia serigala, samar ia mengingat kata itu tidak asing. Ia yakin baru mendengarnya akhir-akhir ini. Hingga tiba-tiba matanya kembali melebar.
"Laras. Aku harus menghubungi Laras!" Wanita itu berlalu pergi menuju telepon di meja kasir.
"Kau mau kemana? Aku belum selesai bercerita!"
Namun kisah Ren kini tak lagi menarik bagi Kinan. Ia harus memastikan jika sahabatnya berada di temat yang seharusnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments