Setelah perapian dipadamkan, seekor kelinci sudah berubah menjadi beberapa macam hidangan. Jika Laras bertugas mengurus rasa di dalam, sedangkan Win dan Lion harus mematangkan potongan daging yang ditusuk dengan bambu kecil di luar.
Lion terus mengipas api agar tak padam, dan Win yang bertanggungjawab atas kematangan. Membolak-balik daging agar matangnya rata adalah tugas sang pemburu. Katanya ia lebih paham karena terbiasa hidup di hutan.
"Sudah cukup. Matikan apinya," ucap Win seraya mengangkat potongan daging.
Akan tetapi, bukannya mematikan api, Lion justeru mengibasnya lebih keras. Membuat Win yang berbalik segera mendapat serpihan abu dan asap.
Win memejamkan mata. Tangannya hampir melempar Lion dengan nampan besi jika ia tidak segera menarik napas dan menahannya. "Kau mau mati?"
Lion hanya tersenyum puas. Kapan lagi ia bisa melihat wajah gosong Win. Walaupun yang gosong nampaknya bukan hanya pemburu itu, melainkan sisa daging yang belum sempat terangkat juga menjadi korban.
Tak terima, Win membalas perbuatan Lion. Diambilnya kipas yang tergeletak di atas dipan. Dengan kekuatan penuh dendam, ia mengibas balik arang yang seharusnya dipadamkan. Hingga kekacauan benar-benar diciptakan oleh dua pria dewasa.
"Astaga!" Mata Laras membulat. "Apa yang sebenarnya kalian lakukan?"
Setelah meletakkan piring dengan sembarang, Laras segera mendorong Lion dan Win yang wajahnya penuh asap dengan kuat. Wanita ini bergegas mematikan perapian. "Aish! Bagaimana kalian memanggang sampai gosong seperti ini?"
Tak ada yang menjawab. Tatapan tajam Laras membuat kedua pria di sana hanya bisa saling menyalahkan satu sama lain melalui mata.
Setelah beberapa saat, Laras menarik napas dalam. Marah-marah hanya akan membuatnya kelelahan. Teringat dengan sesuatu, ia beralih menatap Lion. "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Seingatnya, manusia serigala itu tidak tahan terhadap api. Akan tetapi, Lion segera mengangguk, membuat Laras membuang napas lega.
Sementara di sisi lain, ada pria yang menunggu pertanyaan sama dari Laras. Namun, agaknya ia harus kecewa karena tidak mendapatkannya.
"Bukan hanya dia. Aku juga terkena asap, Laras. Kenapa hanya dia yang kamu tanya?" protes Win, merajuk. Tetapi bukannya perlakuan sama yang didapat, Laras justeru memukulnya cukup kuat.
"Kau ini! Seperti anak kecil saja!"
Waktu berjalan cepat. Saat ketiganya selesai makan, bulan naik lebih tinggi ke peraduan.
Win mengemasi barang dengan pelan. Sebenarnya ia belum ingin beranjak, tapi Laras seolah menyuruhnya untuk cepat bergegas dari sana.
"Aku tidak mengusirmu. Lagipula kau juga harus pergi berburu, kan?" Laras berdalih.
"Padahal aku akan libur berburu hari ini."
"Haish!" Laras mengangkat tangan, tapi tak jadi memukul Win. "Sudahlah. Cepat pulang!"
Laras melambai, seperti mengisyaratkan agar Win lebih mempercepat langkah. Alhasil, perlahan tubuh pria itu tenggelam dalam jalanan yang gelap.
Usai kepergian Win, kini hanya ada mereka berdua yang tertinggal. Sekilas nampak seperti biasanya. Namun setelah kejadian di hutan, seperti ada jurang yang memisahkan keduanya. Laras menghela, kepalanya terasa pening setelah luka mengingatkannya.
"Kau juga pergi," ujar Laras dengan pelan. Tak mau melihat Lion lebih lama, wanita itu bergegas pergi. Namun belum sempat, langkahnya dicegah dengan lengan digenggam.
"Laras ...." Kalimat Lion terhenti. Sedangkan di depannya wanita enggan berbalik karena tengah menahan air mata. "Aku masih menyukaimu."
Seketika dada Laras terasa sesak. Seperti ada gumpalan menyakitkan memenuhi hatinya. Air di pelupuk mata hampir tumpah padahal sudah ditahan sekuat tenaga. Jika pernyataan barusan datang dari Lion, tentu Laras akan merasa sangat senang. Namun setelah semua nampak nyata, apakah ia bisa merasakan kesenangan seperti itu lagi?
"Laras. Aku masih menyukaimu. Aku hanya berpikir kita tidak akan pernah bisa bersama."
Mendengarnya membuat Laras semakin merasa terluka. Perkataan yang nyatanya lebih menyakitkan daripada sayatan belati di dalam hati. Ia sekuat tenaga menahan diri agar tidak terisak. Meskipun ia harus menggigit bibir kuat-kuat.
"Bukan karena aku membencimu. Hanya saja, ada perbedaan yang sangat besar di antara kita. Kau manusia biasa, sedangkan aku--"
"Bagaimana jika aku tidak peduli?" potong Laras dengan cepat. Bertepatan dengan itu mata Lion membulat. Di detik beirkutnya, wanita di sana berbalik dengan air memenuhi mata. "Bagaimana jika aku tidak peduli dengan status kita?"
Lion membeku, bergeming menatap keseriusan di mata Laras.
"Aku tidak peduli bahkan jika kamu bukan manusia. Apa yang salah? Selama ini kita bisa bersama," ujar Laras melanjutkan. Karena sebenarnya, perkataan itu tulus datang dari dalam hatinya. "Selama kita bahagia, kenapa harus mengkhawatirkan hal yang bahkan belum terjadi?"
Benar, perkataan Laras sepenuhnya tidak salah. Lion juga setuju. Namun, ada rahasia besar yang wanita itu tidak tahu. Sebuah rahasia yang bahkan tidak semua kawanannya diberi tahu. Tentang kejadian 30 tahu lalu yang membuat kerajaan Fantasiana menjadi seperti sekarang.
"Apa masalahnya? Kau tidak bisa menjawab?" Laras menatap Lion dengan kecewa. Setelah beberapa saat pria itu hanya bergeming, Laras membuang napas tak percaya. Ia berusaha melepaskan lengan dari genggaman Lion dan bergegas pergi dari sana.
Namun siapa sangka, genggaman yang terlepas justeru berganti dengan sebuah pelukan. Lion mendekap Laras dengan erat. Saat itu juga, dunia terasa kembali berhenti.
Kesunyian mendera. Tidak ada suara yang terdengar kecuali detak jantung yang terus berdebar. Laras hampir menangis karena terkejut. Sedangkan Lion sudah menenggelamkan kepala di pundak wanita itu.
Beberapa detik berlalu tanpa ada pertukaran kata. Lion terdiam, apalagi Laras yang tak bisa menentukan sikap harus melakukan apa.
"Kau benar. Siapa yang peduli?" Akhirnya kalimat itu yang terlontar dari bibir Lion setelah beberapa saat terdiam. "Aku bahkan tidak peduli jika kamu wanita tua. Selama aku bisa bahagia."
Laras yang hampir larut dalam suasana segera melepas pelukan. Ia mencubit perut Lion dengan kuat, membuat pria itu meringin kesakitan.
"Apa yang salah?" tanya Lion Heran. Saat ia berusaha mengungkapkan ketulusan, malah cubitan keras yang didapat.
Tak menjawab, Laras menatap mata Lion. Ia masih merasa tak percaya bisa melihat sepasang netra yang sangat membuatnya jatuh cinta.
"Kali ini kau serius, kan?" tanya Laras. Lion tersenyum dan mengangguk. "Kalau sampai kau mencampakkanku lagi, aku akan menyerang kawananmu, paham?"
Lion tertawa kecil, tapi ia tetap mengangguk yakin. "Jika itu terjadi, aku akan menghukum diriku sendiri."
Malam yang tenang semakin terasa sunyi. Keduanya tenggelam dalam tatapan yang dalam. Sesak di dalam hati sudah jauh berkurang. Seperti ada angin yang menghapus semua asap di sana. Perlahan mata Laras terpejam saat sebuah ciuman Lion berikan.
***
Sementara masih di dalam hutan, dua serigala yang berubah menjadi manusia berjalan mengikuti jejak yang kawannya tinggalkan.
"Kau yakin tidak mau pulang?" tanya Vicky.
Seketika Kevin menoleh. "Tanpa Aira? Tidak mungkin."
Vicky tersenyum. "Padahal kau bisa jadi kandidat raja selanjutnya." Kevin menatapnya dengan tajam. "Aku hanya bercanda," ungkap Vicky.
Helaan napas keluar dari bibir Kevin. "Kita harus segera membawa pulang Aira sebelum para tetua curiga."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments