Sebuah Panggilan

Anak panah melesat cepat saat seseorang melepasnya dari busur. Dari semalam, entah sudah berapa banyak tembakan yang diluncurkan. Sementara di balik semak-semak, dua pemburu terus mengamati hewan buruan yang tak mudah didapat.

"Apa kamu merasa serigala sering muncul belakangan ini?" tanya Ren, salah satu dari pemburu yang berada di sana.

Sambil mengamati hewan buas yang tiba-tiba muncul, Win mengangguk. "Aku melihat satu di depan," ujarnya seraya mengarahkan busur panah pada target.

Win Fokus pada satu titik. Serigala di depan adalah serigala berbeda dari dua yang berhasil lolos dalam semalam. Saat dirasa hewan di sana lengah, Win melepas anah panahnya. Namun, "Sial!" Sepertinya serigala lagi-lagi tak tertangkap.

Di saat dua pemburu merasa letih, perlahan matahari naik dari ufuk timur.

Keduanya duduk bersandar pohon besar setelah menepi dari tengah hutan. Win meneguk air yang dibawa, sedangkan Ren memilih mengemasi alat perburuan.

"Sepertinya kemunculan serigala mengurangi hewan buruan kita," ujar Ren sembari menghitung jumlah anak panah yang tersisa.

Setuju dengan Ren, Win menghela. "Tapi aneh rasanya. Alih-alih bergerombol, serigala yang kita temui terlihat satu persatu."

"Bukankah lebih baik begitu? Kita akan kewalahan jika mereka menyerang bersamaan."

***

Suatu malam, saat bulan muncul untuk kesekian kalinya dalam tiga pekan setelah Lion tinggal di rumah Laras.

Bangku kayu di bawah pohon ketapang menjadi tempat Laras dan Lion bersantai sembari mengupas buah kenari. Jika diingat, daripada beberapa waktu lalu, si manusia serigala sudah lebih pandai menjalani kehidupan sebagai manusia.

di bawah sinar bulan, tatapan Lion tak beralih dari Laras. Membuat wanita itu salah tingkah. Perlahan tangan Lion terangkat, mendekat ke arah rambut wanita yang pipinya sudah memerah. "Ada daun di rambutmu."

Mendengar itu, tiba-tiba wajah Laras terasa panas. Entah kenapa, tapi ia ingin segera pergi dari sana.

"Mangkuk ini sudah penuh. Aku akan membawanya masuk dan kembali dengan yang kosong," ujar Laras sambil turun membopong mangkuk berisi kenari.

Lion terkekeh dan hanya mengangguk setuju. Lagipula rumah Laras hanya beberapa langkah dari bangku yang mereka duduki.

Namun ketika Lion masih sibuk dengan kenari yang tersisa, angin yang tadinya tenang tiba-tiba berhembus kencang. Bertepatan dengan itu, dari dalam hutan lolongan serigala terdengar bersahutan.

Mendengarnya, Lion mematung. Semakin dipastikan, suara dari dalam hutan terdengar kian jelas. Insting hewannya muncul. Buah kenari di tangan terjatuh, sedangkan dua tangan perlahan berubah menjadi kaki berbulu. Lion berlari menuju gelapnya hutan dengan tubuh yang sudah berubah.

Sementara itu, dari dalam rumah Laras membawa mangkuk kosong yang akan ia penuhi dengan buah kenari.

"Sepertinya sebentar lagi selesai," ucap wanita itu dari balik pohon. Laras belum sadar jika bangku kayu kini sudah kosong. Ketika ia tiba, mata mencari sosok yang semula berada di sana. "Lion?"

Laras meletakkan mangkuk, kakinya berjalan menuju sungai, sedangkan mata terus mencari keberadaan pria yang tiba-tiba hilang.

"Lion!" Ia berteriak, tetapi sama sekali batang hidung Lion tak terlihat. Bahkan satu sahutan tidak terdengar.

Tak mau menyerah, Laras terus melakukan pencarian. Teriakan paling kencang ia lontarkan, berharap Lion segera muncul atau paling tidak menyahut. Kekhawatirannya bukan tanpa sebab, ia mendengar kabar dari Kinan jika pemburu banyak membawa serigala akhir-akhir ini.

"Apa dia melihat serigala di dekat sini?" lirih Laras, berpikir dengan keras.

Saat ia memikirkan berbagai kemungkinan, sayup-sayup telinganya menangkap suara dari dalam hutan. Suara yang akan membuat orang biasa sepertinya merinding ketakutan. Lolongan serigala yang terdengar cukup jelas ditangkap pendengaran.

Awalnya Laras bimbang. Ia ingin membiarkan Lion bebas berkeliaran, tapi di lain sisi wanita ini juga khawatir. Bagaimana jika pria itu tertangkap dalam wujud serigala? Namun menerobos hutan di tengah kegelapan juga bukan solusi bagi penakut sepertinya.

Akan tetapi, entah dari mana keberanian Laras muncul. Ia yang sudah masuk rumah tiba-tiba kembali dengan lampu minyak di tangan. Wanita itu turun menyeberang sungai. Menarik napas dalam dan terpaku saat melihat betapa gelapnya jalan di depannya.

"Haruskan aku melakukan ini?" lirihnya. Namun sebuah perasaan mendorong Laras untuk tetap melanjutkan langkah, menerobos jalan setapak yang dikelilingi dengan pepohonan lebat.

Keheningan, kegelapan, lantunan suara hewan malam menjadi ketegangan sendiri bagi Laras. Ia berjalan pelan dengan tangan memegang penerangan yang tegang. Tubuhnya dalam mode waspada. Bahkan dauh yang terkena angin bisa menjadi acaman baginya.

Pelan tapi pasti, Laras semakin jauh memasuki hutan. Tubuhnya menegang, sementara keringat mengalir dalam suasana malam yang dingin.

"Lion!" Namun ia memberanikan diri berteriak, memanggil manusia serigala yang mungkin sudah berlari jauh dengan keempat kaki cepatnya.

Remang cahaya bulan hampir tak bisa menenbus rimbunnya daun pepohonan. Kendati begitu, Laras yang sudah terlanjur maju tak bisa mundur. Hingga sebuah noda di tanah menghentikan langkahnya.

Laras menurunkan lentera ke tanah, memastika jika yang ia lihat tidak seperti perkiraan. "Ini darah," gumamnya pelan. Di dekatnya segenggam bulu berwarna abu-abu terlihat tergeletak. "Lion!"

Mata Laras membulat. Ketegangan seketika berubah menjadi rasa cemas yang hebat. Memang belum bisa dipastika jika bulu itu milik Lion, tetapi Laras yakin jika firasatnya benar.

Dengan teliti Laras mengikuti jejak darah yang tercecer di sepanjang semak-semak. Ketakutan akan gelapnya hutan sirna begitu saja. Ia hanya berharap jejak darah berhenti dan menemukan sosok yang dicari.

Sampai ketika rumput berduri hampir mengoyak habis pergelangan kaki, seonggok serigala yang Laras cari tergeletak tepat di atas genangan darah. Kedua mata membulat sempurna, sedangkan bibir menganga lebar tanpa suara. Laras menjatuhkan lentera, saking kagetnya ia dengan apa yang terlihat.

Serigala berbulu abu-abu yang ia kenal tergeletak dengan napas tersengal. Sementara luka basah terlihat di bagian punggung, dan satu anak panah masih menancap di kaki depan.

"Lion!" Laras segera mendekat, memeriksa keadaan Lion. Meski air mata mengalir deras, tetapi ia harus bergegas memikirkan cara menyelamatkan serigala itu.

Setelah matanya menyapu sekitar, Laras menemukan beberapa rumput yang bisa ia tumbuk. Sayangnya, tidak batu yang terlihat. Tak mau membuang waktu, ia memutuskan untuk menghaluskannya dengan gigi. Pahit di mulut tidak sebanding dengan kondisi hati Laras yang derasa dipelintir melihat keadaan Lion.

Perlahan ia menutupi luka di punggung Lion dengan tumbukan rumput. Untuk mengurangi pendarahan, disobeknya rok bagian bawah dan segera melilitkan pada tubuh sang serigala. Sementara panah yang menancap perlahan dicabut.

Bertepatan dengan tercabutnya anak panah dari kaki, tubuh Lion tiba-tiba berubah. Menjadi manusia dengan luka yang sama.

"Lion?" panggil Laras. Namun pria yang bajunya sobek di beberapa sisi masih terpejam tak sadarkan diri. Dengan tenaga yang tersisa, wanita itu memindahkan kepala Lion pada pangkuannya.

Di tengah gelapnya hutan malam, tidak ada yang bisa Laras lakukan selain menunggu dan berharap Lion segera bangun.

Namun wanita itu tidak sadari, dua ekor serigala muncul di balik pohon besar. Serigala dengan gigi sangat tajam terlihat mengamati Laras dan Lion.

***

"Kau yakin akan meninggalkan Aira begitu saja, Kevin?" ujar salah seekor serigala yang perlahan mengubah wujud menjadi seorang pria.

Kevin yang sudah lebih dulu berubah mengangguk. "Tidak mungkin kita muncul dan membawa Aira pulang di hadapan manusia itu."

"Kita bisa membawanya sekalian menghadap ratu."

Mendengarnya sontak Kevin menoleh. "Kamu akan mengulang kejadian tiga puluh tahu silam, Vicky?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!