Di Bawah Sinar Rembulan

"Hei! Kenapa kamu memberikan ikanku pada Lion?" protes Win ketika Laras mengambil ikan di piringnya. Namun wanita di hadapannya hanya menatap tajam tanpa suara. "Aku tidak masalah jika memberikannya padamu, Laras. Tapi kenapa diberikan padanya?"

"Win. Siapa bilang ini ikanmu? Ini ikan kami!" timpal Laras dengan ketus. Bertepatan dengan itu, ia menyerahkan ikan pada Lion. "Makan yang banyak biar lukamu cepat sembuh."

Melihat kebaikan Laras pada Lion, menyebabkan perasaan jengkel memenuhi hati Win. Pria itu menatap Lion dengan malas, meski ia tetap memakan nasi dan sayur pelengkap sebab tak ada pilihan lain.

"Padahal aku juga butuh makan banyak untuk berburu serigala."

"Diam." Laras membungkam mulut Win dengan nasi satu sendok penuh. "Makan ini dan cepat pulang," lanjutnya, mengusir pria yang tidak tahu apa-apa kenapa tiba-tiba dirinya dibenci.

***

Sementara di perbatasan dunia manusia dengan Fantasiana. Kevin dan Vicky berjalan dengan terburu-buru. Mereka harus segera melapor atas pencarian Aira semalam.

"Kau yakin tidak masalah jika kita menyembunyikannya?" tanya Vicky, khawatir dengan kesepakatan yang telah mereka lakukan.

Kevin menarik napas dalam sebelum mengangguk. Ia berujar, "Tidak masalah selama tidak ketahuan. Ayo," ajaknya memasuki gerbang Negeri Fantasiana.

Di tengah langkah menuju istana untuk melapor, kedua pria itu berpapasan dengan wanita yang sepertinya baru keluar dari kediaman ratu.

Kevin dan Vicky membungkuk hormat.

"Bagaimana? Apa kalian menemukan Aira?" tanya wanita di sana, Irly. Kevin langsung menggeleng, sedangkan Vicky memilih membiarkan temannya saja yang menjawab. Melihat jawaban itu, Irly menghela panjang. "Sudah kuduga." Lalu bergegas pergi meninggalkan dua pria.

"Apa menurutmu dia wanita yang baik untuk Aira?" tanya Vicky setengah berbisik setelah Irly pergi.

Tak langsung menjawab, Kevin menatap punggung wanita yang menjauh. "Entahlah. Yang jelas dia seorang putri yang akan memperkuat Fantasiana," ucap pria itu.

Merasa harus bergegas, keduanya beranjak menuju kediaman ratu. Melaporkan jika Aira belum ditemukan, padahal jelas sekali mereka melihat pangeran semalam.

Usai menghadap Ratu Seril, Kevin dan Vicky terburu-buru menuju sungai dekat perbatasan. Tentu, mereka tidak berbohong untuk diam, melainkan mengawasi sendiri bagaimana keadaan Aira bersama manusia.

Di balik semak belukar tanpa celah, Kevin memilih tempat untuk bersembunyi. Sedangkan Vicky hanya mengekor dengan waspada. Sejujurnya ia takut jika ditemukan oleh pemburu dalam bentuk serigala.

"Kau yakin bisa mengawasi Aira dari sini, Kevin?"

Kevin segera mengangguk. "Ini adalah batas posisi kita."

Keduanya duduk dengan pandangan fokus ke arah rumah dan ladang bunga. Meski tak jelas, tetapi insting sesama serigala sangat kuat.

"Menurutmu, bukankah lebih baik kita sampaikan apa adanya pada ratu? Kurasa dia akan mengerti karena kejadian 30 tahun lalu."

Mendengar itu Kevin berbalik, ia memukul kepala Vicky dengan keras. "Pakai akalmu! Setelah apa yang terjadi pada ratu dan Aira, menurutmu kita bisa menerima manusia?"

"Tapi aku khawatir dengan Aira di sana."

"Untuk itu kita ada di sini!" Kevin mengakhiri percakapan.

Tiga hari berlalu sejak kedua manusia serigala menepi dari Fantasiana. Kevin dan Vicky masih berada di posisi yang sama. Belum berniat mendekati Aira dan hanya memutuskan mengawasi dari jauh.

Sementara di pusat perhatian, seorang wanita keluar dengan keranjang bunga di tangan. Bukan hendak ke pasar, melainkan sudah waktunya beberapa bunga siap dipanen. Di belakangnya Lion mengekor, luka miliknya lebih cepat sembuh dari yang Laras kira.

Keduanya mulai bersiap memilih bunga yang sudah siap dijual. Atas bantuan dari Laras, Lion tak lagi menyusahkan. Dipetiknya satu bunga mawar yang baru mekar. Hanya satu dan menyembunyikannya di balik badan.

Sedangkan Laras, wanita itu terlalu sibuk dengan pekerjaan alih-alih memperhatikan Lion. Sampai sekuntum bunga mawar disodorkan di hadapan.

Kedua alis Laras bertaut. "Apa ini?" ujarnya sembari menoleh dan mendapati Lion tersenyum dengan mawar di tangan. "Untukku?" Pria di sana mengangguk.

Laras meraih bunga mawar dengan senyum mengembang. Meski seluruh bunga di sana miliknya, tetapi mendapatkannya dari seseorang terasa sangat menyenangkan. Tanpa sadar pipi wanita itu terasa panas, meski ia sendiri memilih mengabaikannya.

Di balik semak belukar, dua pengamat menganga tak percaya menyaksikan apa yang dilakukan Aira pada Laras. Mereka tak berkedip, seolah menyaksikan hal yang tidak pernah dilihat sebelumnya.

"Kamu yakin kita tidak salah mengawasi orang?" tanya Vicky yang langsung dibalas gelengan oleh Kevin.

"Entahlah. Apa yang terjadi pada Aira sampai dia berperilaku manis seperti itu?"

Di detik berikutnya Vicky menoleh, mempertemukan tatapan dengan rekannya. "Kurasa mereka saling jatuh cinta."

Lagi-lagi Kevin menggeleng. "Kuharap tidak."

Namun apa arti prasangka jika tidak dipastikan secara langsung. Setelah berhari-hari hanya menunggu dari balik semak-semak, mereka akhirnya memutuskan untuk menemui Aira. Kevin mengubah tubuh, disusul dengan Vicky menjadi sosok pria tinggi nan menawan.

Perlahan keduanya berjalan mendekat. Ketika tiba di tepi sungai, Mereka saling berpandangan. Tiba-tiba perasaan ragu menjalar. Tetapi apa boleh buat, mereka sudah maju terlalu jauh dan tidak bisa mundur kembali.

Sayangnya, belum sempat mereka menyeberang, Vicky tak sengaja melihat serigala lain tengah mengawasi Aira dan sisi yang lain. Sebelum ketahuan, mereka memutuskan untuk kembali bersembunyi, tak jadi menemui Aira.

"Kau lihat, kan?" tanya Vicky dan Kevin langsung mengangguk. "Kurasa ratu sudah tahu keberadaan Aira."

"Bukankah ini gawat?" Kevin nampak panik, tentu ia sudah memikirkan hal ini sebagai kemungkinan buruk yang akan terjadi.

"Menurutmu apa yang akan dilakukan oleh ratu?"

"Entahlah. Yang jelas bukan hal baik untuk Aira."

***

Malam datang lebih awal dari yang Laras kira. Di bangku kayu bawah pohon ketapang ia duduk memandang bulan seperti biasa. Rembulan di atas langit terlihat hampir sempurna, itu mengingatkannya dengan awal Lion ditemukan.

"Sudah hampir sebulan," lirihnya bermonolog.

Dari belakang, Lion datang membawa kacang rebus dan dua cangkir teh madu. "Apa yang sedang kamu lihat?" tanyanya menyita perhatian Laras.

"Bulan. Sebentar lagi purnama," ujar wanita di sana. Sedangkan Lion tak menjawab dan langsung duduk. Laras menoleh. "Bukankah kamu akan berubah setiap bulan purnama?"

Lion menyeruput teh sebelum mengangguk. "Sepertinya begitu. Apa kamu takut?"

Helaan panjang keluar dari bibir Laras. "Entahlah aku masih takut atau tidak."

Sesaat keadaan menjadi hening. Lion menatap langit yang sepi dengan bintang, sedangkan di sebelahnya Laras masih mencoba mengajak bulan berbincang. Hingga tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Lion.

"Laras," ucapnya pelan. Ketika Laras menoleh, ia melanjutkan, "jika suatu saat aku harus kembali ke kawanan manusia serigala, bagaimana?"

Laras menatap Lion dengan tanya. Ia juga bimbang. "Bukankah itu hal yang baik? Kamu bisa kembali dan hidup seperti semula," ucapnya dengan senyum.

"Menurutmu begitu? Bagaimana jika kita tidak bisa bertemu lagi?"

Entah siapa yang meletakkan pisau di dalam hati. Mendengar perkataan Lion, seperti ada yang menyayat di dalam sana. Laras ragu dengan perasaannya. Mungkinkah ia terlalu larut dalam situasi hingga merasa sedih jika Lion harus pergi?

Namun setelah beberapa saat, Laras menepuk pundak Lion dengan semangat. "Jangan katakan seolah kamu akan meninggalkan kekasihmu," ujarnya, setengah bercanda.

Akan tetapi, tidak ada kata bercanda tentang perasaan dalam kamus Lion. Pria itu menatap Laras dengan dalam. Mata sendu tak bisa lagi menyembunyikan perasaan.

Perlahan wajah Lion mendekat, mengikis jarak antara dirinya dan Laras. Sampai ketika hewan malam berhenti berbisik ....

Cup! Lion mengecup lembut bibir Laras, membuat kedua bola mata wanita itu membulat sempurna.

Detik terasa berhenti. Laras menahan napas, jantungnya berdebar seolah ingin lepas. Setelah cukup lama, Lion akhirnya melepas kecupan.

"Aku tidak ingin meninggalkanmu."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!