Matahari belum lama muncul di ufuk timur. Kabut masih ada beberapa, hawa dingin juga terasa kentara. Di ujung musim kemarau, biasanya orang-orang akan beranjak dari kasur lebih siang. Di luar memang terang awal, tapi suasana mendukung untuk tetap berlindung di bawah selimut.
Terlebih bagi pekerja lepas seperti Laras. Biasanya ia akan memilih untuk tinggal lebih lama di depan perapian. Namun pagi ini, ketika ayam baru bangun ia sudah bersiap untuk pergi.
Ransel sudah dipenuhi dengan berbagai macam bekal. Mulai dari makanan kering hingga beberapa kebutuhan yang bisa saja ia butuhkan.
"Perlukah aku membawa ini?" Sejenak Laras terdiam menatap korek api. Harusnya tak perlu berpikir, tetapi kejadian hari itu terus membuatnya menghindari benda yang bisa membakar apapun.
Namun setelah termenung beberapa detik, wanita itu tetap memasukkan korek api ke dalam tas. "Ini adalah benda paling penting saat menyusuri hutan."
Benar, persiapan yang Laras siapkan bukan sekadar untuk pergi ke ladang, melainkan persiapan untuk menyusuri hutan yang panjang. Bukan tanpa sebab, beberapa buku yang ia baca dari perpustakaan agaknya memunculkan sedikit harapan.
Tentang manusia serigala yang entah dari mana sumbernya.
Setelah semua dirasa siap, Laras bergegas. Berjalan cepat usai memastikan pintu rumah terkunci rapat-rapat.
Hamparan bunga yang mulai kuncup tak bisa menghentikan wanita itu. Bahkan arus sungai bukan masalah untuknya tetap menyebrang. Namun ketika tiba di ambang pintu hutan, Laras terdiam. Ditelannya ludah yang serasa terus berhenti di tenggorokan.
Lorong panjang nan gelap di hadapannya membuat Laras menarik napas dalam. Gugup tiba-tiba menjalar, seperti ada sesuatu menariknya untuk kembali.
Akan tetapi Laras segera mengembalikan keteguhan pada hati. "Tidak masalah. Aku pernah masuk saat malam dan lebih menyeramkan dari ini." Ia membuang napas, sebelum akhirnya memberanikan diri melangkahkan kaki masuk lebih jauh ke dalam hutan.
Siang atau malam, nyatanya hanya memiliki sedikit perbedaan di dalam hutan. Pepohonan terlalu rindang, entah itu sinar matahari ataupun bulan tak ada yang bisa menerobos sepenuhnya. Hanya sorotan samar, dan sisanya kelam seperti tak ada pencahayaan.
Saat kakinya sudah melangkah cukup jauh, Laras kembali membuka peta yang ia gambar seadanya dari buku.
"Harusnya ada dua pohon besar di depan," gumamnya seraya memutar-mutar kertas barangkali ia salah arah. "Atau mungkin masih jauh?"
Tak mau membuang waktu, ia kembali menyimpan peta dan berjalan mengikuti insting. Semakin jauh Laras berjalan, semakin dalam ia masuk ke dalam hutan. Hingga sinar matahari benar-benar tidak terlihat di sana.
Bertepatan dengan itu, samar telinga Laras menangkap suara yang terdengar familiar. Selain semak-semak yang bergerak, lolongan hewan hutan juga menambah kesan seram untuk wanita yang berada di tengah hutan seorang diri.
Laras memelankan langkah. Pandangannya beralih ke penjuru hutan dengan cepat. Ia tak boleh lengah atau hewan buas bisa saja menyerangnya dari belakang bahkan depan. Saat rumput liar terdengar bergerak, wanita itu akan segera menoleh.
Mungkin bukan keberanian yang membuatnya bertahan, melainkan keadaan yang membuatnya tidak bisa kembali.
Setelah cukup lama ia berjalan dengan hati-hati, tiba-tiba hal yang ditakutkan terjadi. Dari berbagai sisi, serigala bertaring tajam mengelilingi.
Ludah yang sulit ditelan semakin terasa kering. Keringat mulai deras membanjiri tubuh Laras. Bagaimana tidak, lima ekor serigala sudah siap memangsanya.
Tak mau pasrah, Laras mengamati sekitar barangkali ada pemburu yang lewat. Namun nihil, ia sudah terlalu jauh ke tempat yang tidak bisa dijangkau manusia.
"Bagaimana sekarang?" lirihnya sembari terus mencari sesuatu untuk menyelamatkan diri. Pandangannya berhenti pada sebongkah batu di samping kaki.
Dengan hati-hati Laras mengambil batu berukuran sedang, kemudian melemparkannya dengan sekuat tenaga ke semak-semak, berharap perhatian serigala bisa dialihkan sesaat.
Benar saja, empat serigala langsung berlari menjauh. Kecuali satu ekor yang terus menatap Laras dengan lapar.
Ketakutan semakin menjalar. Bahkan wanita itu tak bisa berpikir. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali berteriak minta tolong.
Namun sayangnya, tidak ada yang mau menunggu. Serigala yang tadi hanya diam mengerang, kini perlahan bersiap menyerang. Laras mundur sebisanya, berlari juga percuma.
"Kumohon. Lion, aku ingin bertemu denganmu."
Matanya terpejam, Laras sudah pasrah dengan keadaan. Sementara empat serigala yang tadi pergi juga sudah kembali.
Akhir dari kehidupan Laras sudah tiba. Wanita itu terus terpejam, kaki yang tadi masih sempat mundur kini tak bisa digerakkan. Di sekelilingnya, serigala sudah siap memangsa.
Laras bisa merasakan serangan semakin dekat. Ia bahkan tahu sudah tidak ada lagi jarak. Namun ia hanya bisa mengepalkan tangan dengan takut. Saat ini tak lagi berharap bisa selamat, tetapi memohon agar tubuhnya tidak terlalu sakit saat menjadi rebutan serigala.
Namun ketika tiga serigala hampir melompat, suara lolongan keras menghentikannya. Sesaat tak ada yang terjadi, sampai Laras membuka mata dan lima serigala tadi sudah tak berada di tempatnya.
Melainkan tiga serigala yang lebih besar terlihat berdiri tak jauh dari hadapan Laras.
Perlahan wanita itu mengatur napas. Matanya masih menatap tiga binatang buas yang menyeramkan.
Akan tetapi, ada sesuatu yang Laras kenali. Bulu abu-abu yang nampak sangat familiar.
"Lion?" panggilnya pelan. Garis ketakutan di wajah perlahan berganti sumringah. "Itu benar kamu, kan, Lion?"
Perlahan kaki yang masih gemetar melangkah mendekat. Namun, serigala yang ia kenali justeru melolong sangat keras. Laras berhenti, tetapi ia tetap melanjutkan langkah.
"Lion." panggilnya pelan, berharap serigala di depannya berubah menjadi pria yang ia kenal sebelumnya.
Jarak semakin dipangkas. Pelan tapi pasti, Laras semakin dekat pada Lion. Saat hanya berjarak kurang dari satu meter, perlahan tangannya diangkat. "Ini benar-benar kamu," lirih wanita itu, air mata hampir keluar dari pelupuk mata.
Tangan Laras semakin tinggi terangkat. Ia hampir menyentuh bulu kasar serigala di depan, tetapi ....
"Rrrrrr ...." Erangan menakutkan kembali menghentikan pergerakan Laras.
Namun wanita itu tidak takut. Ia justeru tersenyum dan berniat menyentuh bulu berwarna abu-abu di antara taring yang tajam.
Hingga ketika ia hampir menyentuhnya, tiba-tiba serangan tak terduga menyerang lengan Laras. Membuat wanita itu berhenti dan memegang luka yang mulai mengucurkan darah.
Laras menatap serigala hadapannya sesaat. "Lion?" Sementara perih di lengan kian diabaikan.
"Ini aku, Laras. Kau masih ingat denganku, kan?"
Wanita itu kembali mendekat, berharap kegigihannya membuat serigala di depannya mengingat semua yang telah mereka lalui.
Akan tetapi, satu serangan lebih besar mengenai Laras. Wanita itu terdorong ke belakang. Jatuh tanpa bisa bertahan lebih lama.
Anehnya, Laras tak menyerah. Ia perlahan bangkit. Kali ini benar-benar sudah tidak peduli dengan rasa sakit. Tak mau diserang untuk ketiga kali, sekarang wanita itu berlari. Meski semua tahu siapa yang lebih cepat di antara dua mahluk itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments