Tak Bisa Diabaikan

"Apa kau yakin tidak masalah meninggalkan Aira begitu saja?" tanya Vicky, ketika ia dan Kevin berlari kencang menjauh dari perbatasan.

"Ada hal lebih penting yang harus kita pastikan sekarang," timpal Kevin setelah mengangguk. Sedangkan empat kaki miliknya terus menerobos semak belukar.

Melihat wajah Kevin yang serius, Vicky berusaha mengimbangi. Meski ia tidak yakin dengan apa yang temannya khawatirkan hingga memutuskan untuk meninggalkan Aira bersama manusia.

***

Sementara di sebuah gua beratapkan batu.

Laras duduk dengan gusar setelah siuman beberapa saat lalu. Wajahnya pucat, kulitnya kering, dan baju sudah kusut dipenuhi rumput yang menempel.

"Makan." Entah sejak kapan, tiba-tiba seorang pria berkata dengan tegas dari belakang. "Aku sudah membakar daging rusa untukmu. Aku tahu kamu tidak bisa makan ini mentah seperti kami," lanjutnya.

Mendengarnya membuat Laras mencebik dengan senyum tak senang. "Aku tidak menyuruhmu melakukannya."

Helaan panjang keluar dari bibir Lion. Ia tidak mengira jika akan mengikuti Laras sejauh ini. Jika bisa, ia ingin meninggalkan wanita itu setelah dibawa ke tempat yang seharusnya aman. Namun pada akhirnya, di sinilah ia berada sekarang. Merayu perempuan agar mau makan.

"Makan, Laras. Aku tidak mau kamu sakit," ujar Lion, setengah merayu dengan khawatir.

Namun bukannya mengiyakan, wanita yang masih nampak kesal hanya melirik melalui ekor mata, bahkan untuk menoleh ia enggan.

"Apa pedulimu? Bukankah itu lebih baik untukmu?" ucap Laras.

Lion tak habis pikir. Ia kira Laras tidak akan merajuk, mengingat sifat keras kepalanya. Akan tetapi, nyatanya semua wanita sama saja.

"Makan atau aku pergi sekarang!"

"Cih!" Laras mencebik, tetapi tetap berbalik menghadap meja batu yang sudah Lion siapkan. Tanpa kalimat yang tertukar, ia makan dalam keheningan.

Hingga ketika Laras menghabiskan hampir satu potongan utuh, Lion tak juga berhenti menatapnya.

"Berhenti menatapku seperti itu," ujar Laras tak acuh. Setelah ia menghabiskan gigitan terakhir, ia segera berdiri. "Baiklah, aku akan pergi. Anggap kita tidak pernah bertemu."

Wanita itu segera beranjak. Bahkan makanan di tenggorokan belum turun sempurna, tetapi ia sudah lebih dulu memilih mengakhirinya. Berhadapan dengan pria yang menuai luka akan semakin membuatnya menderita.

Hutan yang terasa lengang menyambut begitu Laras keluar dari persembunyian. Ia berhenti, memikirkan jalan mana yang harus diambil. Apakah bagian kiri tepat, atau justeru sebelah kanan yang akan membawanya ke rumah?

"Kanan," ucap Lion tiba-tiba, "ambil kanan. Itu jalan keluar dari hutan."

Laras melirik tajam. Ia sama sekali tidak butuh petunjuk dari pria brengsek yang sudah menciumnya lalu menyuruhnya pergi begitu saja.

"Aku tahu!" ucap Laras sembari mengambil langkah besar.

Melihat Laras menjauh, Lion hanya bisa mematung dengan tatapan tak lepas dari punggung wanita di sana. Hatinya terasa nyeri, meski ia ingin segera mengakhiri.

Namun ketika ia masih terus mengamati, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar tak jauh di depan. Lion bergegas menyusul secepat kilat.

"Haish! Mengagetkan saja!" kesal Laras saat mendapati sebuah kayu hampir ia bunuh karena dikira seekor ular besar. Meski begitu, ada pria yang menghela lega tak jauh dari sana.

Lion kembali berhenti. Ia ingin menyelesaikan semuanya di sana, tapi hatinya memaksa untuk memastikan Laras baik-baik saja.

Dengan mengakui kekesalan terhadap diri sendiri, Lion akhirnya memutuskan untuk mengikuti Laras. Setidaknya sampai wanita itu tiba di tepi hutan.

Meskipun di salah satu laci dalam hati, Lion merasa jika keputusan mengikuti Laras tidak akan berakhir baik untuknya.

Sedangkan cukup jauh di depan, Laras merasa bisa pulang dengan aman. Kendati perasannya kacau, ia masih sedikit senang sebab Lion mengikuti di belakang. Walaupun ia akan berpura-pura tidak tahu akan hal itu.

Jalan setapak yang dibuat seadanya oleh pemburu menjadi penunjuk jalan bagi Laras. Ia terus melangkah, meski tulang di kakinya terasa hampir patah. Entah karena ia sudah lelah atau sebab balasan dari Lion, tapi Laras merasa perjalanan pulang jauh lebih berat daripada saat ia berangkat mencari kebenaran manusia serigala itu.

Beruntung, tepat sebelum matahari menenggelamkan diri, Laras akhirnya tiba di tepi hutan. Hal yang membuatnya yakin adalah suara aliran sungai yang terdengar semakin jelas.

"Ah, akhirnya aku sampai," ucapnya dengan lega. Untuk menghilangkan sedikit lelah, ia berhenti sejenak barang untuk bersandar di pohon.

Sebuah senyum terukir di wajah Laras saat ia melihat gubuk miliknya terletak di depan sana. Walaupun, jauh di dalam hati ia masih merebus luka dan kecewa.

Sementara tak jauh di belakang wanita itu, Lion menatap dengan perasaan yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Ingatan yang hampir ia kubur kini kembali mencuat. Kenangan bersama Laras yang terasa hangat bahkan saat ia tak ingin mengingat.

Sungai yang deras, ladang bunga yang terlihat indah, juga rumah sederhana tempatnya menyadari perasaan untuk pertama kali. Jangan lupakan dipan di bawah pohon ketapang, adalah saksi ia memberikan kecupan di bawah sinar rembulan.

Lion termenung. Ketidakpedulian yang selama ini ia besarkan sedikit demi sedikit terkikis oleh kenangan yang sebentar. Jika perasaan pada Laras adalah cinta, bukankah ia sudah melanggar prinsip manusia serigala?

Namun saat Lion belum berhasil mengenali bagaimana perasaannya, dari arah yang lain seorang pria berteriak memanggil Laras.

"Laras! Untunglah aku menemukanmu."

Laras yang tengah beristirahat mengerutkan dahi. "Kenapa mencariku, Win?"

"Ini semua gara-gara Kinan. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa tidak mengangkat telepon?"

"Ah." Laras baru ingat jika ia pergi seorang diri tanpa ada yang tahu. Bahkan Kinan. "Aku hanya berjalan-jalan sebentar. Bilang padanya jangan khawatir."

Win mengangguk mengiyakan. Lagipula melihat Laras baik-baik saja sudah cukup untuknya.

"Oh, sepertinya tangkapanmu besar hari ini," ujar Laras saat melihat seekor kelinci dibawa oleh Win.

"Kau mengejekku?" timpal Win, "sudahlah. Mau makan daging kelinci bersama?"

"Aku sudah kenyang." Laras menolak. Ia ingin segera pulang dan tertidur melupakan rasa kesal terhadap Lion.

Akan tetapi, bukan Win namanya jika mengiyakan dengan mudah.

"Kalau begitu, temani aku, ya? Ayolah, Laras. Kamu akan membiarkanku kelaparan seperti ini?"

Laras menghela napas panjang. Ia ingin menolak, tapi penolakan hanya akan membuat telinganya rusak akibat rengekan Win yang tidak akan berhenti. Akhirnya wanita ini mengiyakan dengan terpaksa.

Mendapati hal itu, tentu Win tersenyum lebar. Siapa sangka ia bisa makan berdua dengan Laras setelah sebelumnya tidak pernah bisa.

Namun saat keduanya hampir beranjak, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah mereka.

"Aku ikut."

Win dan Laras menoleh bersamaan.

"Aku ikut. Aku juga lapar." Rupanya Lion masih tak bisa membiarkan Laras berduaan dengan Win.

Berbeda dengan Laras yang memasang ekspresi tak jelas, Win kentara sekali menunjukkan ketidaksukaan pada Lion.

Win mencebik. Meski pada akhirnya tetap mengekor Lion yang sudah lebih dulu berjalan di depan. "Mengganggu saja!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!