Di atas dipan kayu berhadapan dengan sungai, seorang wanita duduk melamun. Matanya basah, padahal hujan tidak turun dari semalam. Pandangannya mengudara di antara angin. Jika bisa, ia ingin melebur dan terbang seperti debu-debu yang bertebaran. Ia ingin pergi ke suatu tempat, tapi tak tahu tempatnya.
Sementara di sampingnya, beberapa hidangan ikan dan sayur nampak semakin dingin sejak disajikan beberapa puluh menit lalu. Bukan ia tidak lapar, tapi hatinya yakin ada orang lain yang akan datang. Meski, nyatanya sama sekali tidak ada.
Laras menatap dua ikan segar yang baru digoreng, tergeletak di atas piring yang sama. Jika diingat, harusnya ia memasak satu ekor saja. Sebab dari beberapa hari terakhir tak ada yang menemaninya makan.
Helaan panjang keluar saat menatap asap nasi yang perlahan hilang. "Bodoh sekali kau, Laras. Untuk apa memasak makanan sebanyak ini. Siapa yang mau menghabiskan?" lirihnya, bermonolog pada diri sendiri.
Namun kendati begitu, ia tetap mengisi piring yang kosong dengan nasi dan sayuran. Ketika ikan diambil, tiba-tiba tangannya berhenti. Mata wanita itu menatap lurus ke depan, pikirannya kembali mengingat seseorang. Tak lama ia tersadar, menghela napas sebelum akhirnya tetap mengambil ikan.
Makan siang kali ini terasa sangat sepi. Kesunyian, kehampaan jelas sekali berada di sekeliling Laras. Bahkan nasi yang tadinya terasa sangat nikmat setelah berkebun, sekarang sama sekali tidak ada enaknya. Agaknya bukan makanan yang membawa kenikmatan, melainkan dengan siapa ia makan bersama.
"Dia akan kembali, kan?" Ia bertanya untuk kesekian kalinya.
Semenjak kejadian siang waktu lalu, kini hanya hamparan hutan lebat yang selalu Laras pandang setiap saat. Perasaan bersalah, khawatir, cemas, dan yang lain seperti dimasukkan dalam satu panci lalu direbus bersama. Pengap, banyak sesak yang memenuhi dada.
Hari-hari yang dilalui seperti kehilangan energi. Sepertinya kebersamaan dengan Lion yang sebentar benar-benar membuatnya terlena. Bukankah harusnya ia senang karena manusia serigala itu sudah pergi dan tak kembali?
"Entahlah. Seperti ada lubang kosong di dalam sini," ujar Laras, seraya memegang dada bagian kiri.
Saat memori memutar kebersamaannya dengan Lion, tiba-tiba sudut mata terasa basah. Air mata yang seharusnya sudah berkurang banyak kini kembali mengalir deras. Tetapi bertepatan dengan itu, ia segera menyeka pipi, menghapus air yang turun.
"Lion, kau benar-benar brengsek!" umpatnya, memikirkan beberapa pertanyaan yang belum sempat ditanyakan. "Berani-beraninya dia pergi setelah mengatakan itu semua."
Air mata kian banyak, Laras terisak. Daripada perasaan sakit, kepergian Lion meninggalkan banyak hal yang membuatnya sesak. Ia bahkan belum sempat menyadari perasaannya sendiri, dan sekarang semua sudah terlambat.
Pria itu tak akan pernah kembali.
***
Sementara di sebuah kerajaan setelah melewati hutan dan pegunungan.
Riuh pesta sudah berlangsung selama tiga hari tiga malam. Bukan tanpa sebab, melainkan sang ratu yang tengah bergembira karena sang pangeran sudah ditemukan. Meski dalam keadaan ingatan yang belum sepenuhnya utuh.
Di halaman istana, penerangan yang biasanya redup menjadi penuh di sepanjang sudut. Sedangkan manusia terlihat berkerumun, berpesta serta menari sepuas hati. Setelah masa duka selama satu bulan, akhirnya Fantasiana mendapatkan kembali pangerannya.
Namun, pesta yang meriah tidak lantas membuat pangeran yang barus tiba merasa senang. Perasaannya masih tak menentu, sedangkan di dalam hati seperti ada lubang besar yang diciptakan.
Meski perlahan ingatannya kembali, nyatanya pangeran belum bisa memastikan siapa dirinya sebenarnya.
Di dalam kamar yang sangat luas, pangeran Aira duduk menatap jendela, memandangi keriuhan di luar tanpa ikut serta. Ia merasa sangat beruntung setelah diselamatkan oleh kawanan serigala saat beruang menyerang.
Ketika Aira masih mematung di tepi jendela, pintu kamar terbuka. Dua orang pria seumuran dengannya masuk.
"Kami sudah memanggilmu berkali-kali dan kamu sama sekali tidak menyahut, Aira," ucap Kevin begitu ia dan Vicky masuk.
Mendengar itu, Aira berbalik. "Sepertinya aku belum terbiasa dengan panggilan itu," ucapnya, masih merasa asing dengan nama lahirnya.
Vicky menepuk pundak Aira. "Tapi kamu harus segera terbiasa. Aira adalah namamu."
Setuju dengan temannya, Kevin menimpali, "Di sinilah tempatmu, Aira."
Aira terdiam. Ingatannya masih terhenti. Selama ini ia dipanggil Lion, dan tiba-tiba berubah nama menjadi Aira, pangeran di negeri Fantasiana. Bukankah sangat mendadak?
"Tenang, Aira. Kami akan membantu mengembalikan ingatanmu." Kevin menyemangati, didukung oleh Vicky yang langsung mengangguk setuju.
Semenjak Aira, pria itu hanya mengangguk. Ia berpikir untuk menerima kenyataan. Meski jauh di dalam hati, Laras masih sering memenuhi.
Setelah pesta berlangsung tiga hari, akhirnya kerajaan kembali seperti semula. Keadaan mulai tenang, aktifitas warga Fantasiana juga mulai normal.
Sementara Aira masih berusaha keras untuk mengingat semuanya. Bahkan sejak ia bertemu dengan Irly, ingatannya masih terhenti pada wanita penjual bunga, Laras.
Irly keluar dengan raut wajah kecewa. Ia yang sudah sangat senang mendengar Aira pulang dan berhasil menemui, nyatanya harus dilupakan serta tidak dikenali. Namun, wanita itu mencoba sadar, jika tunangannya belum pulih setelah hilang.
"Kau benar-benar tidak mengingatnya?" tanya Kevin, ketika mereka duduk di atas batu besar dekat perbatasan.
Awalnya Aira terdiam, tetapi akhirnya mengangguk mengiyakan.
Mendapati hal itu, Kevin menghela. Sedangkan Vicky hanya menyimak dengan kecewa.
"Dia tunanganmu."
Bertepatan dengan kalimat berakhir, mata Aira membulat sempurna. Ia bahkan sama sekali tidak ingat jika telah bertunangan.
"Tu-tunangan?" ucap Aira terbata tak percaya. Kevin dan Vicky menganggu bersama. "Jadi aku sudah punya tunangan?"
"Secara teknis, iya."
Aira menatap Vicky. "Tapi aku tidak merasa menyukainya."
Mendengar pengakuan Aira, Vicky dan Kevin saling bertatapan. Mereka sadar jika temannya kehilangan ingatan. Namun mereka tidak mengira jika yang hilang bukan hanya ingatan, melainkan sifat yang selama ini melekat.
Kevin menepuk pundak Aira. Ia tak bisa banyak berkata maupun menjelaskan. Hanya berkata pelan-pelan semuanya akan kembali seperti semula.
Ketika langit malam terasa semakin gelap. Rembulan muncul dalam keadaan utuh. Malam ini adalah saatnya.
Pelan tapi pasti. Udara tiba-tiba berkabut. Samar, hutan yang sudah gelap semakin terasa kelam. Padahal, bulan yang menggantung terang harusnya menambah penerangan. Namun tidak di Fantasiana, tempat di mana manusia serigala akan saling melolong keras saat bulan purnama tiba.
Tidak terkecuali, seorang pria yang masih kehilangan ingatan. Perlahan tubuhnya berubah, taring dan cakar tajam menjuntai, bulu memenuhi sekujur tubuh.
Saat purnama berada di puncaknya, sebuah lolongan keras terlempar begitu saja.
Namun tidak berhenti sampai di situ. Sinar purnama mengambil seluruh ingatan waktu itu, kini kembali mengembalikannya.
Tiba-tiba berbagai memori muncul di kepala Aira. Tentang masa kecil, luka, dan kebuasan dirinya sebagai pangeran manusia serigala. Juga tentang Irly, wanita yang akan ia nikahi tanpa memikirkan cinta atau tidak sama sekali.
Aira mematung sampai tubuhnya kembali berubah. Ia termenung, ingatan nampak jelas tak ada yang samar. Setelah cukup lama terdiam, ia menoleh menatap bayangan yang terpantul di atas air.
"Inikah diriku yang sesungguhnya?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments