Aira yang Sesungguhnya

Bunga matahari yang tumbuh banyak di musim panas memenuhi keranjang. Seorang wanita menyusuri jalan setapak dengan tidak semangat. Sudah satu pekan lebih, dan sinar di matanya belum juga kembali. Namun bukan berarti ia hanya diam, pekerjaan tentu tetap dilakukan.

Helaan panjang mengiringi setiap langkah Laras. Terkadang pandangannya dibuang ke sembarang arah, di saat yang lain matanya menatap udara yang menampilkan bayangan jelas. Bayangan dari seorang pria yang akhir-akhir ini tak membiarkan kepalanya beristirahat memikirkannya.

"Aku ingin segera sampai."

Ketika wanita itu bergumam, tak lama pintu masuk pasar terlihat. Laras bergegas memasuki toko bunga yang terlihat sedikit ramai. Bahkan Kinan sampai tak sadar jika sahabatnya datang dengan bunga cantik yang akan dijual.

Tak mau mengganggu Kinan, Laras mengeluarkan dan menata bunga miliknya. Membantu pegawai toko agar lebih mudah saat menghitungnya nanti. Hingga ketika seorang pelanggan meminta bunga matahari di atas meja, barulah Kinan sadar jika Laras sudah datang.

"Oh, sebentar. Aku akan mengambilkannya untukmu," ujar Kinan yang terdengar samar di telinga Laras. Tak lama wanita itu menghampiri. "Maaf aku tidak tahu kamu datang. Kau bawa banyak hari ini?" tanyanya, sementara Laras hanya mengangguk seadanya.

Kinan segera menghitung bunga yang Laras bawa. Sesekali ia juga mengajak mengobrol. Sayangnya tanggapan yang didapat dari Laras hanya jawaban sekenanya.

"Apa ini? Sudah beberapa kali ku perhatikan kamu selalu murung," ungkap Kinan kecewa dengan respon yang didapat. "Kau sedang ada masalah, Laras?" tanyanya memastikan tanpa mengalihkan pandangan dari bunga yang tengah dirapikan.

Helaan panjang kembali keluar dari bibir Laras. Ia tidak menjawab, tetapi sikapnya jelas sekali menggambarkan ketidak baikan. Mendapati hal itu, kali ini Kinan yang membuang napas berat.

"Apa ini karena pria itu?" tanyanya, "sudahlah. Dia sudah kembali dan--"

"Kinan." Laras memainkan kertas dengan tatapan kosong. "Apa kamu percaya dengan manusia serigala?"

Sesaat Kinan menatap Laras yang masih belum fokus. Ia menganggap jika temannya hanya sedang bercanda. Sebab tak ada hubungannya dengan pertanyaan yang sedari tadi ditanyakan. Namun ketika melihat garis serius di wajah Laras, Kinan akhirnya menimpali sebelumnya menarik napas dalam.

"Manusia serigala katamu?" Pertanyaan Kinan langsung dijawab anggukan oleh Laras. Di detik berikutnya ia melanjutkan, "Aku percaya."

Wajah masam Laras tiba-tiba berubah sumringah. "Tapi itu dulu. Saat aku anak-anak." Kemudian kelanjutan dari kalimat Kinan membuatnya kembali pada suasana semula, suram.

Kertas yang tadi hanya dimainkan, kini dirobek menjadi beberapa bagian. "Benar, kan? Manusia serigala itu tidak benar-benar nyata. Aku juga ingin berpikir seperti itu." Laras menenggelamkan wajah pada meja.

"Hei. Kau kenapa sebenarnya?"

Kepala Laras terangkat. "Menurutmu apa ada yang akan percaya dengan manusia serigala?"

Kinan hampir menggeleng. Namun sebelum itu terjadi, seorang anak laki-laki sudah lebih dulu menyela.

Anakn laki-laki berpawakan gembul dengan buku di tangan mendekati Laras. "Aku percaya manusia serigala itu memang ada, Kak," ucapnya antusias.

Mendengarnya membuat sorot mata kosong Laras sedikit berbinar. "Benarkah?"  Anak di hadapannya mengangguk. "Dari mana kamu percaya manusia serigala itu ada?"

"Dari sini." Bocah itu menunjukkan buku yang sedari tadi dipegang.

"Kisah Manusia Serigala dan Kucing." Laras membaca judul buku dengan teliti. Terlihat seperti kisah dongeng, tetapi tetap mmebuat wanita itu penasaran. "Apa di buku ini dijelaskan di mana manusia serigala tinggal?"

Bocah di hadapan Laras mengangguk dengan serius. Setelah sejenak berbinar, Laras beralih menghadap Kinan. "Cepat selesaikan. Aku harus segera pergi."

Kening Kinan Menyatu. "Kau akan kemana?" tanyanya meski mempercepat hitungan sesuai permintaan Laras.

"Perpustakaan."

***

Sementara di hutan balik pegunungan. Tiga serigala berlari kencang menuju perbatasan. Sudah sangat lama pemandangan seperti ini terlihat. Serigala gagah yang membentuk formasi terkuat. Vicky, Kevin, dan Pangeran Fantasiana, Aira.

Dua pohon besar yang menjadi tanda perbatasan dengan dunia manusia sejak ribuan tahun silam. Sudah selama itu juga, hubungan manusia dengan serigala mengalami pasang surut. Keduanya sempat bersekutu, tapi pada akhirnya salah satu di antara mereka berkhianat dan membuat jurang lebih dalam dari sebelumnya.

"Kau tahu apa yang dilakukan kepada para penyusup?" tanya Aira yang langsung diiyakan oleh dua temannya. "Jangan beri mereka ampun."

Sisi sebenarnya dari pangeran Fantasiana benar-benar telah kembali. Berbeda dengan Lion yang lembut, Aira justeru tidak memiliki ampun terhadap manusia. Terutama pada pemburu yang mendekati perbatasan, bisa dipastikan hanya nama yang tertinggal, tanpa jasad untuk dibawa pulang.

Ketika mereka tengah fokus melintasi sepanjang perbatasan, tiba-tiba suara keras menyita perhatian.

"Tembakan," ujar Kevin segera sadar.

Aira terpaku sebentar, menajamkan hidung dan pendengaran. "Tidak jauh dari sini. Ayo!"

Ketiganya bergegas. Memanjangkan langkah menerobos hutan yang lebat. Insting yang sudah cukup lama beristirahat kembali terbangun, serasa semakin terasah. Aira memimpin di depan, sedangkan Kevin dan Vicky mengekor tak kalah kencang.

"Hanya karena aku tak ada di sini sebentar, para pemburu merasa bebas berkeliaran," ucap Aira dengan langkah yang dipercepat.

Dua kawan di belakang tak menimpali. Memang mereka hanya akan membalas pemburu sekenanya, tidak seperti Aira yang tidak akan memberikan ampun kepada siapapun. Bahkan jika ia tahu manusia yang datang hanya tersesat dan tidak membahayakan.

Setelah beranjak cukup jauh, mata tajam Aira menangkap seorang pria tengah mengarahkan pistol pada rusa di dekat semat-semak. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari hendak menyerang pemburu. Cakar tajam sudah disiapkan, taring juga telah siap menerkam.

Namun belum sempat ia mengenai, pria di sana sudah lebih dulu sadar. Senapan yang tadinya diarahkan ke rusa kini beralih menghadap Aira. Hingga satu dua peluru ditembakkan, tetapi tak ada yang berhasil mengenainya.

Merasa terancam, pemburu yang ketakutan segera mencari tempat untuk mengamankan diri. Kemudian di atas pohon besar yang dipanjat, pria itu bersembunyi.

Sayangnya, bukan Aira namanya jika membiarkan manusia lolos begitu saja. Dari bawah pohon ia mengerang, melolong keras menakuti pria dengan tubuh sangat gemetar. Sementara Vicky dan Kevin ikut serta meski tak segarang Aira.

Waktu terus berlalu, sudah satu jam dan Aira belum juga meninggalkan pemburu yang mulai kehilangan harapan. Berteriak minta tolong juga percuma. Sekarang ia menyesal telah pergi terlalu jauh ke dalam hutan.

"Kau akan terus menunggunya, Aira?" tanya Vicky yang mulai bosan.

Aira tak menjawab, masih memberikan tatapan intimidasi pada pria di atas pohon. Sedangkan Kevin tak banyak berkomentar.

Hingga ketika angin berhembus kuat. Sayup-sayup suara manusia terdengar telinga serigala yang sangat tajam. Aira menyimak, begitu juga dengan Vicky dan Kevin. Setelah beberapa saat, pandangan pangeraan diarahkan ke sumber suara.

Suara teriakan dari seorang wanita. Refleks Aira berbalik, bergegas cepat menuju teriakan yang masih terus dilakukan. Semakin dekat, semakin jelas.

Sedangkan di atas pohon, seorang pemburu membuang napas panjang. Ia sangat lega setelah keringat hampir habis dari tubuhnya. Ia memastikan tiga serigala benar-benar pergi sebelum turun. Meskipun ia tidak tahu kenapa tiga serigala tadi membiarkannya lolos seperti ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!