Seekor serigala berbulu abu-abu berlari secepat kilat menembus semak-semak. Dua telinga dipasang tajam, ia merasa menerima panggilan dari kawanan. Namun ketika belum terlalu jauh memasuki hutan, sebuah anak panah mengenai kaki depan miliknya.
Ia hampir terjatuh, tapi bertahan dan memilih bersembunyi untuk sementara waktu. Malangnya, sebuah tembakan mengenai punggung serigala itu. Meski darah terus mengalir, ia dengan tertatih menjauh dan menyelamatkan diri.
Sampai, kesadarannya tiba-tiba meredup seperti bukan yang tertutup awan.
Sementara di bagian hutan yang lain, dua ekor serigala terlihat saling memandang saat mendengar suara tembakan. Tanpa menunggu, keduanya bergegas berlari menuju sumber suara. Semakin dekat, aroma yang tidak asing tercium.
Mereka melolong bergantian, berharap segera menemukan kawanan yang tertembak. Saat tak ada sahutan, keduanya kembali berlari mengikuti insting.
Saat kedua serigala itu semakin menjauh dari perbatasan, mereka melihat kawanan yang terluka bersimpah darah.
"Aira!" ujar serigala berbulu abu gelap, Vicky. Ia hampir bergegas dan menemui serigala yang terluka. Namun belum sempat ia sudah lebih dulu dicegah.
"Lihat." Kevin melihat ada seorang manusia yang mendekat dan membaluri luka dengan air mata mengalir.
Sesaat Kevin dan Vicky saling berpandangan. Namun keduanya hanya diam dan mengamatinya dari balik pohon besar.
Hingga saat matahari terbit, dan Laras berhasil memapah Lion keluar dari rimbunnya hutan.
Laras meletakkan tubuh Lion di bawah pohon, sementara ia turun ke sungai mengambil air dengan daun yang diikat. Tak lama wanita itu kembali. "Minum perlahan," ucapnya penuh perhatian.
Lion yang sudah tersadar membasahi bibir pucat miliknya dengan air pemberian Laras. Hanya tinggal menyebrang sungai sebenarnya mereka akan sampai, tetapi wanita yang hampir terjaga semalaman hampir kehilangan seluruh tenaga.
Beruntung, setelah tertatih akhirnya mereka sampai di rumah. Laras membaringkan tubuh pria yang lemah. Tanpa memikirkan istirahat, ia segera menuju dapur dan menghaluskan beberapa bahan herbal. Setelahnya kembali keluar dan menyapa Lion yang setengah terpejam. Pria itu duduk dengan meringis menahan sakit di punggung.
"Tahan. Ini akan sedikit sakit," ucap Laras dari belakang Lion.
Perlahan Laras membuka perban seadanya, lalu mulai mengganti obat pada luka dan kembali melilitkan kain kasa dengan benar. Selesai dengan punggung, ia beralih pada lengan kanan Lion. "Pasti sakit sekali," lirihnya seraya meniup pelan luka.
Namun Lion hanya diam. Harusnya memang ia merasakan sakit, tapi entah kenapa kali ini ia justeru merasa senang mendapat luka seperti itu. Daripada bekas tembakan di punggung, debaran dalam dada serasa lebih menyiksa.
Setelah beberapa saat Laras akhirnya selesai. Ia tersenyum lega, seolah keletihan semalam sirna begitu saja hanya dengan keselamatan Lion.
"Tunggu sebentar. Aku akan menyiapkan sarapan." Wanita itu bangkit. Namun belum sempat beranjak, tangannya diraih oleh pria yang masih duduk di atas pembaringan.
Laras menoleh, melihat Lion tengah menatapnya dengan sangat dalam. Tiba-tiba tangan Laras ditarik, tubuhnya didekap oleh pria yang kini menenggelamkan wajah di antara lengannya.
"Sebentar saja. Aku ingin seperti ini," ucap Lion. Sedangkan Laras, ia hanya bisa menahan napas sebisanya. Untuk pertama kali, wanita ini tidak mengerti kenapa jantungnya semakin berdebar kencang.
Ketika jarum jam panjang mengitari satu putaran, Lion melerai pelukan. Ia menatap Laras yang terlihat salah tingkah. "Kau pasti lelah. Tidak bisakah diam saja? Aku bisa menahan lapar hingga tiga hari," ucap pria itu.
Laras yang semula merasa diperhatikan kini malah merasa kesal karena kalimat Lion yang terakhir. Ia melempar tangan pria itu dengan keras. "Tapi aku akan mati kelaparan jika tidak makan sekarang!" Lalu bergegas pergi tanpa peduli rengekan Lion.
Satu hari berlalu sejak saat itu.
Jalan setapak yang sudah beberapa hari tak dilewati masih nampak sama ketika Laras melewatinya pagi ini. Dengan keranjang bunga yang sudah penuh, ia berjalan dengan ringan. Tentu sendiri, sebab Lion masih terluka dan butuh banyak istirahat di rumah.
Sudah hafal dengan jalan, Laras berhasil sampai di pasar dalam waktu cukup singkat. Ia masuk ke toko bunga dan berniat langsung menyapa kinan. Namun sepertinya temannya itu tengah berbincang.
"Laras!" pekik Kinan ketika menyadari Laras datang.
Sembari mendekat Laras tersenyum. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya terdengar seru sekali," ucapnya beramah tamah.
"Apa kau sudah dengar? Ren hampir menangkap serigala berukuran besar kemarin malam," ujar Kinan dengan semangat. Sementara Ren langsung menepuk dada yang membusung terlampau bangga.
"Sayang sekali. Padahal aku yakin sudah menembak punggung serigala itu. Kalau saja peluru tidak habis, aku pasti sudah menangkapnya dan membawa pulang," jelas Ren tanpa diminta.
Berbeda dengan Kinan yang nampak antusias, Laras justeru merasa kesal setengah mati. Tentu, sekarang pertanyaan tentang siapa yang menembak Lion terjawab langsung oleh pelaku tanpa perlu ia mencari tahu.
Namun meski marah, Laras memilih diam. Sementara pemburu dengan bangga terus bercerita dan berniat akan menjebak banyak serigala untuk diburu. Mendengarnya Laras masih mencoba mengatur napas agar tidak meledak. Akan tetapi kesabarannya di ambang batas.
Dibantingnya keranjang bunga dengan sedikit keras, meminta perhatian dari Ren agar berhenti mengoceh. Setelahnya Laras menoleh. "Bukannya kalian biasanya memburu rusa, kenapa sekarang ingin menangkap serigala?" tanyanya dengan dibuat setenang mungkin.
"Harga yang ditawarkan untuk satu ekor serigala sama dengan lima rusa. Kalau aku bisa mendapat uang lebih banyak hanya dengan satu hewan, kenapa tidak?"
Tangan Laras mengepal kuat. Ia sungguh jengah mendengar alasan Ren. Mungkin benar kata orang jika banyak dari Manusia yang lebih mengerikan daripada serigala.
Laras menarik napas dalam. Ia sungguh ingin memaki, tapi dicegah karena sedang banyak orang di toko bunga.
"Ren. Berhenti memburu hewan dengan cara seperti itu," ucap Laras.
Namun Ren yang tak paham hanya bertanya apa masalahnya. Sampai ketika Laras hampir tak bisa menahan amarah, pemburu itu memutuskan pergi dari sana.
Sadar dengan kemarahan sahabatnya, Kinan mendekati Laras, menepuk punggung wanita itu dengan pelan.
"Pemburu seperti mereka yang terus merusak ekosistem alam," ujar Laras dengan napas naik turun.
"Aku paham." Kinan mengangguk. Setelahnya melanjutkan, "Tapi bukankah kamu juga harus berhati-hati? Rumahmu dekat dengan hutan, dan kabarnya serigala sering muncul akhir-akhir ini."
Setelah amarah Laras reda, ia menenangkan Kinan agar jangan khawatir. Kemudian melanjutkan bertransaksi bunga seperti biasa.
Hati yang semula terasa baik saat berangkat kini menjadi hancur bahkan ketika Laras hampir sampai di rumah. Ia terus teringat dengan kebanggaan bodoh Ren. Hingga tak sadar ia tiba di rumah yang pintunya terbuka.
Laras bergegas masuk dan membulatkan mata begitu melihat Win berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam ke arah Lion.
"Win! Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Mendengar suara Laras, Win segera menoleh. "Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya wanita itu lagi.
Dahi Win mengerut. "Tidak ada. Aku hanya ingin mampir untuk makan dan melihat luka di lengannya."
Mendengar itu, Laras menarik napas dalam agar tenang. "Kau pikir rumahku tempat makan?" ucapnya, tetapi tidak mempermasalahkan selama Win percaya. "Lion terluka saat membantuku di kebun."
Ketika Laras meyakinkan Win makan siang seadanya sudah terhidang. Ketiganya makan dengan lahap. Laras sesekali membuat lelucon. Namun saat salah satu di antara Win dan Lion membalas, ketegangan di antara dua pria itu terlihat sangat jelas.
Sampai Laras teringat akan satu hal. "Win. Apa kamu pernah menangkap serigala?"
Dengan tenang Win mengangguk. "Aku hampir menangkapnya kemarin malam. Sayang sekali serigala itu berhasil lolos padahal aku yakin sudah memanah kakinya."
Nasi di dalam mulut Lion hampir masuk dan membuatnya tersedak. Sontak ia dan Laras saling menatap. Informasi lagi-lagi datang tanpa dicari tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments