Terbongkarnya Lion

Dua pria berjalan penuh khawatir di sepanjang jalan kerajaan. Mata mereka awas, sedangkan telinga dipasang tajam menyimak barangkali ada kabar penting yang harus didengar. Terutama setelah keduanya melihat serigala putih juga mengawasi Aira tempo hari.

"Pencarian Aira masih dilakukan," ujar Kevin saat melihat beberapa prajurit datang untuk melapor.

"Kau yakin? bukankah harusnya ratu sudah tahu keberadaan Aira?" timpal sahabatnya, Vicky.

Sejenak Kevin terdiam. Harusnya ratu memang sudah tahu keberadaan pangeran jika yang mereka lihat saat itu adalah serigala utusan ratu. Namun tiba-tiba mata Kevin membulat seperti menyadari sesuatu.

"Vicky ...," panggilnya sedikit panik, "warna apa serigala yang kita lihat di tepi sungai kemarin?"

***

Laras duduk di atas kursi panjang dengan dua kaki berayun mengikuti irama suara sungai mengalir. Anak rambut yang keluar dari sela telinga seakan terbang seirama dengan hembusan angin. Sementara matanya terpejam merasakan betapa damainya hidup yang ia jalani hingga sekarang. 

Benar, definisi kedamaian yang sesungguhnya. Hingga ketika mata wanita itu kembali terbuka, ketenangan yang indah terasa hancur dalam sesaat.

"Astaga! Apa yang sedang kamu lakukan?" Laras terkejut, tubuhnya ditarik mundur, mata membulat sempurna bibir terbuka seolah tak bisa ditutup lagi. Di depannya, Lion sudah menatap dalam jarak yang sangat dekat, tak berkedip.

Dada yang tadi tak banyak bergerak kini berdebar tak dapat dihentikan. Laras mematung meski bibirnya ingin segera memaki tak henti. Sementara di hadapannya, pria yang menjadi dalang berdebar masih dalam posisi yang sama. Tersenyum manis seolah yang ia lakukan bukanlah sebuah dosa.

"Gawat," lirih Lion yang menatap semakin dalam. "Sepertinya aku jatuh cinta padamu."

Jantung, tenanglah. Bagaimana wanita itu bisa bersikap biasa saja jika debar di dalam kian buruk tak bisa dihentikan? Pipi, kenapa merona tanpa permisi. Wajah Laras memanas, bibirnya terkunci, lidah kelu tak bisa mengeluarkan satu katapun. Ia hanya mematung dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Selang beberapa saat, Lion menarik diri dari hadapan Laras. Duduk di samping wanita itu seraya menghirup udara yang terasa sangat segar. Seolah tidak ada yang ia ucapkan, pria itu bersikap seperti biasanya.

Sedangkan Laras jangan ditanya. Meski kalimat Lion sudah berakhir, nyatanya detak kencang di dalam sana tak ada habisnya. Wanita itu masih bergeming dengan salah tingkah. Bahkan anak rambut yang sudah rapi semakin dirapikan hingga tak ada satupun yang terlihat menyembul dari sela telinga.

Udara yang seharusnya terasa sejuk kini berubah gerah seketika.

Sesekali Laras menoleh, melirik barangkali pria di sebelahnya akan memperjelas kalimat yang membuat jantung tak berhenti berteriak. Namun, pria di sana masih terlihat biasa sampai dirinya menoleh, dan Laras langsung membuang pandangan ke sembarang arah.

Laras terbatuk, seperti pertanyaan yang tidak sempat terucap tersangkut di tenggorokan. Tingkahnya masih salah, mata tak bisa bertemu mata. 

Melihat hal itu, Lion tersenyum. "Aku serius," ucapnya setelah mereka terdiam sesaat. Di detik berikutnya pria itu menoleh. "Soal ucapanku tadi, aku serius."

Seketika atmosfer di sana terasa tak beruang. Hening, bahkan hembusan angin yang menyapa seolah tak lagi memiliki suara. Laras termenung memikirkan kata apa yang tepat untuk menjawab. Kemudian Lion, pria itu masih nampak tenang tak gugup sedikitpun.

Hingga setelah beberapa saat membiarkan jeda terlewat, Lion kembali menoleh, menunggu wanita di sampingnya membalas tatapan. "Kau merasa sangat tiba-tiba?" tanyanya, "tapi, Laras. Perasaanku tidak datang secara tiba-tiba."

Laras masih terdiam. Daripada memikirkan jawaban, kali ini ia lebih bingung menentukan bagaimana perasaannya sebenarnya. Ia merasa senang, tapi juga sadar ada sesuatu yang salah.

Dengan ragu, akhirnya Laras berucap, "Lion, begini--"

"Ah, jangan terburu-buru. Aku belum siap mendengarnya." Namun Lion menghentikan kalimat Laras yang belum selesai, membuat bibir wanita yang masih terbuka segera menutup. "Jangan terlalu dipikirkan. Maksudku tetap pikirkan tapi jangan sekarang. Aku harus pergi!" Lalu ia benar-benar pergi sebelum Laras mengatakan satu katapun.

Masih membeku di tempat yang sama, Laras menatap punggung pria yang menjauh dengan cepat. Kebingungan yang mendera segera berganti. Ia memiringkan kepala, pertanyaan satu belum dijawab dan sekarang ia dihadapkan dengan sikap Lion yang pergi begitu saja.

Namun meski kalimat-kalimat seperti sudah terlontar, nyatanya yang berubah dari mereka hanya kecanggungan yang meningkat sedikit. Sedangkan yang lain, masih terlihat sama. Laras masih memarahi Lion jika pria itu menyusahkan saat bekerja, atau Lion yang masih kerap menjahili Laras dan senang melihat wanita itu kesal.

Seperti sekarang, Lion dengan sengaja menyiram air pada Laras yang tengah sibuk memetik bunga. Otomatis, tanduk wanita itu keluar dengan cepat.

"Kau mau mati, Lion?" ucapnya seraya  bangkit dan mengejal pria dengan ember air.

Lion berlari, tapi sayang sekali Laras sudah lebih dulu meraih ember lain berisi pupuk dan segera melemparkannya pada Lion. Membuat pria yang memulai masalah dipenuhi dengan kotoran dengan aroma menyengat.

Tiga detik berhenti dengan Lion yang mematung di tempat. "Aku hanya melemparmu air, tapi kamu memenuhi tubuhku dengan kotoran," lirihnya, kecewa.

Sementara Laras, ia merasa bersalah. Ia tak menyangka jika akan melempar seluruh pupuk yang ada. "Pupukku ...," sesalnya sedih.

"Kau lebih memikirkan pupuk daripada aku?"

Kalimat barusan membuat Laras memberikan tatapan paling tajam. "Kau yang memulainya! Lihat, sekarang aku harus mengambil pupuk yang baru."

Pria yang malang, bahkan saat dirinya yang harusnya dikasihani, wanita yang diharapkan justeru lebih memikirkan kotoran yang diambil dari kandang. Sudah nasib, Lion harus lebih berhati-hati jika ingin usil mulai sekarang.

Ketika Lion membersihkan diri di sungai, seseorang yang lain mampir setelah menghabiskan malam dan siang di dalam hutan.

"Hanya perasaanku, atau hari ini bunga di sini lebih indah dari wajahmu," ucap Win  begitu tiba menemui Laras.

Mendengarnya, Laras menoleh. "Oh, Win. Apa yang kamu lakukan di sini?" timpalnya tak acuh.

"Aku baru selesai berburu. Kau tahu, lagi-lagi aku melihat serigala yang sangat besar di hutan."

"Kau menangkapnya?" Laras terlihat lebih antusias.

Namun Win menggeleng. "Tapi aku menangkap yang lebih baik," ujarnya, yang tak lama mengeluarkan hewan melata sangat besar dari dalam karung. "Ular sanca terbesar yang pernah aku tangkap."

Ular sepanjang tiga meter terlihat tenang dengan ikatan menyumpal mulut. Bagi pemburu seperti Win, mungkin hewan tersebut nampak menyenangkan, tetapi bagi Laras sama sekali tidak.

Bulu kuduk Laras mendadak berdiri. Melihat hewan dengan sisik halus membuatnya hampir muntah kalau-kalau tidak ditahan. "Singkirkan hewan itu, Win."

Akan tetapi Win justeru menanggapi ketakutan Laras sebagai hal yang menggemaskan. Ia lebih mendekatkan ular meski wanita di sana hampir menangis ketakutan. Hingga seorang pria yang baru kembali dari sungai menyaksikannya.

Lion menatap Win dengan marah. Dari penglihatannya, pria itu menangkap ular sedang menyakiti Laras. Terlebih saat mendengar Laras berteriak. Rasa marah yang sangat tinggi tak lagi bisa dikontrol. Perlahan cakar di tangan keluar, taring tajam terlihat. Ia berlari secepat kilat dengan raungan menyeramkan.

Laras yang tersadar segera menggeleng, berusaha mencegah Lion agar tidak berubah. "Lion. Jangan!" 

Namun waktu tak mau menunggu. Sudah terlambat. Lion sudah lebih dulu menyerang ular sanca yang dua kali lebih besar darinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!