Matahari terus terbit dan tenggelam. Bumi selalu berputar dan waktu enggan menunggu. Tanpa sesuatu yang berarti, dua pekan telah dilewati begitu saja.
Di sebuah ladang kosong berisikan tanah dan sisa tanaman yang berserakan dengan layu. Seorang wanita berjalan tertatih dengan ember penuh berisi pupuk menuju pria yang sedari tadi belum juga selesai mencangkul satu baris tanah.
Tiba-tiba, ember penuh diletakkan begi saja. Kedua tangan berkacak pinggang, Laras membuang napas dalam. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan dari tadi?" ucapnya, alih-alih memuji Lion yang sudah berusaha sangat keras.
Mendapati Laras sudah kembali untuk yang ketiga kali, Lion meringis. Bahkan peluh yang baru diseka masih tertinggal di wajahnya yang menghitam.
"Lihat. Aku sudah bolak-balik membawakan benih dan pupuk, tapi kamu belum juga menyelesaikan satu baris?" ujar Laras seraya menggeleng tak percaya.
Namun mau bagaimana lagi, berkebun bukan hal yang biasa Lion lakukan. Mencapai setengah baris saja sudah sebuah kemajuan baginya yang hanya bisa menyelesaikan dua cangkulan selama beberapa hari terakhir.
Tak bisa menunggu lebih lama, Laras mendekati Lion. Wanita itu merebut cangkul dan menunjuk kecambah yang sudah siap diberi pupuk. "Kau selesaikan saja bagian di sana," ujarnya, mulai mengangkat cangkul meneruskan pekerjaan yang tak kunjung selesai.
"Aku bisa menyelesaikan yang di sini." Lion berniat mengambil kembali cangkul dari tangan Laras.
Akan tetapi alih-alih merasa terbantu, Laras justeru tak membiarkan Lion memegang cangkul lebih lama. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, "Dengar, aku buru-buru. Benih-benih ini harus segera ditanam. Kau hanya memperlambat pekerjaan, mengerti?" Lalu kembali mengurai tanah agar mudah ditaburi benih.
Sementara Lion, pria itu bergeming sesaat. Bukan sakit hati, melainkan merasa bersalah karena tak bisa membantu Laras padahal ia sangat ingin melakukannya.
"Hei. Tidak usah pasang wajah sedih begitu. Kau bisa membantuku dengan memupuk kecambah-kecambah di sana." Laras menyadari ketika rasa bersalah menghinggapi perasaan pria yang nampak seperti manusia biasa.
Menuruti perkataan Laras, Lion bergegas meraih ember berisi pupuk yang sudah Laras siapkan. Perlahan ia melakukan apa yang sudah dipelajari dari ahlinya beberapa waktu sejak ia membantu di ladang. Menuang pupuk secukupnya di atas tanah yang ditumbuhi kecambah.
Setengah jam hampir berlalu. Bertepatan dengan Lion yang selesai memupuk, Laras juga telah menyelesaikan beberapa baris tanah yang siap ditanam benih.
"Akhirnya selesai," ucap Laras, mengelap peluh yang mengalir. "Kau juga sudah selesai?" tanyanya saat melihat Lion kembali dengan ember yang hampir kosong.
Lion mengangguk mengiyakan pertanyaan Laras. "Tidak sesulit mengaduk tanah-tanah itu."
Mendengarnya, Laras tertawa kecil. "Sepertinya pekerjaan seperti ini tidak cocok untukmu."
Setelahnya, mereka bergegas meninggalkan ladang. Pekerjaan memang belum selesai, tapi sudah saatnya makan siang. Percuma memeras keringat terlalu keras jika perut dibiarkan kosong, kan?
"Oh, aku lupa." Laras berbalik ketika kakinya baru selangkah keluar dari kawasan bunga. "Kita kehabisan ikan dan daging. Aku akan ke pasar untuk membelinya."
Dahi Lion mengerut. "Untuk apa membelinya? Kita bisa menangkapnya."
"Kau pikir mudah menangkap ikan yang berenang di sungai?" Bibir Laras mencebik. Namun beberapa detik kemudian alisnya terangkat, ia menyadari satu hal penting yang terlewat. "Atau kamu bisa melakukannya? Benar, harusnya itu mudah bagimu."
Seolah tak mau kalah dengan waktu, mereka sudah tiba di tepi sungai.
"Airnya sedang banyak. Kamu yakin bisa melakukannya?" tanya Laras sedikit khawatir.
Namun daripada berkebun, agaknya berburu lebih menarik bagi Lion. Setelah mengangguk mantap, ia segera turun dan mulai meraba ke dalam air.
Sedangkan Laras, wanita itu memilih menunggu di tepian. Mengamati Lion yang terlihat sangat serius. Sampai satu ikan besar berhasil ditangkap.
"Kau menangkapnya!" pekik Laras kegirangan. "Wah! ternyata kamu sangat hebat."
Mendengar pujian Laras membuat baju longgar yang dipakai Lion terasa semakin sesak. Pria ini lebih bersemangat, bahkan sampai tak sadar ia mengeluarkan kuku dan sepasang telinga serigala yang disembunyikan.
Beruntung, Laras segera menyadari hal itu. "Hei, Lion!" panggilnya, setengah berbisik. Namun suara air yang deras benar-benar meredam suaranya. "Lion!"
Merasa percuma jika hanya memanggil, Laras memutuskan untuk ikut turun. Bukan untuk berburu, tapi mengingatkan Lion yang terlihat sangat serius.
Di dalam air, kini bukan tangan Lion saja yang masuk, tapi kepalanya juga turut berburu. Hingga saat kepalanya diangkat, sepasang tangan menutup dua bagian di sana. Lion mematung tapi segera sadar ketika Laras berbisik dari belakang.
"Simpan telingamu," ucap wanita itu pelan, tetapi terdengar sangat menyeramkan. Tak berani menoleh, Lion hanya bisa menyembunyikan telinga dan kuku dengan cepat. "Jangan sampai aku melihatnya lagi," lanjut Laras.
Seperti ada biji salak yang berhenti di tenggorokan. Lion menelan ludah dengan susah payah. Entah di mana, tapi keberaniannya lenyap begitu saja ketika bersama Laras.
Usai memastikan Lion kembali ke setelan manusia, Laras melepaskan tangan. "Sepertinya sudah cukup," ucapnya sembari berjalan pelan di antara bebatuan di dalam air.
Namun sayang, batu yang tak terlihat berhasil menjahili Laras. Kaki wanita itu terpeleset, tubuh yang sudah kehilangan tenaga kini harus kehilangan keseimbangan. Ia pasrah dengan air sungai yang sebentar lagi menyambut. Akan tetapi, sepertinya keberuntungan masih tersisa.
Ketika belum sempat tubuh Laras menghantam kulakan air, sepasang tangan sudah lebih dulu menyangga. Dengan gagah, Lion menopang tubuh Laras.
Suasana romansa tak bisa dihindari. Kedua pasang mata saling terkunci. Tatapan yang tertaut seolah meleburkan riuh riak air menjadi keheningan. Laras mematung, begitu juga dengan Lion yang terlihat menikmati manik indah dari dekat.
Waktu terasa berhenti. Bahkan urat tangan yang terlihat dihiraukan, dan Lion masih menatap Laras dengan posisi yang sama. Hingga suara raungan dari dalam hutan mengembalikan kesadaran.
Refleks tangan Lion terlepas, pandangannya mengarah pada sumber suara yang teramat keras, hidung mencium sesuatu yang nampak tak asing. Sedangkan Laras yang belum sempat menjaga keseimbangan terjatuh begitu saja ke dalam air.
Usaha Lion menopang tubuh Laras serasa sia-sia.
***
Sinar matahari terlihat asing di dalam hutan. Celah pepohonan hanya memberi ruang sedikit baginya untuk muncul. Keadaan terasa hening, tenang meski sebenarnya sedikit mengerikan bagi orang-orang yang tidak familiar. Namun berbeda dengan Win yang dibesarkan di dalam rimba.
Busur panah selalu digenggam dengan erat. Sedangkan pandangan tak ia lepaskan dari semak yang terus bergerak. Jika dilihat dari dekat, Win bisa mengira ada hewan buas di dekat sana.
Seakan semuanya berjalan sesuai perkiraan. Tak lama seekor serigala muncul membenarkan dugaan Win. Dengan sigap, ia menembakkan anak panah sebelum hewan di hadapannya berlari lebih jauh.
Satu tembakan panah tak berhasil mengenai, Win mencoba untuk kedua kali. Menunggu serigala di sana sedikit lengah, dan ia akan melepas kembali anak panah dari busur.
Namun sayang sekali, tembakan kedua juga hanya berhasil menggores sedikit mangsa. Serigala itu sudah terlanjur menghilang sebelum Win mengisi anak panah.
"Sial! Padahal aku bisa menjualnya dengan harga mahal," kesal Win yang mau tidak mau harus pasrah kehilangan uang yang cukup besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments