"Ada lagi yang terluka?" tanya Laras seraya membubuhkan tumbukan dedaunan pada luka di siku kanan Lion. Usai melakukannya, wanita itu meniup dengan lembut, ia seperti sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
Sementara Lion menggeleng, mengatakan jika luka yang ia dapat hanya di siku, itupun karena dorongan Win yang membuatnya terjatuh sebelum dibekukan.
Bertepatan dengan selesainya mengobati luka Lion, Laras menghela cukup panjang, merasa lelah padahal sudah duduk di bawah pohon rindang. "Aku tidak menyangka akan melindungimu seperti ini," gumamnya, tapi terdengar jelas.
Mendengarnya membuat Lion menoleh, menatap wanita dengan anak rambut terbang ditiup angin. Ia tak menjawab, hanya merasa berterima kasih sekaligus tak enak pada Laras. Ketika wanita itu berbalik, Lion segera menarik pandangan. Pria ini bahkan tak sadar jika sedari tadi menatap Laras.
"Tapi aku sedikit heran, kenapa kamu sama sekali tidak melawan tadi?" ucapnya, tapi sesaat kemudian melanjutkan, "bukan berarti aku menyuruhmu melawan. Hanya aku merasa sedikit kesal kamu diam saja saat Win menyerangmu." Kedua kaki Laras yang tidak menyentuh tanah diayunkan bergantian.
Lion terdiam sebentar. Matanya kini menerawang ke atas, menatap udara yang terasa semakin ramah. "Aku hanya berusaha menepati janjiku," ujarnya, saat tak ada jawaban ia kembali menoleh menatap Laras. "Aku tidak boleh menunjukkan sisi selain manusia. Lagipula, tidak ada alasan aku melawan. Bukankah begitu?" Pria itu tersenyum, seolah luka di lengan langsung sembuh hanya karena dedaunan yang diberikan Laras.
Sesaat, Laras merasakan getaran singkat di dalam hati. Melihat Lion tersenyum dengan jelas, membuatnya melupakan fakta jika dirinya hampir mati ketakutan saat malam pertama. Namun, ia menyangkal rona pipi yang hampir muncul.
Mata Laras menyipit, bibirnya mencebik. "Kau begitu lapar sampai mencuri daging tadi?" ucapnya.
Tak langsung menjawab, Lion terlihat menarik napas dalam. Ada sesuatu yang sulit dikatakan, hingga ia hanya bisa menggeleng dengan tengkuk yang tiba-tiba terasa gatal. "Aku hanya melihat-melihat, dan orang-orang malah salah sangka." Ia menggaruk leher belakang, khawatir wanita di sampingnya tak percaya.
Namun sepertinya kekhawatiran Lion tidak terjadi. Laras mengangguk paham. Lagipula kejadian seperti itu bukan hal aneh bagi Laras setelah banyak keanehan yang datang beberapa hari belakangan. Bukankah berdampingan dengan manusia serigala adalah hal yang paling tak masuk akal?
Dalam beberapa detik, suasana menjadi hening. Hanya angin dan gesekan daun yang dibiarkan berbincang. Sedangkan Laras dan Lion memilih diam, agaknya dari mereka belum ada yang menemukan topik selanjutnya.
Hingga setelah daun yang gugur dibiarkan menyentuh tanah, wanita di sana kembali menyambung obrolan. Laras menunduk sebelum akhirnya berujar. "Sepertinya aku sudah salah sangka padamu," lirihnya.
Lion yang mendengar samar ucapan Laras segera menoleh memastikan. Wanita di sana tersenyum. "Aku kira mahluk seperti kalian akan menyerang manusia tanpa pandang bulu. Tapi sepertinya aku salah."
Helaan panjang terdengar keluar dari bibir Lion. "Kau salah. Kami hanya akan menyerang jika merasa diusik. Apalagi kami adalah mahluk teritorial," jelasnya.
"Apa itu berarti kamu juga sulit berbagi tempat denganku?"
"Bukankah kalimat itu kurang tepat?" Lion hampir tertawa, tapi ditahan karena ada kalimat yang akan dilanjutkan. "Kamu yang harus berbagi tempat denganku. Jadi walaupun aku tidak suka, sepertinya aku bisa menahannya."
Mendengar itu, ada rasa sedikit kesal dalam hati Laras. Wanita itu mencebik. "Kalau begitu cepat ingat dan pulang ke kelompokmu." Ia berniat bercanda, tetapi tak disangka kalimat barusan sepertinya sedikit melukai hati Lion.
Tiba-tiba Lion terdiam. Bukan ia sakit hati dengan Laras, melainkan kalimat yang barusan didengar kembali membuka pintu samar, gelap dan tidak ingin ia masuki.
Menyadari jika ucapannya berlebihan Laras merasa sedikit tak enak. "Aku bercanda. Ingat saja pelan-pelan," hiburnya, meski setelahnya wanita itu kembali waspada. Terlebih ketika melihat wajah murung Lion seketika berubah ceria. "Tapi ingat, aku memegang kelemahanmu. Jadi jangan berniat macam-macam padaku."
Tak mengelak, Lion langsung mengangguk. Seperti anak anjing yang penurut. Entah sejak kapan, tapi perasaannya merasa sangat nyaman berada di dekat Laras. Padahal, sejujurnya ia sempat khawatir di awal pertemuan. Manusia bukanlah mahluk yang bisa diajak berteman oleh mereka.
Melihat Lion tersenyum, tanpa sadar bibir Laras turut melengkung ke atas. Kedua mata mereka bertemu, tatapan saling mengunci beberapa detik. Seperti ada sesuatu yang nampak di netra keduanya. Sampai tak sadar, sapuan lembut angin membuat Laras tersadar dan segera menarik pandangan.
Laras membenarkan anak rambut yang berantakan. Sedangkan Lion, pria itu justeru tersenyum lembut. Hatinya berdetak seperti kembali hidup. Luka di lengan benar-benar sudah hilang.
Namun yang Lion dan Laras tidak tahu, di balik pohon agak jauh dari tempat mereka duduk. Sepasang mata terus menatap dari tadi. Lengan Win mengepal melihat wanita pujaan berbincang dan saling menatap dengan pria asing yang hampir ia habisi.
Kedua mata Win merah, menatap pria yang memiliki aroma tak asing bagi pemburu sepertinya. "Ada yang aneh," gumamnya setengah marah, "perasaan aneh apa ini?" lanjutnya, seraya mengingat sesuatu yang terasa familiar dari pria yang duduk di samping Laras.
Namun percuma, sekuat apapu Win mengingat, aroma yang muncul terasa semakin samar. Diremasnya udara dengan kuat. Bukan hanya khawatir, tetapi perasaan cemburu lebih mengobarkan api kemarahan untuknya.
***
Sementara itu, di sebuah negeri yang terletak jauh di balik pegunungan. Seorang wanita dengan jubah berbulu dan mahkota bertengger di atas kepala menatap dua lelaki yang tengah menghadap. Ratu Seril, matanya nampak lelah, sementara gestur tubuh jelas sekali tak tenang.
"Kalian sudah menemukan jejak Pangeran Aira?" tanyanya untuk kesekian kali dalam beberapa hari.
Sayangnya, lagi-lagi hanya gelengan kepala yang harus ia saksikan alih-laih jawaban yang diharapkan. Digenggamnya tongkat di tangan dengan erat sembari mengatur napas agar kemarahan tidak meledak.
"Apa bau Aira sama sekali tidak bisa terendus oleh penciuman kalian?" tanyanya lagi setelah membuang napas panjang.
Dua pria di hadapan Ratu kembali menggeleng. Membuat wanita yang berkuasa di sana menggelengkan kepala kesal. "Sepertinya kerajaan harus mengganti banyak prajurit. Bagaimana bisa dua parajurit dengan kemampuan terbaik buruk dalam penciumannya?"
"Maaf, Ratu. Tapi sepertinya Pangeran Aira terbawa arus sungai sehingga baunya hilang."
Ratu Seril menarik napas dalam. Matanya dipejamkan beberapa detik. Ia tidak ingin mendengar kabar omong kosong lagi. Diangkatnya tangan memberi isyarat agar dua lelaki di hadapannya keluar.
Setelah ditinggalkan, wanita dengan mahkota permata duduk menatap udara kosong di hadapannya. Ingatannya menerawang pada kejadian lima hari lalu. Jika ia tidak memaksa putranya, mungkin hal mengerikan ini tidak akan terjadi.
Di luar, seseorang mengetuk pintu membuyarkan lamunan penyesalan ratu. Setelah diizinkan masuk, terlihat seorang perempuan dengan rambut cokelat datang menghadap.
"Kau datang pasti ingin mendengar kabar Aira, Irly?" ucap Ratu saat perempuan yang baru masuk duduk.
Masih menunduk, Irly mengangguk. "Benar, Ratu."
Ratu tersenyum di balik kecemasan yang besar. "Angkat kepalamu." Tak membantah, Irly segera mengangkat wajah. "Aku tahu bagaimana perasaanmu. Tenang saja, kami pasti akan menemukan Aira, calon suamimu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments