Ingatan Samar

"Win! Singkirkan hewan itu!" Laras terus berteriak, tetapi ular yang seharusnya tenang di dalam karung justeru semakin disodorkan padanya. Win pikir, wanita itu terlihat sangat menggemaskan dengan candaan ringan.

Namun yang pria itu tidak sadari, ada dua pasang mata yang saling menatap penuh kebencian. Satu pria berlari penuh marah dari tepi sungai, sementara satu yang lain ular besar yang mulai sadar akan ancaman.

Hingga tanpa diduga, ekor ular yang sebesar perut orang dewasa terlempar dari penjagaan, mengenai Win, si pemburu yang langsung terpental cukup jauh ke belakang. Dari arah yang lain, manusia serigala semakin dekat.

"Lion! Berhenti."

Sayang sekali, Lion berlari lebih cepat dari kalimat itu. Hanya dalam hitungan detik ular sanca yang berukuran dua kali lebih besar dari tubuhnya berhasil diterkam. Kuku tajam mencakar cukup panjang, sedangkan taring meninggalkan kulit dengan lubang dalam.

Lion kalut, dirinya benar-benar kehilangan kesadaran sebagai manusia. Tak cukup membuat ular yang melilitnya perlahan kalah, manusia serigala ini harus memastikan jika musuhnya benar-benar mati.

"Lion, sadar! Sudah cukup!" Laras hampir menangis. Tidak, air mata sudah keluar dari sudut matanya.

Namun, jiwa serigala sudah terlanjur menguasai tubuh Lion. Ia terus mencabik, menggigit hingga hewan berbisa di sana tergolek lemah tak berdaya. Saat itu terjadi, Lion berhenti. Akan tetapi tak lama, sebab pandangannya beralih pada pria yang tergeletak tak jauh dari sana.

"Apa yang kamu lihat?" Laras panik, ia tahu betul kemana arah tatapan tajam Lion berada. "Tidak, jangan!" Kepalanya menggeleng kuat.

Akan tetapi, si manusia serigala benar-benar sudah kehilangan akal. Perkataan Laras tak lagi didengar. Di matanya hanya ada kebencian yang menumpuk sangat besar. Dengan ancang-ancang, Lion bersiap menyerang Win dengan terkaman. Kuku masih keluar, taring semakin terlihat tajam. Bahkan kini suaranya berubah lebih menakutkan.

Di belakangnya, seorang wanita berpikir dengan tubuh bergetar panik. Ia terus berteriak, sedangkan tubuh ingin segera mencegah Lion. Sayangnya kecepatannya tidak sebanding dengan langkah serigala. 

Di detik-detik terakhir sebelum Lion berhasil menyentuh tubuh Win, mata Laras menangkap daun kelapa kering di samping tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat ia mengambil korek api dari dalam saku dan menghidupkan api yang cukup besar.

Laras melempar sedikit api untuk menghentikan Lion, kemudian berlari dengan obor di tangan, menunjukkannya pada si manusia serigala dan melindungi tubuh Win di belakangnya. "Berhenti, Lion!" ucapnya, tegas.

Sesaat, Lion yang sudah berubah menjadi serigala terdiam dengan gigi yang masih disatukan. Pria itu tidak menyerah dan berniat melakukan serangan. Namun, lagi-lagi api yang Laras bawa mengancamnya.

"Cukup, Lion! Kau sudah ingkar janji," ujar Laras, tangannya masih mengacungkan obor pada Lion.

Melihat api sebagai ancaman, Lion terdiam. Ia tak bisa maju satu langkah pun, sebab api akan membakar tubuhnya hingga habis. 

Ketika jeda terjadi, perlahan kesadaran Lion kembali. Napas yang tadi memburu hebat kini mulai tenang. Satu persatu kuku dan taring hilang secara bergantian. Telinga yang tadi menyembul kembali disembunyikan.

Laras menatap Lion yang menunduk kebingungan. Namun api di tangan belum diturunkan, ia menaruh kecemasan penuh terhadap pria yang perlahan mengangkat wajah. "Lion?"

Tak ada jawaban. Lion menatap kedua tangan dan tubuh secara bergantian. Ia sendiri bahkan tidak percaya jika berubah menjadi serigala. Tiba-tiba pandangannya mengarah pada ular yang sudah tak bernyawa.

"A-apa yang sudah kulakukan?" ucapnya pelan, penuh kepanikan.

Bertepatan dengan itu kepalanya terasa berat. Telinga berdenging keras, memori seperti kaset kusut yang berputar tak beraturan. Lion memegang kepala yang seketika terasa sakit. Matanya melotot dan terpejam, seolah ada yang tidak beres dengan otaknya.

Pria itu terus mengerang, sementara di hadapannya, seorang wanita perlahan menurunkan api dari tangannya. Laras ikut larut kebingungan. "Lion?" Namun ketakutan masih mendominasi.

"Apa yang terjadi?" lirih Lion, bergumam pada diri sendiri.

Pandangan Lion beralih pada Laras. Ia berada di tengah sadar dan tidak. Sekelebat ingatan samar terus muncul di kepala. Tetapi wanita di hadapannya juga sangat terlihat nyata.

Merasa tak sanggup menghadapi apa yang terjadi dengan dirinya, Lion menggeleng hebat. Kaki jenjangnya refleks berlari cepat. Bahkan tanpa ucapan apapun, ia meninggalkan Laras yang juga tak bisa mencegah.

Masih di tempat yang sama, Laras membeku dengan mata menatap punggung Lion hingga hutan menenggelamkan seluruh tubuh pria itu.

Perasaan yang sukar dijelaskan. Laras ingin menghentikan Lion, tapi Win yang masih belum sadarkan diri membuat wanita itu kembali pada kenyataan yang memilukan.

Ketika matahari hampir tenggelam, orang-orang dari desa berdatangan. Entah angin mana yang membawa kabar. Yang jelas, beberapa warga pergi membawa Win, dan sisanya tinggal, termasuk Kinan.

"Laras. Kau baik-baik saja?" tanya Kinan sembari mengelus lembut pundak sahabatnya.

Dengan tatapan setengah kosong, Laras menoleh dan mengangguk. Apa yang kini memenuhi kepalanya adalah sosok pria yang perlahan hilang ditelan lebatnya hutan.

"Bagaimana kamu bisa ada di sini, Kinan?" Akhirnya Laras mendapat sedikit kesadaran.

Mendengar pertanyaan itu, Kinan menghela sebelum menjawab. "Aku dengar ada serigala yang menyerang. Kau sungguh baik-baik saja? Kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara."

Laras menatap Kinan dengan mata sembab. Entah sudah berapa lama ia terus menangis, yang jelas ia hanya butuh seseorang untuk bersandar sekarang. "Kinan. Apa yang sudah kulakukan?" Air mata kembali tumpah dari matanya yang masih merah.

***

Sementara di tengah rimba, Lion terus berlari dalam wujud manusia. Lengan yang tadi tidak sengaja tergigit sanca terasa semakin sakit. Namun ia tak bisa berhenti, perasaan yang tak bisa diuraikan mendorongnya untuk terus mengikis jalan di antara rindangnya pepohonan.

Sedangkan memori ingatan di kepalanya masih terus berdatangan. Tentang dirinya yang terlihat samar, juga bayangan masa lalu yang terlihat menyeramkan.

Ketika kepalanya hampir tak bisa menahan, Lion berhenti. Dadanya naik turun dengan napas yang tak beraturan. Sejenak pandangannya mengedar ke seluruh penjuru hutan. Ia terus mengingat, tempat seperti apa sebenarnya ia berasal.

Namun percuma, semakin ia mencoba, bayangan di dalam ingatan semakin terlihat samar. Tak ada yang terlihat jelas, selain dirinya yang nampak berlaku kasar.

Hingga ketika Lion masih mematung di ambang kebimbangan, seekor beruang perlahan mendekat keluar dari balik semak-semak. Hewan buas yang seharusnya tidak tinggal di sana kini terlihat.

Saat langkahnya semakin dekat, beruang berwarna putih tiba-tiba berlari menyerang Lion yang sama sekali tidak menduga.

Lion terkejut, tetapi kabur juga sudah tak sempat. Dengan sisa tenaga yang terus terkuras oleh bisa sanca, ia memutuskan melawan sebisanya. Meski sudah bisa dipastikan jika peluang terbesar adalah kekalahan.

Langkahnya mundur, tapi tangan tetap memasang kuda-kuda menyerang. "Dalam situasi seperti ini, bukankah lebih baik berubah?" gumamnya bermonolog.

Namun percuma ia berpikir, sebab beruang yang tadi masih berjarak kini benar-benar bisa meraih Lion hanya dengan satu langkah pendek. Perlahan kuku beruang itu terangkat, kepala Lion ada target utama baginya.

Pelan tapi pasti, Lion tak dapat menghindar. Ia pasrah, bahkan terhadap ingatan yang terus berdatangan.

Tetapi setelah beberapa saat matanya terpejam, tidak terasa apapun pada dirinya. Lion membuka mata dengan pelan, saat itu terjadi seketika bola mata membulat hampir keluar. Di sekelilingnya, beberapa serigala terlihat bergerombol menggonggong kepada beruang yang hampir menyerang.

Terpopuler

Comments

Flo

Flo

Tengkyu, Kak. Author jadi makin semangat 🔥

2022-11-28

0

Angeldust

Angeldust

ikutan tegang bacanya kebawa serius :"

2022-11-28

1

Angeldust

Angeldust

kerenn 🔥

2022-11-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!