Masa Lalu Menyesakkan

Langit hari ini terlihat sedang bersenang-senang. Tak ada awan, hanya hamparan biru yang terlihat menawan. Cuaca yang indah hanya sekadar untuk berbaring di bawahnya.

Tetapi bagi pria yang sedang jatuh cinta, keindahan langit di atas sana tidak sebanding dengan betapa menawannya seorang wanita yang sedari tadi ia pandangi. Wanita yang merelakan kedua pahanya untuk dijadikan tumpuan kepala.

Lion berbaring di paha Laras. Kalau bisa ia ingin menatap wanita itu tanpa berkedip.

"Apa dari dulu kamu memang secantik ini?" ucap Lion.

Laras yang tengah mengusap anak rambut pria di pangkuannya sejenak berhenti dan mengangguk. "Kau baru sadar?"

Mendengarnya membuat Lion tersenyum lebar. "Aku hanya heran. Padahal dengan wajahmu, kamu bisa mendapatkan lelaki tertampan di sini."

"Untuk apa lelaki tampan kalau yang membuatku jatuh cinta justeru manusia serigala sepertimu."

"Kau tidak keberatan?" Lion bertanya dengan hati-hati.

Dengan cepat Laras menggeleng. "Aku tidak keberatan."

Seketika, bunga yang bermekaran di ladang seperti berpindah ke dalam hati dua mahluk yang tengah dimabuk asmara. Kupu-kupu seolah berterbangan. Suasana yang tenang menjadi waktu yang enggan dilewatkan. Kalau bisa, mereka ingin berhenti di detik yang sama.

Beberapa saat tatapan dalam terjalin di antara Laras dan Lion. Untuk kesekian kalinya, kedua bibir bertaut dalam cinta. Hingga setelah ciuman terlepas, Lion tersenyum memandangi wajah Laras yang memerah.

"Ngomong-ngomong, Laras." Kalimat Lion terhenti. Sedangkan matanya terus menatap wanita yang menimpali dengan ekspresi tanya. Pria itu melanjutkan, "Kau tidak rindu dengan orangtuamu?"

Tiba-tiba, Laras terdiam. Ia termenung, hatinya seperti dicubit. Mata yang tadi membalas tatapan Lion segera beralih ke sembarang arah. Ia mendongak, tak ingin air mata kembali jatuh hanya karena memikirkan dua sosok yang telah tiada di dunia.

Melihat Laras bersikap demikian, Lion merasa tak enak. Ia ingin bangkit dan memeriksa, tetapi wanita di sana sudah lebih dulu mencegahnya.

"Tetaplah berbaring. Aku hanya butuh waktu sebentar," ujar Laras dengan suara bergetar.

Tak ada pilihan bagi Lion selain menurut. Bahkan kata maaf yang hampir keluar kembali ia telan. Ia hanya perlu menunggu Laras menata perasaan. Tanpa diduga pertanyaan sederhana itu menyisakan rasa bersalah yang teramat besar. Pria ini merasa sedikit keterlaluan.

Hingga setelah beberapa daun jatuh ke tanah, Laras akhirnya kembali menatap Lion dengan mata yang sedikit basah. Wanita itu tersenyum, seolah telah berhasil keluar dari ingatan yang menyedihkan.

"Tentu aku rindu," jawab Laras setelah cukup lama, "tapi aku bisa apa selain berharap mereka bahagia di atas sana?" lanjutnya.

Lion masih bergeming. Ia terdiam tak tahu kata seperti apa yang tepat untuk membalas pengakuan Laras. Dari awal ia tidak menduga jika kepergian orangtua menyisakan luka yang sangat dalam bagi wanita itu.

Ketika Laras kembali diam, tangannya membelai lembut rambut pria yang masih berbaring di atas pangkuannya. Ia tersenyum, meski jauh di dalam hati merasakan kerinduan yang hebat.

"Dulu ayah dan ibuku sangat sehat, jarang sekali sakit. Kalaupun sakit paling hanya flu biasa dan akan sembuh setelah dua hari," ungkap Laras kembali membuka cerita. "Namun tiba-tiba mereka sakit hampir bersamaan. Bukan sakit biasa, katanya perut mereka terasa seperti dipelintir, sakit luar biasa."

Sejenak Laras memberi jeda untuk mengambil napas panjang. Sesak akan menyeruak kapanpun ia mengingat-ingat saat itu, apalagi mencoba menceritakannya dengan baik-baik saja.

Setelah cukup bisa menenangkan perasaan, Laras melanjutkan. "Ibu tak kuat, ia pergi lebih dulu. Tak lama ayahku menyusul. Mereka meninggalkan gadis muda yang belum tahu apa-apa seorang diri."

Sedih tak bisa ditahan. Walau tersenyum, air mata tetap memaksa keluar dari pelupuk mata.

Lion menggenggam tangan Laras. Meletakkan jemari yang terasa dingin di pipi pria itu. "Kau pasti sangat terluka," lirihnya.

Namun Laras menggeleng. "Aku hanya sangat terkejut saat itu. Sekarang aku hanya rindu. Memikirkan mereka membuat perasaanku tak bisa tertata dengan baik."

Genggaman tangan Lion semakin erat. Hanya dari mata Laras, ia sudah bisa melihat jika ada garis kesedihan yang tergambar jelas pada wanita itu.

"Apa orangtuamu keracunan?" tanya Lion setelah beberapa saat.

Laras menggeleng pelan. "Entahlah. Katanya air yang kami minum kotor. Itu yang membuat perut mereka sakit," jelasnya sedikit, "tapi aku baik-baik saja saat itu. Padahal air yang minum sama-sama dari sungai," lanjutnya.

Tangan yang tadi menggenggamnya kini beralih pada pipi Laras yang sedikit basah. Lion menatap wanita itu dengan penuh perhatian. Untuk pertama kalinya ia merasakan luka yang tidak mengenainya.

"Apa itu sebabnya kamu selalu menyingkirkan sampah di sungai?"

Laras mengangguk. "Bukankah sekarang aku seperti maniak air bersih?" ucapnya setengah bercanda diiringi tawa.

Lion ikut tersenyum, ia juga mengangguk mengiyakan perkataan Laras. "Kamu memang harus minum dari air yang baik, Laras."

Untuk pertama kalinya, Laras tidak terlalu merasa terluka bahkan setelah ia mengorek masa lalu yang menyedihkan itu. Entah karena ia yang sudah terbiasa, atau sebab kehadiran Lion yang membuat perasaanya menjadi jauh lebih baik. Apapun, Laras merasa sedikit lega sekarang.

"Ngomong-ngomong, bagaimana wajah ibumu? Apakah cantik sepertimu?" Lion kembali bertanya setelah Laras merasa baik-baik saja.

"Dia bahkan lebih cantik dariku."

Seketika Lion membenarkan posisi kepala, menatap Laras dengan antusias. "Kalau begitu, mungkin aku akan jatuh cinta pada ibumu."

"Lalu ayahku akan membunuhmu saat itu juga!"

Keduanya tertawa. Jika dipikir, Laras tidak pernah bisa tersenyum saat mengingat orangtuanya. Namun sekarang, kehadiran Lion seperti bintang yang dikirimkan padanya. Bintang terang yang akan menyingkirkan kegelapan saat malam tiba.

***

Di sebuah negeri tempat manusia serigala berada.

Seorang wanita dengan mahkota tengah menghadap para tetua di sana. Ratu Seril menunduk, mendengarkan setiap petuah dan cacian yang terus ia terima tentang masa lalunya.

"Andai dulu kamu tidak berbuat kesalahan besar itu. Mungkin kami tidak harus mendidik Aira seperti sekarang," ujar salah satu dari mereka yang terlihat paling disegani.

Ratu Seril hanya bisa menunduk. Meski perasaan marah menerpa hebat, ia tak bisa apa-apa saat putra kesayangannya dikendalikan oleh para tetua.

"Dia benar," timpal salah satu yang duduk di paling ujung. "Aira harus menghilangkan setengah sifat manusia dalam dirinya."

Seril masih diam. Perasaan sakit terus menggerogoti sejak 30 tahun terakhir.

Ketika Seril masih mencoba sabar, tiba-tiba tetua di hadapannya kembali membuka luka yang sangat besar.

"Aira harus menjadi manusia serigala sejati. Jika darah kotor manusia masih mengalir, kami akan berbuat apapun untuk menghilangkannya. Ingat, Seril. Semua ini karena kebodohanmu menikah dengan manusia 30 tahun lalu!"

Tangan yang tadi hanya gemetar kini tergenggam erat. Seril tak bisa menahan kata-kata menyakitkan seperti itu lagi. Jika bisa ia ingin memberontak, tapi harus ditahan sebab ada Aira yang perlu dijaga.

Setelah menarik napas dalam, Seril perlahan mengangkat kepala. "Jika sudah, saya akan kembali."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!