Bulan purnama menyela awan yang sedang berbincang. Malam terasa semakin sunyi meski sinar rembulan sampai pada tingkat tertinggi. Langit menggelap, suara arus sungai terdengar sangat jelas berebut dengan ocehan hewan-hewan malam di hutan. Namun di antara samarnya bunyi yang terdengar, suara lolongan dari serigala yang baru berubah berhasil menyita seluruh pendengaran Laras.
Wanita itu terduduk dengan sandal yang sudah terlepas. Kedua mata membulat sempurna saat ingin ditutup rapat. Sementara tulang di sekujur tubuh hampir hilang tak bersisa. Lututnya lemas, walau otot-otot terasa menegang. Bibirnya menganga lebar, akal sudah tidak bisa disatukan.
"A-apa yang terjadi?" Kalimatnya terbata di tengah napas yang mulai tersengal.
Di hadapan Laras, pria asing yang nampak normal sekarang benar-benar berubah menjadi mahluk penuh bulu bergigi tajam. Mahluk yang seumur hidup hanya ia tahu lewat mitos dan legenda. Namun malam ini, wanita itu sungguh melihat manusia serigala di depan mata.
***
Laras meringkuk di luar rumah. Duduk di kursi kayu yang sudah lapuk termakan usia. Keringat dingin masih belum kering dari kening, tubuhnya masih gemetar membayangkan apa yang dilihat beberapa saat lalu.
Sementara di dalam, Lion sudah kembali ke wujud manusia. Bulu di sekujur tubuh sudah lenyap, meski perubahan dirinya meninggalkan pakaian yang robek di beberapa bagian.
Sesekali Laras mengintip ke dalam. Dirinya benar-benar merasa ketakutan sekarang. Walau ia tidak terluka, tapi tak bisa membiarkan manusia serigala bersamanya.
"Aku harus melaporkan hal ini ke Pak Darto," lirih Laras yang masih meremas jari jemari. Itu adalah pilihan tepat. Sayangnya ponsel yang seharusnya dijadikan sebagai alat untuk menghubungi tertinggal di dalam, di meja samping mahluk yang membuatnya ketakutan.
Menyadari bahaya yang lebih jika dia masuk, Laras segera menggeleng. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ia panik, kepala tak bisa diajak berpikir. Sampai ketika kedua matanya menangkap sekop yang tergeletak di sudut teras.
Laras mengendap masuk dengan sekop tergenggam erat di tangan. Matanya awas setajam mata elang, sedangkan kaki dan tanga sudah siap menyerang. Tentu, target wanita itu adalah manusia serigala yang belum bisa di terima akal sehat manusia.
Pelan tapi pasti, Laras berhasil masuk tanpa diketahui oleh Lion yang duduk membelakangi. "Akan kuhabisi kau!" pekik Laras sembari mengayunkan sekop dengan kuat. Akan tetapi sebelum sekop mengenai kepala Lion, tubuh pria itu sudah lebih dulu terjatuh.
Lion tersungkur di kaki Laras. "Apa yang terjadi?" Mata wanita itu melebar tak percaya. "Aku berhasil membunuhnya? Tapi aku belum mengenai apapun."
Perlahan tubuh Laras merendah. Ia masih takut, tapi tak bisa membiarkan Lion diam tanpa bergerak. Setidaknya kehidupan pria itu harus dipastikan. Napas masih keluar dari hidung Lion, refleks Laras menghela lega, meski ia segera menyingkirkan perasaan lega itu.
"Tubuhnya demam. Apa aku perlu mengompresnya?" Segera Laras menggeleng. "Tunggu, Laras. Bukankah hal baik jika dia tidak pernah bangun lagi?"
Wanita termenung penuh kebimbangan. Mungkin membiarkan serigala mati adalah jalan paling aman. Namun, rasa iba di dalam dirinya lebih mendominasi. "Ah, kenapa aku harus merasa kasihan dalam situasi seperti ini?" keluh Laras, meski ia tetap membantu tubuh Lion untuk berbaring dengan benar.
Laras meletakkan kain hangat di dahi Lion. Setelah beberapa saat ia bangkit. Perapian adalah tujuannya sekarang. Ia menyalakan tungku kayu, memotong bahan makanan dengan perhatian terus mengarah pada pria yang belum siuman. Kemudian ia menghela.
Ketika rasa cemas masih memenuhi hati Laras, makanan sudah matang dan terhidang. Seperti waktu tahu kapan saat yang tepat. Lion sadar ketika hidangan siap di atas meja.
Di hadapannya, Laras masih menyusun beberapa lauk. Sementara di seberang meja, Lion menatap salah satu piring dengan lidah yang sulit ditelan.
"K-kau mau makan?" tanya Laras begitu ia sadar dengan tatapan lapar dari pria di depannya. "Makan kalau mau," lanjutnya, dengan langkah ditarik mundur saat Lion mulai mendekat ke arah meja.
Lion menyerang piring berisi ikan dengan ganas, sedangkan hidangan lain seperti nasi dan sayur sama sekali tak disentuh. Hingga hanya dalam waktu yang singkat, dua ekor ikan patin berukuran besar sudah raib dari piring.
"Kau pasi sangat kelaparan," ujar Laras seraya menatap ikan kesukaannya habis tak bersisa. Namun itu bukan hal yang penting sekarang. Yang jelas ia harus sangat berhati-hati dan mencari aman.
Laras terus memerhatikan Lion yang masih sibuk membersihkan sisa tulang ikan. Sampai keberanian tiba-tiba datang menghampirinya. "B-begini, apa kamu sekarang sudah tahu siapa sebenarnya dirimu?" tanya wanita itu sangat hati-hati.
Mendengarnya, Lion langsung menoleh, menatap tajam ke arah Laras, membuat wanita itu terpejam kuat dengan takut.
"M-maksudku, bukankah kamu harus kembali ke kelompokmu?" Laras meluruskan, "dengar. Aku sama sekali tidak ingin mengusik kalian, jadi kumohon pergi dan jangan berbuat apapun padaku."
Lion terdiam. Tulang yang tersisa satu dibiarkan. Pandangannya menerawang jauh ke depan. Seperti ada banyak hal samar yang tidak bisa ia raba. Ketika Laras menunggu respon, pria di sana menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."
Laras terperanjat. "Apa maksudmu tidak tahu?" Tubuhnya refleks maju, tapi segera ditarik saat Lion menatap.
"Aku tidak tahu siapa diriku dan dari mana aku berasal."
"K-kau tidak tahu? Tapi kamu tadi beru--" Laras tak berani melanjutkan kalimat.
Sementara Lion, ia masih mencoba menemukan hal yang hilang di kepala. Namun semakin dipaksa, tubuhnya terasa semakin menderita. "Aku hanya tahu mahluk seperti apa diriku," ucapnya. Kini tangan memegang kepala yang terasa sangat berat.
Wanita di sana bergeming. Ia kahwatir pada Lion, tapi lebih cemas dengan keselamatan dirinya.
"J-jadi, kamu bisa pergi dari sini sekarang?" Tatapan tajam kembali diterima Laras begitu ia selesai dengan pertanyaan. "Maksudku, bukankah aku membuatmu tidak nyaman?"
Lion terdiam. Agaknya ia tahu kenapa Laras sangat merasa takut padanya. Setelah detik berganti, ia menoleh. "Tapi aku ingat satu hal. Manusia seperti kalian bukan makanan kami."
Mendengar itu berhasil membuat Laras semakin terkejut. Apa manusia serigala juga bisa membaca pikiran? Ia segera menyingkirkan pernyataan aneh itu. Mungkin hanya kebetulan, pikirnya.
"Tolong biarkan aku tinggal di sini."
"Eh?" Bibir Laras melebar seakan tak bisa ditutup lagi.
"Mari buat kesepakatan. Aku akan memberitahu kelemahanku, jika aku berbuat macam-macam kamu bisa langsung menghentikanku."
Namun Laras masih tidak yakin. Apakah tidak masalah melakukannya?
Ketika Laras berpikir, Lion melanjutkan, "Biarkan aku tinggal di sini. Setidaknya sampai aku ingat bagaimana aku bisa terjatuh di sungai. Sebagai gantinya, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Bagaimana?"
"Eh?" Tak ada jawaban. Telinga Laras terasa tersumpal. Otaknya beku, matanya tak bisa melihat jelas. "Eh? Apa katamu?"
***
Sementara itu, di sebuah gubuk tak jauh dari rumah Laras. Seorang pria tiba saat bulan perlahan turun dari peraduan. Win, pemuda dengan panah yang selalu dibawa. Apa yang ia lakukan di malam yang hampir berakhir? Tentu, ia bergegas pergi begitu mendengar kabar Laras menemukan seseorang.
"Sial! Harusnya aku pulang lebih awal tadi," sesalnya saat mengalami fakta jika dirinya sangat terlambat mendengar kabar Laras karena baru pulang dari perburuan.
Lalu sekarang, sepertinya malam tak membiarkan Win beristirahat. Sebab ia bertekad untuk tidak mengalihkan pandangan dari rumah gadis pujaan, Laras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Angeldust
narasinya baguss 🥺
2022-11-26
1