"Manusia kembali berulah."
Seorang wanita mengobati kaki pasangannya yang terluka. Ia tak berkata banyak, sedari tadi hanya mendengar ocehan pria yang tak berhenti mengomel hanya karena goresan kecil yang diterimanya.
"Ini bukan hanya luka kecil. Sudah cukup selama ini kita diam, manusia-manusia itu harus diberi pelajaran!" lanjutnya, sementara wanita yang tadi mengobati juga sudah selesai.
"Kau akan melaporkannya pada ratu?" tanya wanita itu.
Pria dengan garis rambut cokelat mengangguk. "Aku yakin hilangnya pangeran juga karena manusia."
***
Sementara di sepanjang jalan tepi sungai, Laras mengeringkan rambut dengan omelan yang tak kunjung padam. Setelah mereka ditopang dan saling menatap, bisa-bisanya Lion menjatuhkannya begitu saja.
"Aku benar-benar mendengar teriakan dari dalam hutan," dalih Lion, menjelaskan kesekian kali. Namun Laras sudah terlanjur kesal hanya menatap dengan tajam. "Sungguh. Kau tidak mendengarnya?"
Laras menoleh dengan tatapan semakin tajam. "Suara apa? Tidak ada yang terdengar kecuali kerasnya tubuhku menghantam air," ujarnya dengan kesal, "aku tidak percaya ini. Kenapa kamu menopang tubuhku jika tetap akan menjatuhkannya?"
Seketika tengkuk Lion terasa gatal. Ia tidak tahu harus beralasan dan meminta maaf seperti apa lagi. Laras terlihat benar-benar kesal.
"Aku sungguh tidak bermaksud menjatuhkanmu. Hanya saja--"
"Apa?" potong Laras cepat, "sudahlah, lagipula aku juga sudah menduga akan jatuh." Kemudian bergegas melangkah pergi meninggalkan Lion.
Seperti anak anjing yang ditinggalkan pemilik, Lion hanya terdiam tak lagi beralasan. Ia mengekor Laras dan merasa bersalah atas pakaian wanita itu yang basah kuyup.
Ketika hampir berbelok, Lion teringat dengan suara yang tadi didengar. Pandangannya mengarah ke hutan, menerawang pada ruang gelap yang samar tergambar dalam ingatan. Batinnya bertanya, jika benar suara yang didengar adalah kawanannya, mungkin ia bisa bertemu dan mengingat semuanya.
Namun saat Lion masih menerawang jauh ke dalam hutan, wanita yang tadi sudah berjalan di depan tiba-tiba berteriak. Membuatnya tersadar harus segera menyusul sebelum kemarahan lebih besar menanti.
Hari-hari berlalu setelah insiden Laras tercebur di sungai. Jika ditanya bagaimana keadaan Lion, pria itu baik-baik saja, setidaknya setelah menebus berlipat-lipat dari kesalahan yang tidak disengaja. Sepertinya, sekarang tebusan itu juga masih berlanjut.
"Kau sudah menyelesaikannya?" tanya Laras dengan keranjang bunga di tangan.
Lion yang tengah sibuk menggunting daun mati segera menoleh. "Sebentar lagi."
"Kalau begitu cepat selesaikan dan bantu aku memilih bunga-bunga ini."
Seperti tak diberi pilihan, Laras bergegas pergi padahal Lion belum mengiyakan maupun mengutarakan keberatan. Namun bukan masalah besar, selama ia bisa membuat Laras memaafkannya, apapun akan dilakukan.
Terik matahari semakin terasa ketika berada di atas kepala.
Di sebuah kursi panjang bawah pohon rindang, Laras menyiangi dan memilih bunga terbaik untuk dibawanya ke pasar. Sesekali matanya menengok ke arah ladang, menatap pria yang terlihat kepanasan dari pagi tadi. Ia merasa khawatir, meski segera disembunyikan saat Lion terlihat mendekat.
"Sudah selesai?" tanya Laras ketika pria yang mengangguk itu duduk. "Lebih lama dari yang kukira," lanjutnya dengan mata kembali menatap bunga-bunga di tangan.
Lion tak menjawab, tapi tangannya dengan sigap membantu Laras memilih bunga.
Beberapa saat keadaan menjadi hening. Keduanya saling terdiam ditemani semilir angin yang hampir menerbangkan anak rambut Laras yang tidak terikat. Hingga setelah beberapa saat, wanita di sana mengawali percakapan.
"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu," ucap wanita itu.
Mendengarnya Lion terdiam sebentar. Ia menilik Laras, tapi wanita itu tak kunjung menatap. Tanpa sadar sebuah senyum terukir di wajah tampannya. "Setelah apa yang aku lakukan, bukankah harusnya kamu memaafkanku sejak hari pertama? Aku tidak menyangkan ternyata kamu sangat pendendam," ujarnya setengah tertawa.
Tidak terima dengan julukan baru untuknya, Laras menoleh memberikan tatapan tajam pada Lion. Sebelum wanita itu semakin meradang, Lion segera meralat, ia mengalihkan topik dengan bertanya jenis bunga apa yang tengah mereka pilih kali ini.
Namun, sepertinya Lara sungguh sudah tidak mempermasalahkan kejadian di sungai sejak hari pertama. Ia hanya senang menjahili Lion dan melihat pria itu menurut padanya. Sedangkan di dalam kepala, Laras tetap memikirkan tentang suara yang Lion dengar meski ia sendiri tidak mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, apa semua serigala bisa berubah menjadi manusia?" tanya Laras di sela tangan yang masih sibuk menyusun bunga ke dalam keranjang.
"Entahlah, aku tidak terlalu ingat."
Helaan panjang keluar dari bibir Laras. "Andai ada yang bisa kutanyai tentang keberadaan mereka," ujarnya sedikit kecewa. Akan tetapi raut wajahnya seketika berubah ketika melihat seseorang mendekat. "Atau sepertinya memang ada!"
Lion ikut menoleh mengikui ekor mata Laras yang nampak berbinar. Namun setelah melihat, ia justeru meraawa kecewa dengan seseorang yang datang.
"Win! Untunglah kamu datang. " panggil Laras.
"Kenapa? Kamu menungguku?" Win tersenyum lebar, sedangkan Lion hanya melirik sekilas dengan sebal.
Seperti tidak paham situasi, Laras mengangguk semangat. "Ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu?"
Laras membiarkan Win duduk lebih dulu. Ia mengganti posisi ke arah kiri. "Begini, ada yang ingin aku pastikan. Apa kamu sering melihat serigala saat berburu?"
Win nampak berpikir sejenak, ia ragu hendak menjaawab meski akhirnya mengangguk pelan. "Iya. Memangnya kenapa? Ada serigala di rumahmu?"
Mendengar itu, Lion langsung menoleh. Ia khawatir jika rahasia mereka akan terbongkar. Namun saat melihat Laras menggeleng dengan tenang, ia bisa sedikit tenang.
"Bukan begitu. Aku hanya penasaran, soalnya aku belum pernah melihatnya," ujar Laras, berbohong.
"Benarkah?"
Laras mengiyakan.
"Belum lama ini aku melihatnya di hutan," ujar Win, perkataannya membuat wanita di samping terlihat berbinar. "Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba ingin melihat serigala?"
Gelengan diberikan oleh Laras. "Aku hanya penasaran," ungkapnya sembari kembali menata bunga.
Sementara di ujung kanan, Lion memilih bunga-bunga dengan tenang. Ia juga penasaran seperti Laras, tapi memili diam daripada salah bicara atau semacamnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Win bertanya.
Namun sebelum Laras menjawab, Lion sudah lebih dulu mengeluarkan suara. "Melakukan hal yang menarik. Pemburu sepertimu mana tahu," ucapnya ketus, seolah bertemu dengan musuh lama.
Mendengarnya Win merasa tidak terima. Ia mengambil segenggam bunga yang belum dipilih. "kamu pikir cuma kamu yang bisa? Lihat saja ini," ujarnya seraya memilih bunga dengan cepat.
Tak mau kalah, Lion yang tadinya santai juga ikut menambah kecepatan. Memilih bunga seolah menjadi kompetisi sengit. Sedangkan Laras, ia tak begitu paham. Wanita itu hanya merasa jika pekerjaannya akan semakin mudah.
"Apa ini? Akhirnya aku bisa bersantai," ucap Laras sembari mengamati bunga-bunga yaang hampir selesai dipilih.
***
Di lain hari. Kerajaan Fantasiana tempat manusia serigala berada terasa memanas. Ada tiga kubu yang meminta keputusan dari ratu segera.
Satu sisi berharap agar ratu segera memerangi manusia, satu kubu meminta agar bersabar lebih lama. Sedangkan satu yang lain memilih bersikap netral, menunggu keputusan.
Ratu nampak berpikir di atas singgasana. Masalah putranya yang belum ditemukan sudah cuku membuat khawatir, lalu sekarang kawanannya kembali terusik oleh keberadaan manusia.
"Untuk saat ini, bisakah kita mengirim kawanan di dekat perbatasan untuk mengamati?" ujar sang ratu.
"Maaf, Ratu. Tetapi kawanan di dekat perbatasan hanya serigala biasa."
Ratu tersenyum. "Untuk itulah, kita butuh pion terkecil untuk dikorbankan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments