Sisi gelap berada di bawah sinar rembulan adalah nuansa romantis yang tidak berada seperti seharusnya.
Sejak malam itu, perasaan Laras menjadi tak menentu. Jantungnya kerap berdetak kencang, sosok pria dalam rumah tak lagi bisa terlepas dari pandangan. Namun, sayang sekali jika bagi Lion hal itu hanya berhenti sebatas malam saat itu. Sebab, tak ada lagi yang terjadi setelahnya. Baik perbuatan maupun sekadar perkataan.
Seperti sekarang, ketika ladang terlihat indah sebab bunga yang ditanam mulai tumbuh.
Laras keluar rumah dengan alat penyiram tanaman. Benda yang cukup berat, harusnya dibawa oleh dua orang atau setidaknya pria di belakangnya mengambil alih.
"Biar aku saja," ujar Lion yang tiba-tiba merebut ember berlubang dari tangan Laras. Mulanya wanita itu menolak, tetapi Lion lebih cepat. "Ini berat. Seharusnya kamu membawanya dalam wadah yang lebih kecil."
Melihat Lion berlalu, Laras terdiam sesaat. "Sebenarnya apa-apaan dia?" lirihnya setengah bergumam. Namun, pipi yang merona seolah berkata jika wanita ini tidak keberatan.
Ketika Lion mulai menyirami bunga, tanpa sadar Laras memandang pria itu tak berkedip. Seketika seolah di dunia hanya berisi sosok yang ia pandangi.
Mata yang tajam dan indah, hidung tinggi dan kulit pucat meski di bawah terik matahari. Lagi-lagi senyum mengembang di bibir Laras. Sampai pandangannya berhenti pada bibir pria yang terlihat sangat penuh. Seketika ingatan malam itu kembali berputar di kepala.
Mendadak Laras tersadar, ia memegang bibir yang terasa menghangat. Wajahnya memerah, sedangkan kepala segera digelengkan.
"Kenapa aku terpikir hal seperti itu?" gumamnya kesal. Tak mau terhanyut dalam jantung yang tiba-tiba berdebar, Laras bergegas menyusul Lion. Mungkin bekerja akan membuatnya lupa.
Namun sepertinya benar kata orang, semakin mencoba melupa justeru semakin teringat.
Ketika Laras melewati Lion, ingatan tentang kecupan di bawah sinar bulan kembali muncul. Meski sudah ia coba usir sekuat tenaga, nyatanya sensasi hangat tanpa suara sudah terlanjur mendominasi.
Laras menggeleng, menepuk kepala agar lupa dengan hal konyol yang tidak ingin ia ingat. Sayang sekali, wanita itu tak sadar jika pria yang mengganggu pikiran sedari tadi mengamati.
"Ada yang salah dengan kepalamu?" tanya Lion saat melihat Laras hanya berdiri dan menggeleng beberapa kali. Saat wanita di sana menoleh, pria itu melanjutkan, "Aku hampir menyelesaikan ini."
Mendengarnya, Laras mencebik. "Bisa-bisanya dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa," gumamnya.
"Kau berkata sesuatu?"
"Tidak! Sepertinya kepalamu yang bermasalah." Laras berteriak dengan kesal, meskipun ia tetap melanjutkan pekerjaan.
Wanita itu mengambil gunting dan mulai membuang daun yang lagu atau batang yang membusuk. Sudah pekerjaannya, Laras tak pernah mengeluh atau malah menikmatinya.
Jika diingat, sudah belasan tahun sejak ia kecil. Kebun dan bunga adalah kehidupannya. Bahkan saat dunia terasa hancur, tempat ini terlihat masih sama. Sekelebat pikiran itu membawa Laras pada memori bertahun-tahun lalu. Ketika orangtuanya masih berada di sana.
Tanpa sadar seulas senyum kecil muncul di antara luka hati yang menganga. Hati Laras lemah jika teringat masa lalu yang terlampau sangat jelas.
Hingga ketika Laras hampir terhanyut dalam masa lalu, sekuntum mawar merah muda sudah berada di hadapannya.
Laras tak begitu terkejut, hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Bedanya, kali ini ia merasa lebih bahagia. Entah, hal-hal kecil seperti membawa kupu-kupu ke dalam taman hati.
"Apa-apaan ini?" Laras tersenyum, menerima sekuntum mawar dan berbalik. "Kau memetiknya la-- oh?" Namun mata berbinar miliknya seketika berubah.
Sebab seseorang yang memberinya sekuntum mawar merah muda bukan pria yang ia inginkan. Melainkan ....
"Win?" Laras bangkit, membersihkan rok yang penuh dengan tanah kering. Sekilas ia melirik pada Lion yang terlihat acuh. "Ada apa ke sini?"
Pria dengan senyum lebar berkata, "Aku sedang libur berburu, dan mungkin kamu membutuhkan bantuan di kebun."
Laras hanya mengangguk, memandang mawar yang tidak tahu akan ia apakan. Mungkin jika Lion yang memberi akan beda lagi ceritanya.
Sampai ketika Laras masih terdiam, sepasang langkah tiba-tiba berhenti di antara mereka.
"Ini!" Lion menyerahkan cangkul pada Win, membuat pria di hadapan Laras menatap dengan bingung. "Ini. Katanya mau membantu," jelasnya.
Mata Win melotot, tangannya hamparan memukul Lion kalau-kalau tidak ada Laras di sana. Sementara Lion, ia tersenyum puas.
"Lagipula, kamu sudah memetik bunga yang seharusnya bisa dijual. Jadi ganti dengan mencangkul dari ujung sini sampai sana," lanjut Lion seraya menunjuk barisan tanah lapang.
Tentu, Win hampir kehilangan kesabaran. Namun, keberadaan wanita pujaan lagi-lagi membuatnya bertahan.
Win mengambil cangkul dari tangan Lion. "Kau pikir aku tidak bisa melakukannya? Lihat nanti, Laras akan lebih mengandalkanku," ucapnya penuh percaya diri.
Dalam sekejap, persaingan yang tak direncanakan terjadi di antara dua pria. Win dengan pencari perhatian penuh mulai mengurai tanah dengan cangkul, sedangkan Lion tak mau kalah dengan tak hanya menyiram bunga, tetapi juga rumput liar.
"Hei! Kenapa kamu menyiramnya? Kamu mau memanen rumput?" protes Laras.
Mendengarnya membuat Lion merasa malu, sementara Win tentu merasa senang melihat kejadian itu.
Namun bukan hanya Lion yang terlampau bersemangat, tanah yang harusnya dicangkul sepanjang tiga meter kini menjadi dua kali lipatnya. Barisan terbentang jauh ke belakang.
"Win! Siapa yang suruh mencangkul sejauh itu?" Laras memekik, kekesalan sungguh terlihat kentara di wajahnya.
Kali ini Lion yang tersenyum senang, dalam hati berkata 'rasakan' pada Win yang nampak meminta maaf dengan kikuk.
"Kalian ini kenapa?" Laras frustasi. Meski tetap melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi. "Memang aku merasa terbantu, tapi kenapa mereka seenaknya sendiri," lanjutnya bermonolog.
Ketika pekerjaan berlanjut, matahari berangsur turun dari peraduan.
Win sudah pulang, sedangkan Lion dan Laras juga tengah bersiap menyiapkan makan malam.
Di atas dipan, Lion memotong bumbu dengan wajah kusut. "Cih! Apa-apaan memberikan bunga seperti itu. Norak sekali," ujarnya, entah memakai siapa.
"Aku dengar!" timpal Laras dari depan tungku, "kenapa? Bukankah kamu juga pernah memetik mawar yang seharusnya kujual?"
Lion menoleh sekilas, bibirnya dimajukan tanda merajuk. Tak ada perkataan, pria ini memilih diam alih-alih menjelaskan rasa tidak suka terhadap Win.
Tak lama Laras datang meletakkan ikan yang sudah bersih ke atas dipan. "Awas kalau sampai memetik bunga milikku lagi! Kamu harus membayarnya."
***
Sementara di balik pegunungan, tempat yang dipenuhi dengan es dan salju. Seekor serigala berbulu putih tiba-tiba berubah menjadi lelaki gagah dengan bekas sayatan di bawah mata.
"Sepertinya Pangeran Aira memang berada di antara manusia," lapornya pada wanita yang nampak tersenyum puas.
Wanita di sana memicingkan mata, pandangan jelas sekali menerawang jauh di udara. "Bukankah ini semakin menarik?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments