"Api," ujar Lion dengan tenang. Sementara Laras masih belum paham. Wanita itu hanya menatap penuh pertanyaan. "Satu-satunya kelemahanku adalah api. Kamu bisa menggunakannya untuk melindungi diri." Manusia serigala itu melanjutkan.
Laras mengatur napas agar tenang. Jantungnya masih berdetak kencang. "M-maksudmu aku bisa membunuhmu dengan api?"
Mendengar itu Lion tertawa kecil. Kepalanya menggeleng sebelum berhenti menatap Laras. "Berlebihan jika membunuh. Tapi setidaknya api bisa melemahkan kekuatanku." Pria itu menjelaskan.
Sementara Laras berjaga sepanjang malam, suara kokok ayam terdengar lantang. Hari sudah pagi, bahkan matahari sudah naik seperempat dari peraduan.
Seorang wanita duduk dengan mata terpejam, sedangkan kedua tangan waspada menggenggam kayu yang siap dibakar oleh korek api di samping ranjang. Di luar kamar, pria yang menjadi acaman Laras justeru tertidur sangat pulas. Setidaknya sampai suara keras gedoran pintu membuatnya terbangun.
Laras keluar dengan wajah kusut, mata lelah seakan dipaksa terjaga semalaman. Ia mendengus, kesal terhadap tamu yang datang pagi-pagi sekali. Padahal ini sudah cukup siang bagi petani sepertinya.
Dibukanya pintu dengan sebal, terlebih ketika melihat siapa yang datang. "Win?" Laras menghela. "Ada apa pagi-pagi datang?"
Namun bukannya menjawab, Win malah menarik Laras keluar dengan cepat. Membuat wanita itu tersentak kaget. "Kau tidak apa?" tanyanya seraya mengacungkan anak panah ke arah pria asing yang masih nampak lelah.
"Apa maksudmu? Aku baik-baik saja," ucap Laras, melepaskan diri dari tangan Win.
Sesaat Win tak menyimak, ia terus menatap Lion yang juga membalas tatapannya.
"Dia tidak menyakitimu?" tanya Win setelah melepas tatapan dengan pria asing di dalam. Menjawab pertanyaan itu, Laras mengangguk. Wanita itu ingin segera mengakhiri percakapan dan melanjutkan tidur sampai siang.
"Tapi semalam aku dengar--"
Laras bergegas membungkam mulut Win, tak membiarkan pria itu melanjutkan kalimat yang belum selesai. "Kau dengar apa? hah?" Ia menatap Win dengan tajam. "Sudahlah. Lebih baik kamu pergi," usir Laras sembari mendorong tubuh Win dengan keras.
Belum mau pergi, Win berusaha mengajak Laras berbincang, tapi tak berhasil, sebab wanita sang wanita pujaan sudah lebih dulu menutup pintu rapat-rapat.
Di dalam, Laras menghela cukup panjang. Punggung disenderkan pada pintu yang sudah tertutup. "Kenapa aku khawatir tentang Lion?" lirihnya, tak sadar jika di seberang meja Lion terus menatapnya dengan senyuman. "Apa? Jangan tersenyum seperti itu padaku!"
Namun bukannya berhenti, Lion justeru terkekeh kecil. Membuat Laras memberikannya tatapan paling tajam. Ia menggeleng, merasa bersalah sudah membuat wanita di balik pintu kesal.
Tak mau berlama-lama dengan Lion, Laras bergegas masuk ke dalam kamar. Menggenggam kayu bakar dan korek api. Mereka memang sudah membuat kesepakatan semalam, tapi ia tetap tak bisa tenang begitu saja.
Perasaan gelisah yang meliputi Laras mengantarnya pada tidur lelap, menebus lelah karena semalaman berjaga. Meski Laras tahu, ada bahaya yang mungkin saja terjadi jika ia melelapkan diri.
***
Waktu terasa berjalan lambat, padahal baru tiga hari berlalu sejak Laras menampung Lion di rumahnya.
Sebuah hidangan untuk sarapan tersusun di atas meja. Di masing-masing sisi, Laras dan Lion duduk berhadapan. Seorang manusia masih was-was, tapi tetap berusaha memercayai si manusia serigala.
"Lion! Kenapa hanya makan ayam? Aku memasak sayur banyak agar ingatanmu cepat pulih," protes Laras, ketika mendapati Lion hanya mau makan daging selama tiga hari ini.
Mendengar protes dari Laras, Lion bergegas menelan sisa ikan di dalam mulut. Ia menatap wanita yang terlihat sangat galak. Membuat wanita di hadapannya mempertanyakan maksud dari tatapannya. "Kau tahu, tidak ada serigala yang makan sayur," jelasnya singkat.
Laras membuang napas, ia mengangguk paham, tapi tetap meletakkan sayur di atas piring Lion. "Aku tahu. Tapi aku harus berjaga-jaga, jadi aku berniat menjadikanmu omnivora alih-alih hanya memakan daging," ucapnya, membuat Lion memandang penuh tanya. "Apa? Makan sayur itu!"
Tak ada pilihan, Lion bersusah payah menelan sayur yang membuatnya hampir muntah karena aroma pahitnya. Setelah seperti berjuang melawan beruang, akhirnya ia berhasil menyelesaikan sarapan. Meski sisa rasa tak menyenangkan terus melekat walau sudah dihujam air sangat banyak.
Selang beberapa saat, Laras sudah siap dengan keranjang bunga di tangan. Sudah dua hari ia tidak pergi ke pasar, sedangkan uang yang dipegang juga mulai habis.
"Kamu mau ke mana?" tanya Lion saat mendapati Laras keluar.
Wanita di ambang pintu berhenti dan berbalik. "Aku mau ke pasar. Jangan coba-coba ikut dan diam saja di rumah!" ancamnya, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Lion.
Merasa pria di dalam rumah akan menurut, Laras bergegas keluar. Jarak menuju pasar cukup jauh, ia harus mempercepat langkah agar tidak terlambat pulang. Meski harus melewati jalan setapak dan sepi, tapi hal itu sudah biasa bagi Laras. Sampai tidak terasa kaki rampingnya sudah mengantarnya ke pasar.
Laras masuk ke toko bunga langganannya. Selain menjual hasil panen bunga, ia juga ingin menemui seseorang.
"Kinan!" pekiknya kuat, membuat wanita yang lebih muda darinya berhenti menyusun bunga. Mendekat dang menghamburkan pelukan.
"Laras. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik saja?" tanya wanita bernama Kinan setelah pelukan mereka terlepas. Sementara Laras hanya mengangguk, Kinan melanjutkan, "Maafkan aku belum bisa berkunjung. Apa pria itu sungguh kehilangan ingatan?"
Sebuah anggukan diberikan oleh Laras. Dari yang ia tahu, Lion memang kehilangan ingatan. "Kinan ...," ucap Laras, berhenti karena ragu akan satu hal. Namun setelah beberapa detik Kinan menunggu kelanjutan kalimat, Laras malah menggeleng. "Tidak. Aku membawakanmu bunga tulip hari ini," ucapnya, tersenyum ceria mengalihkan pembicaraan.
Awalnya Kinan menaruh rasa curiga. Namun ia berpikir jika Laras tak ingin mengatakan, itu berarti ia tak boleh mendesak dengan pertanyaan. "Baiklah, Nona. Aku akan memeriksa bungamu yang terlihat sangat cantik seperti biasanya."
Laras tersenyum mendengar pujian dari Kinan. Setelahnya kedua wanita yang sudah menjalin persahabatan sejak kecil fokus terhadap pekerjaan dan bunga yang dijual. Meski di sela itu mereka tetap mengobrol dengan akrab. Hingga keributan di luar menghentikan Laras dan Kinan.
"Apa yang terjadi?" tanya Kinan, Laras hanya menggeleng. Namun keributan di luar terdengar semakin rusuh saat mereka diam memastikan.
Bersamaan dengan itu, Laras bergegas keluar, disusul oleh Kinan setelah mengunci toko. Di depan kios daging, orang-orang berkerumun. Keributan terus terjadi sampai perkataan tak ada yang bisa terdengar jelas.
"Apa yang terjadi?" tanya Laras pada penjual buah yang tak jauh dari kios daging.
"Katanya ada pria aneh yang mau mencuri daging."
Mendengar itu, pikiran Laras langsung tertuju pada satu orang yang sangat menggilai daging. Meski ia menepis kemungkinan Lion yang berada di tengah kerumunan, tetapi ia tetap memastikan, menerobos orang-orang dan membulatkan mata saat dugaannya benar.
"Lion!" panggil Laras berteriak, membuat beberapa orang mengalihkan perhatian padanya. Termasuk Win yang sedang membekukan lengan Lion.
"Laras?" ucap Win pelan. Tak menjawab, Laras langsung melepaskan tangan Win dari lengan Lion. "Apa yang kamu lakukan?" lanjut Win tak mengerti.
Setelah berhasil mengamankan Lion, ia menatap Win sekilas, kemudias mengedarkan pandangan ke penjuru kerumunan. "Aku akan menjamin pria ini. Dia orang baik, meski sedikit aneh. Jika ada kerusakan atau barang yang pria ini ambil, aku yang akan bertanggung jawab." Laras mengatakannya dengan mantap.
sedangkan Win yang sudah bersusah payah menangkap Lion menatap Laras dengan penuh tanya. "Laras. Apa yang kamu lakukan? Dia pria yang berbahaya!"
Tatapan tajam Laras diberikan pada Win. "Aku tahu apa yang aku lakukan, Win."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments