Setelah malam menjelang, mereka berdebat panjang mengenai cara membawa Aiden ke rumah keluarga Rickle – mengingat semua vampir itu bisa terbang sementara Aiden tidak memiliki sapu terbang – akhirnya diputuskan Aiden akan menunggangi Nora. Awalnya Nora menolak keras usul tersbut, namun akhirnya ia mau merubah wujudnya. Kucing kecil berbulu hitam itu perlahan-lahan membesar. Dia berubah menjadi singa besar yang mengerikan. Tapi ternyata perubahan itu belum selesai. Kepala singa Nora berubah menjadi kepala elang dan sepasang sayap elang tumbuh di punggungnya. Aiden terpukau dengan semua perubahan itu.
"Griffin?" celetuk Aiden kagum.
"Tepat! Nora memang sebenarnya adalah seekor griffin," ujar Sabina senang.
"Sekarang, Aiden, bisakah kau membuat kami tidak terlalu mencolok manusia?" tanya Irish kemudian. Aiden mengangguk mantap.
"Fiemile Hiddon!" serunya kepada setiap vampir dan Nora serta dirinya sendiri.
Saat berikutnya, para vampir sudah mengubah wujud mereka masing-masing dengan sepasang sayap hitam di punggung. Setelah Joshua selesai menghitung aba-aba, keempatnya melesat terbang. Angin malam menerpa wajah Aiden yang menunggangi Nora si Griffin. Rasanya sangat berbeda dengan saat ia menggunakan sapu terbang maupun saat ia terbang dengan Sabina. Menunggang griffin rasanya lebih hangat karena bulu-bulunya yang tebal. Aiden memang pernah mendengar cerita tentang griffin sebelumnya, tapi belum pernah benar-benar melihatnya secara langsung.
Setelah perjalanan selama beberapa waktu, akhirnya mereka mendarat di tengah hutan belantara. Hutan tersebut penuh dengan pohon oak tua dan besar. Diameter batang pohon-pohon itu bisa mencapai dua meter dan tingginya lebih dari sepuluh meter. Suasana menjadi lebih gelap karena rapatnya pepohonan. Nora sudah kembali menjadi kucing kecil dan melompat ke pelukan Sabina. ketiga vampir itu juga sudah kembali ke wujud manusia.
"Kenapa kita harus mendarat di sini?" tanya Sabina kemudian.
"Kita akan menemui para dryad yang tinggal di sini," jawab Irish tenang.
Dryad adalah peri yang menghuni tumbuh-tumbuhan. Dryad disebut juga drys yang berarti pohon oak. Dryad termasuk kaum Nymph yang menghuni tumbuh-tumbuhan dan menyatu dengan alam. Mereka merupakan perwujudan spirit alam – dalam kasus ini pohon oak – dan merupakan personifikasi alam tersebut. Mereka berwujud wanita yang sangat cantik dengan sayap transparan di punggung mereka dan rambut berwarna-warni. Telinga mereka runcing dan warna matanya senada dengan warna rambut mereka. Terkadang mereka membawa tongkat panjang yang ujungnya berupa bunga perwujudan diri mereka.
Setelah beberapa saat berjalan, rombongan itu mendapati sebuah cahaya remang di tengah hutan. Mereka pun berjalan ke arah cahaya yang semakin lama semakin terang itu. Ternyata cahaya itu berasal dati tubuh para dryad yang sedang menari tanpa musik. Berbagai warna cemerlang memancar dari tubuh mereka. Kira-kira ada delapan orang dryad ada di sana. Ada yang berambut merah, kuning, hijau, ungu, biru, merah muda, cokelat, dan abu-abu. Mereka tampaknya tidak menyadari kedatangan rombongan Sabina. Sampai akhirnya salah seorang dryad berambut ungu menoleh dan melihat mereka. Seketika ia berhenti menari diikuti oleh teman-temannya yang lain.
Pada dasarnya dryad memang sangat ramah. Mereka tidak pernah melukai makhluk lain dan sangat mencintai alam. Tapi siapapun yang sudah merusak alam akan mereka anggap musuh. Terlebih para manusia serigala yang sering memburu mereka. Meskipun tampaknya lemah, dryad memiliki kekuatan sihir yang cukup besar bila mereka berada di tengah hutan, karena kekuatan mereka memang berasal dari sana. Bahkan penyihir paling hebat saja tidak akan menang melawan dryad bila mereka berada di tengah hutan rimba, wilayah kekuasaan para dryad.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya dryad berambut ungu tersebut.
"Namaku Irish Rickle, aku penghuni rumah di sisi timur hutan ini," kata Irish memperkenalkan diri.
"Tentu saja. Kami sering melihatmu keluar masuk hutan ini untuk memburu hewan," jawab dryad ungu itu lagi.
"Ah, maaf kalau kami sering mengganggu kalian," ucap Irish lagi.
"Tidak apa-apa. Leluhurmu sudah mengadakan perjanjian dengan kami, dan sepakat untuk membagi wilayah. Kalian bisa berburu di wilayah timur dan kami tinggal di wilayah barat," jawab dryad itu masih tersenyum. "Namaku Leuce. Katakanah keperluan kalian,"
"Sebelumnya kami sangat berterimakasih atas bantuan kalian ketika manusia serigala menyerang kami. Tapi nampaknya mereka masih akan melakukan serangan lagi. Karena itu kami masih memerlukan kerjasama para dryad untuk mencegah kembalinya para manusia serigala itu," jelas Irish.
"Kami memang membenci manusia serigala. Tapi kami tidak bisa berjanji bisa terus melindungi hutan ini mengingat kemampuan sihir kami terbatas. Kami hanya kuat bila kami berada di hutan. Karena itu kami tidak bisa membantu menyerang mereka bila mereka tidak berada di wilayah kami," jelas Leuce.
"Lagi pula, apa untungnya bagi kami membantu para vampir," sergah dryad lain yang berambut hijau.
"Kami berjanji akan memusnahkan manusia serigala yang sering memburu kalian. Karena itu kalian tidak perlu kawatir lagi akan diburu manusia serigala. Selain itu, kami juga hanya meminjam kekuatan kalian untuk melindungi hutan ini. Bantuan itu sudah cukup besar bagi kami." Jawab Irish merendah.
Para dryad itu mulai berunding sejenak. Setelah beberapa saat dryad Leuce berbalik menghadapi Irish.
"Baiklah. Memang sudah kewajiban kami menjaga hutan ini. Karena itu, bila hanya sebatas mencegah para manusia serigala mendekati hutan dan kediaman kalian, kami bersedia. Sebagai gantinya, tolong bunuhlah para manusia serigala yang selalu memburu kami," kata Leuce tersenyum ramah.
"Terimakasih banyak," jawab Irish.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan berlari. Aiden kembali menunggangi Nora yang kini berubah menjadi setengah griffin – hanya mengambil wujud singa saja – dan terus berlari menembus pepohonan yang rimbun. Vampir dapat berlari dengan sangat cepat dan Nora pun mampu mengimbangi mereka. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk mencapai sebuah kastil batu yang sangat besar. Dan meskipun kastil tersebut sudah berdiri ratusan tahun, sama sekali tidak ada kesan mistis. Ternyata bayangan Aiden tidak sepenuhnya benar.
Di dalam kastil tersebut tidak ada obor atau jebakan-jebakan seperti yang dibayangkan Aiden. Sebaliknya, lantainya sudah dilapisi keramik putih bersih dan lampu-lampu kristal mewah tergantung di sepanjang lorong. Setelah melewati lorang panjang, akhirnya mereka berhadapan dengan sebuah pintu kayu yang tingginya kurang lebih dua meter. Pegangannya terbuat dari emas yang berkilau indah tertimpa cahaya lampu kristal. Irish meraih pegangan pintu itu dan membukanya dengan mudah (padahal bagi Aiden pintu itu kelihatan sangat berat).
Di balik pintu itu terhampar sebuah aula besar dengan karpet permadani merah menutupi seluruh lantainya (tampaknya vampir menyukai karpet permadani, pikir Aiden kemudian). Ruangan itu kosong tanpa ada perabot apapun. Hanya beberapa lemari buku berjajar di beberapa bagian di dinding. Langit-langitnya begitu tinggi hingga terlihat gelap. Beberapa pintu kayu yang lebih kecil juga tampak di sepanjang dinding dan menuju lorong-lorong lain yang tersambung ke ruangan yang berbeda.
"Akhirnya sampai di rumah lagi," kata Nora yang sudah kembali menjadi kucing. "Aku ingin berkeliling dulu Sabina," lanjut Nora.
"Pergilah Nora," jawab Sabina pendek. Saat berikutnya Nora sudah melesat berlari pergi dengan ekor yang bergoyang riang.
Mereka semua kemudian berjalan ke tengah ruangan. Mendadak dari atas langit-langit yang gelap seorang vampir pria melesat turun kehadapan mereka. Vampir itu tampak sama mudanya dengan Sabina, Joshua maupun Irish. Dia kemudian menatap Sabina dengan pandangan yang sulit ditebak.
"Kau mau pulang juga, Sabina?" kata vampir itu kemudian.
Sabina balas memandang pria itu lekat. Tatapannya tampak menyimpan kepedihan hingga membuat matanya agak berkaca-kaca. Sekuat tenaga Sabina menahan perasaannya yang tak keruan.
"Ayah, aku..." kata Sabina terputus. Vampir, yang ternyata ayah Sabina, itu menunngu Sabina melanjutkan kalimatnya, tanpa peduli tatapan memohon Sabina agar ia bersuara.
"Aku melakukan kesalahan karena telah keluar dari rumah ini. Aku menjadi vampir yang memburu manusia. aku tidak berbeda dengan manusia serigala yang keji," lanjut Sabina tertunduk. Ayahnya masih terdiam seakan masih menunggu Sabina berbicara lebih banyak. Sabina mendongak menatap ayahnya dengan tatapan yang semakin memelas.
"Maafkan aku..." desah Sabina kemudian.
Akhirnya ayah Sabina menghela nafas lega, seakan tak terbebani lagi.
"Yah... vampir muda sepertimu pasti akan tergoda untuk memangsa manusia. tapi seperti yang selalu ku katakan, aku sangat menentang perburuan manusia. Kau sendiri tahu hal itu. Kita hidup lebih lama dari manusia bukan berarti kita bisa memburu mereka. Ketahuilah itu, Sabina. Bila kau sudah cukup menyesal, jangan lakukan itu lagi, atau aku benar-benar akan menghukummu," kata ayah Sabina dalam satu helaan nafas. Sabina hanya tertunduk lunglai. Kemudian ayah Sabina mengalihkan pandangannya kepada Aiden. Sebuah senyum simpul terkembang di sudu bibirnya. Dengan tatapan hangat ia berjalan mendekati Aiden.
"Perkenalkan, namaku Hazel Rickle. Aku kepala keluarga Rickle sekaligus ayah Sabina," kataya kemudian, tersenyum kepada Aiden.
"Aiden Catbones," jawab Aiden setengah membungkukkan tubuhnya.
"Kenapa kau mau ikut dengan Sabina, mengingat dia seorang vampir?" tanya Hazel pada Aiden.
"Kami memiliki masalah yang sama dengan manusia serigala. Kupikir aku bisa sedikit membantu," jawab Aiden kemudian.
"Kau penyihir?" tanya Hazel lagi.
"Benar, saya penyihir," jawab Aiden disertai anggukan.
Hazel menghela nafas pendek dan berbalik memunggungi Aiden.
"Beruntung Sabina mengajakmu. Kami memang membutuhkan kekuatan penyihir. Para manusia serigala itu menggunakan batu sihir yang membuat kekuatan mereka berlipat ganda. Aku membutuhkanmu, Aiden, untuk mengalahkan penyihir yang memiliki batu sihir tersebut sekaligus mengendalikan para manusia seigala." Jelas Hazel panjang lebar.
Mata Aiden terbelalak mendengar penjelasan Hazel.
"Sin Scove? Batu sihir ephestus?" tanya Aiden kemudian.
Semua mata tertuju pada Aiden. Dia sedikit bergidik ketika mendapati dirinya dipandangi oleh empat pasang mata yang berkilat-kilat keperakan.
"Kau mengenalnya?" tanya Hazel.
"Saya cucu Nigel Catbones, pemilik batu Ephestus yang dicuri oleh Sin Scove,"
Hazel mengerjap keget. Pandangannya semakin tajam menelusuri wajah Aiden seakan bisa membaca pikiran pemuda itu.
"Kau... Catbones?" tanya Hazel pelan.
"Kenapa ayah?" sahut Sabina yang merasa khawatir mendengar nada bicara Hazel.
"Lebih baik kita bicara di tempat yang lebih nyaman," kata Hazel yang kemudian berjalan memunggungi wajah-wajah penasaran di belakangnya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments