Tidak seperti biasanya, seharian Sabina duduk melamun di beranda belakang. Ditemani Nora yang terkantuk-kantuk di pangkuannya, Sabina terus sibuk dengan pikirannya.
Dia merasa dirinya sangat rendah setelah Aiden melihat apa yang dilakukannya kemarin. Dan meskipun Aiden tidak pernah menyinggung masalah itu lagi, Sabina tetap tidak sanggup berada dekat dengan Aiden. Ini pertama kalinya ia merasa sangat bersalah karena memangsa manusia.
"Nora, apa aku ini pembunuh jahat?" tanyanya pada Nora yang langsung tersentak kaget.
"Kau masih memikirkan penyihir itu? Kurasa dia tidak memusingkan peristiwa kemarin," jawab Nora.
"Meski begitu..."
"Sudahlah. Memang nalurimu untuk memangsa manusia." kata Nora menenangkan.
"Tapi keluargaku di sana tidak pernah memangsa manusia. Mereka selalu minum darah hewan," ujar Sabina sedih.
"Memangnya di kota seperti ini ada hewan? Kau mau memangsa hewan di kebun binatang? Keluargamu kan tinggal di tengah hutan. Pantas saja mereka menemukan banyak hewan."
"Aku tidak bisa berhenti meminum darah manusia, Nora. Aku tidak bisa mengendalikan diriku!" kata Sabina lagi.
Nora tidak menjawab kata-kata Sabina. Ia hanya menatap sedih gadis itu.
"Aku menyesal memutuskan keluar dari rumah keluargaku. Ternyata aku memang tidak sekuat yang aku pikirkan," kata Sabina lirih.
Nora tetap terdiam mendengar kata-kata Sabina dan kesunyian pun segera melingkupi keduanya. Sabina kembali mengingat rumahnya di tengah hutan di bagian utara kota ini. Rumahnya sangat besar dan menyerupai kastil yang megah.
Di rumah itulah Sabina hidup selama 116 tahun bersama anggota keluarganya. Selama itu pula Sabina merasa sangat jenuh dengan kehidupannya. Para vampir memang tidak pernah menjamah dunia luar dan kehidupan mereka hanya terbatas pada sesama vampir saja.
Ia begitu iri dengan manusia yang sering ia lihat dari balik hutan. Mereka hidup dengan berbagai impian dan harapan. Dia melihat dirinya yang selama ini hidup karena memang tidak akan pernah bisa mati.
Pada akhirnya Sabina memutuskan pergi dari rumah keluarganya dan tinggal di antara manusia.
Seluruh keluarganya menentang keputusannya dan berusaha menghalanginya. Tapi dengan berbagai upaya akhirnya Sabina bisa keluar dari rumahnya dan membangun rumah mungil ini. Awalnya ia sangat senang dengan hal itu dan dengan sangat naif ia mencoba berhenti menjadi vampir. Ia ingin menjadi manusia!
Berminggu-minggu ia tidak meminum darah dan hanya makan makanan manusia. Pada mulanya itu mudah, hingga akhirnya ia tidak tahan lagi dan kehilangan kendali terhadap dirinya. Ia menerkam seorang manusia yang sedang berjalan di depan rumahnya.
Sejak saat itu ia merasakan darah manusia yang jauh lebih nikmat daripada yang selama ini ia rasakan. Rasa itu menjadi candu baginya dan ia tidak pernah bisa menghentikannya.
Tapi dibalik semua itu, Sabina masih memiliki kebaikan dalam dirinya. Ia sangat menyesal dan membenci dirinya yang telah menjadi pembunuh. Sabina juga merasa sangat malu untuk kembali ke rumahnya. Ayahnya sendiri yang selalu mengajarkan kepadanya untuk tidak mengganggu kehidupan manusia. Dan dia sudah melanggarnya karena keegoisannya. Dia tidak lebih dari seorang vampir yang tengah kebingungan mencari jati dirinya.
***
Aiden bermimpi buruk. Dalam mimpinya, ia melihat desanya penuh dengan api. Puluhan penyihir melempar kutukan ke arah makhluk-makhluk besar berbulu — ternyata adalah manusia serigala — yang mengamuk. Ia sendiri berusaha melindungi dirinya dari serangan makhluk-makhluk itu dengan sihirnya.
Setelah berhasil menggulingkan beberapa ekor, ia berlari menghampiri kakeknya yang tengah berduel dengan penyihir berwajah licik. Duel tersebut sangat seru dengan kilatan-kilatan cahaya yang saling beradu di udara. Kakeknya tampak sangat kewalahan dengan nafas yang hampir habis. Sementara penyihir berwajah licik itu masih sangat tenang. Bahkan setetes keringatpun tidak membasahi tubuhnya.
"Aku harus menolong kakek!"pikirnya cepat.
Ia kemudian berlari ke dalam rumahnya dan langsung menuju ruangan bedinding batu yang sangat gelap. Satu-satunya cahaya dalam ruangan itu adalaah sebuah batu sebesar genggaman tangan orang dewasa yang melayang-layang di tengah ruangan. Batu itu bersinar putih cemerlang seperi berlian. Bentuknya bulat dan seluruh permukaannya halus tanpa noda.
Aiden berjalan mendekati batu itu. Tapi semakin ia mendekat, rasanya seluruh kekuatan dan semangat hidupnya terhisap. Mendadak kakinya lemas dan ia jatuh berlutut. Tapi tetap ia paksakan dirinya untuk berdiri dan meraih batu di depan matanya. Dengan sisa tenaganya, ia menyambar batu itu dalam genggaman. Seketika itu juga tangannya terasa panas terbakar dan ia mengerang sangat keras. Tapi ia tidak boleh menyerah!
Pikirannya terus tertuju pada kakeknya yang tengah berduel. Karena itu ia bangkit kembali dan dengan tertatih-tatih berjalan menuju arena pertarungan kakeknya.
Akhirnya, setelah hampir seluruh tenaganya terkuras, Aiden mencapai tujuannya. Ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi dan bersiap merapal mantra. Saat terakhir ia sadar, ia melihat kakeknya berteriak kepadanya.
Tapi belum sempat ia mendengarnya ia sudah terpelanting jauh dari tempat itu. Batu sihir yang digenggamnya terlepas dari tangannya dan pandangannya silau oleh cahaya.
Aiden terbangun dengan kaget di rumah Sabina. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuh dan wajahnya. Ia masih terengah-engah ketika berusaha bangkit dan duduk. Dia mengangkat kedua tangannya untuk mengusap keringat diwajahnya kamudian menarik nafas panjang untuk sekedar menenangkan diri.
"Kenapa aku memimpikan kejadian itu lagi?" desahnya serak.
Setelah lebih tenang dan nafasnya sudah kembali normal, Aiden bangkit berdiri dan pergi keluar kamar. Dilihatnya makanan sudah tersedia di meja makan lengkap dengan secangkir teh yang tampak nikmat dengan asap mengepul di atasnya.
Aiden mengalihkan pandangannya dari meja makan dan melihat berkeliling. Ia mencari sosok Sabina yang tidak ditemuinya dimana-mana. Ia kemudian berjalan melewati meja makan menuju wastafel dan mencuci mukanya. Setelah itu ia pergi mandi dengan harapan merasa lebih baik.
Selesai mandi Aiden belum juga melihat tanda-tanda keberadaan Sabina meskipun sudah berkeliling hampir ke seluruh sudut rumah. Bahkan Nora pun sama sekali tidak nampak.
Setelah sekian lama mencari — diselingi dengan minum teh hangat dan mencicipi kue buatan Sabina — ia pun mulai khawatir. Untungnya saat ia berniat pergi mencari, Sabina sudah pulang bersama Nora.
"Dari mana?" tanya Aiden ketika mereka berpapasan di pintu depan.
Sabina menatapnya dingin.
"Aku ke rumah sebelah. Mengantarkan kue," jawabnya singkat lalu melangkah ke dapur. Aiden mengikutinya tanpa kata-kata.
"Darimana kau belajar membuat kue?" tanya Aiden kemudian setelah keduanya duduk di beranda belakang.
"Ibuku dulunya manusia, sebelum ayahku menjadikannya imortal. Dia sangat pandai memasak. Dan meskipun kami tidak memerlukan makanan manusia, ibuku tetap senang membuatnya dan mencicipinya," jelas Sabina.
"Berarti kau sudah menjadi vampir sejak lahir?" tanya Aiden yang dibalas dengan anggukan Sabina. "Sampai sekarang, sudah berapa lama kau hidup?"
"Seratus enam belas tahun."
"WOW! Jauh lebih tua dari pada aku! Tapi kenapa wajahmu masih seperti berusia duapuluh tahun?"
"Aku bisa menghentikan pertumbuhanku sampai saat yang aku inginkan."
"Memangnya kalian berasal dari mana?"
"Ayahku merupakan keturunan keluarga vampir yang tua di daerah Luteria yang jauh di utara. Ia kemudian pergi dari rumahnya dan jatuh cinta pada manusia, ibuku. Hanya sampai itu yang aku tahu," jelas Sabina.
"Aku tidak pernah keluar dari desaku. Selama ini yang pernah aku temui hanya penyihir. Baru kali ini aku melihat vampir secara langsung," kata Aiden.
Sabina menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ditebak. Aiden balas menatapnya dengan tersenyum.
"Kenapa?" tanya Aiden.
"Tidak.. hanya saja aku masih belum percaya ada orang yang mau menerimaku meskipun aku sudah membunuh manusia. padahal keluargaku saja belum tentu mau menerimaku kembali," kata Sabina kemudian.
Aiden mencondongkan tubuhnya menatap wajah Sabina yang tertunduk.
"Bukannya baru saja kau bilang ayahmu juga mengubah ibumu menjadi vampir? Bukankah itu berarti ayahmu juga menggigit ibumu?" tanya Aiden masih mentatap Sabina.
"Yang dilakukan ayah dan yang kulakukan berbeda. Pertama, ibuku sendiri yang menyerahkan dirinya untuk berubah menjadi vampir. Kemudian ayahku juga tidak menghisap habis darah ibu hingga membunuhnya.
"Sementara aku, aku benar-benar menghisap darah manusia sampai habis agar tidak mengubahnya menjadi vampir," jelas Sabina panjang lebar.
"Jadi keluargamu tidak pernah membunuh manusia?" tanya Aiden. Sabina menggeleng lemah. "Kalau begitu berhentilah membunuh manusia!"
Sabina langsung menoleh menatap Aiden. Baru kali ini ada orang yang terang-terangan melarangnya melakukan tindakan tercela itu.
"Akan kucarikan darah untukmu, karena itu jangan membunuh lagi!" lanjut Aiden.
Mata Sabina berkaca-kaca. Kepalanya mengangguk berkali kali dan air matanya pun akhirnya menetes juga. Aiden tersenyum memandangnya.
"Aku akan membantumu mencari batu sihir," kata Sabina di tengah isak tangisnya.
"Kau bilang begitu pun aku tidak tahu batu itu ada di mana. Tidak ada lagi penyihir yang bisa aku tanya karena desaku sudah hancur," kata Aiden sedih.
"Bukannya kemarin kau bilang orang tuamu yang memaksamu mencarinya?"
"Aku berbohong. Sebenarnya alasanku mencari batu itu karena akulah yang membuat seluruh esaku hancur dan bahkan membunuh kakekku. Sebelum meninggal kakekku berkata bahwa batu itu telah berhasil direbut oleh Sin Scove, penyihir yang membuat kekacauan di desaku.
"Dan melalui informasi yang kudapatkan dari perjalananku, penyihir itu berada di kota ini," terang Aiden.
Sabina memandang Aiden dengan seksama seakan benar-benar mengerti kisahnya
"Lalu apa yang sudah kau dapat setelah berada di kota ini?" tanya Sabina menanggapi.
"Tongkatku sudah bereaksi terhadap batu sihir itu dua kali. Pertama ketika kau diserang manusia serigala. Yang kedua ketika kau menghisap darah seorang wanita di taman."
"Benarkah? Tapi tidak ada batu semacam itu di rumahku."
"Aku tidak berkata kau yang menyimpannya. Hanya saja sepertinya kalau aku berada di dekatmu aku bisa semakin dekat dengan batu yang kucari."
Sabina mendengus pelan.
"Aku sangat senang kalau kau terus berada di dekatku," ujarnya. "Apa batu sihir itu punya nama?"
"Ephestus..."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments