Pagi itu Sabina sibuk membuat kue kacang dan menjerang air untuk menyeduh teh. Pagi yang sangat cerah seandainya tidak diganggu oleh suara-suara sirine mobil polisi yang berbunyi jalan depan rumah Sabina.
Selama berjam-jam orang berkerumun melihat mayat yang berserakan di jalan. polisi juga sudah keluar masuk rumah Sabina sambil menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan.
Tapi dengan pesonanya Sabina segera membuat polisi-polisi manusia itu segera percaya dengan ucapnnya sehingga mereka berhenti mengganggunya.
Setelah selesai dengan semua urusan polisi itu, Sabina kembali melakukan hobinya memasak, sambil sesekali mengintip Aiden yang tidur nyenyak di ruang bacanya.
Dia belum pernah melihat orang yang sedang tidur, karena semua anggota keluarganya, dan bahkan dirinya sendiri, memang tidak pernah tidur. Karena itu, ia sangat terpesona melihat bagaimana laki-laki berambut gelap itu begitu nyaman terlelap.
"Sungguh pemandangan yang indah..." ujarnya berkali-kali.
Karena itu, dengan riang ia membuat berloyang-loyang kue kacang, kue madu, dan semua kue yang bisa ia buat.
"Untuk apa kau membuat begitu banyak makanan manusia?" tanya Nora kemudian setelah sangat jenuh melihat majikannya kegirangan dan terpesona pada seorang laki-laki manusia.
"Tentu saja untuk Aiden. Dia pasti akan sangat lapar setelah bangun lagi," tukas Sabina riang.
"Kau yakin membawanya tinggal di sini akan aman? Dia tidak tahu siapa dirimu sebenarnya dan kau juga sudah berminggu-minggu tidak makan makanan yang layak. Bagaimana bila nanti kau menyerangnya atau dia tidak bisa menerimamu setelah mengetahui dirimu yang sebenarnya?" sergap Nora panjang lebar.
Sabina hanya bersenandung kecil dan mengabaikan kata-kata Nora.
"Aku tidak mungkin menggigitnya. Darah penyihir tidak lebih enak daripada darah kodok. Percayalah.. aku dan Irish pernah mencobanya sewaktu kecil," jawab Sabina acuh.
"Tapi kau sendiri sudah lama tidak makan. Kau sudah tampak begitu lemas."
"Tenang saja Nora. Semalam ketika kau dan Aiden sudah jatuh tertidur aku meminum persediaan yang aku simpan sebagian di lemari es."
"Hah? Bagaimana bila penyihir itu melihatnya? Dan memangnya itu cukup untuk menahan laparmu?" tanya Nora semakin cemas.
"Sudah kuhabiskan kok. Dan botol tempat aku menyimpannya juga sudah aku buang. Setidaknya aku sudah tidak selapar kemarin," jawab Sabina menarik keluar seloyang kue kacang dari oven.
"Ah, Aiden sudah bangun!" seru Sabina sambil menata kue-kuenya di atas piring dan menuang secangkir teh untuk Aiden.
"Selamat pagi? Bagaimana tidurmu?" sapa Sabina begitu melihat Aiden berjalan ke arahnya.
"Selamat pagi. Ini tidur ternyaman dalam seminggu ini " jawab Aiden masih setengah mengantuk.
"Minumlah ini." Kata Sabina menyodorkan secangkir teh yang mengepul. "Aku juga membuat beberapa kue."
"Terimakasih..." kata Aiden singkat lalu mulai menghirup tehnya. Seketika ia segar kembali. "Rasanya seperti punya istri," katanya terkekeh.
Sabina hanya tersenyum simpul.
"Oh! Bagaimana dengan mayat-mayat di depan rumahmu?" tanya Aiden terkejut.
"Sudah sejak pagi polisi keluar masuk rumahku. Tapi tampaknya mereka tidak melihat ada kesalahan yang ku lakukan. Jadi mereka segera pergi."
"Baguslah.. terjadi dengan cepat dan diatasi dengan cepat. Dulu, di tempatku, masih sering terjadi duel penyihir yang menyebabkan banyak pernyihir mati mengenaskan.
"Tapi semenjak para tetua membentuk pemerintahan, segala bentuk duel dihapuskan. Mantra-mantra mematikan juga dilarang digunakan. Sangat membosankan," kata Aiden berkisah.
Sabina hanya tersenyum-senyum mendengar Aiden bercerita. Kini dia menyadari bahwa laki-laki itu memang suka bercerita. Jadi, meskipun tidak ada yang bisa ia ceritakan, setidaknya Aiden punya banyak hal untuk diobrolkan.
"Oh, ya.. kemarin tongkatku bereaksi saat aku berada di dekat rumahmu. Mungkin barang yang aku cari ada di sekitar sini," kata Aiden kemudian.
"Tongkat? Bagaimana bisa sebuah tongkat bereaksi?" tanya Sabina heran, membayangkan tongkat kayu yang bisa bicara.
Aiden menatapnya geli.
"Sepertinya kau tidak tahu apa-apa tentang penyihir," kata Aiden setengah terkekeh. Sabina mengangguk setuju.
"Aku memang pernah dengar tentang penyihir. Tapi aku tidak pernah peduli karena kurasa aku tidak akan pernah bertemu dengan mereka," jelas Sabina.
"Kau harus membiasakan diri kalau begitu." Kata Aiden.
"Yah, kami memang bisa menyihir tanpa perlu memakai perantara, tapi itu hanya berlaku untuk sihir-sihir sederhana. Bila melakukan sihir yang rumit dan membutuhkan mantra atau dengan jarak yang jauh, kami harus memakai benda perantara. Benda itu juga bukan sembarang benda.
"Fungsinya juga untuk meningkatkan kekuatan sihir. Penyihir biasanya memakai tongkat kayu yang dibuat dari pohon-pohon yang mengandung kekuatan sihir," terang Aiden panjang lebar.
Sabina mengangguk paham. Semua bayangan tentang tongkat yang berbicara sudah agak pudar, meskipun ia masih bertanya-tanya bagaimana sebuah tongkat kayu bereaksi.
"Jadi, bagaimana tindakanmu selanjutnya setelah mengetahu tongkatmu bereaksi terhadap benda yang kau cari?" tanya Sabina kemudian.
Aiden mengangkat bahu.
"Aku juga tidak tahu. Kurasa sebaiknya aku menunggu saja. Aku ingin beristirahat sehari dua hari setelah sekian lama aku berjalan."
Sabina terkikik kecil. Ia mulai berpikir bahwa Aiden memang tidak terlalu peduli terhadap tugasnya mencari barang itu. Tapi ia juga tak peduli. Entah kenapa kedatangan Aiden membuatnya sangat senang dan bersemangat.
***
Malam sudah turun dan kegelapan menyelimuti kota itu. Sabina sedang sibuk membereskan dapur ketika ia merasa sangat lapar. Tiba-tiba ia merasa tidak bisa mengontrol tubuhnya yang mulai berubah.
Matanya berkilat-kilat perak dan taring serta kukunya mulai memanjang. Dengan panik ia menghambur ke halaman belakang untuk menenangkan diri. Dilihaatnya Aiden sedang sibuk menonton TV bersama Nora. Sekuat tenaga ia bergulat dengan tubuhnya.
Perlahan-lahan taring dan kukunya memendek dan matanya berhenti berkilat. Kakinya segera menjadi temas dan ia terjatuh. Nora yang menyadarinya melompat keluar diikuti Aiden.
"Sabina? Apa yang terjadi?" tanya Aiden mengangkat tubuh Sabina dan membantunya berdiri.
"Terpeleset rumput yang licin. Aku memang kurang berhati-hati," jawab Sabina mengibaskan tangan Aiden yang berusaha membantunya.
Aiden berdecak sebal saat tangannya dikibaskan dengan kasar oleh Sabina. Ia memandang gadis itu dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin kuajukan meskipun aku sadar tidak akan mendapatkan jawabannya," kata Aiden dengan nada tinggi.
"Apa misalnya?" tanya Sabina kesal.
"Wajahmu selalu pucat dan tidak pernah merona, seakan kau mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh. Kemudian tubuhmu juga sangat dingin sampai aku bisa merasakannya merasuk hingga ke tulang-tulangku.
"Sekarang kau mengibaskan tanganku ketika aku ingin menolongmu. Sebenarnya ada apa?" tanya Aiden.
"Apa tidak cukup kata-kataku untuk tidak menyentuhmu, apa pun diriku yang sebenarnya. Dan ku kira kita tidak perlu ikut campur urusan masing-masing meskipun tinggal bersama di rumahKU?" bentak Sabina.
"Tapi aku menceritakan semua tentang diriku..."
"Aku tidak pernah memintamu bercerita sebanyak itu! Kau sendiri yang membuat mulutmu bercerita! Aku juga tidak peduli dengan semua cerita-ceritamu itu dan aku yakin aku akan segera melupakannya!"
Aiden tampak tidak senang dengan kata-kata Sabina. Ia mengepalkan tangannya seakan berusah menahan dirinya untuk bicara lebih panjang.
"Baiklah. Kalau memang aku sangat mengganggumu. Aku akan segera pergi dari rumahMU!" kata Aiden kasar dan langsung berbalik pergi.
Sabina memejamkan kedua matanya dengan nafas tersenggal.
"Kau butuh darah segar," ujar Nora yang dari tadi memandanginya.
"Aku pergi sekarang, Nora," desah Sabina yang hampir kehabisan nafas.
Punggung Sabina berderak pelan dan seketika sepasang sayap berbulu hitam tumbuh dari sana. Ia kemudian melesat terbang mengabaikan pandangan cemas Nora.
Selama beberapa saat ia berputar-putar di udara. Beruntung langit malam itu begitu gelap dipenuhi awan, karena itu Sabina tidak perlu khawatir ada orang yang melihatnya terbang.
Setelah beberapa saat, Sabina melihat seorang wanita berjalan seorang diri di taman kota. Dengan sigap ia menukik turun dan mendarat tanpa suara di belakang wanita itu.
Tanpa melipat sayapnya, Sabina menyergap wanita itu dan menutup mulutnya. Kedua taringnya menancap di leher wanita itu dan mengoyak nadinya. Sabina menghisap dan terus menghisap hingga mulutnya dipenuhi darah. Setelah puas dilepaskannya wanita yang sudah lemas kehilangan nyawa itu.
Saat hendak berbalik pergi, betapa terkejutnya ia melihat Aiden sudah berada di belakangnya dan melihat semuanya. Sabina tak sanggup berkata-kata melihat Aiden yang menatapnya nanar. Ia tidak tahu persis apa yang sedang dirasakannya. Takut, cemas, malu, semua perasaan tidak enak bercampur dalam hatinya.
Tapi kemudian diberanikan dirinya menatap mata hijau Aiden dengan matanya sendiri yang sudah berubah perak.
"Inilah aku yang sebenarnya. Apa aku membuatmu merasa muak?" sergah Sabina.
Aiden menatapnya tanpa ekspresi dan semakin membuat Sabina merasa bersalah.
"Sejak awal aku bertemu denganmu, aku sudah mempercaimu. Aku memujamu dan tidak pernah merasa muak," kata Aiden datar.
"Tapi saat itu kau belum melihatku seperti ini. Aku memangsa manusia! Aku ini tidak ada bedanya dengan manusia serigala yang kau lihat tempo hari! Aku bahkan bisa memangsamu," kata Sabina menahan nada suaranya yang meninggi.
"Tapi kau tidak melakukannya."
"Tapi aku bisa.."
"Apapun yang kaulakukan dan bagaimanapun wujudmu sebenarnya, aku tetap merasa kau gadis yang baik." Tatapan Aiden mulai melembut dan membuat Sabina hampir menangis.
"Aku membunuh manusia..." kata Sabina menahan isak lirihnya.
"Kau pasti punya alasan melakukannya. Kalau aku di posisimu, aku pasti juga mencari makan saat aku lapar," kata Aiden berjalan mendekati Sabina.
"Apa kau tidak beranggapan aku ini pembunuh yang kejam?" tanya Sabina yang kini terisak semakin keras.
Tubuhnya sudah kembali seperti semula dan sayapnya sudah mengilang. Hanya mulutnya yang masih penuh darah dan menetes membasahi bajunya. Air matanya yang mengalir deras dipipinya sedikit melunturkan sisa-sisa darah dari wajahnya.
"Gadis yang bisa membuat kue yang sangat nikmat bukanlah pembunuh yang kejam," jawab Aiden semakin dekat dengan Sabina.
"Tapi... tapi..." kata Sabina terisak dan berusaha mundur menjauhi Aiden. Aiden berhenti berjalan dan menatap Sabina dengan sangat lembut.
"Aku sudah jautuh cinta padamu sejak pertama aku melihatmu. Dan aku semakin mencintaimu setelah aku lebih mengenalmu," katanya kemudian.
"Itu karena kau terkena pesonaku. Aku vam... vampir... semua vampir memiliki kekuatan untuk menarik manusia." kata Sabina mamandang mata Aiden.
"Bukan itu saja yang membuatku tertarik. Aku menyukai kue-kue buatanmu. Aku juga mnyukai sikapmu yang ramah. Dan kau juga telah banyak membantuku.
"Aku menyukaimu meski kau vampir yang membunuh ratusan manusia sekalipun. Aku tidak peduli dan aku tidak bisa menghentikan perasaanku ini!" seru Aiden dengan tatapan memohon.
Sabina menangis lebih keras dan mengatupkan kedua tangan di wajahnya. Aiden segera merengkuhnya dan memeluknya erat-erat.
"Aku tak peduli meskipun tubuhku kedinginan setiap kali menyentuhmu. Aku akan terus memelukmu walaupun aku bisa membeku karenanya."
Sabina makin terisak. Kini semua perasaan buruk dalam hatinya berubah. Pertama kali dalam hidupnya Sabina merasakan kehangatan yang membuatnya sangat nyaman.
***
Aiden mengusap wajah Sabina yang penuh air mata dan darah. Tapi usaha itu sia-sia dan bukanya bertambah bersih tapi malah membuat wajah Sabina semaki rata oleh darah.
"Biar kulakukan sendiri," kata Sabina yang mengambil sapu tangan Aiden untuk mengusap wajahnya.
"Wajahmu tampak lebih berwarna sekarang," kata Aiden menggona. Sabina tersenyum kecil mendengarnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan tubuh wanita ini?" tanya Aiden.
"Kita bawa saja. Nora bisa membereskannya."
"Kau tidak kawtir orang lain akan melihatmu. Memangnya kau sedang membawa kambing?" tanya Aiden bingung.
"Orang lain tidak akan melihat kita kalau kita lewat jalur udara," kata Sabina yang sudah mulai mengangkat tubuh wanita itu dan memanggulnya di bahu. "Ayo.." lanjutnya mengulurkan sebelah tangan kepada Aiden. Aiden menyambut uluran tangan Sabina.
"Lebih baik kau memelukku," kata Sabina.
Aiden menurutinya. Saat berikutnya Sabina sudah mengeluarkan sayapnya dan mereka melesat terbang menuju rumah Sabina. Perjalanan hanya memakan waktu beberapa menit. Sabina terbang sangat tinggi dan cepat.
Aiden sedikit mual dengan perjalanan udaranya tersebut. tapi untungnya mereka segera sampai di halaman belakang rumah Sabina.
Bagitu mendarat, Sabina meletakkan mayat wanita itu ke rerumputan. Nora yang tampaknya sudah menunggu langsung berjalan mendekati mereka dan bergantian memandang Sabina dan Aiden.
"Ceritanya panjang Nora. Intinya Aiden sudah tahu tentang aku. Karena itu kau tidak perlu berpura-pura menjadi kucng biasa," kata Sabina. "Tapi yang terpenting, tolong kau bereskan makananku," lanjut Sabina yang kemudian masuk kedalam rumahnya.
"Kau masih mau datang kemari setelah kau mengetahui segalanya?" tanya Nora menatap Aiden dengan tatapan puas.
"Perasaanku pada Sabina mungkin sama dengan perasaanmu kepadanya," jawab Aiden sama puasnya. "Lalu, bagaimana caramu membereskan ini?" tanya Aiden menunjuk mayat wanita itu.
"Gampang saja. Tapi aku kawatir aku tidak akan tampak lucu lagi bagimu," ujar Nora yang mendadak tubuhnya membesar hingga sebesar singa lengkap dengan taring yang sangat tajam. Ia kemudian melahap dengan singkat mayat manusia itu sampai habis tak bersisa. Aiden sedikit berjengit menatapnya.
"Bagaimana?" tanya Nora setelah berubah menjadi besar. Suara Nora menjadi lebih berat dari sebelumnya.
"Dari awal memang aku tidak pernah menganggapmu lucu," jawab Aiden.
Peristiwa itu memang bukan kali pertama dialami Aiden. Di desanya, masih banyak makhluk-makhluk sihir yang memangsa manusia. Ia sendiri pernah menghadapi salah satunya dan bahkan hampir dimangsa. Karena itu, ia tidak terlalu terkejut melihat apa yang dilakukan Nora.
"Aku pernah melihat makhluk yang jauh lebih buas daripadamu," kata Aiden kemudian.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments