Kedatangan Manusia Serigala

Sudah dua malam Sabina tidak melihat Aiden di sekeliling rumahnya. Selama itu pula ia tidak berani keluar rumah untuk berburu. Hingga malam ini, ia hanya menghabiskan waktunya untuk menonton TV dan membuat kue.

"Kau sama sekali tidak berburu dua hari ini dan hanya minum teh dan susu. Memangnya kau bisa hidup lebih lama lagi dengan begitu?" tanya Nora saat Sabina menjerang air untuk membuat teh.

"Tidak apa-apa. Aku cukup kuat dengan ramuan teh dari ibuku." Jawab Sabina. Wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat. Tubuhnya juga lemas dan keceriaannya menghilang. Ia masih merasa tidak aman dengan kehadiran Aiden.

"Sampai kapan kau akan ketakutan bagitu? Sebelum kau meninggalkan rumah keluargamu, seharusnya kau sudah menyadari semua bahaya dan resiko kau hidup sendiri. Kalau terus begini lebih baik kau minta adikmu yang lebih pemberani datang menjemputmu."

"Jangan banyak bicara Nora! Aku hanya belum terbiasa hidup dengan kekuatanku sendiri. Aku tidak apa-apa. Aku akan berburu setelah aku siap." Jawab Sabina kesal. Ia kesal karena ia ternyata tidak bisa mengatasi Wolfank yang selama ini mengganggunya. Ditambah bagaimana Aiden bisa menyembunyikan aura di muka rumahnya. Semua itu semakin membuatnya merasa lemah.

Tiba-tiba suara geraman terdengar keras di luar rumah Sabina. Bunyi benda diseret melengkapi geraman ganas tadi. Bukan hanya satu, tapi beberapa.

"Sabina, dia datang!" kata Nora.

Sabina mengangguk paham. Ia berjalan menuju pintu dan keluar dari rumahnya. Di depannya, ia melihat lima makhluk yang tingginya dua kali tinggi tubuhnya. Tubuh makhluk itu dipenuhi bulu dan moncongnya menjorok keluar memamerkan taring yang besar penuh ludah yang menetes-netes. Masing-masing makhluk itu menenteng dua mayat manusia yang tubuhnya hancur terkoyak. Merekalah manusia serigala yang sedang berburu yang membuat mayat-mayat hasil buruannya itu berceceran di sepanjang rumah Sabina.

"Kenapa kau tak berhenti menggangguku Wolfank? Habiskan makananmu dan buang sisanya di tempat lain!" seru Sabina kepada manusia serigala itu.

"Kau tidak berhak memerintahku gadis kecil! Ini wilayahku dan seharusnya kau yang pergi! Tidak perlu ada dua pemburu dalam satu wilayah!" kata serigala yang paling besar dan berdiri paling depan. Suaranya serak dan parau, penuh geraman mengerikan.

"Aku tidak pernah mengganggu buruanmu. Masih banyak manusia yang bisa kau makan. Aku tidak berburu sesering kaummu."

"Aku tidak peduli! Aku ingin kau pergi dari wilayahku! Bangsamu sudah banyak membuat kaumku menderita! Sedikitpun aku tidak menaruh belas kasihan padamu!"

"Aku tidak akan pernah pergi dari sini! Ini rumahku dan kau tidak berhak mengusirku!"

Kelima manusia serigala itu menggeram lebih keras sambil mengaum-aum. Kukunya yang tajam tiba-tiba memanjang dan matanya menatap Sabina dengan bengis. Penduduk di sekitar daerah itu pun ketakutan dan segera menggulung tubuh mereka deibawah selimut.

"Kau berani melawanku?!" geram Wolfank dengan taring besarnya. Dia berjalan mendekati Sabina yang berdiri di depan pagar rumahnya. "Dengan kaki gemetar dan badan pucat ini kau menentangku?! Kau tak lebih dari mayat yang menunggu dikoyak oleh taringku yang tajam." lanjut Wolfank semakin dekat.

Tiba-tiba sepasang taring keluar dari mulut Sabina. Kukunya semakin panjang dan tajam menyerupai cakar dan kedua matanya berubah perak.

"Aku tidak akan takut melawanmu, mulut bau!" seru Sabina.

Tapi ia melakukan kesalahan besar. Serigala ganas iu dua kali lebih besar dan kuat dari pada dirinya. Dengan satu ayunan cakarnya Sabina terhempas jatuh mencium trotoar. Meski sempat menghindar, lengannya terluka parah dengan empat goresan besar. Wolfank kembali mendekati Sabina yang melompat bangun. Kelincahannya berkurang karena sudah hampir dua minggu ia tidak mendapat buruan sehingga tubuhnya lemas.

Sebuah gigitan mendarat di bahu Sabina sebelum ia sempat mengindar. Sambil menahan sakit, dicakarnya wajah Wolfank hingga mengenai matanya. Wolfank melompat dan melepaskan tubuh Sabina yang separuh hancur.

Tiba-tiba seberkas sinar kemerahan melecut di depan mata Sabina dan mengenai Wolfank. Tapi Sabina tidak bisa melihat lebih jauh yang terjadi karena mendadak pandangannya gelap. Ia jatuh terkulai, kehilangan kesadaran.

***

Entah kenapa perasaan Aiden kacau. Ia merasa harus kembali ke rumah Sabina. Mendadak tongkat sihirnya bersinar remang kehijauan. Akhirnya ia memutuskan untuk menuju ke rumah Sabina. Tidak butuh waktu lama untuk mencapai tujuannya karena ia memang berada di dekat sana.

Begitu berbelok dari tikungan, ia melihat empat ekor makhluk aneh penuh bulu dan menggeram-geram di depan rumah Sabina. Di sekeliling mereka beberapa mayat manusia tergeletak mengenaskan. Tepat di depan pagar rumah Sabina, seekor makhluk berbulu itu membungkuk siap menyerang Sabina.

"Fireve Flamesco!" serunya mengacungkan tongkat sihirnya kepada makhluk yang akan menyerang Sabina tersebut. kilatan merah keluar dari ujung tongkatnya dan menyambar makhluk tadi hingga membuatnya terlempar. Bulu-bulunya yang panjang dan mengerikan itupun mulai terbakar api. Ia berguling-guling mencoba memadamkan api tersebut tapi api itu tidak bisa padam.

Keempat makhluk berbulu lainnya menghampiri kawannya sambil memandang Aiden dengan tatapan geram.

"Siapa kau? Untuk apa mengganggu kami?" tanya salah satu diantaranya.

"Aku yang harus bertanya siapa kalian dan kenapa mengganggu gadis itu." Sahut Aiden.

"Bukan urusanmu. Pergi dari sini atau tubuhmu akan kami koyak seperti maya-mayat itu." Ancam mereka lagi.

"Aku membuat kalian terbakar seperti yang terjadi pada temanmu itu. Api yang aku buat tidak akan padam sebelum melumatkan tulang kalian," jawaban Aiden tak gentar.

Akhirnya kawanan sergala itu berlari pergi membawa Wolfank yang tubuhnya terbakar. Aiden segera menghampiri Sabina yang pingsan penuh luka. Dengan sigap ia menggendong gadis itu tanpa mempedulikan mayat-mayat yang berserakan di pinggir jalan.

Dibaringkannya Sabina di sofa ruang tamu karena Aiden sama sekali tidak menemukan tempat tidur di rumah itu. Dengan panik ia mencari perlengkapan P3K yang juga tidak dapat ia temukan dimana-mana. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan luka-luka Sabina.

Saat ia mengangkat tongkat sihirnya, tiba-tiba semua luka di tubuh Sabina menutup dengan cepat hingga tak berbekas sama sekali. Dengan heran Aiden memandangnya selama beberapa saat.

"Aku bahkan belum merapal mantra tapi lukanya sudah menghilang secepat kilat," katanya keheranan.

Lebih heran lagi ia saat melihat seekor kucing hitam, yang dari tadi mengikuti tubuh Sabina, tertawa. Seekor kucing yang tertawa cukup membuatnya bertanya-tanya apakah tingkat kewarasannya masih cukup normal. Untungnya Sabina segera membuka mata, sehingga perhatiannya kembali kepada Sabina.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil berlutut di samping Sabina.

Sabina terlonjak kaget dan berusaka duduk. Namun ubuhnya masih terlalu lemas sehingga ia terkulai lagi.

"Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Biar aku ambilkan sesuatu yang hangat untukmu," kata Aiden yang langsung pergi ke dapur dan menemukan teh hangat yang tadi baru di jerang Sabina.

"Ini minumlah," kata Aiden menyodorkan minuman itu pada Sabina.

Sabina menerimanya dengan ragu-ragu dan masih menatap Aiden curiga.

"Maaf membuatmu kaget karena tiba-tiba berada di sini. Aku tak sengaja lewat ketika kau sedang diserang oleh... oleh... aku tak tahu itu makhluk apa, tapi ku kira itu manusia serigala," jelas Aiden.

Sabina masih terdiam di balik cangkir tehnya. Wajahnya masih tampak cantik meski sekarang menjadi berlipat-lipat lebih pucat daripada saat terakhir Aiden melihatnya.

"Kau.. menolongku?" rintih Sabina kemudian.

"Emh.. kurang lebih begitu. Tapi aku tidak membunuh mereka, persisnya. Kurasa aku tidak cukup kuat untuk melakukannya. Jadi aku hanya mengusirnya sebelum mereka... ee... membunuhmu, mungkin," jelas Aiden.

Wajah tegang Sabina berangsur-angsur mengendur. Ia berusaha duduk dan meletakkan cangkir tehnya. Aiden pun segera membantunya untuk duduk. Setelah Sabina berhasil duduk, kucing hitam tadi langsung melompat ke pangkuan majikannya itu dan bergelung manis. Entah kenapa Aiden merasa kucing itu menatapnya mengejek sehingga membuatnya sebal.

"Ini Nora, kucingku," jelas Sabina menyadari Aiden terus menatap kucing itu.

"Oh, bagus. Sekarang aku tahu nama kucing ini," kata Aiden masih menatap Nora dengan curiga. Sesaat mereka terdiam sejenak, bergelut dengan pikiran masing-masing. Hanya dengkur Nora yang memecahkan kesunyian diantara mereka.

"Terimakasih.." desah Sabina kemudian. Aiden hanya mengangguk dalam diam.

"Jadi bagaimana kau mengusir mereka?" tanya Sabina lagi.

"Yah.. hanya sedikit membakar bulu-bulunya. Kenapa mereka menyerangmu?"

"Alasannya sama seperti alasan mereka menyerang mayat-mayat yang mereka bawa," jawab Sabina berusaha menyembunyikan kebenaran.

"Jadi mereka yang membuat mayat bertebaran di sekeliling rumahmu selama ini?" tanya Aiden lagi.

"Memangnya kau sudah tahu sebelumnya?"

"Aku mendengar beberapa cerita saat aku mampir di bar beberapa saat yang lalu. Kenapa mereka tidak segera ditangkap?"

"Menangkap mereka sama saja menjemput kematian. Kebanyakan penduduk tidak mengetahui keberadaan mereka."

"Begitukah? Bukankah sudah beberapa kali mereka datang ke kota?"

"Mereka selalu datang saat tengah malam. Dan mencari tempat-tempat sepi."

"Tapi mereka hanya berlima. Kurasa bila mengerahkan seluruh polisi kota ini mereka bisa dikalahkan."

Sabina memandang Aiden dengan sedih, seakan pria itu tidak tahu apa yang ia katakan.

"Mereka hidup berkoloni di tengah hutan di ujung tenggara kota ini. Satu koloni mereka kurasa mencapai puluhan ekor. Terakhir kali kulihat, mereka datang sebanyak dua puluhan ekor."

"Jadi ini bukan pertama kalinya kau melihat mereka? Kenapa tidak kau laporkan saja?"

"Tidak akan ada yang percaya padaku. Baru dua bulan aku tinggal di sini. Dulunya mereka memangsa penduduk kota lain dan tidak menyisakan mayat di sekitar sini. Tapi semenjak aku pindah kemari, mereka mulai memangsa penduduk sekitar sini " jelas Sabina.

Aiden memandangna sambil berpikir.

"Apa mungkin mereka berusaha mengusirmu?"

"Kurasa begitu," jawab Sabina ringan.

"Tapi untuk apa?"

"Entahlah.."

Sejenak keduanya terdiam. Aiden kalut pada perasaannya sendiri. Dia semakin yakin bahwa Sabina bukan manusia biasa dan mulai bertanya-tanya apakah Sabina juga seorang penyihir. Kemudian dia juga kembali ingat pada tongkatnya yang sempat bersinar remang ketika dia hendak kemari. Tapi semakin ia berpikir, semakin jauh jawaban yang ia cari. Akhirnya ia memutuskan untuk terus berada di tempat itu karena di sanalah pertama kalinya tongkatnya bersinar dan menandakan benda yang ia cari memang berada di dekat tempat itu.

"Kalau begitu besok mereka akan datang lagi?" tanya Aiden memecah keheningan.

"Kurasa tidak. Waktu perburuan mereka hanya selama satu minggu dalam satu bulan. Dan malam ini adalah hari terakhir bulan purnama bersinar. Jadi mereka akan kembali menjadi manusia. Mungkin bulan depan baru mereka akan kembali berburu," jelas Sabina.

"Sebenarnya... kau ini apa?" tanya Aiden tanpa bisa menyembunyikan keingintahuannya. Sabina menoleh cepat kepadanya dengan alis bertaut.

"Bukan.. bukan maksudku bertanya tidak sopan. Hanya saja aku merasa... sedikit aneh. Kau tahu persis mengenai manusia serigala dan bahkan kau juga tahu bahwa nyawamu terancam. Tapi kau tetap tenang seakan ini bukan apa-apa. Padahal segerombolan manusia serigala berusaha mengusirmu dari kota ini, entah apa alasannya. Kemudian.. lukamu.. tadi aku melihat dengan mataku sendiri kau tercabik-cabik. Lihat! Bajumu juga masih terkoyak. Tapi semua luka itu sembuh dengan satu kedipan mata," jelas Aiden tanpa menarik nafas.

"Dan di rumahmu sama sekali tidak ada tenpat tidur!" tambahnya.

Sabina tersenyum kecil yang kemudian menjadi tawa renyah. Lama ia tertawa sampai Nora terbangun dengan kaget.

"Seumur hidup belum pernah aku merasa selucu ini," kata Sabina masih tertawa.

Setelah mengambil nafas panjang dan berusaha keras tidak tertawa, ia pun tenang kembali, meski masih sedikit tersenyum menahan tawa.

"Sebelum mencari tahu kehidupan orang lain, lebih baik kau perkenalkan dulu dirimu. Di sini rumahku dan kotaku. Karena itu aku juga berhak tahu latar belakang tamuku," kata Sabina kemudian.

"Baiklah. Mungkin kau tidak akan terkejut dengan pengakuanku, karena kau yakin kau bukan orang biasa. Aku.. penyihir," kata Aiden. Sabina hanya memandangnya tanpa mengubah ekspresi. Karena itu Aiden melanjutkan.

"Aku berasal dari desa penyihir Woodlock di Selatan. Beberapa waktu yang lalu desaku diserang oleh penyihir hitam dan mereka mencuri pusaka keluarga kami, sebuah batu sihir yang mampu melipatgandakan kekuatan sihir. Batu itu merupakan pusat kekuatan desa kami." Aiden menarik nafas pendek dan kembali melanjutkan.

"Akhirnya, karena beberapa pertimbangan, aku lah yang mereka pilih untuk merebut kembali batu sihir itu."

Sabina masih menatap Aiden tanpa ekspresi. Apa yang dikatakan Aiden adalah hal yang sebenarnya.

"Kenapa kau sendiri yang harus merebut batu sihir itu?"

Aiden mengangkat sebelah alisnya.

"Emh.. aku melakukan sedikit kesalahan sehingga harus menerima hukuman ini," jelasnya pendek.

Sabina tampak sedikit menimbang-nimbang.

"Aku memang bukan orang biasa seperti yang kau katakan. Tapi kau tidak perlu kawatir karena aku bukan orang jahat dan tidak akan menyakitimu. Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci padamu, tapi yang pasti aku dan manusia serigala itu memang bermusuhan. Bukan hanya aku tapi semenjak leluhurku dulu. Apa kau cukup puas dengan penjelasanku?" jelas Sabina panjang lebar.

"Sebenarnya belum.. tapi aku yakin kau punya alasan untuk tidak menceritakan lebih dari itu," jawab Aiden mengerti.

"Aku sangat berterimakasih kalau kau bisa mengerti," kata Sabina kemudian. "Emh.. bagaimana jika kau tinggal di sini untuk sementara, hingga batu sihir itu kau temukan."

Aiden sedikit terperangah kaget mendengar tawaran itu. Meskipun ia masih sangat bertanya-tanya tentang gadis itu, tapi ia yakin Sabina tidak mungkin menyakitinya. Keyakinan yang entah darimana ia dapatkan. Karena itu ia segera mengangguk mantap untuk menyetujui tawaran Sabina.

"Tidak ada bantuan lain yang kuharapkan daripada tempat tinggal," katanya kemudian.

Sabina terkikik kecil.

"Tapi memang tidak ada tempat tidur di sini. Aku biasa tidur di sofa ini karena menurutku sudah cukup empuk dan nyaman," kata Sabina masih setengah tertawa.

"Tak ada gunanya aku menjadi penyihir bila aku tidak bisa membuat tempat tidurku sendiri," jawab Aiden.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!