Pagi harinya Roberta menyambut mereka dengan sangat gembira. Meski tidak melihat pertarungan secara langsung, namun secara instingtif Roberta tahu bahwa Sabina dan Aiden sudah mengalahkan sang banshee. Ia tak henti-henti mengucapkan terimakasih lantas secara sukarela mengabarkan berita baik itu ke seluruh penjuru kota. Sabina dan Aiden segera menjadi primadona di kota itu.
Meski begitu, perjalanan mereka tidak bisa berhenti disana. Setelah selesai mengucapkan salam perpisahan, Sabina dan Aiden pun terpaksa meninggalkan Kota Kelam Terlarang. Para penduduk desa yang masih seru berpesta merayakan kepergian sang banshee awalnya menyuruh mereka berdua tinggal lebih lama. Setidaknya agar mereka bisa mengikuti pesta anggur bersama. Tapi Sabina segera menolak dengan tegas.
Mereka tidak punya banyak waktu. Selain itu juga Sabina telah beberapa hari menahan lapar, dan banyak energinya terkuras untuk melawan banshee. Bisa-bisa dia berubah tak terkendali bila lebih lama berada di tengah banyak manusia. Itu bukan skenario yang baik untuk kedua belah pihak.
Maka dengan diiringi ucapan terimakasih tak berkesudahan, Sabina dan Aiden pun akhirnya meninggalkan kota. Mereka kembali menyusuri hutan yang kini tidak terlalu lebat, menuju Mata Air Hidup dan Mati. Orang-orang di Kota Kelam Terlarang memberikan petunjuk dimana letak Mata Air itu. Sabina, Aiden dan Nora segera melesat menuju arah yang ditunjuk orang-orang di kota tersebut.
Perjalanan mereka harus menyusuri sebuah sungai kecil yang mengitari Kota Kelam Terlarang. Mereka terus berjalan ke arah perbukitan tinggi di sisi Timur Kota, melawan arus sungai tersebut. Semakin jauh perjalanan mereka, semakin besar dan deras pula aliran sungai tersebut. Itu artinya mereka memang sudah mengikuti arah yang tepat.
Di ujung sungai tersebut menjulang sebuah bukit tinggi yang dipenuhi pepohonan lebat. Suara debum air terdengar samar-samar dari kejauhan. Sabina dan Aiden segera tahu bahwa sumber suara tersebut adalah tempat tujuan mereka selanjutnya.
Dan benar saja. Setelah membelah hutan dengan kecepatan di luar nalar, rombongan mereka pun akhirnya menemukan sebuah air terjun dengan danau besar di bawahnya. Arusnya cukup deras dan air terjun tersebut tampak sangat tinggi dan besar. Titik-titik air terciprat dari hasil tumbukan air terjun dengan danau di bawahnya.
Sabina, Aiden dan Nora yang mengingat pesan Miangase sebelumnya buru-buru menghindari lokasi yang terkena air. Miangase jelas berkata bahwa mereka harus menyeberangi mata air tersebut tanpa boleh terkena airnya. Sungguh pekerjaan yang sulit.
"Bagaimana kita menemukan ikan mas di arus deras danau ini?" tanya Aiden setengah berteriak, mencoba mengalahkan suara debum air terjun.
Sabina dan Nora tampaknya juga tidak punya ide yang masuk akal. Alih-alih mengambil ikan, mendekati bibir danau tanpa terkena cipratan air saja sudah mustahil.
"Ayo kita pikirkan sambil makan siang," ucap Sabina kemudian.
"Kau mau berburu?" tanya Aiden.
Sabina mengangguk pelan. "Tunggulah disini bersama Nora," lanjutnya.
"Baiklah," kata Aiden menurut. Pemuda itu lantas merebahkan tubuhnya di rumput sambil melepas ransel besar yang dibawanya. "Ayo kita makan bekal dulu, Nora," ajak Aiden.
Nora yang sudah berubah wujud menjadi singa besar lantas turut merebah duduk bersama Aiden sambil menjilati cakar-cakarnya. Sabina di sisi lain, segera melesat ke arah hutan untuk mencari mangsa yang dapat mengembalikan energinya.
Hutan di sekitar air terjun itu tidak terlalu lebat. Hanya ada beberapa pohon besar yang berdiri berjauhan satu dengan yang lain. Namun hal aneh yang dilihat Sabina di sekitar situ adalah banyaknya kerangka-kerangka hewan yang bertebaran. Dan setelah berkeliling selama beberapa saat, Sabina sama sekali tidak menemukan satu ekor pun hewan hidup. Akhirnya gadis itu memilih berhenti sejenak di sebuah tanah lapang tak jauh dari sana.
Sabina mengedarkan pandangannya dengan putus asa. Di kejauahn ia melihat sebuah gua kecil tampak menjorok di dinding tebing. Sepertinya gua itu bisa menjadi satu-satunya harapan terakhir Sabina. Siapa tahu di dalam sana merupakan sarang binatang buas yang bisa dia buru.
Tanpa menunggu waktu lama, Sabina segera melesat menuju gua tersebut. Dari luar, mulut gua yang menganga itu menampakkan kegelapan yang sangat dalam. Sabina memperkirakan betapa dalamnya gua tersebut dan justru semakin bersemangat karena mungkin ia akan mendapatkan banyak binatang buruan. Tanpa ragu, ia pun memasuki gua gelap tersebut seorang diri. Beruntung kedua mata vampirnya sangat membantu untuk melihat dalam kegelapan.
Suasana dala gua tersebut sangat lembab dan dingin. Sabina memperkirakan bahwa gua ini sebenarnya berada di perut bukit, tempat air terjun besar yang tadi dia temui bersama Aiden dan Nora. Sabina terus melangkah masuk ke dalam gua, meski kegelapan melingkupinya tanpa celah.
Akan tetapi, apa yang dilihat Sabina di dalam gua tersebut ternyata berbeda dengan perkiraannya. Di dasar lantai gua tersebut berserak tulang belulang yang sangat banyak. Sabina mencermati beberapa tulang yang ada di sana, dan betapa terkejutnya gadis itu, tulang-tulang tersebut bukan hanya merupakan tulang hewan melainkan manusia!
Gua ini benar-benar seperti bekas pembantaian. Ratusan tulang manusia dan hewan bertumpuk menjadi satu hingga sulit dibedakan. Meski begitu, karena Sabina sudah hidup cukup lama dan memahami anatomi segala jenis makhluk hidup dibanding siapapun, ia segera tahu bahwa tulang-tulang mayat yang berserakan ini mati dengan kondisi yang utuh. Tidak ada tanda-tanda kekerasan yang terjadi pada mereka semua.
Di dorong oleh rasa penasaran, akhirnya Sabina memutuskan untuk terus masuk lebih dalam ke gua tersebut. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi krak keras karena menginjak tulang belulang yang berserak tinggi di dasar gua. Setelah beberapa saat berjalan, Sabina menyadari bahwa kegelapan dalam gua tersebut lambat laun sirna.
Pada satu titik di ujung gua, Sabina samar-samar melihat kilau-kilau cahaya keemasan yang terus bergerak-gerak pelan. Rasa penasarannya semakin tinggi, dan ia kini melupakan fakta bahwa dirinya tengah didera kelaparan akut. Energinya mungkin tidak banyak lagi, namun Sabina tetap memilih untuk terus menjelajah.
Akhirnya, setelah berada cukup dekat dengan ujung gua, Sabina kini benar-benar menemukan hal yang sangat luar biasa. Sebuah danau kecil dengan air tenang tepat di tengah perut bukit. Cahaya matahari menyeruak masuk dari celah di atas danau tersebut. Sepertinya celah itu merupakan jalan masuk lain yang berupa gua di punggung bukit yang lain.
Cahaya dari celah itulah yang memantul ke atas air danau, dan membuat riak-riak lembutnya menjadi berkilau keemasan. Namun hal yang lebih menakjubkan adalah, tepat di tengah danau itu, di atas sebuah undakan batu yang tersusun rapi, sebuah wadah berkilauan tampak sangat cantik dengan semburat warna pelangi di dalamnya. Sabina menatap lebih seksama wadah air yang seharusnya tidak lazim berada di tempat itu.
Gadis itu lantas menyadari bahwa air di dalam wadah itulah yang berwarna seperti pelangi. Pada setiap kedipan matanya, guratan warna dalam wadah tersebut berubah, merah, kuning, hijau, dan sebagainya. Sabina benar-benar terpesona melihat hal itu hinga tanpa sadar, ia pun berjalan perlahan-lahan mendekati bibir danau.
Tubuhnya seperti berada di luar kendalinya. Satu-satunya hal yang ada dalam pikiran Sabina saat ini adalah untuk mendapatkan air berkilauan itu dan meminumnya. Rasa dahaga tak terkira kini melingkupi Sabina. Rasa laparnya selama berhari-hari menambah dahaganya semakin tak terbendung. Sabina sudah nyaris melangkah masuk ke dalam danau ketika tiba-tiba sebuah tangan asing yang terasa kasar mencengkeram lengannya kuat-kuat.
"Jangan kesana kalau kau masih mau hidup, Nak," sebuah suara parau mengembalikan kesadaran Sabina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments