Sabina dan Aiden berjalan menyusuri kota seharian, berharap mendapat petunjuk mengenai batu Ephestus. Mereka berkeliling dari jalan ke jalan dan melewati puluhan rumah. Hawa panas membuat Sabina sangat lemah. Karena itu sesekali mereka berhenti untuk berteduh. Tapi tak lama kemudian mereka kembali berjalan.
Mereka berjalan melewati pasar-pasar yang ramai dan sumpek. Setiap kali orang menyentuh Sabina, mereka akan berjengit kaget dan langsung memandang Sabina keheranan. Biasanya Sabina hanya melirik mereka dengan sinis dan segera membuat mereka terbirit-birit. Aiden selalu tertawa setiap kali itu terjadi dan semakin membuat Sabina kesal.
Sudah menjelang sore ketika mereka berdua melewati pinggir hutan yang tampak sangat kelam. Hampir tidak ada orang yang melewati tempat itu dan hanya mereka berdua yang berada di sana. Aiden memandang hutan tersebut seakan berusaha menembus kedalamannya.
Tapi yang dia lihat hanya pepohonan lebat yang tidak ada habisnya. Dalam hutan tersebut juga tidak tampak ada tanda-tanda kehidupan binatang. Bahkan kicauan burung ataupun suara jangkrik tidak terdengar dari sana. Entah kenapa Aiden merasakan aura sihir meski sangat tipis.
"Hutan apa ini?" tanya Aiden kemudian.
"Ini hutan Richwood. Jauh di dalam sana para manusia serigala tinggal," jawab Sabina memandang hutan itu lekat.
"Apakah manusia serigala memiliki ilmu sihir?" tanya Aiden lagi.
"Seharusnya tidak. Kekuatan mereka hanyalah untuk berubah menjadi buas ketika bulan purnama menyinari tubuh mereka. Kenapa memangnya?"
"Tidak, hanya bertanya," jawab Aiden. Ia kembali teringat kawanan serigala yang menyerang desanya bersama Sin dan mulai berpikir bahwa penyihir tersebut bekerja sama dengan para serigala itu.
"Menurutmu, apakah manusia serigala mau bekerja sama dengan penyihir?" tanya Aiden lagi.
"Emh... kemungkinannya kecil. Manusia serigala cenderung tidak mempercayai makhluk lain. Dan biasanya mereka sangat berbahaya saat sudah berubah. Mereka bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Mereka mengenali sesamanya melalui bau. Karena itu bila mereka merasakan bau yang berbeda, mereka pasti menganggapnya musuh atau mangsa," kata Sabina menerangkan.
Aiden mengangguk paham. Dia mulai berpikir serangan manusia serigala ke desanya dan kedatangan Sin Scove yang bersamaan hanya kebetulan. Tapi dia tetap merasa penasaran dengan aura sihir di sekeliling hutan tersebut yang seakan menutupi sesuatu di dalamnya. Tapi karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya Aiden pun memutuskan untuk mengajak Sabina kembali ke rumah.
***
Perjalanan melelahkan itu akhirnya berakhir juga. Sabina merasa hampir meleleh karena sinar matahari yang sangat terik. Semakin ia berjalan semakin ia yakin bahwa ia memang membenci matahari. membuat kulitnya terbakar.
Mungkin karena ia tidak bisa berkeringat dan suhu tubuhnya sendiri memang sangat dingin. Perpaduan yang sangat tidak cocok. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Sabina begitu merindukan malam hari dimana hanya bulan dan bintang-bintang yang memenuhi langit.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berdua mencapai rumah. Tapi betapa terkejutnya Sabina mendapati rumahnya beitu berantakan. Berandanya hancur dan pintu depannya berubah menjadi kepingan kayu. Sofa kesayangannya sudah hancur penuh goresan dan tirai-tirai terkoyak lepas. Kaca jendela pecah dan berserakan di lantai. Televisi dan kulkasnyanya pun sudah berubah menjadi barang rongsokan. Dinding setiap ruangan dipenuhi cakaran besar-besar.
"Nora!" seru Sabina panik. "Nora! Kau dimana!" serunya lagi dan mulai berlari menglilingi rumahnya. Tapi Nora tidak ada dimana-mana.
Sabina menjadi sangat marah. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Dia pun mulai berubah menjadi vampir dan menggeram mengerikan. Dengan marah dia melempar semua barang yang ada di hadapannya. Dan rumahnya segera menjadi lebih hancur lagi.
Tiba-tiba tongkat Aiden menyala lagi dengan sinar yang jauh lebih terang. Dengan takjub Aiden memandang tongkatnya. Tapi ketakjupannya segera hilang menyadari Sabina yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti menghancurkan rumah. Dengan berbagai cara ia berusaha menenangkan Sabina.
Tapi sia-sia saja karena Sabina sama sekali tidak mendengarkannya. Akhirnya Aiden memutuskan untuk menggunakan sihirnya untuk menenangkan Sabina.
"Siluonce!" serunya mengarahkan tongkatnya ke tubuh Sabina.
Rasanya sihir yang dilakukannya dua kali lebih kuat daripada biasanya. Dan dengan segera tongkatnya seperti mengeluarkan sulur-sulur keperakan yang kemudian mengikat tubuh Sabina sangat erat. Sabina mengerang dan terjatuh ke lantai.
"Lepaskan aku Aiden!" earangnya dengan suara serak.
"Tenanglah dulu. Yang kau lakukan tidak akan mengubah keadaan tapi malah semakin memperburuk," kata Aiden tenang.
"Kau tidak kehilangan sahabatmu! Kau tidak tahu apa yang kurasakan!" seru Sabina lebih keras.
"Aku pernah kehilangan seluruh desaku! Bahkan keluargaku!" balas Aiden mendelik.
Sabina tidak menjawab. Ia hanya terus meronta-ronta dan mengerang.
Kemudian Aiden segera melancarkan mantra-mantra untuk memperbaiki rumah Sabina. Setiap lambaian tongkatnya membuat satu barang Sabina kembali normal. Akhirnya, setelah beberapa menit berlalu, rumah Sabina sudah jauh lebih baik meskipun beberapa goresan cakar di dinding gagal dihapus.
Tapi lebih dari itu, semua barang, jendela dan pintu yang rusak sudah kembali seperti sedia kala. Setelah semua selesai, Aiden mengalihkan pandangannya ke arah Sabina yang masih meronta dan mengerang.
"Aku tidak akan melepaskanmu bila kau masih akan merusak barang-barang yang sudah keperbaiki," kata Aiden.
"Aku hanya mencari Nora. Aku masih merasakan auranya berada di dekat sini," jawab Sabina letih.
"Kalau kau terus melempar barang seperti itu, salah-salah kau malah mengenai Nora. Jernihkan pikiranmu dulu baru mencari Nora. Menurutmu dimana di akan bersembunyi?" kata Aiden.
Sabina berpikir sejenak. Kemudian berangsur-angsur ia kembali dalam wujud manusianya. Aiden pun melepaskan ikatan sihirnya dan membantu Sabina berdiri.
"Maria. Aku coba mencarinya di rumah Maria," kata Sabina bangkit berdiri.
Keduanya kemudian berlari menuju rumah Maria. Dengan tergesa-gesa Sabina mengetuk rumah Maria. Beberapa saat kemudian Maria membukanya dengan wajah cemas.
"Apakah Nora..." kata Sabina.
"Iya... dia di sini," potong Maria memberi jalan pada Sabina dan Aiden utnuk masuk ke rumahnya.
Mereka langsung menghambur masuk dan melihat Nora tidur dengan nyaman di sofa ruang tamu Maria. Dia masih utuh dan bahkan bulunya tidak rontok sehelaipun. Sabina segera meraih Nora dan memeluknya di dadanya. Nora terbangun dengan kaget tapi kemudian menyadari bahwa ia tengah dipeluk majikannya.
"Pagi tadi aku mendengar suara gaduh dari rumahmu. Tapi semua itu begitu cepat. Saat aku sudah berada di depan rumahmu, aku melihat kucingmu terkapar pingsan. Langsung saja kubawa dia kemari. Tapi aku tidak menemukan luka sedikitpun. Mungkin dia hanya kaget. Apa yang terjadi di rumahmu?" tanya Maria kemudian.
"Mungkin pencuri. Tapi karena tidak ada benda berharga yang mereka temukan di rumahku, mereka kesal dan menghancurkannya," jawab Sabina berbohong.
"Memang akhir-akhir ini banyak terjadi tindakan kriminal. Banyak orang yang sekarang menjadi penjahat. Kau harus berhati-hati Sabina. apa lagi kau tinggal sendiri," kata Maria.
"Aku akan menjaganya," ucap Aiden segera.
Maria menoleh kepada Aiden seakan baru menyadari keberadaan pria tersebut.
"Oh, maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Aiden Catbones. Aku teman Sabina." kata Aiden mengulurkan tangan.
"Tentu saja. Sabina pernah bercerita tentangmu," jawab Maria menyambut uluran tangan Aiden.
"Benarkah?" tanya Aiden senang. Ia memandang Sabina sambil mengangkat sebelah alisnya.
Sabina balas memandangnya tanpa ekspresi. Tampaknya gadis itu masih merasa kesal dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Aiden yang memahami situasi tersebut segera mengajak Sabina pulang.
"Kurasa kami harus segera pulang. Ada beberapa bagian rumah yang harus diperbaiki," kata Aiden kemudian.
"Apakah ada yang bisa kubantu?" tanya Maria ramah.
"Bantuan anda sudah lebih dari cukup. Kami sangat berterimakasih atas segala yang telah anda lakukan," kata Aiden lagi.
"Tidak perlu sungkan. Aku juga sudah banyak dibantu oleh Sabina. Baiklah kalau begitu berhati-hatilah.." kata Maria melepas mereka pergi.
***
"Apa yang terjadi, Nora?" tanya Sabina setelah mereka semua kembali ke rumah.
"Manusia serigala kemari pagi tadi dan mengacaukan seluruh rumah," jelas Nora.
"Lalu, apa yang mereka lakukan terhadapmu?" tanya Sabina lagi.
"Mereka tidak melakukan apapun. Mereka mengira aku kucing biasa. Aku hanya sedikit terbentur barang-barang yang mereka hancurkan."
Aiden memandang Sabina yang tampak sangat kawatir. Tapi kekawatirannya jauh melebihi yang dirasakan Sabina. ada sesuatu yang aneh atas peristiwa ini. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benak Aiden tanpa bisa dijawabnya. Tapi kemudian, terlontarlah pertanyaan yang paling mengganggunya.
"Kenapa manusia serigala itu bisa berubah saat pagi hari? Tidak mungkin mereka mendapat sinar bulan saat pagi hari" katanya kemudian.
Sabina balas menatapnya ngeri. Ia sendiri baru menyadari kejanggalan ini.
"Sangat tidak masuk akal." sahut Sabina.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments