Teko Emas

Serangan Sabina sudah siap diluncurkan, namun di detik terakhir, dia menyadari bahwa serangannya mungkin akan mengenai Aiden alih-alih melukai sang banshee. Sabina menahan serangan itu di saat yang tepat. Ia kemudian menukik naik, terbang dengan kedua sayapnya yang sudah terkembang.

Sabina harus mencari cara untuk menyerang banshee itu tanpa melukai Aiden. Tapi semakin lama ia menimbang, semakin hilang kesadaran Aiden ditelan oleh sang banshee. Sabina mendengus putus asa, tidak ada satu solusi pun yang terlintas di benaknya. Di tengah rasa frustasinya itu, mendadak Sabina melihat kilatan cahaya kemerahan.

"Derisare Fiza!" suara teriakan Aiden terdengar dari bawah sana.

Sabina melongok kebawah dengan harapan yang baru. Aiden masih hidup! Pemuda itu tampak mucul dari balik tubuh banshee yang nyaris menelannya. Dengan tongkat teracung Aiden kembali mengulang mantranya. Seberkas lecutan cahaya kemerahan terlihat muncul dari ujung tongkat, lantas menyerang tubuh banshee. Tak lama kemudian sulur-sulur merah mulai memanjang dan berpilin balik mengikat sang banshee yang selentur kain sutra. Banshee itu mencoba meloloskan diri, namun sulur merah Aiden yang sama lenturnya terus memilin sang banshee.

Tak lama kemudian, suara lengkingan memekakkan telinga terdengar. Banshee itu menggunakan kemampuan suaranya untuk melemahkan Aiden yang tengah menyerangnya. Aiden dan Sabina sontak menutup telinga karena suara dengung yang menyakitkan itu. Sambil bertahan dengan satu lutut mencium tanah, Aiden masih terus memegang tongkatnya yang mengeluarkan sulur merah.

Sabina tak kalah akal. Dengan kecepatan penuh, ia menyongsong banshee yang tengah berteriak itu. Mengabaikan rasa sakit di kepalanya, Sabina terus menukik, mencoba menyerang sang banshee. Namun tanpa diduga, ternyata serangannya justru menembus tubuh sang banshee. Cahaya keperakan samar-samar di tubuh banshee itu menyamarkan fakta bahwa tubuhnya setengah transparan. Sabina sama sekali tidak bisa menyentuhnya.

Aiden yang melihat hal itu mencoba berteriak memanggil Sabina di tengah suara melengking sang banshee. Beruntung indra pendengaran vampire lebih sensitif daripada manusia. Sabina segera mendengar teriakan Aiden lantas melesat menuju tempat Aiden yang setengah bersimpuh.

"Gunakan ini! Masukkan bansheeitu kedalam  teko!" seru Aiden sambil melemparkan teko usangnya.

"Bagaimana caranya?!" Sabina berteriak lebih kencang, berusaha mengalahkan suara lengkingan banshee.

"Aku akan mengikat tubuh banshee ini. Kau bisa mempengaruhi pikirannya untuk masuk ke dalam teko. Setelah itu aku bisa menyegelnya dengan mantra!" perintah Aiden.

Sabina memang memiliki kemampuan pesona yang dapat mengendalikan pikiran. Tapi selama ini ia hanya pernah mengendalikan pikiran manusia. Seumur hidupnya, selama ratusan tahun, Sabina tidak pernah mencoba mengendalikan pikiran hantu manapun.

"Memangnya bisa?!" tanya Sabina tak yakin.

"Coba saja! Hantu juga dulunya manusia! Mungkin!" teriak Aiden tak sabar. Pemuda itu sudah mulai kepayahan menahan rasa sakit kepalanya karena lengkingan banshee yang tak putus-putus.

Tak ada salahnya mencoba. Meski taruhannya adalah kepalanya yang terasa nyaris pecah akibat suara banshee itu. Sabina pun melesat ke sebelah sang banshee. Dengan segala daya upaya, gadis itu mulai berkonsentrasi pada benak banshee di hadapannya.

Sebuah kilasan gambar kehidupan manusia perempuan berkelebat dalam benak Sabina. Itu adalah kenangan kehidupan banshee tersebut. Gambar-gambar acak kemudian muncul silih berganti di kepala Sabina, menampakkan seorang perempuan muda dengan rambut ikal kecoklatan. Perempuan itu tampak menangis tersedu-sedu di mulut sumur permohonan dengan pakaian compang camping dan luka lecet di sekujur tubuhnya.

Tiba-tiba muncul seorang pria berbadan besar dengan bekas luka di wajah yang menyeringai jahat menatap gadis itu. Sabina lantas mendengar gadis itu berteriak melemparkan kutukan mengerikan pada sang pria, dan detik berikutnya, sang gadis berambut coklat itu melemparkan dirinya ke dalam sumur.

Kilasan gambar berhenti di sana. Sabina kembali tersadar dari kondisi trans-nya, dan mendapati banshee itu sudah berhenti berteriak. Banshee itu kini menatap lurus ke mata Sabina. Wujudnya tidak lagi mengerikan, namun justru begitu cantik dengan rambut ikal yang semi transparan. Sabina menyadari pesonanya ternyata dapat mempengaruhi sang banshee. Ini pengetahuan baru baginya. Selain manusia, Sabina juga bisa mengendalikan arwah!

"Sabina! Masukkan bansheenya ke dalam teko!" teriak Aiden dari kejauhan.

Pemuda itu masih mengikat tubuh sang banshee dengan mantra sulur merahnya. Sabina kembali menatap hantu perempuan yang kini berwajah seperti manusia biasa. Bagaimana mungkin ia tega memasukkan gadis itu ke dalam teko? Apalagi setelah ia melihat masa lalunya yang menyedihkan itu. Empatinya sebagai sesama perempuan seolah menahan Sabina untuk mengurung arwah menyedihkan tersebut dalam teko.

"Sabina! Ingat tujuanmu yang utama! Kita bisa menyelamatkan banshee itu setelah semuanya selesai!" Aiden kembali berteriak.

Pemuda itu sepertinya tahu kebimbangan Sabina. Meski merupakan seorang vampir, namun Sabina memang memiliki hati yang lembut dan mudah terpengaruh pada penderitaan orang lain. Aiden harus berusaha mematahkan kelemahan hati Sabina tersebut.

"Sabina! Ingat keluargamu dan manusia serigala yang harus kau kalahkan itu!" sekali lagi Aiden berteriak membujuk Sabina.

Mendengar nama manusia serigala disebut, Sabina segera mendapatkan kesadarannya kembali. Betul kata Aiden. Ia tidah boleh kalah pada kelemahan hatinya. Maka, setelah meminta maaf dalam hati pada arwah banshee itu, Sabina pun melontarkan perintah melalui pikirannya. Perintah itu segera mempengaruhi sang bansheeyang lantas terbang berpilin  dengan lembut menuju teko kecil usang yang sudah dibuka tutupnya oleh Sabina.

Begitu seluruh tubuh sang banshee masuk ke dalam teko, Sabina buru-buru menutup kembali teko tersebut. Aiden di lain pihak, segera merapal mantra segel ke arah teko usang itu. Lecutan cahaya emas melontarkan teko usang itu ke udara. Dengan gerakan berpilin, cahaya emas dari tongkat Aiden segera melingkupi seluruh teko dan membuat warna teko itu berubah menjadi emas cemerlang.

Setelah beberapa menit, mantra segel Aiden pun selesai. Teko usang itu sudah berubah menjadi teko emas yang sangat indah. Sabina menangkap teko yang jatuh dari udara itu dengan cekatan.

"Jadi ini maksudnya menyimpan ratapan dalam teko emas," komentar Aiden sambil berjalan mendekati Sabina.

"Sepertinya begitu," jawab Sabina kemudian kembali ke wujud manusianya. Sayap hitam dan cakar-cakarnya pun menghilang.

"Arwah gadis ini mati dengan tragis di dalam sumur permohonan. Sebelum kematiannya, dia juga mengucapkan kutukan-kutukan berbahaya yang akhirnya membuat jiwanya terikat di dunia ini dan berubah menjadi banshee," terang Sabina.

Aiden mengangguk-angguk paham.

"Kita harus bicarakan kejadian ini pada Roberta. Penduduk desa pasti senang karena sumurnya kini tidak lagi dihantui oleh banshee," ujar Aiden kemudian. "Ngomong-ngomong, kau ternyata bisa mengendalikan arwah juga. Kekuatan vampir memang luar biasa," lanjut Aiden berkomentar.

"Aku juga baru mengetahuinya sekarang. Sebelumnya aku tidak pernah tertarik mengendalikan hantu. Meski begitu, rasanya lebih melelahkan saat mengendalikan arwah. Memori menyedihkan saat kematiannya terasa sangat intens," sahut Sabina kemudian.

"Terimakasih karena sudah bekerja keras, Sabina," ucap Aiden sambil mengusap kepala Sabina dengan penuh kasih sayang.

"Kau juga," balas Sabina tersenyum hangat.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!