Sang Vampir

Aiden melewati puluhan lorong terang yang panjang dan berkelok-kelok. Dinding-dindingnya berkialauan dilapisi marmer. Karpet merah menutupi hampir seluruh lantai. Lampu-lampu kristal juga tergantung di sepanjang lorong. Aiden merasa seperti berkunjung ke istana yang mewah meski tidak ada seorangpun penjaga di dalamnya.

Setelah beberapa saat meyusuri lorong demi lorong, Hazel membuka sebuah pintu kayu besar dengan gagang berlapis emas. Di balik pintu itu tampak sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Satu set sofa berwarna biru tua berjajar rapi memenuhi setengah ruangan dengan meja rendah di tengahnya. Di sisi yang lain, sepasang jendela besar menghadap ke arah padang rumput luas di bawahnya. Tirai biru yang menutupi jendela itu tersibak memamerkan kegelapan di balik jendela.

Seorang wanita cantik berambut merah panjang dan ikal menoleh menghadapi mereka. Wanita itu tampak sama mudanya dengan Sabina maupun Irish. Dia kemudian tersenyum hangat pada mereka dan segera mempersilakan duduk. Mendadak Sabina mengambur kearah wanita itu dan mereka berpelukan sejenak.

"Ibu..." kata Sabina singkat.

"Selamat datang Sabina. Bagaimana keadaanmu? Kau tampak sedikit kurus sekarang," kata wanita itu, memandang Sabina dari atas ke bawah.

"Aku baik-baik saja, Bu. Aku merindukanmu."

"Oh, aku juga merindukanmu, Nak,"

"Ini ibuku, Sybilina. Ibu, ini Aiden Catbones," kata Sabina memperkenalkan.

"Oh, halo, Aiden. Aku sudah mendengar Sabina akan membawa teman manusia. Karena itu aku mempersiapkan beberapa hidangan," kata Sybilina ramah.

"Saya penyihir," ralat Aiden.

"Bukankah penyihir juga makan makanan manusia?" tanya Sybilina tersenyum kecil.

Aiden mengangguk malu.

"Baiklah, kurasa kita harus memulai pembicaraan yang serius sekarang," kata Hazel memulai pembicaraan. "Irish, Joshua panggil yang lain," perintah Aiden.

Segera kedua vampir itu melesat pergi. Hazel menyeruput cangkir teh yang disajikan di hadapannya. Sybilina, Sabina dan Aiden terus memandangnya sambil menunggu.

"Aku tidak manyangka ternyata kau adalah cucu Nigel," kata Hazel kemudian kepada Aiden. Tiba-tiba Sybilina memekik kaget dan mengalihkan pandangan terkejutnya kepaa Aiden.

"Benarkah? Benarkah kau cucu Nigel?" tanya Sybilina kemudian.

"Benar," kata Aiden mengangguk kebingungan. "Anda mengenal kakek saya?" tanyanya kemudian.

Hazel tampak menarik nafas berat.

"Nigel Catbones adalah penyihir yang hebat. Dia pernah menyelamatkanku dan Sybilina yang hampir habis dibantai oleh manusia serigala, bahkan tanpa memandang bahwa kami adalah vampir," jelas Hazel kemudian.

"Benar, saat itu aku baru menjadi vampir dan tentunya merupakan sasaran empuk bagi manusia serigala. Tapi Nigel mau membantu kami padahal separuh orang-orang di desanya sudah kami mangsa," jelas Sybilina.

"Jadi karena itu ayah melarang kami memangsa manusia? Karena ayah dan ibu pernah diselamatkan oleh manusia?" tanya Sabina kemudian.

Hazel mengangguk pelan.

"Aku berhutang budi padanya. Dia mau menyelamatkanku meskipun aku telah berbuat jahat. Karena itu aku memberinya batu Ephestus kepadanya sebagai permintaan maaf," kata Hazel lagi.

"Batu Ephestus? Batu sihir itu berasal dari vampir?" celetuk Aiden setengah kaget.

"Tentu saja. Batu itu berasal dari jantung vampir. Berpuluh-puluh tahun yang lalu seorang vampir terbunuh oleh manusia serigala. Sebelum mati, ia menyimpan seluruh kekuatan sihir di jantungnya hingga jantung itu membatu dan abadi. Ketika itu adalah jaman dimana peperangan antara manusia serigala dan vampir masih sering terjadi. Karena itu para vampir memperbutkan batu Ephestus itu untuk meningkatkan memampuan sihir mereka. Setelah peperangan mereda, batu itu mulai berpindah-pindah tangan, hingga berhasil kudapatkan. Tapi kurasa Nigel pantas memilikinya karena dia sudah menyelamatkanku," kisah Hazel panjang lebar.

"Ya, lalu kakek menngunakan batu itu untuk meningkatkan kemampuan penyihir di desa. Dia meletakkan batu itu di tengah desa dan menjadikannya pusat kekuatan sihir," sahut Aiden kemudian.

"Dia menggunakan batu itu untuk seluruh desa? Padahal jika dia menggunakan batu Ephestus untuk dirinya sendiri ia bisa hidup abadi seperti kami para vampir," kata Hazel kemudian.

"Jadi batu Ephestus itu berasal dari ayah?" tanya Sabina kemudian.

"Benar. Tapi bagi manusia, batu sihir itu memang tidak bisa sembarangan digunakan. Tidak semua penyihir memiliki cukup kekuatan untuk menampung batu itu di dalam tubuhnya dan membuatnya bisa hidup abadi," jawab Hazel.

"Bahkan bisa dikatakan batu itulah yang memilih penggunanya," sahut Sybilina.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan keras dan suara langkah kaki segera membuat mereka menoleh ke arah pintu. Dari luar tampaklah Irish dan Joshua diikuti empat vampir lain di belakangnya. Vampir-vampir itu kemudian menghampiri sofa dan duduk bersama mereka.

"Jadi ini penyihir manusia itu?" tanya salah seorang vampir pria yang rambutnya berwarna emas dan berkilauan ditimpa cahaya.

"Atau manusia penyihir?" tanya vampir pria yang lain yang rambutnya berwarna coklat gelap.

"Namanya Aiden Catbones. Dia aalah cucu orang yang kuhormati. Sebaiknya kalian juga bersikap sopan terhadapnya," kata Hazel keras.

"Maafkan kekurangajaran mereka Hazel. Mereka memang masih muda," jawab vampir pria yang wajahnya sangat mirip dengan Joshua, meski tampak lebih tua dan letih.

"Mr. Catbones, maafkan anak-anak kami yang tidak sopan itu. Namaku Misa Rickle, dan ini suamiku Savio," sambung vampir wanita berambut emas dan sangat cantik, tubuhnya bahkan tampak berkilauan karena rambut emasnya yang panjang menutupi hampir seluruh bahunya. Misa menunjuk pria yang mirip Joshua itu.

"Aku Leo, penyihir," kata vampir berambut coklat gelap sambil terkekeh.

"Dan aku Dion," lanjut vampir berambut emas. "Nomong-ngomong, aku pernah dengar bahwa darah penyihir rasanya seperti darah kodok. Apa itu benar Sabina?" lanjut Dion meringis kepada Sabina. Sabina hanya mendelik marah kepada Dion dan Leo yang mulai tertawa geli.

"Leo, Dion, kalian keterlaluan. Tidak sepantasnya kalian memperlakukan tamu seperti itu," kata Joshua kemudian.

"Ah, Jo, kau itu terlalu kaku. Kami ini kan mencoba mengakrabkan diri. Bukan begitu, penyihir?" jawab Leo diiringi derai tawa Dion.

"Cukup! Tutup mulut kalian!" bentak Savio akhirnya. Dion dan Leo segera berhenti tertawa dan hanya mengangkat alis dan bergumam pelan. "Tidak perlu pedulikan mereka Mr. Catbones," lanjut Savio kalem.

"Baiklah kita bersembilan saja. Kita sudah tahu bagaimana para lycan itu sudah mulai bergerak. Menurut pemikiranku, mereka ingin memulai peperangan lagi dengan bangsa vampir. Padahal kita para vampir sudah terpecah-pecah dan tidak lagi hidup berkoloni lagi. Sementara mereka sudah sejak lama hidup bersama dalam jumlah besar," kata Hazel memulai pembicaraan. Sejenak ia menarik nafas, lalu menyeruput tehnya. Matanya tampak lelah meski wajahnya tampak muda dan tampan.

"Kita tidak akan bisa menang melawan lycan bila kondisi kita begini menyedihkan. Apalagi aku curiga bahwa para lycan itu bekerja sama dengan penyihir yang membuat mereka mengalami perubahan abadi," lanjut Hazel.

"Apa kau yakin para lycan bekerja sama dengan penyihir? Mereka 'kan tidak suka dengan bangsa lain selain jenis mereka sendiri," tanya Savio.

"Kau benar. Tapi lain halnya kalau mereka dikendalikan. Seorang penyihir yang kuat bisa mempengaruhi lycan mengingat kekuatan sihir para lycan itu lemah. Dan atas pengaruh seorang penyihir, gerombolan lycan itu bisa menjadi jauh lebih kuat bahkan bisa berubah wujud sesuai keinginan mereka." Jelas Hazel.

"Mengerikan. Padahal satu koloni lycan saja bisa terdiri dari seratus ekor. Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka bila mereka bisa berubah wujud sesuka hati mereka," celetuk Dion yang semakin tertarik dengan topik ini.

"Apa lagi mereka itu sulit sekali dibunuh," sahut Leo.

"Tidak akan sulit membunuh mereka bila mereka berada dalam wujud manusia," kata Sabina kemudian.

"Tapi mereka bisa berubah wujud sesuka hati. Bahkan di siang hari," kata Dion lagi.

"Karena itu kita harus membunuh penyihir yang memberi mereka kekuatan," jawab Aiden.

"Benar. Kita harus menemukan cara menemukan penyihir itu. Aku tidak tahu apa tujuannya mengendalikan para lycan. Tapi pastinya ia punya kekuatan yang cukup hebat," kata Hazel.

"Tapi bagaimana mengalahkan para lycan itu? Benar kata Dion, lycan yang sudah berubah wujud sangat sulit dibunuh. Penyihir itu pasti dijaga ketat oleh para lycan," tanya Savio.

"Satu-satunya senjata yang bisa membasmi lycan adalah Silver Bullet-Peluru Perak. Peluru iru tidak sembarangan dibuat. Aku mengenal seorang ahli senjata yang membuat peluru perak itu. Namanya Zomace. Dia tinggal di ujung pulau duyung di selatan," kata Hazel.

"Kalau begitu kita harus menemuinya sesegera mungkin," sahut Savio.

"Tunggu, Savio. Kita harus menyusun rencana. Karena itu aku mengumpulkan kalian semua di sini. Kita memang membutuhkan peluru perak. Tapi akan memakan waktu yang cukup lama untuk menemukannya. Lycan-lycan itu tidak akan tinggal diam. Maka, kita membutuhkan bantuan juga untuk bertahan selama mungkin hingga kita mendapatkan peluru perak," jelas Hazel.

Semua terdiam mendengar penjelasan Hazel. Masing-masing menyadari betapa situasi kali ini memang benar-benar berbahaya.

"Lalu bagaimana rencanamu, Hazel?" tanya Savio kemudian.

"Kita bagi tugas. Savio, pergilah ke utara dan temui keluarga Lovany. Mereka masih kerabat kita dan kau juga pernah menemui mereka sebelumnya. Kurasa mereka tidak akan segan membantu kita." kata Hazel disambut anggukan tegas Savio. "Irish dan Joshua, kalian carilah informasi mengenai penyihir yang mengendalikan lycan. Bertanyalah pada para nymph . Mereka memiliki banyak informasi karena mereka ada di mana-mana dan sangat membenci lycan." lanjut Hazel. Irish dan Joshua mengangguk seuju.

"Lalu apa pekerjaan untuk kami?" tanya Dion merangkul Leo.

"Kalian bereskan saja lycan-lycan yang sementara ini mengganggu kita. Dengan kemampuan kalian, buatlah sebanyak mungkin senjata untuk menahan lycan menyerang wilayah kita," jawab Hazel.

Dion dan Leo mengacungkan jempol tangan mereka tanda setuju.

"Dan untuk mencari peluru perak," lanjut Hazel yang kemudian menatap Sabina dan Aiden. "Aku ingin kalian yang mencarinya."

Aiden dan Sabina mangangguk mengiyakan dengan segera.

"Baiklah. Aku sendiri akan bertahan di rumah ini dan mencegah segala kemungkinan buruk." lanjut Hazel.

Akhirnya pembicaraan pada malam itu pun selesai. Aiden merasa sangat lelah dan mengantuk. Setelah samua vampir meninggalkan ruangan, ia dan Sabina pun beranjak pergi.

"Sabina, Aiden," panggil Hazel ketika Sabina dan Aiden hampir mencapai pintu.

"Ada apa?" jawab Sabina.

"Segeralah kembali begitu mendapatkan peluru perak. Kalian memikul tanggung jawab yang berat," kata Hazel.

Aiden dan Sabina mengangguk serempak. Hazel pun melepas kepergian mereka dari ruangan itu. Mereka berjalan melalui lorong-lorong yang sama seperti tadi. Aiden mengikuti Sabina tanpa tahu pasti tujuan gadis itu. Setelah beberapa saat berjalan, Sabina meraih pegangan pintu berlapis emas di sisi kanan lorong yang sedang mereka lewati. Ruangan di balik pintu itu mirip dengan ruangan tempat mereka berbincang-bincang tadi. Bedanya, hanya ada satu sofa di ruangan itu dan selebihnya terisi oleh tempat tidur berkelambu ungu transparan. Tempat tidur itu tampak sangat nyaman hingga membuat Aiden makin terkantuk-kantuk.

"Istirahatlah dulu. Besok baru kita berangkat," kata Sabina singkat.

Tanpa perlu menjawab, Aiden menuruti perintah Sabina dan segera terlelap di tempat tidur. Sabina melesat menuju sofa di samping tempat tidur dan memandangi Aiden.

"Benar-benar orang yang tidak punya rasa waspada," gumamnya sambil terus menatap pria itu.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!