Kabar Buruk

Pagi-pagi Aiden sudah bangun. Ia sibuk melambai-lambaikan tongkat sihirnya di halaman rumah Sabina. Segala jenis mantra pelindung yang ia tahu dikeluarkannya untuk membuat rumah itu lebih aman dari serangan mendadak yang dilakukan oleh para manusia serigala.

Pikirannya masih sangat kalut membayangkan segala kemungkinan yang membuat manusia serigala itu berubah di pagi hari. Meskipun ia berbicara dengan Sabina semalaman, tetap saja mereka tidak menemukan jawaban mengenai fenomena tersebut. Dan hal itu tentu saja telah menimbulkan ketakutan baik bagi dirinya maupun Sabina. Dia tidak bisa menagndalkan penyihir lain mengingat kejadian di desanya telah membunuh hampir seluruh penyihir yang ia kenal.

Penyihir yang mungkin masih hidup telah bersembunyi di tempat-tempat yang tidak dia ketahui. Sementara Sabina terus-terusan menolak untuk menanyakan hal ini kepada keluarga vampirnya.

Aiden merasa sangat bersalah karena melibatkan Sabina dalam urusannya sehingga membuat gadis itu hampir celaka. Meskipun ia sendiri tidak mengerti hubungan antara manusia serigala dengan batu sihir Ephestus yang dicarinya. Tetapi ia tetap merasa bertanggung jawab akan hal itu dan tidak mungkin meninggalkan gadis itu sendirian.

"Sampai kapan kau mau menari-nari dengan tongkat kayumu itu?" sebuah suara mengalihkan perhatian Aiden. Dia menoleh dan melihat Nora duduk di serambi sambil menjilati tubuhnya.

"Aku melakukannya untuk mencegah bahaya datang," jawab Aiden kembali melancarkan mantra-mantra pelindung. "Menurutmu, kenapa manusia serigala itu berusaha mnyerang Sabina?" lanjut Aiden bertanya.

"Tentu saja karena sejak dulu manusia serigala memang sangat membenci vampir. Mereka bermusuhan hampir selama ribuan tahun," jawab Nora.

"Kenapa mereka bermusuhan?"

"Manusia serigala memang membenci vampir, aku tidak tahu apa sebabnya. Mungkin karena para vampir memiliki kehidupan yang abadi sementara manusia serigala dapat mati termakan usia. Kekuatan vampir juga dapat muncul kapan saja tanpa perlu menunggu sinar bulan. Dapat dikatakan manusia serigala itu merasa iri dengan semua kelebihan para vampir," jelas Nora panjang lebar.

"Masalah yang sangat sederhana," komentar Aiden setelah menyelesaikan semua mantranya. Ia kemudian duduk di samping Nora yang masih sibuk menjilati ekornya.

"Tidak semua vampir jahat, sebenarnya. Memang beberapa vampir masih memangsa manusia. Tapi ada pula yang cukup puas dengan meminum darah binatang," kata Nora lagi.

Aiden mengangguk-angguk. Ingatannya kembali pada saat ia melihat Sabina berubah menjadi vampir. Entah kenapa ia sama sekali tidak merasa takut atau ngeri. Pemandangan itu malah membuatnya sangat terpesona.

"Kenapa Sabina tidak menggigitku?" tanyanya kemudian.

Nora berhenti menjilati ekornya. Ia menatap Aiden dengan kedua matanya yang berkilat-kilat dan — menurut penglihatan Aiden — mendengus pelan.

"Katanya darah penyihir tidak lebih enak daripada darah kodok," jawab Nora sambil — Aiden semakin yakin — menertawakannya.

Aiden mencibir.

"Memangnya penyihir bukan manusia? Kami memang hidup lebih lama daripada manusia," kata Aiden sebal.

"Benarkah? Kudengar memang penyihir bisa hidup hingga ratusan tahun," kata Nora.

"Hanya beberapa penyihir tertentu saja yang seperti itu. Kami memang tidak punya kehidupan abadi seperti vampir. Tapi penyihir yang sangat kuat bisa hidup sampai beratus-ratus tahun. Kakek buyutku dulu meninggal di usianya yang ke 197 tahun," jelas Aiden bangga.

"Lalu berapa usiamu sekarang?"

"Aku? Emh.. mungkin sekitar 23 tahun," jawab Aiden tidak yakin. "Entahlah aku lupa. Tapi kira-kira memang selama itu aku hidup," lanjutnya.

Nora hanya memangdangnya dengan geli. Sementara Aiden masih berusaha mengingat-ingat usianya.

***

Sabina memandang bekas cakaran besar di dinding ruang tamunya. Dari baunya saja ia tahu bahwa torehan itu berasal dari cakar manusia serigala. Semalaman ia dilanda rasa penasaran yang tidak ada habisnya. Bagaimana manusia serigala bisa berubah saat matahari berisinar terang. Mereka bahkan bisa melewai kota dengan tenang. Berarti mereka baru berubah saat sampai di rumah ini. Semua pertanyaan dan kesimpulan itu bergumul di kepala Sabina dan ia semakin bingung.

"Bekas cakaran ini mengandung sihir, karena bahkan Aiden pun tidak bisa menghilangkannya," pikirnya dalam hati.

Sabina kemudian beranjak ke ruang baca di sisi kiri ruang tamu. Di ruangan tersebut rak-rak lemari berjajar memenuhi dinding sementara di tengah ruangan terdapat sebuah meja pendek serta karpet permadani besar sebagai alas. Di meja itulah biasanya ia duduk dan membaca buku, meski kegiatan itu memang jarang ia lakukan. Buku-buku yang ada di sana merupakan buku-buku kuno yang dia dapat dari ayahnya. Kebanyakan merupakan buku-buku yang di tulis oleh bangsa penyihir dan manusia. Tetapi ada juga beberapa buku yang ditulis oleh bangsa vampir.

Sabina menyusuri rak demi rak mencari buku yang mungkin bisa membantu menjawab semua pertanyaan yang ada di pikirannya. Ia kemudian mengambil sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang sangat berdebu. Buku itu berjudul Sihir Manusia Serigala yang ditulis oleh Scovalerie Poriskova. Sabina mengenal nama itu sebagai salah satu vampir kerabat jauh ayahnya. Vampir itu pernah berkunjung ke rumahnya jauh sebelum ia memutuskan untuk tinggal sendiri.

Dibawanya buku itu ke meja dan ia membuka halaman demi halaman. Namun yang ditemuinya hanyalah kisah-kisah mengenai peperangan antara vampir dan manusia serigala yang selalu dimenangkan oleh para vampir. Dengan bosan ia terus membalik halaman-halaman buku itu. Semua kalimat dalam buku itu menyatakan bahwa manusia serigala memang hanya bisa berubah bila terkena sinar bulan.

Ia mulai putus asa ketika akhirnya ia menemukan sebuah bab yang mengisahkan serbuan manusia serigala ke kerajaan vampir kuno. Cerita tersebut adalah satu-satunya cerita dimana para manusia serigala mendapat kemenangan atas bangsa vampir. Dengan bersemangat, Sabina terus membaca bab tersebut yang menjelaskan bagaimana segerombolan serigala menyerang kastil vampir outcast, jenis vampir yang sudah lama punah.

"Tahun 823, penyerangan para lycan terhadap istana vampir outcast (vampir paling jahat yang memangsa manusia) di Mogul, Courtmess terjadi selama tiga hari berturut-turut. Selama penyerangan itu para lycan terus menggunakan wujud ganasnya tanpa sekalipun berubah menjadi manusia. Meski mereka terkena sinar matahari sekalipun para lycan tetap kuat dengan wujud serigala mereka. Karena itu perang itu berakhir dengan pembantaian para outcast hingga tak bersisa. Misteri kekuatan para lycan tersebut akhirnya dapat dipecahkan oleh para vampir masa kini. Ternyata mereka memperoleh kekuatan sihir yang membuat perubahan bentuk mereka abadi. Meski begitu, para lycan abadi ini berhasil dikalahkan oleh para Salvation dengan menggunakan silver bullet."

Sabina sangat bersemangat membaca artikel tersebut. Ia segera berlari memanggil Aiden sambil menenteng buku besar itu.

"Lihat! Baca bagian ini!" katanya kepada Aiden sambil menyodorkan buku yang dibawanya.

Aiden membacanya sejenak. Beberapa kali ia tempak kebingungann namun ia kembali bersemangat saat mengetahui alasan para manusia serigala tersebut bisa membertahankan wujud mereka sebagai serigala.

"Apa itu Salvation?" tanya Aiden kemudian.

"Salvation adalah jenis vampir sepertiku, seperti keluargaku. Vampir ini biasanya tidak mengubah manusia menjadi vampir kalau tidak terpaksa. Artinya kami bisa tetap minum darah dari manusia tetapi manusia itu bisa menjadi vampir atau tidak itu tergantung dari vampir itu sendiri. Vampir ini yang meminum darah manusia secukupnya tapi bisa juga minum darah hewan." jelas Sabina.

"Lalu, dimana kita bisa mendapatkan silver bullet ini?" tanya Nora tiba-tiba.

Sabina dan Aiden menoleh kepadanya, tanpa bisa memberikan jawaban.

"Aku tidak tahu Nora," jawab Sabina sedih.

Aiden kembali membaca tulisan tersebut. Ia masih berusaha memahami sihir yang digunakan untuk membuat perubahan bentuk manusia serigala menjadi abadi. Sepanjang pengetahuannya, tidak ada sihir yang bisa digunakan untuk mengubah bentuk makhluk sihir lain dan memberinya kekuatan. Tiba-tiba pikirannya jatuh pada suatu hal.

"Batu sihir Ephestus," ujarnya. "Pasti kekuatan sihir dari batu itu yang membuat para manusia serigala tersebut bisa mempertahankan wujudnya,"

***

Aiden dan Sabina masih berkutat di 'perpustakaan kecil' rumah Sabina. Ditemani Nora yang berhelung manis di bantal duduk di tengah ruangan. Hingga malam tiba, mereka belum menemukan satupun buku yang menjelaskan mengenai silver bullet. Setelah cukup putus asa, akhirnya Sabina memnutuskan untuk kembali ke dapur dan membuat beberapa masakan manusia. Nora mendengus pelan ketika Aiden yang tampak sangat frustasi membuka lembar demi lembar buku berjudul Perang Vampir.

"Kenapa kau selalu menertawaiku Nora?" tanya Aiden kesal.

"Kapan aku selalu menertawakanmu?" tanya Nora menjilati kaki depannya.

"Sejak awal kita bertemu, kau selalu mendengus!"

"Itu karena kau sangat konyol. Aku tidak pernah menemukan laki-laki sepolos dirimu," kata Nora kemudian.

"Memang apa yang kulakukan?"

"Sudahlah.. kau tampak lelah. Makanlah bersama Sabina," jawab Nora melenggang pergi. Aiden menutup bukunya dengan kasar. Ia kemudian beranjak ke dapur.

"Kenapa? Kau tampak kesal?" tanya Sabina melihat wajah kusut Aiden.

"Aku merasa sangat tidak puas terhadap diriku. Apa yang sedang kulakukan disini? Aku sama sekali tidak punya petunjuk untuk menemukan batu sihir. Bahkan setelah menemukannya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dan aku selalu merepotkanmu dengan segala urusanku yang serba tidak jelas. Padahal kita sama sekali tidak saling mengenal," kata Aiden panjang lebar. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah dan tertunduk sedih.

Sabina mengulurkan secangkir teh ke hadapannya dan dengan ragu-ragu duduk di depan Aiden sambil menghadapi cangkir tehnya sendiri.

"Aku juga tidak mengerti kenapa kita berdua bisa berada di sini. Padahal kita sama sekali tidak saling mengenal. Kita juga punya urusan yang berbeda dan tidak saling berkaitan. Tidak ada alasan bagi kita untuk terus bersama," kata Sabina kemudian.

Aiden mengangguk pelan dan menghela nafas panjang.

"Tapi meskipun kita tidak punya alasan untuk tinggal bersama ataupun kita bukan teman, aku ingin kau tetap di sini. Aku tidak pernah merasa kau merepotkanku. Dan aku sangat terbantu oleh mantra-mantramu terlebih mengenai para manusia serigala itu. Karena itu, tetaplah di sini. Lupakan semua kekesalanmu dan kita selesaikan masalah ini bersama. Aku yakin, pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan," lanjut Sabina.

Aiden mengangkat wajahnya memandang Sabina yang tersenyum kepadanya. Akhirnya senyumnya pun mengembang. Dan ia semakin yakin, ia akan segera menemukan batu sihir itu dan akan segera tahu apa yang akan ia lakukan terhadapnya. Akhirnya dengan perasaan yang lebih ringan, Aiden menghirup teh nya yang aromanya sangat menggoda. Satu teguk saja sudah membuat semangatnya kembali.

"Sebenarnya teh ini terbuat dari apa? Aku selalu bertanya-tanya kenapa setelah meminum teh ini aku merasakan sensasi yang luar biasa," kata Aiden kemudian.

Sabina terkikik kecil.

"Sebenarnya dalam teh itu terdaat beberapa tetes darah ibuku," jawabnya terkikik.

Aiden mendelik kaget hingga tak sanggup berkata-kata.

"Tenang saja. Darah ibuku tidak akan mengubahmu menjadi vampir. Dia bukan seorang vampir murni melainkan setengah vampir karena dulunya dia adalah manusia. karena itu ia tidak bisa mengubahmu menjadi vampir. Kecuali kau minum darahku, yang merupakan vampir murni. Dengan begitu kau baru bisa menjadi vampir," jelas Sabina.

Aiden menarik nafas lega. Bukannya ia menolak menjadi vampir, hanya saja dia tidak bisa membayangkan harus meminum darah segar. Pikirannya itu sudah cukup membuatnya sangat menikmati makanan manusia.

"Sabina, aku sudah membuat beberapa mantra untuk melindungi rumahmu. Setidaknya para manusia serigala itu tidak bisa mendekat kemari," kata Aiden kemudian.

"Kurasa mereka tidak akan datang dalam waktu dekat. Mereka memang bisa menjadi serigala di siang hari, tapi dalam buku tadi dijelaskan juga bahwa itu akan memerlukan sihir yang sangat besar dan berdampak pada tubuh mereka. Bila mereka terus-terusan memaksa tubuh mereka dengan wujud sereigala, tanpa mendapat cahaya bulan, mereka bisa kehilangan kendali terhadap diri mereka sendiri," jelas Sabina.

"Jadi mereka perlu waktu juga untuk hibernasi," kata Aiden berdecak.

Sabina mengangguk yakin. Ia kemudian mencicipi kue arbei buatannya dan tampak sangat menikmati.

"Memangnya kau bisa makan makanan manusia?" tanya Aiden kemudian.

"Hm?" tanya Sabina mendongak. "Bagi kami, makan dan mengasup nutrisi adalah dua hal yang berbeda. Kalau kami lapar, cukup dengan memakan roti, daging atau apapun seperti apa yang dimakan oleh manusia. Tapi meskipun kami makan, kami tidak dapat mencerna nutrisi dari makanan tersebut. Kami hanya bisa mengasup nutrisi dari darah manusia atau hewan," jelas Sabina.

"Rasanya kau tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Kau bahkan bisa berjalan-jalan di siang hari,"

"Memang bisa. Tapi konsekuensinya, kekuatanku menurun drastis,"

"Bagaimana rasanya hidup tanpa perlu memikirkan kematian?"

"Membosankan. Kau tidak akan punya harapan atau ambisi mengingat kau tidak memiliki batasan waktu untuk mencapainya,"

Aiden setengah membayangkan perkataan Sabina. Dia setuju dengan pendapat Sabina bahwa hidup abadi itu pasti sangat membosankan. Aiden masih berandai-andai ketika mendadak Sabina berdiri di hadapannya. Gadis itu kemudian melesat menuju pintu depan.

***

Sabina berlari menyongsong pintu. Ia merasakan kedatangan seseorang ke rumahnya dan sangat terkejut karena orang itu datang dengan tiba-tiba. Sabina mendapati Nora sudah berdiri di ambang pintu dan membelakanginya.

"Tampaknya adikmu datang, Sabina," ujar Nora menyadari kedatangan Sabina.

Sabina mengacuhkannya dan langsung menyambar gagang pintu untuk membukanya. Begitu terbuka, tampaklah sepasang pria dan wania berdiri di depan pintunya. Si gadis berambut ikal pendek berwarna merah. Sementara sang pria berambut coklat cepak. Keduanya bermata hitam dan berkulit pucat persis seperti Sabina.

"Wah, aku bahkan belum mengetuk pintu," celetuk sang gadis dengan ekspresi terkejut yang dilebih-lebihkan. Pria di belakangnya hanya tersenyum tipis memandang Sabina.

"Hai, lama tak berjumpa," ucap pria itu pendek.

"Apa yang kalian lakukan di sini, Irish, Joshua?" tanya Sabina.

"Seidaknya biarkan kami masuk dulu," jawab Irish manja.

Sabina tampak ragu sejenak. Namun kemudian ia melangkah mudur dan mempersilakan kedua tamunya masuk. Tiba-tiba mata Irish membulat dan senyumnya merekah lebar. Ternyata Aiden sudah berdiri di ujung ruangan dan tertangkap oleh mata Irish.

"Pantas saja kami kesulitan masuk ke rumah ini, ternyata kau memelihara penyihir di rumahmu ya, Sabina?" kata Irish tersenyum lebar.

Sabina menoleh kepada Aiden yang berdiri menatapnya seakan menanyakan siapa kedua orang itu.

"Itu Aiden, dia memang penyihir seperti yang kau katakan," kata Sabina.

Irish mengacuhkannya dan melesat mendekati Aiden sambil mengulurkan tangannya.

"Namaku Irish Rickle. Aku adik kandung Sabina," kata Irish.

"Aiden Catbones," jawab Aiden menyambut uluran tangan Irish. Rasa dingin langsung menyeruak hingga ke sungsum tulangnya. Aiden sedikit bergidik.

"Kalau dia," lanjut Irish menunjuk pria yang datang bersamanya. "Joshua Rickle, dia kerabat kami," jelasnya.

Joshua mengangguk ringan dan dibalas dengan anggukan yang sama oleh Aiden.

"Jadi, Bella, apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Sabina kepada Irish yang sudah duduk manis di sofa ruang tamunya. Irish kemudian memekik keras ketika melihat bekas cakaran manusia serigala di dinding Sabina.

"Jadi para manusia serigala itu juga menyerangmu, Sabina?" tanyanya kemudian.

"Apa maksudmu 'juga'? Memangnya mereka menyerang siapa lagi?" kata Sabina balas bertanya. Ia kemudian duduk di samping Irish dan menyuruh Aiden serta Joshua untuk duduk pula.

"Begini," kata Irish kembali memandang Sabina. "Sebenarnya aku datang kemari karena ayah menyuruhmu pulang. Beberapa hari yang lalu para manusia serigala yang entah datangnya dari mana, menyerang rumah kita. Beruntung para Nymph hutan yang membenci para manusia serigala itu membantu kita dengan sihir mereka," jelas Irish.

"Tapi anehnya, para manusia serigala itu menyerang di siang hari," tambah Joshua.

Irish mengangguk setuju. Sabina hanya berpandangan dengan Aiden dan mengingat peristiwa yang sama terjadi di rumahnya tempo hari.

"Manusia serigala juga menyerang rumah ini di siang hari," kata Sabina.

"Sebenarnya apa yang membuat mereka bisa menjadi sekuat itu?" tanya Aiden kemudian.

"Kami juga tidak mengerti. Pastinya ada penyebab tertentu mereka bisa menjadi seperti itu," jawab Joshua.

"Sewaktu batu sihir Ephestus dicuri, saat itu para manusia serigala juga menyerang desa kami," ujar Aiden.

"Apa mungkin mereka bekerja sama dengan penyihir?" tanya Irish kemudian.

"Sebaiknya kita rundingkan semua ini bersama keluarga Rickle yang lain. Sabina, kau harus pulang," kata Irish.

Sabina menggeleng keras.

"Tidak. Aku tidak akan pulang. Aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku sudah membunuh manusia. Ayah tidak akan memaafkannku," kata Sabina.

"Satu dua manusia tidak akan membuat kami membencimu. Pulanglah. Kami membutuhkanmu, Sabina," bujuk Irish lagi.

Sabina berpikir sejenak. Kemudian dia teringat dengan Aiden.

"Bagaimana dengan Aiden?" tanya Sabina kemudian.

"Jangan peulikan aku. Selama ini aku juga sudah mengembara sendirian. Tidak akan ada bedanya," jawab Aiden kemudian.

Sabina menatapnya sedih meski Aiden terus berusaha meyakinkan Sabina.

"Ajak saja penyihir ini datang ke rumah. Kurasa keanehan serigala-serigala itu juga berkaitan dengan sihir. Mungkin ia bisa membantu," usul Irish.

"Bagaimana?" tanya Sabina kepada Aiden.

Aiden tampak agak ragu. Ia tidak bisa membayangkan berkunjung ke rumah keluarga vampir. Namun vampir-vampir yang dikenalnya selama ini memang cukup baik. Dia pun kembali teringat ucapan Nora bahwa darah penyihir tidak lebih enak daripada darah kodok. Tapi sebenarnya darah kodok itu sendiri seenak apa? Berbagai keraguan menyelimuti Aiden. Tapi kemudian dia mulai berpikir bahwa tongkat sihirnya kerap bereaksi semenjak ia tinggal bersama Sabina. Karena itu ia memutuskan untuk bersedia ikut ke rumah keluarga Rickle.

"Maaf merepotkan kalian," kata Aiden kemudian.

"Dengan senang hati," jawab Irish ceria.

***

Nama lain manusia serigala. Disebut juga lychantrops.

Outcast adalah manusia yang menjadi vampire tanpa meminum darah vampire atau tanpa digigit oleh vampir. Mereka menjadi vampire melalui sihir, kutukan, atau hal-hal yang semacam itu. Karena itu mereka tidak bisa menjadi vampire yang sempurna. Mereka tidak bisa hidup dibawah sinar matahari, mereka selalu lapar, dan tubuhnya bisa rusak kalau tidak meminum darah segar.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!