Sekonyong-konyong kabut tebal turun di bukit yang didaki Sabina dan Aiden. Jalan setapak berubah buram dan lambat-laun jarak pandang mereka menyempit. Aiden cepat-cepat meraih tangan Sabina agar mereka tidak terpisah. Keduanya bergandengan tangan sambil berjalan dalam diam.
Setelah beberapa saat berjalan, Sabina mulai menyadari bahwa setapak itu terlalu panjang untuk dilalui. Bahkan waktu mereka masih ada di bawah, Sabina yakin sekali kalau bukit itu landai dan tidak terlalu tinggi. Ada yang tidak lazim di bukit ini. Kecurigaan Sabina kemudian dikonfirmasi oleh Nora. Peliharaan Sabina itu, yang sudah berada dalam wujud singa, tiba-tiba menggeram dengan suara rendah.
"Ada apa?" tanya Aiden yang berjalan paling depan. Ia lantas menghentikan langkahnya karena mendengar geraman Nora yang terasa menegangkan.
"Aku mencium bau yang menyebalkan. Bau anjing," jawab Nora setengah menggeram.
Sabina berubah waspada. "Apa manusia serigala?" tanyanya memastikan. Meski bertanya seperti itu, tapi Sabina tidak merasakan aura membunuh yang jamak dimiliki manusia serigala.
"Bukan. Ini cuma anjing biasa," ucap Nora.
"Kalau cuma anjing berarti tidak berbahaya. Ayo kita lanjutkan," kata Aiden melanjutkan langkahnya. Dia tak habis pikir kenapa Nora harus menggeram dramatis seperti itu hanya karena seekor anjing biasa.
Tiba-tiba, di tengah kabut tebal itu, rombongan mereka dikejutkan dengan seekor hewan yang melompat riang, dengan ekor bergoyang-goyang. Seekor anjing berbulu hitam yang lucu! Nora sontak menggeram marah mengeluarkan suara ancaman yang paling mengerikan. Tapi anjing itu cuma menjulurkan lidah dengan santai disertai napas yang terengah-engah.
"Nora, apa-apaan kau? Jangan membuat anjing mungil ini takut," kata Sabina kemudian mendekati anjing itu dengan gemas. "Astaga imutnya," komentar Sabina,
"Hati-hati Sabina. Siapa tahu itu anjing yang berbahaya. Dia bisa menggigitmu," sergah Aiden cemas. Pemuda itu lantas menarik tangan Sabina agar menjauh dari anjing hitam lucu itu.
"Itu cuma anjing, Aiden," balas Sabina.
"Di hutan semacam ini mana mungkin ada anjing menggemaskan yang berkeliaran." Aiden masih mencoba mencegah Sabina mendekati anjing hitam itu.
Nora di lain pihak, terus menggeram panjang dan mengancam.
"Tapi…" Sabina hendak beralasan lagi, namun kata-katanya terputus oleh semburan api yang tiba-tiba mengarah pada mereka bertiga.
Dengan terkejut Sabina segera berubah wujud. Aiden reflek meluncurkan mantra perlindungan. Sementara Nora berlari maju menyerbu arah tempat anjing kecil tadi.
Dengan mata merah yang nyalang, Sabina menengok ke arah datanganya semburan api. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat anjing hitam kecil yang menggemaskan itu sudah tiada. Alih-alih kini seekor anjing setinggi tubuhnya meraung mengerikan. Tidak hanya itu, anjing raksasa itu juga punya tiga kepala yang masing-masing terlihat buas dengan gigi taring sebesar kepalan tangan.
"Kerberos!" seru Aiden kemudian, menyadari apa yang tengah mereka harapi.
Nora sudah melesak maju menubruk hewan berkepala tiga itu. Namun ternyata kepala-kepala Kerberos itu bisa mengeluarkan api. Dengan ganas Kerberos tersebut menyemburkan api ke segala arah, membuat separuh bulu Nora hangus, bahkan nyaris membakar tubuh Sabina dan Aiden hidup-hidup.
"Kenapa binatang lucu itu mengamuk?" seru Sabina sambil melompat menghindari semburan api. "Ini semua gara-gara kau memprovokasinya dengan geramanmu, Nora," tuding Sabina.
"Memang hewan itu saja yang sok imut! Jelas-jelas dia buruk rupa begitu!" seru Nora tak mau kalah.
"Kenapa kalian malah bertengkar karena masalah sepele begitu? Kita harus keluar dari situasi ini! Kabut ini mengganggu sekali, ngomong-ngomong," suara Aiden mengudara tanpa terlihat tubuhnya.
Benar kata pemuda itu, kabut mengganggu pandangan mereka bertiga. Kini ketiganya sudah saling terpisah dan hanya suara mereka yang bisa terdengar. Sesekali semburan api Kerberos yang terang membantu pandangan Sabina. Tapi kabut tebal kembali menutupi dengan cepat, seolah kabut itu adalah selimut tebal yang menolak disibak.
"Jangan diam saja, kita harus saling bicara agar bisa tahu posisi masing-masing!" seru Sabina pada dua rekannya.
"Aku di belakang hewan bau ini, Sabina. Sebentar lagi aku akan menggigit bokongnya!"
"Iyuh! Menjijikkan Nora!" balas Sabina mengernyit. "Aiden kau dimana?"
"Aku di sini." Sabina segera mengikuti arah suara Aiden. Di bawah sana, Sabina melihat setitik cahaya dari tongkat Aiden. Hatinya tenteram melihat Aiden yang tampaknya baik-baik saja.
Tiba-tiba terdengar suara raungan dua hewan yang bergumul hebat dari bawah. Semburan api dan suara cakaran serta raungan riuh terjadi. Sepertinya Nora sudah berubah menjadi griffin dan bergelut dengan Kerberos raksasa itu. Sabina segera melesat ke arah mereka. Sayangnya perkelahian dua hewan itu terlalu rapat, sehingga Sabina tidak bisa masuk di antara mereka berdua. Bila nekat menyerang, Sabina justru bisa melukai Nora.
"Sabina," panggil Aiden mendekatinya dari belakang. "Kita tunggu saja mereka selesai," lanjut Aiden.
"Kucing dan anjing memang musuh alami," komentar Sabina sambil melipat tangan. Aiden mengangguk setuju.
Pertarunagan ternyata tidak memakan waktu yang lama. Selama beberapa waktu, Kerberos beringas itu mulai tampak terdesak oleh Nora yang berwujud griffin. Mengingat bulu Nora yang anti api dan anti gores, ditambah kemampuan terbang dan kaki-cakar-elang, serta masih banyak fitur lainnya, Kerberos itu jelas kalah kuat. Nora sudah unggul dalam hal suku cadang.
Akhirnya dengan satu hantaman terakhir Kerberos raksasa itu tumbang. Pelahan-lahan tubuhnya kembali menyusut menjadi anjing kecil menggemaskan lagi. Lengkap dengan telinga lembut yang imut. Sabina mendekati anjing kecil yang pingsan itu lantas mengelusnya gemas.
"Padahal dia lucu begini," komentar Sabina.
"Hih! Jauhkan tanganmu dari makhluk itu. Baunya menjijikan," sergah Nora, kembali berubah menjadi singa.
Sabina sudah hendak membalas ucapan Nora ketika tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Kabut tebal yang melingkupi mereka menghilang dengan cepat. Udara dingin menipis dan pemandangan pun kembali terlihat dengan jelas.
"Sepertinya anjing kecilku mengganggu perjalanan kalian, ya. Sebagai pemiliknya, aku mohon maaf," ucap seorang laki-laki yang datang dari antah berantah.
Laki-laki itu mengenakan mantel bulu panjang berwarna gelap. Sepatu bot kulitnya juga tampak berkilau ganjil di tengah hutan yang penuh lumpur ini. Penampilannya terlalu mewah untuk ukuran orang yang berada di tengah rimba. Meski begitu laki-laki itu memasang senyum ramah.
"Apakah anda Miangase?" tanya Sabina menebak-nebak.
Kesimpulan itu didapat Sabina setelah menilai penampilan laki-laki asing itu. Kaum penyihir biasanya punya selera yang aneh dalam berpakaian, dan tidak sesuai dengan lingkungannya. Lihat saja Aiden.
"Benar. Aku Miangase. Ada yang bisa kubantu?" tanya Miangase kemudian.
Sabina tersenyum lega. Ternyata kabut tebal tadi adalah sihir Miangase. Dan Kerberos itu adalah hewan peliharaannya yang disebut Valerie bodoh tapi tidak berbahaya. Penyihir ini benar-benar sesuai dengan selera Valerie yang eksendrik.
"Namaku Sabina, aku adik Valerie. Mereka teman-temaku, Aiden dan Nora," kata Sabina memperkenalkan diri.
Miangase mengangkat alis dengan bersemangat. "Senang akhirnya bertemu dengan keluarga Valeri. Ayo masuk ke dalam," ajak Miangase. Mereka pun kemudian berjalan masuk ke dalam Rumah Pohon Miangase yang menakjubkan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments