Perjalanan

Suara-suara bisikan membangunkan Aiden dari tidurnya pagi itu. Ia mengerjapkan matanya yang berat sambil berusaha menangkap pembicaraan di sekelilingnya. Tapi tidak ada kata-kata yang bisa ia dengar dengan baik. Setelah mengerjap beberapa kali, matanya pun mau terbuka juga. Ia mendapati dirinya terbaring di tempat tidur dengan kelambu ungu transparan menutupinya. Di tengah ruangan yang remang-remang itu, ia berusaha mencari sumber suara yang masih berbisik-bisik. Ternyata di samping tempat tidur Sabina dan Sybilina berdiri memunggunginya.

"Tidak perlu membawa makanan sebanyak ini kan," kata Sabina setengah berbisik.

"Tapi kau akan pergi bersama manusia. Aku tidak mengkhawatirkan kau akan kelaparan atau tidak. Yang kau khawatirkan itu teman penyihirmu itu. Dia perlu makanan manusia," jawab Sybilina.

"Dia tidak makan sebanyak ini, Ibu," balas Sabina.

"Sudah, bawa saja. Lebih baik makanannya bersisa daripada kurang," sergah Sybilina.

"Tapi..." kata-kata Sabina terhenti ketika ia menyadari Aiden sudah terbangun. Ia segera menoleh ke arah Aiden yang sedang berusaha bangkit.

"Oh, kau sudah bangun," kata Sybilina yang ikut menoleh.

"Yap," jawab Aiden turun dari tempat tidur. Matanya segera terpaku menatap sebuah tas kulit yang hampir sebesar tubuhnya sendiri, penuh berisi makanan. Bahkan tampknya Sybilina masih berusaha menjejalkan sekantong roti bolu ke dalamnya.

"Untuk apa ini?" tanya Aiden kemudian.

"Ah, sedikit bekal perjalanan untuk kalian berdua," jawab Sybilina.

"Sebanyak ini? Ku pikir Sabina tidak terlalu membutuhkan makanan manusia," sahut Aiden.

"Bukan, bukan untuk Sabina. Semua ini untukmu. Kau perlu banyak makanan, bukan?"

"Hah?! Tidak perlu sebanyak ini, kurasa," kata Aiden setengah kebingungan.

"Benar, ibu. Kalau membawa sebanyak ini nantinya malah mengganggu perjalanan," kata Sabina menambahi.

"Oh, baiklah. Akan kukurangi sedikit," jawab Sybilina yang kahirnya mengalah dan mengeluarkan beberapa makanan dari tas. "Ini, sudah ku kurangi setengahnya," lanjut Sybilina menyerahkan tas makanan yang sudah berkurang separuh.

"Baiklah. Sudah cukup sebanyak ini," jawab Sabina mengangguk, menyerahkan tas kulit itu kepada Aiden.

Aiden berjengit membayangkan dia memanggul tas sebesar itu di unggungnya. Namun, ajaibnya, begitu Aiden memakainya, tas itu mengkerut menjadi jauh lebih kecil dan lebih ringan dibanding sebelumnya.

"Berhati-hatilah, Sabina," kata Sybilina sambil menarik nafas panjang. Sabina membalasnya dengan sebuah anggukan. "Kau juga," lanjut Sybilina beralih kepada Aiden.

"Iya.." jawab Aiden singkat.

"Kami berangkat, Ibu," kata Sabina.

"Berangkatlah. Nora sudah menunggu di depan,"

Berjalan sampai ke depan kastil itu saja rasanya sudah seperti suatu perjalanan panjang. Hampir satu jam Aiden dan Sabina menyusuri lorong demi lorong. Semakin lama mereka berjalan semakin Aiden merasa ragu mereka bisa keluar dari  kastil tersebut. Tetapi di depannya Sabina berjalan dengan mantap. Keraguan Aiden sedikit terobati karenanya.

Di halaman depan kastil, Nora sudah menanti dengan wujud setengah griffinnya – menyerupai singa yang luar biasa besar. Dengan santai ia menjilati cakarnya yang sebesar paha Aiden. Sabina mendekatinya dan mengelus punggungnya. Mereka tampak saling mengerti meskipun tidak ada kata-kata yang terucap. Nora segera menghentikan kegiatan menjilatnya dan segera berubah menjadi griffin lengkap dengan kepala dan sayap elang. Sementara Sabina telah selesai dengan transformasinya menjadi vampir bersayap hitam

"Naiklah ke punggung Nora," perintah Sabina kepada Aiden.

Aiden menurutinya dan segera menaiki punggung Nora. Mereka pun melesat menjauhi tanah. Hamparan hutan tampak hijau di bawah kaki Aiden. Pepohonan segera tampak begitu kecil. Bahkan kastil keluarga Rickle menjadi hanya sebesar telapak tangan Aiden. Sapuan angin menyibak rambut Aiden dan membuatnya semakin beratakan. Menungangi punggung Nora membuatnya sedikit tidak nyaman mengingat bulunya yang licin dan tanpa pegangan. Ia hanya menggenggam bulu dada Nora dengan sangat kuat membuat Nora menggeram sepanjang perjalanan itu.

"Naik sapu terbang jauh lebih nyaman," pikir Aiden.

Rasanya sudah bermenit-menit mereka terbang tapi hamparan hutan belum juga hilang dari pandangan. Pepohonan lebat tidak putus-putusnya seakan mengikuti mereka. Mendadak Aiden menyadari kilauan-kilauan tidak lazim di balik hutan tersebut. Aiden memperhatikan salah satunya tapi tertap tidak bisa menerkanya.

"Nora, apakah kau sadar kalau hutan ini berkilau-kilau? Atau hanya mataku saja yang terkena tipuan matahari?" tanya Aiden kemudian.

"Itu para dryad," jawab Nora.

Aiden mengangguk paham, membayangkan Leuce dan dryad lain yang ditemuinya beberapa malam yang lalu.

"Siang hari begini para dyad itu tetap berkilauan," pikir Aiden kagum. Tiba-tiba pikirannya terusik menyadari hal lain.

"Nora, bukankah kekuatan vampir pada siang hari melemah?" tanya Aiden lagi pada Nora.

"Kalau kau mengkawatirkan Sabina, tenang saja. Kekuatanya memang lemah, tapi ia cukup kuat untuk terbang menyeberangi hutan ini," jawab Nora.

"Kenapa kita harus terbang menyeberangi hutan ini? Kita bisa berjalan menembus hutan ini, 'kan?" tanya Aiden penasaran.

"Hutan ini dibagi menjadi 2 wilayah. Milik dryad dan milik keluarga Sabina. yang kita lewati sekarang adalah wilayah pra dryad. Bila kita melewati daerah ini, kekuatan Sabina pun tidak akan cukup kuat menahan sihir para dryad. Banyak manusia bahkan manusia serigala yang tersesat dalam hutan ini," jelas Nora.

Perlahan-lahan tampak garis batas hutan di depan mereka yang semakin mendekat, menandakan mereka akan segera melewati hutan ini. Ternyata di balik hutan yang panjang ini menjulang perbukitan yang tidak kalah panjngnya. Perbukitan ini tidak tampak dari kota karena letaknya jauh di sebelah barat dan masih dikelilingi hutan yang lebat.

Akhirnya jajaran pohon di belakang mereka sudah habis dilewati. Mereka pun mendarat di sebuah tanah lapang yang membatasi hutan di belakangnya dengan perbukitan yang menjulang di depan. Sebuah seungai kecil dengan air yang mengalir perlahan membentang di hadapan mereka. Jauh di seberang sungai itu tampak samar-samar hutan lain yang terpisah dari hutan sebelumnya.

"Rasanya hanya berindah dari hutan satu ke hutan lain," pikir Aiden menyadari keberadaan hutan di depannya.

"Dari sini kita berjalan," ucap Sabina yang sedari tadi tidak terlalu banyak bicara.

Nora mengkerut mengubah tubuhnya menjadi seekor singa.

"Kenapa kau tidak berubah menjadi kucing," tanya Aiden yang mulai berjalan mengikuti Sabina.

"Wujud sebagai kucing bukanlah wujud asliku. Karena itu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. sangat idak efektif dan membuang-buang tenaga," jelas Nora berjalan menjajari Aiden.

Mereka berjalan dalam diam. Suara angin menjadi lebih keras dari sebelumnya. Gemericik air sungai yang baru mereka lewati terdengar semakin jauh. Matahari sudah berada tepat diatas mereka dan semakin membuat Aiden maupun Sabina kelelahan. Hamparan hutan masih cukup jauh dari mereka. Sepertinya mereka baru akan mencapai hutan tersebut setelah matahari sudah jauh berada di barat.

Tiba-tiba Sabina menghentikan langkahnya dan mengambil sebuah kertas kumal dari saku celananya. Dibentangkannya kertas itu hingga hamir menutupi seluruh wajahnya. Aiden dan Nora segera berkerumun di dekatnya, ikut melihat kertas yang berisi gambar-kambar menyerupai denah.

"Apa ini?" tanya Aiden.

"Peta. Ayah membuatkannya untuk kita," jawab Sabina.

"Jadi kau tidak tahu temat peluru perak itu berada?" tanya Aiden sedikit terkejut.

"Tentu saja aku tidak tahu! Memangnya aku tampak seperti vampir yang senang berpetualang?" tanya Sabina mengalihkan panangannya kepada Aiden.

"Hei.. kenapa kau menjadi sangat sensitif hari ini?" tanya Aiden yang melihat kerutan marah di wajah Sabina.

Sabina menarik nafas panjang den mengalihkan panangannya dari Aiden. Dalam sekejap wajahnya sudah berubah sedih.

"Aku benci perjalanan ini. Aku tidak suka berpetualang. Membuatku merasa terasing," kata Sabina mendesah. "Apalagi tanggung jawab yang aku pikul dalam perjalanan ini. Aku harus menemukan peluru perak atau keluargaku akan hancur," lanjut Sabina tampak sangat frustasi.

"Tenanglah Sabina. Kau tidak sendiri. Ada aku bersamamu," kata Aiden menenangkan.

"Kau sendiri bahkan tidak mengenal tempat ini," balas Sabina putus asa. "Sepertinya ayah menghukumku,"

"Tentu saja tidak!" sergah Nora. "Tuan Hazel menyayangimu. Dia menyerahan tugas ini karena percaya kau bisa melakukannya," lanjut Nora.

"Tapi..."

"Sudahlah. Aku memang tidak mengenal tempat ini. Tapi setidaknya aku punya pengalaman berpetualang. Dan aku masih hidup sampai sekarang," kata Aiden kemudian.

Nora mendengus keras mendengar perkataan Aiden. Sabina pun mengikuti dengusan Nora.

"Itu sama sekali bukan kata-kata pengiburan, Penyihir," kata Nora yang mulai terbahak-bahak.

"Tapi aku cukup terhibur dengan kata-katamu, Aiden. Terimakasih," kata Sabina tersenyum kecil. "Nora! Berhentilah tertawa!" bentak Sabina melanjutkan perjalanan mereka.

"Sabina!" panggil Aiden. "Kita pasti berhasil menemukan peluru perak dan menyelamatkan keluargamu," kata Aiden berlari menyusul Sabina.

Sabina membalasnya dengan anggukan.

***

Matahari hampir tertutup oleh perbukitan sisi kanan mereka ketika mereka mulai memasuki bibir hutan. Suasana hutan tersebut jauh berbeda dengan hutan dryad yang mereka lewati sebelumnya. Hutan ini sangat gelap dengan pepohonan yang dua kali lebih besar dan lebih tinggi dari pada pepohonan di hutan dryad. Mereka juga sama sekali tidak menemukan pohon oak tempat tinggal para dryad di sini. Sebaliknya, hanya ada mahogani dan cemara yang memenuhi hutan ini.

Bayang-bayang perbukitan menahan sinar matahari yang masuk ke dalam hutan. Rapatnya pepohonan menambah gelapnya hutan tersebut dan membuat rombongan itu merasa hari sudah malam. Aiden mulai merasa lapar setelah perjalanan berjam-jam itu. Ia pun merogoh tas punggungnya dan menawari Nora serta Sabina yang langsung menolak. Akhirnya ia memutuskan untuk makan sendiri sambil terus berjalan.

Beberapa saat mereka berjalan menembus hutan lebat itu. Aiden kemudian menyadari hutan tersebut terlalu sunyi. Bahkan tidak ada suara angin yang berhembus di dalamnya. Sesekali memang mereka berpapasan dengan rusa dan  beberapa binatang lain, tapi rasa-rasanya binatang di hutan tersebut tidak sebanyak di hutan dryad. Tiba-tiba Nora menghentikan langkahnya dan mulai menggeram. Sabina di depannya juga berhenti. Matanya sudah berubah warna menjadi perak dan taring serta kukunya memanjang, tampak waspada.

"Ada a..." belum selesai Aiden berbicara, Nora sudah menyambar tubuhnya dengan moncongnya membuat bajunya sedikit terkoya.

"Apa yang kau lakukan Nora?" tanya Aiden bangkit dari tanah. Nora diam saja masih tampak waspada.

Saat berikutnya Aiden menyadari sebuah anak panah menancap di pohon dekat tempatnya berdiri tadi. Tampaknya Nora sudah menyelamatkannya dari serbuan anak panah tersebut. Tak lama kemudian anak panah kedua, ketiga dan selanjutnya muncul bertubi-tubi dari berbagai arah. Nora bertransformasi kilat menjadi griffin dan terus melindungi Aiden di balik tubuhnya yang keras dan kebal dari benda-benda tajam.. Sementara Sabina menghindari hampir semua anak panah itu dengan lincah agar tidak mengenai bagian vital tubuhnya. Selama beberapa menit serangan itu tidak berhenti. Namun baik Sabina maupun Nora sama sekali tidak tampak kepayahan. Nora malah dengan santainya mematuk-matuk tanah sedangkan Sabina meliuk-liuk cantik bak penari. Aiden hampir kehabisan nafas ditindih berat badan Nora ketika akhirnya serangan itu berhenti. Nora tidak buru-buru mengangkat tubuhnya khawatir akan ada serangan lanjutan dan mungkin melukai Aiden. Tapi selama beberapa menit keadaan kembali tenang. Maka Nora pun segera meangkat tubuhnya karena Aiden sudah meronta-ronta dibawahnya

"Kami tidak bermaksud untuk mengganggu kalian. Kami hanyalah pengembara yang kebetulan lewat," seru Aiden sedikit terengah.

Tidak ada jawaban. Tapi beberapa detik kemudian dari balik pepohonan, keluar makhluk-makhluk besar bertubuh campuran kuda dan manusia mengitari mereka.

"Centaurus..." bisik Aiden.

Para centaurus tersebut memandang mereka dengan dingin. Salah satu diantara mereka, yang bertubuh paling besar dengan janggut panjang dan lebat maju selangkah mendekati mereka .

"Ini wilayah kami. Tidak akan kami ijinkan seorangpun melewatinya," ucapnya dengan suara parau.

"Tapi kami tidak akan mengganggu kalian," sahut Aiden.

"Tidak seorangpun boleh mengetahui keberadaan hutan ini. Terlebih manusia! Kalian hanya akan mengotori hutan suci kami!" seru centaurus itu. Seketika ia menyerbu diikuti teman-temannya yang lain.

"Saoikaus!" seru Aiden melempar mantra pembalik serangan ke segala arah. Banyak anak panah berbalik arah menyerang para centautus.

"Fireve Flamesco!" seru Aiden lagi melempar mantra api.

Kilatan cahaya memenuhi medan pertempuran Aiden. Beberapa centaur berterbangan dan terjerembab menabrak pohon. Di sisi lain, Nora sudah dikerubungi centaur-centaur yang bagai semut. Ia kemudian relebarkan sayapnya membuat beberapa pohon tumbang. Dikibaskannya para centaurus yang menaiki punggung dan bandannya, mencoba menusuknya dengan belati. Sia-sia saja karena kulit griffin sekeras baja. Sabina sendiri dengan lincah melompat dari centaur satu ke yang lain, mematahkan kepala masing-masing atau melubangi perut mereka dengan cakarnya.

"Mereka tidak ada habisnya!" seru Sabina.

"Mereka punya kemampuan regenerasi. Serang kedua jantungnya!" balas Aiden.

"Dua?" tanya Nora bingung.

"Ya! Di tubuh manusia dan kudanya!" jawab Aiden.

"Kalau sebanyak ini akan memakan waktu lama!" kata Sabina.

Akhirnya mereka merasa cukup kewalahan dengan jumlah centaurus yang menyerang mereka. Salah satu centaur berhasil mernyergap Aiden dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Focuse Intiomete!" seru Aiden berusaha menggerakkan tangannya yang bebas.

Pusaran angin mendadak menerpa mereka membuat ia dan centaur tersebut terhempas. Aiden berusaha bangkit dari tanah dengan susah payah. Tubuhnya kini penuh lebam dan bermandikan darah. Beruntung bukan darahnya sendiri.

"Mantra yang berbahaya," ujar Nora. Aiden hanya meringis.

Pasukan centaur tersebut mulai berkurang begitu juga tenaga Aiden, Sabina dan Nora. Ketiganya sudah hampir menyerah ketika tiba-tiba bayangan hitam menghabisi sisa centaur tersebut. Bayangan hitam tersebut menghampiri para centaur satu persatu dan segera mengoyak tubuh mereka menjadi dua. Beberapa menit kemudian jumlah centaurus sudah banyak berkurang. Centaurus yang masih hidup segera berlari dari tempat tersebut sambil berseru. "Pemburu jantung menyerang!" dan berderap pergi.

Bayangan hitam tersebut kemudian melesat turun ke tengah-tengah mereka. Ketiganya sudah bersikap waspada. Ternyata bayangan hitam tersebut adalah seorang gadis cantik dengan jubah hitam berjumbai hingga ke tanah. Rambutnya hitam, panjang dan bergelombang dengan mata perak dan taring panjang di mulutnya. Seorang vampir. Ia sama pucatnya dengan Sabina dan memiliki kecantikan yang sama pula.

"Valerie?" kata Sabina kemudian. Ia segera kembali berwujud manusia diikuti Nora yang kemudian menjadi seekor singa lagi.

"Ternyata memang kau Sabina. Kenapa kau ada di sini bersama Nora dan..." kata vampir tersebut memandang Aiden masih dengan mata peraknya.

"Aiden," jawab Aiden singkat.

"... penyihir ini" lanjut Valerie.

"Aku yang seharusnya bertanya kenapa kau ada di sini? Kita terancam peperangan dengan manusia serigala sementara kau bersenang-senang di tempat ini," sahut Sabina dengan nada tinggi.

"Benarkah? Ah sudah lama sekali aku tidak pulang," jawab Valerie. "Lalu adik kecilku ini mau pergi kemana?"

"Kami mencari peluru perak untuk melawan manusia serigala," jawab Nora menghentikan kata-kata makian Sabina yang hampir keluar dari mulutnya.

"Mencari peluru perak? Silver Bullet? Kenapa lewat sini? Seharusnya kalian lebih ke barat," lanjut Valerie.

"Kau tahu jalannya?" tanya Aiden kemudian.

"Aku tidak tahu persisnya. Tapi bertanyalah kepada Miangase. Dia penyihir yang tinggal di bukit itu," kata Valerie menunjuk ke arah bukit. "Kurasa dia tahu tempat silver bullet. Yah, sejauh aku mengenalnya, dia mengetahui segalanya," lanjut Valerie.

"Jadi dia yang membuatmu tidak pernah pulang ke rumah?" sergah Sabina.

"Kau tidak punya cermin rupanya, Sabina. berkacalah pada dirimu sendiri. Pacarmu juga penyihir kan?" seru Valerie tak mau kalah.

"Tapi hal itu tidak membuatku pergi dari rumah!" jawab Sabina mendelik.

"Oh, ya? Kudengar kau malah membangun rumah di perkotaan dan memangsa manusia." kata Valerie balas menata Sabina mendelik. Sabina tak sanggup berkata-kata. Tapi keduanya sudah tampak siap menyerang.

"Sudahlah," kata Aiden menengahi. "Apakah kau bisa mengantar kami kepada penyihir itu?" tanya Aiden kepada Valerie.

"Maaf aku tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu terhadap bangkai-bangkai centaurus ini sebelumnya. Berjalanlah menembus pepohonan ini hingga mendapati setapak yang akan mengantarmu ke bukit," jelas Valerie emnunjuk ke arah barat. "Hati-hati terhadap peliharaan Miangase. Mereka bodoh, tapi tidak jahat. Mereka yang akan mengantarmu ke rumah Miangase," lanjut Valerie.

"Terimakasih," ucap Aiden kemudian.

"Bersabarlah menghadapi adikku yang egois ini ya," kata Valerie kemudian. Sabina hanya mendelik menatapnya.

Mereka berjalan menembus pepohonan rimbun itu dan menemukan setapak yang dikatakan Valerie. Mereka berjalan menyusuri setapak tersebut. tidak ada seekor centaur pun yang menghalangi jalan mereka. Tampaknya setapak itu diselubungi sihir yang kuat hingga mengelabuhi mata para centaurus.

"Jadi, dia kakakmu?" tanya Aiden kepada Sabina kemudian.

"Benar," jawab Sabina.

"Keluargamu banyak sekali," kata Aiden.

"Tidak juga. Kami hanya bertiga, Valerie, aku dan Irish. Savio dan Misa hanyalah vampir lain yang tinggal bersama kami dan ayah menjadikannya keluarga," jelas Sabina.

"Tetap saja banyak," kata Aiden. "Aku anak tunggal, tidak punya saudara. Satu-satunya keluargaku hanyalah kakek. Orang tuaku meninggal ketika menjalankan misi ke desa lain. Jadi sekarang, setelah kakek meninggal, aku sebatang kara," kisah Aiden.

Sabina menatap pria itu dengan lembut, meski keremangan melingkupi mereka.

"Aku akan menjadi keluarga barumu," kata Sabina tersenyum tipis.

Aiden balas menatanya tersenyum.

"Itu kalimat termanis yang pernah aku dengar darimu," jawab Aiden meraih wajah Sabina. Mereka hampir berciuman ketika Nora menggeram keras dan mengagetkan keduanya.

"Maaf Nora, kau tampak kecil ketika dunia menjadi milik kita berdua," kata Aiden tertawa. Sabina pun menahan tawa mendengarnya.

"Sebaiknya kalian ingat perjalanan ini bukan piknik," gerutu Nora.

"Maaf, kami terbawa suasana," jawab Sabina diikuti anggukan Aiden yang mengelus rambut singa Nora.

Beberapa menit berjalan, pepohonan semakin jarang dan jalan setapak sudah mulai menghilang. Ternyata langit sudah benar-benar gelap dan bulan purnama sudah menggantikan matahari. Bukit di depan mereka tampak lebih angker dari sebelumnya. Mereka terus berjalan mendekati bukit.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!