Esok paginya Sabina, Aiden dan Nora berangkat melanjutkan perjalanan. Valerie dan Miangase melepas kepergian mereka dengan khawatir. Terutama Valerie yang menyaksikan adiknya harus pergi ke tempat-tempat berbahaya.
"Sabina, aku benar-benar khawatir padamu. Kau tidak pernah melakukan perjalanan berbahaya sebelumnya. Aku ingin pergi bersamamu, tapi aku harus menjaga tempat ini dari para Centaur," ujar Valerie sedih.
"Aku baik-baik saja, Val. Ada Nora dan Aiden bersamaku. Aku juga tidak selemah itu," jawab Sabina.
"Baiklah kalau begitu. Semoga perjalanan ini bisa memberimu pengalaman yang bagus. Kau bisa belajar menjadi lebih dewasa dan kuat, Sabina," balas Valerie.
Sabina mengangguk. "Kau juga, sekali-sekali pulanglah ke rumah. Ibu dan Ayah pasti merindukanmu."
"Akan kusempatkan nanti," kata Valerie sambil tersenyum.
"Kalau begitu kami pergi sekarang."
Mereka pun meninggalkan rumah pohon dan berjalan sesuai arah yang sudah diberitahukan oleh Miangase. Mereka membelah hutan rimba para Centaur menuju barat. Valerie memastikan tidak akan ada centaur yang berkeliaran karena dia sudah membuka jalan sejak pagi tadi. Para centaur itu pasti sekarang bersembunyi di tempat tinggal mereka dan tidak berani keluar.
Meski begitu Sabina setengah yakin bahwa Valerie diam-diam mengawal perjalanan mereka dari belakang untuk mencegah para centaur itu mendekat. Setidaknya sampai rombongan Sabina keluar dari hutan, Valerie akan terus bersama mereka dalam jarak tertentu. Kakaknya itu memang selalu menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang aneh.
Senja mulai menjelang dan belum ada tanda-tanda hutan itu akan berakhir, meski mereka sudah berjalan sangat cepat. Aiden menunggangi Nora yang berubah menjadi singa. Sementara Sabina melesat menggunakan kekuatan Vampirnya. Kecepatan mereka sudah di atas rata-rata. Tapi Aiden memperhatikan pepohonan di area itu memang tidak selebat sebelumnya. Menurut perhitungannya, setidaknya malam ini, atau paling lama dini hari nanti, mereka akan berhasil menembus hutan para centaur. Itu bisa terjadi kalau mereka tidak berhenti berjalan.
Aiden sedikit merasa aneh karena perjalanan mereka sejak di rumah pohon begitu lancar. Tidak ada satu centaur atau binatang buas pun yang terlihat di sekitar. Samar-samar Aiden juga merasakan aura Valerie di belakang mereka. Walau tidak yakin, tapi ketenangan hutan lebat ini sepertinya mengkonfirmasi dugaannya.
Tengah malam, Aiden sudah tampak kepayahan. Meski dia seorang penyihir, namun dibanding Sabina yang vampir atau Nora yang seekor hewan mistik, Aiden hanyalah manusia. Kapasitas tubuhnya cukup terbatas. Sabina sepertinya menyadari hal itu, lantas segera berhenti.
"Kita istirahat dulu," ujar Sabina.
"Tapi kita sudah hampir melewati hutan," ujar Nora yang memperhatikan pepohonan semakin jarang.
"Tidak apa-apa. Kita bisa melanjutkan perjalanan besok pagi," kata Sabina sambil duduk di bawah salah satu pohon besar.
Nora tampak hendak protes, namun Sabina memelototinya. Akhirnya Nora pun menurut lantas pergi mencari beberapa ranting kering untuk membuat api unggun. Aiden melepaskan tas punggungnya dan meletakkan di atas tanah. Cahaya tongkatnya sudah meredup karena ia kelelahan menggunakan sihir cahaya untuk menerangi perjalanan mereka sejak matahari terbenam tadi.
Nora kembali tak lama kemudian sambil membawa ranting-ranting kering. Setelah disusun sedemikian rupa, Aiden melemparkan mantra api untuk menyalakannya. Api unggun pun berkobar memberikan kehangatan dan cahaya di sekitar.
"Beristirahatlah dulu, Aiden. Biar aku dan Nora yang berjaga," kata Sabina.
"Terimakasih Sabina," jawab Aiden penuh syukur. Sabina seperti bisa memahaminya meski tanpa kata-kata. Ia tahu gadis itu mengkhawatirkannya yang kelelahan.
"Berbaringlah di pangkuanku. Tanah keras itu pasti tidak nyaman. Setidaknya kepalamu bisa nyaman di pangkuanku," kata Sabina kemudian.
Aiden menurut. Ia pun membaringkan kepalanya di pangkuan Sabina. Siluet Sabina tampak cantik meskipun dilihat dari bawah. Gadis itu menatap Aiden dengan senyuman yang menentramkan. Tangan Sabina mengusap kepala Aiden dengan lembut.
"Oh ayolah, tidak hanya ada kalian berdua di sini. Kenapa kalian tidak pernah melewatkan kesempatan untuk bermesraan," gerutu Nora yang kemudian bergelung memunggungi Aiden dan Sabina.
Keduanya hanya tersenyum geli menanggapi. Malam pun berlalu dengan cepat. Aiden terlelap begitu saja di pangkuan Sabina, hingga samar-samar Aiden mendengar suara kicau burung yang riuh di dekatnya. Pemuda itu pun segera membuka mata.
"Nora. Ssstt.. diam. Aiden masih tidur," suara bisikan Sabina terdengar di sela-sela suara kicau burung. Aiden mengerjap.
"Ini sudah siang, Sabina. Sampai kapan kita harus menunggu penyihir itu bangun." Nora terdengar kesal.
Aiden pun bangkit dari pangkuan Sabina sambil menggeliat pelan. Di depannya ia melihat Nora sedangn bermain-main dengan burung-burung parkit kecil yang beterbangan di sekitarnya.
"Maafkan aku tidur begitu lama. Kenapa tidak membangunkanku, Sabina?" tanya Aiden dengan suara parau.
"Aku suka sekali melihatmu tidur, Aiden," ucap Sabina terkikik.
Aiden mendengus pelan sambil tersenyum. Ia lantas membasuh wajahnya dengan air dari botol minumnya.
"Apa kakimu tidak sakit? Aku tidur lama sekali," tanya Aiden kemudian.
Sabina bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya dari tanah. "Tidak. Tubuhku tidak punya banyak sensor rasa sakit," jawab Sabina.
"Syukurlah kalau begitu."
"Ayo kita berangkat. Aiden, kau bisa sarapan di atas punggungku," potong Nora tak sabar. Ia sudah berubah menjadi singa besar yang siap diduduki Aiden. Rasanya menyenangkan punya hewan tunggangan sendiri.
Akhirnya rombongan itu kembali bergerak. Aura Valerie yang mengikuti masih terasa walau samar-samar. Mereka kembali melesat dengan kecepatan penuh. Karena jarak pepohonan sudah merenggang, Nora bisa berlari dengan lebih tangkas, dan Sabina pun melesat secepat peluru.
Siang sudah terik ketika akhirnya mereka benar-benar keluar dari hutan. Hutan itu ternyata berada di atas sebuah bukit landai. Di bawah bukit itu mereka melihat sebuah desa kecil yang berisi beberapa penduduk lalu lalang. Desa itu tampak terbelakang dengan sebagian besar bangunan rumah terbuat dari batu yang dipotong kasar.
"Apa itu kota yang disebutkan oleh Miangase?" tanya Aiden.
"Sepertinya begitu," jawab Sabina.
"Tapi tempat itu terlihat seperti desa tertinggal daripada kota," komentar Nora kemudian.
"Lebih baik kita datangi dulu agar lebih jelas," sergah Aiden yang kemudian turun dari punggung Nora.
Nora segera berubah wujud menjadi kucing biasa. Dengan satu lompatan Nora naik ke pelukan Sabina. Mereka pun segera berjalan menuruni bukit menuju desa kecil di depan sana. Desa yang dikenal dengan Kota Kelam Terlarang.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments