Banshee

Roberta menawarkan pada Sabina dan Aiden untuk menunggu di rumahnya. Tentu saja mereka berdua menerima tawaran itu. Selain karena mereka membutuhkan lebih banyak informasi tentang banshee, juga karena mereka harus punya tempat singgah sebelum banshee itu muncul.

Menjelang siang, Roberta menyajikan makan siang ala kota tersebut. Beragam lauk pauk seperti ikan, sayur dan buah-buahan terhidang di meja kayu persegi yang mereka duduki sedari tadi.  Rumah Roberta hanya terdiri dari tiga ruangan. Ruangan yang pertama merupakan yang terluas, difungsikan sebagai ruangan serbaguna, tempat dimana mereka duduk saat ini. Ruangan itu digunakan untuk menyambut tamu sekaligus sebagai dapur dan ruang makan. Sebuah pendiangan dengan api menyala-nyala berada di ujung ruangan, tempat Roberta menyiapkan hidangannya.

Ruangan selanjutnya dibatasi dengan sekat kayu bertirai coklat yang Sabina duga merupakan tempat tidur mengingat setiap manusia membutuhkan tempat tidur untuk beristirahat. Lalu ruangan terakhir adalah toilet. Sabina mengetahuinya karena Aiden baru saha menggunakan toilet tersebut. Rumah Roberta memang kecil, dan nampaknya ia tinggal sendirian. Meski begitu, wanita paruh baya ini tidak terlihat kesepian. Mungkin dia sudah terbiasa.

Roberta juga berubah ramah setelah lebih lama berbincang dengan mereka. Kota Kelam Terlarang memang sudah dipenuhi tentang mitos sihir, karena itu saat mengetahui bahwa Aiden adalah seorang penyihir, Roberta semakin antusias dan cepat-cepat mempersiapkan makan siang untuk mereka. Bahkan Nora mendapat jatah satu ekor ikan utuh yang segar. Yah walaupun seekor ikan tidak akan cukup untuknya, tapi Nora kelihatan puas.

Aiden makan dengan lahap. Mereka terus berbincang sampai jatuh sore. Roberta menceritakan kisah-kisah menakjubkan tetang kota itu di masa kejayaannya dulu, juga tentang masa lalunya saat masih muda. Sabina hanya mendengarkan sambil lalu karena pikirannya terfokus untuk memikirkan cara menghadapi banshee malam nanti.

"Bagaimana rupa banshee itu?" tanya Sabina kemudian.

"Wujudnya seperti seorang perempuan muda dengan rambut berantakan dan wajah menyeramkan. Ia mengenakan gaun panjang berwarna putih kumal. Kedatangannya diiringi oleh suara jeritan melengking yang menyedihkan. Orang-orang pernah menyaksikannya melayang mengitari desa dan siapapun yang tertangkap olehnya akan menghilang," jawab Roberta menjelaskan.

Informasi itu sudah lebih dari cukup. Jika memang banshee itu bersuara nyaring, berarti akan mudah menemukannya. Sekarang tinggal memikirkan masalah teko emas.

"Apakah kau punya semacam teko yang berwarna emas?" lanjut Sabina bertanya.

Roberta menggeleng yakin. "Tentu saja aku tidak punya. Memangnya ada orang mau menggunakan emas untuk membuat teko?"

Pertanyaan Roberta memang masuk akal. Tapi menurut Miangase, mereka akan menemukan teko emas pada saat mereka menemukan banshee. Apa artinya itu?

"Kalau begitu aku pinjamkan saja teko seadanya. Siapa tahu bisa membantu," ucap Roberta yang kemudian beranjak menuju rak dekat pendiangan.

Wanita itu lantas mengambil sebuah teko berwarna abu-abu kusam yang pada bagian bawahnya sudah berwarna hitam legam karena dipenuhi jelaga. Roberta lantas mengulurkan teko kecil itu kepada mereka. Aiden menerimanya dengan pasrah.

Malam datang tanpa terasa. Aiden dan Sabina segera bersiap-siap menghadapi banshee. Setelah berterimakasih kepada Roberta, keduanya lantas keluar dari rumah wanita itu diikuti oleh Nora. Roberta mendoakan keberhasilan mereka lalu segera menutup pintu dan jendela rumahnya rapat-rapat, khawatir banshee itu bisa masuk ke dalam.

Di tengah kegelapan, mereka bertiga berjalan dalam diam. Kota itu benar-benar gelap karena tidak ada satu orang pun yang memiliki lampu di luar rumahnya. Semua rumah tertutup rapat hingga tak memiliki celah untuk mengintip sekalipun. Kegelapan total menyelubungi mereka bertiga.

Beruntung Sabina dan Nora adalah makhluk nokturnal. Mereka berdua tidak terlalu terganggu dengan kegelapan karena tetap bisa melihat dengan frekuensi cahaya yang berbeda.  Tetapi keadaan agak lebih sulit untuk Aiden. Karena itu ia memutuskan untuk menyalakan cahaya tongkatnya sebagai penerangan jalan.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sebuah suara melengking panjang terdengar dari kejauhan. Suara itu terdengar begitu memilukan sekaligus menyeramkan di waktu yang sama. Bulu kuduk Aiden meremang dan jantung penyihir itu mulai terasa berdetak lebih cepat. Kedua tangannya yang memegang tongkat sihir dan teko kecil kini mulai berkeringat.

"Dia sudah muncul, Sabina," bisik Aiden pelan.

Sabina mengangguk. "Ayo kita datangi suara itu," kata Sabina sedikit gemetar.

"Begitu saja? Tanpa melakukan persiapan atau memastikan kemampuan makhluk itu dulu?" tanya Aiden cemas.

"Kita bisa tahu setelah berhadapan langsung dengannya, kan?" tanya Sabina polos.

"Em.. itu benar juga sih, tapi tetap saja…" Aiden mencoba menjelaskan tapi ia juga tidak punya rencana apapun.

"Sudahlah, ayo kita langsung kesana saja," desis Nora yang mendadak berubah menjadi wujud terkuatnya, griffin. Sepertinya Nora juga sedikit gentar menghadapi banshee.

Aiden sebenarnya ingin menggenggam tangan Sabina. Sayangnya, membawa teko sambil membawa tongkat membuat kedua tangannya sibuk. Ia tidak mungkin menyuruh Sabina membawa teko itu, mengingat senjata Sabina satu-satunya adalah kedua cakar di tangannya. Kalau gadis itu harus membawa teko, artinya ia hanya bisa menggunakan separuh tangannya. Menyadari hal itu Aiden terpaksa mengurungkan niatnya menggandeng Sabina.

Akhirnya, setelah berjalan keluar gang, ketiganya pun melihat banshee itu melayang-layang tanpa arah di dekat sumur tua di alun-alun. Beruntung banshee itu tidak sedang melihat mereka. Maka dengan hati-hati mereka bertiga mengendap-endap dan bersembunyi di balik kegelapan.

Deskripsi Roberta tentang banshee tersebut memang tidak salah, hanya sedikit kurang akurat. Sebenarnya hanya satu hal saja yang kurang dari penjelasan Roberta, namun itu adalah hal yang paling penting: banshee itu bercahaya. Dari tubuh kumalnya, banshee itu mengeluarkan cahaya remang keperakan yang membuat tubuhnya dapat terlihat dalam kegelapan. Masalahnya, cahaya itu ternyata memiliki efek buruk untuk manusia, terutama laki-laki.

Entah kenapa, saat melihat banshee yang bercahaya itu, tubuh Aiden seperti terhipnotis. Tanpa sadar Aiden mulai berjalan mendekati makhluk mengerikan berwujud wanita berambut panjang tersebut. Sabina awalnya tidak menyadari keanehan yang terjadi pada Aiden, dan hanya mengira Aiden mencoba melakukan serangan diam-diam dari belakang.

Tapi setelah beberapa saat, Sabina tidak melihat Aiden mengangkat tongkatnya. Gadis itu pun menyadari keanehan tersebut. Sabina lantas berlari menyusul Aiden sambil memanggilnya setengah berteriak. Sayangnya, upaya Sabina sudah terlambat. Banshee itu sudah berbalik dan terbang ke arah Aiden lantas menerkamnya ke dalam pelukan.

Wajahnya yang mengerikan menyeringai menatap Sabina yang berusaha menyelamatkan Aiden. Sementara gaun panjang kumal sang banshee terus bergerak berpilin menyelubungi Aiden hingga tubuhnya nyaris tidak terlihat lagi. Aiden seperti ditelan hidup-hidup oleh banshee tersebut.

Sontak Sabina berteriak marah dan segera berubah menjadi wujud vampir, lengkap dengan sayap dan taring mematikannya. Tanpa pikir panjang lagi, Sabina menyerbu ke arah banshee yang sedang melahap Aiden hidup-hidup. 

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!