Cawan Emas

Sabina terkesiap mendengar suara parau yang memperingatinya itu. Satu kakinya sudah hampir menyentuh air, namun sang pemilik suara tadi buru-buru menariknya menjauh. Sabina lekas melepaskan diri dari cengkeraman orang itu dan segera berubah waspada.

"Siapa kau?" sergah Sabina yang mendapati seorang laki-laki paruh baya dengan wajah keriput dan rambut penuh uban.

"Jangan takut, Nak. Aku adalah penjaga tempat ini. Namaku Akheron," ucap orang tua itu dengan suara parau.

Sabina masih tampak waspada dengan orang yang baru dia temui itu. Entah kenapa gadis itu merasakan kekuatan aneh dari diri pria tua tersebut.

"Mata air ini sangat berbahaya, Nak. Aku sudah menyaksikan banyak orang yang terpikat pada pesonanya, dan akhirnya justru menemui ajal mereka. Kau pasti juga sudah melihat sebanyak apa makhluk malang yang mati karena mata air ini," ucap Akheron kemudian, mencoba mencairkan suasana.

"Mati… karena mata air?" tanya Sabina sedikit ragu.

"Benar. Aku tidak tahu apa yang membawamu kemari. Tapi memang mata air ini memiliki kekuatan membuat siapapun hidup abadi. Tapi bila orang itu tidak memiliki kekuatan yang cukup dalam jiwanya, mata air ini justru berubah menjadi racun yang mematikan."

Sabina mencoba mencermati pernjelasan Akheron. Pada satu titik kemudian dia menyadari bahwa sepertinya mata air inilah yang sebenarnya mereka cari-cari.

"Apakah ini adalah Mata Air Hidup dan Mati?" tanya Sabina mencoba memastikan.

"Orang di luar sana menyebutnya begitu. Tapi mata air ini sebenarnya punya nama tersendiri," jawab Akheron.

Sabina tidak bertanya lagi. Ia tidak terlalu berminat mengetahui nama asli mata air tersebut. yang penting baginya saat ini adalah bahwa ternyata ia sudah menemukan mata air yang asli di bawah sini. Sabina mencoba menimbang-nimbang untuk keluar dari gua dan memanggil Aiden serta Nora. Akan tetapi ia merasa mungkin tidak perlu melakukannya. Ia bisa menyelesaikan misi yang disebutkan Miangase tempo hari sendirian.

"Apa yang sebenarnya kau butuhkan disini, Nak?" Akheron kembali bertanya.

"Aku harus menyeberangi Mata Air Hidup dan Mati, lalu mengambil ikan mas beracun untuk dibawa bersama wadah air berkilau," ujar Sabina terus terang.

"Untuk apa kau menggunakannya?"

"Aku harus membawanya untuk pergi ke Pegunungan Kematian, dan mengambil Silver Bullet."

Pria tua itu tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Sabina.

"Apa kau berencana menggunakannya untuk melawan naga?" tanya Akheron masih dengan derai tawanya.

"Naga?" tanya Sabina tak mengerti.

Akheron mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi geli.

"Apakah kau bahkan tidak tahu kalau akan menghadapi apa disana? Peluru perak itu dulu dibuat oleh Zomace yang tinggal di ujung pulau duyung di selatan. Namun setelah lama berselang, ia kini sudah mati dan peluru legendaris itu telah berulang kali berpindah tangan. Memang betul kalau kabarnya peluru itu kini berada di pegunungan kematian dan telah menjadi harta karun naga," terang Akheron.

Hati Sabina mencelos. Awalnya dia pikir ia akan menemui sang pembuat peluru tersebut, Zomace. Ayahnya pasti sudah terlalu tua untuk mengingat usia hidup manusia biasa. Bisa jadi orang bernama Zomace itu telah ditemui ayahnya sekitar seratus tahun yang lalu. Atau bisa lebih.

"Jadi perjalananku menuju Pegunungan Kematian itu bukanlah arah ke Pulau Duyung?" tanya Sabina polos.

Akheron terkekeh menghadapi sikap Sabina yang baginya terlihat seperti seorang anak kecil yang menanyakan letak penjual lollipop.

"Tentu saja berbeda. Tapi kau memang sudah berada di rute yang tepat, anak muda. Beruntunglah kau mendapat informasi yang tepat sebelum perjalananmu menuju pulau duyung sudah terlalu jauh," komentar Akheron geli.

Sabina sedikit lega mendengarnya. Ada gunanya juga ia bertemu Valerie dan Miangase. Pantas saja Valerie mengatakan kalau arahnya salah kemarin, dan menyuruhnya berbelok ke barat. Setelah semua perjalanan ini berakhir, ia harus mengucapkan terimakasih pada mereka berdua, lantas memarahi ayahnya yang sembarang memberi info.

"Anak muda, siapa namamu?" tanya Akheron kemudian.

"Sabina."

"Aku akan membantumu. Bila kau ingin mendapatkan ikan mas beracun dan wadah berkilau, jawablah teka teki ini. Kalau jawabanmu tepat, kau bisa menyeberang dengan selamat. Namun bila jawabanmu salah, air kehidupan ini akan menjadi racun bagimu," ucap Akheron lantas mengayunkan tangannya dengan ringan ke udara.

Kegiatan itu menimbulkan efek sihir menakjubkan. Sebuah cawan emas mendadak muncul di hadapan Sabina, lengkap dengan air yang berpendar seperti pelangi. Sabina tertegun sejenak, berpikir bahwa Akheron mungkin saja seorang penyihir.

"Katakan padaku, apakah penderitaan yang paling didambakan, yang jika penderitaan itu diambil, maka akan menimbulkan rasa kehilangan yang besar?" tanya Akheron kemudian.

Sabina tampak berpikir sejenak. Siapa orang bodoh yang mendambakan penderitaan? Dia sendiri punya banyak hal yang menyakitkan sepanjang hidupnya. Akan tetapi tidak satupun rasa dari penderitaan itu yang ingin dia miliki secara terus menerus. Sabina menatap Akheron yang masih tersenyum menunggu jawabannya. Teka-teki ini sama sekali tidak mudah. Entah kenapa Sabina merasa jawabannya pasti menjebak.

Gadis itu lantas mencoba berpikir lagi. Ia berjalan mondar mandir di pinggir mata air. Ia mencoba merunut beragam penderitaan yang mungkin pernah dia alami sepanjang hidupnya. Namun selama apapun ia mencoba menerka-nerka, Sabina tetap tidak bisa menemukan jenis penderitaan apapun yang bisa diinginkan oleh orang normal.

Dan di atas segala penderitaan itu, yang paling memuakkan adalah kenyataan bahwa ia memiliki hidup abadi. Bangsa vampire punya usia hidup yang panjang, dan hal itu tentunya membuat mereka merasakan lebih banyak penderitaan dari pada manusia ataupun bangsa lainnya. Sabina bergidik membayangkan jika nanti Aiden, orang yang dicintainya, lambat laun menua dan meninggalkannya. Itu mungkin adalah penderitaan yang paling menyakitkan.

"Tunggu sebentar…" gumam Sabina tiba-tiba.

Pemikirannya barusan mendadak memberinya sebuah ide. Penderitaan yang paling didambakan. Itu adalah kehidupan. Makhluk hidup di dunia ini terlatih untuk berjuang bertahan hidup. Mereka ingin hidup lebih lama dari yang lainnya. Padahal kehidupan ini sebenarnya penuh penderitaan. Dan ketika kehidupan itu diambil, maka akan timbul rasa kehilagan yang besar.

"Jawabannya adalah kehidupan," celetuk Sabina dengan senyum simpul penuh kepuasan.

Akheron tampak melebarkan senyumannya. Matanya yang menyipit semakin terlihat bagai garis tipis di wajahnya.

"Baiklah. Jadi kau menjawab kehidupan. Sekarang, minumlah air dalam cawan itu, lalu pergilah menyerberang ke tengah mata air. Kalau kau berhasil menyeberanginya, kau bisa mengambil ikan mas beracun dalam wadah berkilau di atas undakan," ucap Akheron sambil menunjuk undakan batu di tengah mata air.

Sabina tampak ragu sejenak. Cawan emas masih melayang-layang di hadapannya, menampakkan air berkilau dengan pendar pelangi. Sabina sedikit waspada pada Akheron. Ia tidak benar-benar yakin tentang tawaran pria tersebut. Bagaimana jika pria itu menjebaknya, dan air dalam cawan tersebut sebenarnya adalah racun?

Hal itu tentu sangat masuk akal jika melihat ratusan tulang belulang yang berserakan di sana. Tapi bagaimana menjelaskan tentang tulang-tulang hewan itu? Akan sangat mustahil bila Akheron member para hewan itu minuman dari cawan. Lebih masuk akal jika hewan-hewan itu tanpa sengaja meminum air dari mata air itu secara langsung, lantas mati keracunan.

"Cawan itu memiliki kekuatan suci bagi siapapun yang menjawab dengan tepat teka teki dariku. Air dalam cawan itu membuatmu bisa diterima oleh mata air tersebut. Kalau kau tidak mempercayaiku, kau bisa saja langsung mencoba menyeberangi mata air, dan lihat apa yang terjadi pada tubuhmu ketika menyentuh setetes saja airnya," kata Akheron saat melihat keraguan Sabina.

Sabina mengikuti saran Akheron, lantas mendekati pinggir mata air dan mencelupkan jemarinya. Benar saja, begitu jari-jarinya yang lentik menyentuh air, tiba-tiba rasa terbakar hebat terasa menusuk kulit jemarinya tersebut. Sabina buru-buru menarik tangannya dan mendapati satu ruas jari telunjukknya sudah meleleh, meninyisakan tulang berwarna putih yang tampak mengerikan.

Sabina memekik kaget. Beruntung dia adalah seorang vampir, yang meski tengah kehabisan energi, namun tetap bisa beregenerasi dengan cepat. Daging di jari telunjuknya segera muncul kembali dan dalam hitungan detik, jarinya sudah kembali seperti semula.

"Sudah kuduga kau pasti bukan makhluk biasa. Karena itulah aku menyarankanmu untuk mencoba menyentuh mata air itu secara langsung. Bayangkan jika manusia atau hewan biasa yang menegaknya. Mereka akan dilumat habis hingga tersisa tulang belulangnya saja," komentar Akheron.

Sabina melirik pria tua itu dengan tajam. "Apakah air dari cawan itu juga bisa melelehkan tubuh?" tanya Sabina kemudian.

"Sudah kukatakan, itu tergantung pada jawabanmu. Kalau itu benar, dia akan mengenalimu sebagai bagian dari mata air ini, dan kau tidak akan terluka saat menyentuhnya. Tapi kalau salah, seluruh tubuhmu akan meleleh seperti itu," jawab Akheron masih tersenyum.

Sepertinya Sabina memang tidak punya pilihan lain. Ia teringat kata-kata Miangase tentang tidak boleh terkena air dari Mata Air Hidup dan Mati. Tapi Miangase sama sekali tidak menyebutkan tentang Akheron. Beberapa saat menimbang, akhirnya Sabina memutuskan untuk meraih cawan emas yang sedari tadi melayang-layang itu. Dalam satu tarikan napas gadis itu pun menegak isinya. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!