Akheron

Gelombang rasa dingin merayapi kerongkongan Sabina. Air itu tidak ada rasanya. Hanya aroma harum yang aneh. Seperti menegak air bunga yang rasanya hambar. Tidak terjadi apa-apa setelah Sabina menegak air dalam cawan tersebut. Hanya cawan emas itu yang perlahan memudar dari genggamannya.

Akheron tampak tersenyum puas. Pria tua itu lantas mengangguk, menyuruh Sabina untuk pergi ke tengah mata air. Sabina menatapnya ragu, tapi kemudian menurut. Ia melangkah mendekati mata air lantas perlahan-lahan memasukkan kakinya ke dalam air. Sabina sudah bersiap akan rasa sakit yang mungkin timbul, namun ternyata kakinya baik-baik saja.

Hanya rasa dingin yang muncul ketika kulitnya menyentuh air. Sabina menoleh kea rah Akheron. Tapi pria itu hanya menatapnya balik sambil tersenyum. Sabina akhirnya memutuskan untuk melanjutkan berjalan di dalam air. Ternyata mata air tersebut tidak terlalu dalam, hanya serupa kolam dangkal yang airnya tak lebih dari pinggang Sabina.

Bunyi kecipak air pelan terdengar seiring langkah Sabina mendekati undakan batu. Sabina terpesona dengan warna air kolam yang benar-benar indah, berubah-ubah setiap gelombang halusnya menyentuh tubuh Sabina. Cahaya matahari dari celah sempit di dinding atas gua menciptakan semburat keemasan yang indah.

Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Sabina berhasil mencapai undakan batu di tengah kolam. Tinggi undakan batu itu sedikit lebih tinggi dari ujung kepala Sabina. Maka pelan-pelan gadis itu pun memanjat undakan batu yang licin tersebut hingga pada sejajar dengan wadah air berkilauan yang ada di atasnya.

Setelah melihat lebih dekat, wadah air itu ternyata berupa bola kaca transparan yang berisi air berkilau dengan warna pelangi. Ukurannya sebesar buah kelapa dan tampak tidak terlalu nyaman untuk dibawa-bawa. Kacanya terlihat rapuh dan mudah pecah. Meski begitu, Sabina tetap memberanikan diri mengambil bola kaca itu dengan hati-hati.

Hal yang menakjubkan terjadi begitu Sabina menyentuh bola kaca tersebut. Sebuah cahaya menyilaukan muncul dari dalam bola tersebut, membuat Sabina spontan memejamkan mata. Gadis itu kemudian merasa tubuhnya terangkat begitu ringan. Sabina mencoba mengerjap beberapa kali, mencoba membiasakan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya putih menyilaukan tersebut.

Beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa tubunya kini melayang bersama bola kaca tersebut menuju tepi kolam. Sabina sedikit tertegun, lantas segera mencari-cari sosok Akheron yang seharusnya berdiri di sekitar sana. Namun seperti juga Sabina, ternyata tubuh Akheron juga tengah melayang sambil mengeluarkan cahaya putih.

Beberapa saat kemudian sosok pria tua itu memudar, digantikan dengan tampilan pemuda berambut emas yang sangat tampan.

"Selamat, Sabina. Kau sudah berhasil melewati ujian Hidup dan Mati. Kini kau berhak mendapatkan berkat dari Mata Air Akheron ini," ucap pria muda berambut emas tadi.

"Akheron…?" gumam Sabina masih mencerna keadaan.

Detik berikutnya, Sabina dan Akheron mendarat dengan lembut di lantai gua. Bola kaca berkilau juga jatuh ke dalam pelukan Sabina dengan lembut.

"Benar. Mata air ini adalah Mata Air Akheron. Aku adalah nimfa penjaga tempat ini. Seperti sebutannya, siapapun yang berhasil melewati ujian, akan mendapatkan berkat yang dia butuhkan. Mata air ini bisa memberi hidup abadi atau pun racun mematikan. Manakah yang kau pilih?" tanya Akheron yang kini berwujud pemuda tampan berambut emas.

"Eh… tapi kenapa wujudmu berubah?" tanya Sabina masih tampak

"Ini wujud asliku. Tapi kadang-kadang, kalau sedang bosan dengan ketampananku, aku ingin berubah menjadi sedikit… kurang tampan," jelas Akheron sambil mengangkat kepalanya dengan bangga.

"Oh… baiklah," ucap Sabina sambil mengangkat sebelah alisnya. "Jadi apakah aku sudah mendapatkan ikan mas beracun? Aku tidak melihat ikan apapun di dalam wadah kaca ini."

"Apa kau yakin akan memilih racun mematikan alih-alih air kehidupan? Air kehidupan bisa membuat manusia manapun hidup abadi," kata Akheron.

Tawaran Akheron membuat Sabina bimbang. Bila mendapat air kehidupan, ia bisa memberikannya pada Aiden agar dapat hidup bersama dengannya selama mungkin. Sabina bernar-benar tergoda dengan ide tersebut. Walau begitu Miangase mengatakan bahwa ia harus membawa ikan mas beracun, entah untuk apa. Sabina semakin tidak yakin akan apa yang harus dia pilih. Gadis itu menjadi sedih dan murung karenanya.

"Berikan padaku… ikan mas beracun," ucap Sabina kemudian.

Bagaimanapun, tujuan perjalanannya saat ini adalah untuk mencari silver bullet dan bukan hal lain. Sabina memaksa dirinya untuk tetap fokus pada tujuan tersebut.

"Baiklah kalau itu pilihanmu," ujar Akheron lantas melambaikan tangannya.

Gerakan itu lantas membuat wadah kaca yang dibawa Sabina kembali bersinar. Beberapa detik kemudian, seekor ikan mas muncul di dalam bola kaca tersebut, dengan sisik oranye cerah yang berkilau.

"Permohonanmu sudah dikabulkan," ucap Akheron.

Begitu selesai Akheron berucap demkian, dinding gua itu bergetar hebat hingga membuat Sabina kehilangan keseimbangan. Gadis itu oleng dan nyaris jatuh, namun kegelapan sekonyog-konyong datang melingkupinya. Ia kehilangan kesadaran.

Sabina mencoba membuka matanya. Cahaya matahari tampak menyilaukan, membuat matanya terasa pedih. Ia pun mengerjap beberapa kali, lantas menyadari bahwa tubuhnya tengah tergeletak di atas hamparan rumput di tanah lapang dekat hutan. Ia pun bangkit dan duduk sembari mengamati sekitar.

"Ini tempat aku berhenti dan menemukan mulut gua tadi," gumam Sabina lirih. "Apa yang terjadi?" lanjutnya sambil mengusap kepala.

Tiba-tiba Sabina melihat di sebelahnya, sebuah bola kaca seukuran buah kelapa tergeletak berkilauan. Buru-buru gadis itu meraihnya dan melihat seekor ikan mas yang berenang riang di dalamnya.

"Ini…" kata Sabina bergumam sambil mengedarkan pandangannya.

Tapi ia tidak bisa menemukan lagi mulut gua yang tadi dimasukinya. Padahal dia yakin bahwa tempat ini adalah tempat dimana ia pertamakali melihat gua tersebut. sekarang, tempat dimana seharusnya gua tadi berada, sudah berubah menjadi gua terjal bebatuan.

"Itu jelas bukan mimpi," desah Sabina sambil memeluk bola kaca berisi ikan mas beracun. Sabina sedikit menyesal karena ternyata gua itu tidak dapat didatangi lagi. Padahal ia berniat untuk kembali ke gua tersebut setelah perjalanan ini selesai. Ia ingin meminta air kehidupan untuk Aiden, agar kekasihnya tersebut bisa punya hidup yang lebih panjang.

Sayang sekali ternyata rencana tersebut sepertinya tidak bisa dilakukan. Gadis itu pun  bangkit berdiri. Sepertinya ia harus mengurungkan niatnya untuk berburu. Entah kenapa tubuhnya kini terasa begitu berenergi dan rasa laparnya sudah menghilang sama sekali. Mungkin efek air dalam cawan yang diminumnya tadi.

Bila benar Akheron adalah nimfa mata air tadi, itu artinya Sabina telah meminum air sihir yang merupakan bagian tubuh dari Akheron sendiri. Makanan atau minuman yang berasal dari nimfa memang terkenal memiliki efek sihir yang kuat, cukup bernutrisi bagi vampir seperti Sabina, meskipun sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.

Akhirnya, setelah merasa cukup baikan, Sabina pun melesat menuju tempat Aeron dan Nora berada. Ia harus member tahu mereka kalau ia sudah menemukan benda yang dicari. Setelah ini mereka bisa segera pergi ke tempat tujuan terakhir: Pegunungan Kematian. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!