Pegunungan Kematian

"Sabina!" seru Aiden sumringah melihat gadis itu datang.

"Aku menemukannya," ujar Sabrina sambil menunjukkan bola kaca yang dibawanya.

"Apa ini?" tanya Aiden menerima bola kaca yang disodorkan oleh Sabina.

"Ikan mas beracun. Mata Air Hidup dan Mati ternyata tidak disini. Ia ada di perut bukit, di balik air terjun itu." Sabina menceritakan keseluruhan pengalamannya bertemu dengan Akheron hingga mendapatkan bola kaca tersebut.

Nora dan Aiden tampak menyimak cerita Sabina dengan seksama. Saat Sabina sampai pada bahasan tentang air kolam yang melelehkan tubuhnya, Aiden meledak marah.

"Kenapa hal berbahaya seperti itu harus kau hadapi sendirian? Kau bisa memanggil kami untuk pergi bersama-sama," seru Aiden tampak sangat khawatir.

"Sekarang aku baik-baik saja. Gua itu menghilang setelah aku mendapatkan ikan mas ini. Aku tidak yakin kalau saat itu aku keluar dari sana dan mencari kalian lebih dulu, akankah gua itu tetap ada," ujar Sabina mencoba member alasan.

Aiden tetap tampak khawatir. "Lain kali kita harus pergi bersama untuk menghadapi situasi berbahaya semacam itu," sergahnya.

Sabina mengangguk pelan sambil tersenyum. Aiden belum pernah semarah ini sebelumnya. Ia tahu kalau pemuda itu marah karena rasa khawatirnya yang besar padanya. Hal itu sedikit membuat Sabina merasa senang.

"Apakah kita bisa melanjutkan perjalanan sekarang?" kata Nora kemudian.

"Sabina harus beristirahat dulu, Nora. Dia baru saja melalui kejadian sulit," sergah Aiden tegas.

"Oh, ayolah. Dia seorang vampir.  Lagipula ini sudah lewat tengah hari. Kita harus berangkat sebelum malam datang," keluh Nora.

"Benar, Aiden. Aku baik-baik saja. Air dari Akheron tadi sudah memberiku energi yang cukup," ucap Sabina mendukung pernyataan Nora.

"Tidak! Sekali tidak tetap tidak. Kalau perlu kita bermalam dulu disini. Kita bisa berangkat pagi-pagi nanti," seru Aiden tak terbantahkan.

Nora menggerutu panjang ketika akhirnya Sabina memilih untuk mengikuti keinginan Aiden. Ia kemudian terbang menjauh karena kesal. Sabina membiarkan Nora pergi sejenak untuk menenangkan diri. Ia mungkin juga perlu melihat-lihat area sekitar agar memudahnya perjalanan mereka besok pagi.

Sabina dan Aiden kini hanya tinggal berdua, duduk di depan air terjun yang mengeluarkan bunyi debum keras tanpa henti.

"Saat bertemu Akheron aku memikirkan banyak hal, Aiden," ucap Sabina kemudian.

"Apa itu?"

"Teka teki yang diberikan oleh nimfa itu. Penderitaan yang didambakan oleh semua orang, kehidupan. Bagiku, kehidupan ini seperti kutukan. Kami bangsa vampir dapat hidup ratusan tahun. Dan karena itu kami harus mengalami berbagai perpisahan menyedihkan dengan orang-orang terdekat di luar kaum kami," ucap Sabina.

"Apakah kau punya teman manusia lain selain aku?"

Sabina menggeleng. "Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Tapi setelah mengenalmu, aku sekarang menjadi takut, kalau suatu saat nanti kau meninggalkanku lebih dulu."

Aiden meraih tangan Sabina lantas menggenggamnya dengan erat. "Jangan pikirkan hal-hal yang buruk. Kita hanya perlu menikmati waktu kita saat ini," ucapnya mencoba menenangkan kegelisahan Sabina.

Tapi kesedihan Sabina sepertinya tidak mudah hilang. "Aiden, bagaimana kalau kau menjadi vampir sepertiku?"

Aiden tampak terperangah. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Sepanjang kehidupannya, Aiden tidak pernah punya hasrat untuk memiliki hidup abadi. Baginya, hidup dan mati adalah siklus yang paling rasional bagi manusia. Karena itu ia tidak pernah membayangkan dirinya untuk berubah menjadi makhluk lain selain manusia.

"Aku… aku tidak tahu, Sabina. Tapi akan kucoba memikirkannya mulai sekarang," ucap Aiden ragu-ragu.

Sabina hanya tersenyum masam mendengarnya.

"Lupakan saja. Maaf karena aku menanyakan hal yang aneh," kata Sabina kemudian.

"Tidak… bukan begitu. Aku tentu saja ingin bersamamu lebih lama. Aku juga mengerti tentang kekhawatiranmu. Karena itu aku akan mencoba mempertimbangkannya. Sesungguhnya itu bukan keputusan yang mudah, karena aku sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan vampir. Mungkin aku harus bersiap-siap untuk kehilangan rasa kantuk. Itu sensasi yang sulit dilupakan sejujurnya," kata Aiden mencoba berkelakar.

Sabina mendengus pendek. "Kau benar. Karena aku tidak pernah menjadi manusia, aku jadi tidak mempertimbangkan sudut pandangmu. Maafkan aku."

Aiden tersenyum hangat menanggapi. Pemuda itu lantas merengkuh Sabina ke dalam pelukannya. Sabina balas memeluknya. Masa depan bagi mereka sepertinya tidak akan mudah. Meski begitu Sabina memikirkan keluarganya yang juga memutuskan untuk hidup bersama manusia. Bahkan ibunya dulu juga seorang manusia. Valerie kakaknya juga bersama seorang penyihir manusia. Setidaknya masih ada harapan baginya dan Aiden di masa depan.

Malam turun dengan cepat. Nora datang tak lama setelah matahari terbenam. Meski masih kesal, tapi gerutuan Nora sudah tidak sepanjang sebelumnya. Ia hanya bergelung marah dan pura-pura tidur sambil menunggu pagi datang.

Tak lama kemudian pagi pun menjelang. Sabina yang terjaga seorang diri mulai membangunkan Nora dan Aiden. Ia rasanya ingin cepat-cepat menuntaskan perjalanan itu dan kembali ke rumah mereka yang nyaman. Entah kenapa perasaannya memburuk sejak kemarin.

Aiden mengerang pelan saat bangun, sementara Nora menggeliat meregangkan tubuhnya. Setelah sarapan sejenak, akhirnya rombongan itu pun melanjutkan perjalanan. Karena sudah tidak ada tempat yang perlu disinggahi lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan jalur udara untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Dengan satu jejakan kuat, Sabina dan Nora melesat terbang. Aiden seperti biasanya menunggang di punggung Nora yang sudah berubah menjadi griffin. Pemandangan dari atas menampakkan hutan homogeny yang jarak pohonnya sangat renggang. Pegunungan kematian sudah terlihat di ujung barat. Semakin dekat ke pegungungan, semakin jarang pepohonan yang tumbuh.

Bahkan di area sekitar pegunungan kematian itu, hanya tampak pemandangan tanah kering berwarna hitam. Mereka terbang mengitar selama beberapa saat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Satu-satunya gerakan adalah bumbungan asap di puncak gunung yang tertinggi.

"Kita mendarat dimana?" tanya Nora.

Sabina menatap keseluruhan pegunungan itu. Mata vampir nya mendpati sebuah ceruk besar yang ada di salah satu dinding pegunungan terbesar.

"Ikuti aku," seru Sabina lantas melesat menuju ceruk yang serupa gua raksasa tersebut.

Nora mengikuti gadis itu. Keduanya terbang rendah lantas mendarat di atas tanah landai di depan ceruk. Hawa panas langsung menerpa mereka, serasa membakar tubuh dengan suhu di atas normal. Sabina mengatupkan sayapnya lantas kembali mengubah wujudnya menjadi sosok gadis cantik. Nora turut berubah menjadi singa besar setelah Aiden turun dari punggungnya.

"Akheron bilang kita harus menghadapi seekor naga disini. Apakah kita harus mencarinya lebih dulu?" tanya Sabina sambil berpikir.

"Memangnya zaman sekarang masih ada naga?" komentar Nora sangsi.

"Aku juga baru mendengarnya," sahut Aiden.

"Kita tidak tahu. Petunjuk yang diberikan Akheron adalah tentang harta karun naga. Katanya silver bullet itu teronggok bersama harta karun lainnya," kata Sabina kemudian.

"Kalau begitu lebih baik kita fokus untuk mencari harta karun itu lebih dulu," usul Aiden.

"Lalu apa gunanya benda-benda itu?" tanya Nora sambil memperhatikan teko emas, bola kaca berkilau dan pedang naga yang dibawa oleh Aiden.

"Entahlah. Kita mungkin bisa tahu setelah mencoba mencari harta karun itu. Atau menemukan naga. Entah yang mana lebih dulu terjadi. Kalau menurut legenda, harta karun naga biasanya tersembunyi dalam gua labirin di dalam lambung pegunungan. Masalahnya gua semacam itu punya banyak jalan bercabang yang bisa membuat orang tersesat. Belum lagi kemungkinan naga kuat yang tinggal di dalamnya," terang Aiden.

"Jangan khawatir soal labirin. Aku dan Sabina punya kemampuan navigasi yang bagus," ungkap Nora.

"Kalau begitu ayo kita coba masuk. Sepertinya ini pintu ke sarang naga," lanjut Aiden diikuti anggukan dari Sabina dan Nora. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!