Aiden masih berjalan tanpa Arah. Dia tidak punya apa-apa kecuali sebungkus roti kering dan teh. Jaket hitam yang dipakainya sudah kusut dan robek dibeberapa bagian. Sepatunya juga sudah cukup aus dan solnya hampir habis. Ia kemudian duduk di sebuah trotoar gang buntu yang sepi. Dibukanya bungkusan roti kering yang ia simpan di saku jaketnya. Ia pun kembali teringat pada Sabina.
"Gadis yang sangat cantik dan baik hati. Aku beruntung bertemu dengannya," pikirnya sambil kembali membayangkan Sabina. Ia pun berusaha keras menahan keinginannya untuk kembali ke rumah Sabina.
Setelah menghabiskan rotinya yang kedua, Aiden mengambil termos kecilnya yang berisi teh. Sayangnya, teh itu sudah menjadi dingin. Aiden menghela nafas pendek. Ia kemudian menjenjentikkan jarinya dan tiba-tiba api menyala di tangannya! Termos itu digenggamnya selama beberapa saat. Selanjutnya ia kembali menjentikkan jarinya yang penuh api dan seketika api itu padam. Teh itu pun sudah hangat lagi.
Dengan tenang, seakan tak terjadi apa pun, Aiden meminum teh yang sudah hangat itu. Dan sensasi yang terjadi sore tadi terulang kembali.
"Teh ini sungguh luar biasa. Aku bisa merasakan sihir di dalamnya. Tapi belum pernah aku menemukan teh semacam ini di Selatan," pikir Aiden lagi.
Tapi meskipun sudah meneguk teh tersebut, rasa kantuk Aiden tetap tidak bisa hilang. Karena itu ia mulai mengepak roti dan termosnya kemudian berdiri dan menggelar sebuah kain. Sementara ia memejamkan mata, ia menjentikkan jarinya lagi dan sekejap kain itu berubah menjadi kasur yang empuk dan siap ditiduri. Aiden pun menjatuhkan tubuhnya di kasur dan tidur dengan cepat.
***
Suara bis dan orang-orang yang berjalan di ujung gang yang lain membangunkan Aiden dari tidurnya yang pulas. Dengan kaget Aiden terbangun. Selama beberapa saat Aiden hanya terduduk setengah terkantuk-kantuk.
"Aku benci bangun pagi!" ratap Aiden mengusap matanya yang tidak mau terbuka.
Setelah mengumpulkan sedikit tenaga, ia pun berdiri dan melakukan sedikit peregangan tubuh. Kemudian ia berbalik menghadap ujung gang yang tampak ramai dilewati orang. Dia mencabut sebuah tongkat kayu pendek dari dalam sakunya dan mengacungkannya ke ujung gang tersebut.
Ia lantas berbisik pelan. "Sekarang tidak ada orang yang bisa melihatku," ucapnya kemudian menjetikkan jari dan mengubah kasur yang dipakainya tidur menjadi selembar kain lagi.
Setelah mengepak barang-barangnya dan memakan beberapa kue kering sambil minum teh, Aiden kembali berjalan. Sudah hampir seminggu ia berjalan, tapi sama sekali belum ia temukan letak benda yang ia cari. Dia pun tidak tahu kemana harus mencarinya karena informasi yang ia dapat hanya sebatas benda yang ia cari ada di Hoclem, kota yang didatanginya ini, tanpa ada perincian siapa yang memegangnya.
"Seharusnya darah Catbonesku bisa merasakan keberadaan benda itu, dan tongkat sihirku akan bereaksi bila benda yang kucari ada di dekatnya. Tapi sampai sekarang kedua tanda itu belum terjadi juga," keluh Aiden putus asa.
Ia kemudian berjalan mengikuti instingnya ke arah timur kota. Di sana ia dapati sebuah bar kecil yang ramai disesaki orang. Berharap mendapat informasi lebih, ia pun masuk ke dalam bar tersebut, sekedar duduk-duduk dan minum dari bekalnya sendiri. Beruntung di kota ini, bar memang tidak mengharuskan pengunjungnya memesan, bar hanya semacam tempat banyak orang berkumpul.
Setelah mendapat tempat duduk yang nyaman, Aiden membuka bungkusan kue keringnya dan mulai makan. Didengarnya hiruk pikuk orang yang ramai berbicara, kebanyakan membicarakan berita seorang walikota yang mengilang dua minggu yang lalu.
"Polisi saja sama sekali tidak menemukan pelaku yang dicurigai," kata seorang pria berkumis dan berjanggut tebal.
"Jangan-jangan memang Wali Kota tengik itu pergi melarikan diri setelah ia terbukti menggelapkan uang pembangunan Jembatan Panjang?" sahut pria lain berrambut coklat muda.
"Aku sih senang-senang saja dia menghilang. Toh kejahatannya memang sudah tak termaafkan lagi. Kandidiat Wali Kota yang baru sepertinya lebih baik," kata pria ketiga yang badannya jauh lebih kecil dari dua temannya.
"Tapi karena dia menghilang, kasus penggelapan uang Jembatan Panjang tidak bisa diselesaikan," balas pria berambut coklat lagi.
"Gampang saja. Tinggal menyita hartanya yang sekarang dan menggunakannya untuk meneruskan proyek Jembatan Panjang," kata pria yang paling kecil.
"Katanya terakhir kali orang melihatnya, dia sedang berjalan-jalan di sekiter Hoodale St, dekat rumah kecil berwarna ungu itu." kata pria berjanggut.
"Rumah gadis itu, Sabina?" pikir Aiden lebih menajamkan telinganya.
"Benar. Semenjak rumah itu berdiri, banyak kejadian aneh yang terjadi di kota ini. Masih ingatkah kalian, tiga hari yang lalu sepasang suami istri mati mengenaskan dan mayatnya ditemukan di jalan depan rumah itu?"
"Ya aku ingat, suami istri Derk itu, yang tubuhnya tercabik-cabik."
"Lalu sebulan yang lalu, serombongan anak muda mati dengan kasus yang sama dan ditemukan tak jauh dari tikungan dekat rumah itu juga."
"Tapi polisi tidak pernah menemukan kesalahan dari gadis pemilik rumah itu. Tidak ada bukti gadis itu pembunuhnya. Lagipula dia sangat cantik. Tidak mungkin seorang gadis cantik dan baik hati seperti dia melakukan pembunuhan sekeji itu."
"Jangan tertipu oleh wajah cantik seorang perempuan. Bagaimanapun aku tidak suka dengan orang itu! Banyak kejadian mengerikan terjadi di sekitar rumahnya."
Aiden terdiam mendengar percakapan ketiga pria itu. Memang bukan informasi mengenai benda yang dicarinya, tapi ia tetap merasa terkejut. Meskipun gadis yang diceritakan pria-pria itu baru pertama kali ia temui, ia tetap merasa sangat marah karena mereka menganggap gadis itu jahat. Gadis sebaik Sabina tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu!
***
"Pagi yang cerah Nora! Bangunlah!" seru Sabina mebuka tirai-tirai jendela rumahnya. Ia kemudian menuju dapur dan mengambil senampan roti.
Nora terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan matanya. Setelah puas menggeliat, Nora melompat turun dari sofa dan berjalan ke dapur mencari makanan yang biasa disiapkan Sabina untuknya. Begitu sampai di dapur, dilihatnya Sabina tergesa-gesa pergi membawa nampan penuh berisi roti madu.
"Mau kemana?" tanya Nora singkat.
"Aku mau ke rumah sebelah mengantarkan roti madu yang baru saja kubuat. Harus kuantarkan sebelum dingin," jawab Sabina melangkah keluar.
"Kau masih saja suka repot-repot mengurusi manusia," kata Nora menyeruput susu yang sudah ia temukan di bawah meja makan.
"Aku kan hidup di tengah manusia, jadi aku juag harus menjadi seperti mereka. Dah Nora, aku akan segera pulang," kata Sabina yang langsung pergi menginggalkan rumah.
Dengan riang Sabina menuju rumah tetangga sebelahnya. Rumah itu sedikit lebih besar dari rumah Sabina dan bercat putih. Di sana tinggal seorang wanita separuh baya, Maria, bersama cucu laki-lakinya yang berusia 6 tahun, Kelly. Mereka sangat ramah semenjak Sabina pindah ke kota itu.
Begitu sampai di depan pintu rumah, Sabina memencet bel yang langsung berdentang nyaring. Beberapa saat kemudian Maria membuka pintu rumahnya dengan senyuman terkembang.
"Ah, Sabina.. senang melihatmu lagi. Salakan masuk," kata Maria ramah.
"Terimakasih. Aku mengantarkan Kue madu yang baru saja kubuat. Aku takut kue ini menjadi dingin. Karena itu aku segera kemari meski hari masih pagi," jawab Sabina masuk ke dalam rumah.
"Luar biasa. Kau memang pandai memasak. Aku bersyukur kau menjadi tetanggaku," ujar Maria menerima nampan Sabina dan membawanya masuk ke dapurnya. Tak lama kemudian Maria keluar dengan Kue madu sudah berada di pring yang cantik.
"Kelly sudah berangkat sekolah. Kau terlambat membawa kue ini," kata Maria kemudian.
"Ah, sayang sekali Kelly tidak bisa merasakan kue ini saat masih hangat. Tapi meskipun sudah dingin, kue ini tetap enak kok, walaupun tak seenak saat masih hangat."
"Aku percaya," jawab Maria tersenyum. "Ah, kemarin kulihat kau bersama seorang pria minum teh bersama?" tanya Maria kemudian.
"Dia temanku dari jauh dan tiba-tiba datang ke rumahku," jelas Sabina menyembunyikan kenyataan sesungguhnya.
"Begitukah? Kulihat dia cukup tampan, meski sedikit berantakan. Kenapa tak kau undang dia bermalam di rumahmu?"
"Tidak. Dia ada urusan di tempat lain."
"Oh ya? Tapi sepanjang pagi ini aku melihatnya mondar-mandir di depan rumahmu. Tampaknya ia ingin datang lagi tapi khawair kau masih tidur."
Sabina sangat terkejut. Bagaimana mungkin ia tidak merasakan aura manusia berada di dekat rumahnya? Kecuali orang itu bisa menyembunyikan auranya. Sabina semakin yakin bahwa Aiden, laki-laki yang ditemuinya kemarin, bukan 'sekedar' manusia. Setelah mendengar kabar itu, Sabina bergegas pulang, dengan alasan lupa memberi makan Nora. Akhirnya Maria merelakannya pulang dibekali ucapan terimakasih atas kue madu yang diberikan Sabina.
Sesampainya di rumah, Sabina menghampiri Nora yang bergelung malas di sofa. Sabina lalu merebahkan tubuhnya di samping Nora dengan terengah-engah.
"Tidak biasanya kau berlari sampai terengah-engah seperti itu," kata Nora tanpa memandang Sabina.
"Nora... kau tahu? Aiden? Laki-laki yang kemarin datang kemari? Kata Maria ia berada di dekat rumah kita dari pagi." Jelas Sabina masih terengah-engah.
"Aku tahu? Masa kau tidak menyadarinya?"
"Hah? Kau tahu? Aku sama sekali tidak merasakan auranya. Jangan-jangan kekuatanku melemah!" kata Sabina mulai histeris dan berjalan mondar-mandir di depan Nora.
"Tidak. Aku juga tidak merasakan auranya. Kurasa ia sengaja menyembunyikan auranya."
"Sungguh? Berarti dia bukan manusia!"
"Jangan ketakutan bagitu. Dia tidak akan menyakitimu."
"Oh ya? Bagaimana bila dia teman Wolfank si serigala brengsek itu?"
"Manusia serigala tidak bisa menyembunyikan auranya. Kurasa dia penyihir."
"Penyihir?! Memangnya kenyataan itu bisa membuatku lebih aman tinggal di sini berlama-lama? Dan untuk apa dia mengawasi rumahku seharian?"
"Belum seharian. Baru pagi ini saja. Kenapa kau jadi paranoid begitu? Bukannya kau sendiri yang memutuskan untuk keluar dari keluarga Rickle dan tinggal di sini? Kelakuanmu itu mempermalukan darah bangsamu. Kau seharusnya lebih tenang dan sedikit punya harga diri untuk tidak merasa ketakutan."
"Tenang? Di saat nyawaku terancam? Aku sudah cukup gila dengan mayat-mayat di sekitar rumahku. Serigala busuk itu telah membuatku cukup kesulitan."
"Siapa tahu penyihir itu bisa membantumu. Lagi pula kau sendiri yang kemarin mengundangnya kemari."
"Ya. Dan aku menyesal sekarang."
***
Hampir tengah hari ketika Aiden memutuskan pergi meninggalkan rumah Sabina. Ia merasa tidak ada gunanya berada di situ, meskipun entah kenapa. ia sangat mengkhawatirkan gadis itu.
Aiden sangat heran terhadap dirinya sendiri yang mengkhawatirkan gadis yang baru pertama kali ia temui dan sama sekali tidak ia kenal.
Padahal keadaannya sendiri jauh lebih buruk daripada Sabina dan seharusnya lebih ia khawatirkan. Tapi, instingnya berkata bahwa benda yang ia cari memang ada hubungannya dengan Sabina. Terlebih Sabina bisa membuat teh yang penuh sihir, yang bahkan bangsa penyihirnya sendiri tidak bisa membuatnya. Pertemuannya dengan Sabina kemarin memang bukan kebetulan.
Tapi alasannya itu tidak cukup kuat untuk menahannya berada di depan rumah orang yang tidak ia kenal. Meskipun ia sudah menggunakan mantra penghilang, rasanya bukan tidak mungkin Sabina melihatnya dan mengira dirinya berbahaya – memang itu yang terjadi –. Karena itu Aiden kembali berjalan menyusuri kota untuk meneruskan perjalanannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments