Kedatangan orang asing mengundang perhatian dari para penduduk kota. Sabina dan Aiden disambut dengan tatapan penasaran dari orang-orang yang mereka lewati. Memanfaatkan hal tersebut, Aiden mencoba mendekati salah seorang pria terdekat yang tengah mengangkut balok-balok kayu di depan sebuah rumah batu tua.
"Permisi, apakah kota ini betul Kota Kelam Terlarang?" tanya Aiden.
Tapi bukannya menjawab, pria itu justru tampak marah dan terganggu. Dengan kesal pria itu kembali mengangkat balok kayu besar di punggungnya, lantas berlalu pergi tanpa menjawab. Aiden melongo bingung dengan tindakan tidak ramah itu, namun ia belum menyerah. Ia lantas mendatangi orang lain lagi yang berada di dekat sana. Sayangnya kejadian itu berulang. Orang itu bahkan berlalu sebelum Aiden sempat mengatakan apa-apa.
"Semua orang tampaknya menghindari kita," ucap Aiden pada Sabina. "Mereka hanya mengamati kita dari jauh dan menolak didekati," lanjut Aiden.
Sabina mengedarkan pandangannya untuk melihat mata orang-orang yang menatapnya. Tidak satupun dari mereka berwajah ramah, seolah Sabina dan Aiden adalah tamu yang tak diundang.
"Coba kita susuri dulu kota ini," kata Sabina memutuskan.
Aiden pun menurut. Keduanya berjalan mengelilingi tempat itu. Setapak batu menjadi penghubung jalanan di kota. Semua bangunan di sana terbuat dari batu abu-abu dengan atap kayu yang tampak sudah usang. Di tengah kota terdapat sebuah tanah lapang dengan sumur besar yang sudah terlihat tua. Sisi-sisi sumur itu dipenuhi jarring laba-laba.
Entah kenapa Sabina tertarik untuk melihat sumur itu lebih dekat. Ia berjalan membelah lapangan menuju sumur tua itu. Orang-orang yang di sekitar sana memandanginya dan kini mulai berbisik-bisik aneh. Tiba-tiba tangan Sabina dicengkeram oleh seseorang. Sabina menoleh dan melihat seorang perempuan paruh baya menatapnya dengan tajam.
"Ikut aku," kata perempuan itu.
Sabina yang kebingungan menoleh pada Aiden. Pemuda itu memberi isyarat anggukan pada Sabina, menyuruhnya untuk mengikuti si perempuan paruh baya itu. Sabina menurut. Mereka pun berjalan bersama mengikuti perempuan tadi.
Sabina dan Aiden ternyata dibawa masuk ke dalam gang-gang sempit di kota itu. Jalanan yang mereka lewati beraroma tak sedap dan juga sangat gelap karena cahaya matahari terhalang oleh bangunan di kanan kirinya. Setelah beberapa saat berjalan, perempuan itu kemudian berhenti di sebuah rumah batu kecil di sudut gang. Pintu kayunya terlihat usang dan sedikit reot. Perempuan itu pun membukanya, lantas menyuruh Sabina dan Aiden masuk ke dalam.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di kota ini?" sergah perempuan paruh baya itu setelah menutup pintu.
"Namaku Aiden, dan ini Sabina. Kami berasal dari kota di timur hutan Centaur. Kami sedang dalam perjalanan mencari Kota Kelam Terlarang," kata Aiden menjelaskan.
"Kita tidak menyebut desa ini dengan nama itu. Hanya orang-orang luar yang menyebut tempat ini seperti itu. Apa kau tahu kenapa mereka menyebutnya Kota Kelam Terlarang?" sergah perempuan tua itu.
Sabina dan Aiden terdiam tak bisa menjawab. Aiden hanya menggeleng pelan menanggapi.
"Itu karena kota ini terlarang dikunjungi oleh orang luar. Apa yang sebenarnya kalian cari di sini?" Perempuan itu kembali bertanya.
"Kami… eh… membutuhkan ratapan banshee…?" kata Aiden tidak yakin. Ia sendiri tidak tahu apakah hal semacam itu bisa 'diambil'. Bukankah ratapan itu semacam suara? Bagaimana cara mengambil suara dan menyimpannya dalam teko emas. Aiden bahkan tidak punya teko emas.
Perempuan itu tampak terkejut saat mendengar kata-kata Aiden, namun beberapa saat kemudian ekspresinya melembut. Ia lantas melepaskan syal hijau yang terkalung di lehernya, lalu beranjak duduk di meja kayu usang di ruangan tersebut.
"Duduklah kalian," kata perempuan itu, kini dengan nada bicara yang lebih ramah.
Sabina dan Aiden pun menurut. Mereka duduk mengelilingi meja kayu, sementara Nora turun dari pelukan Sabina kemudian bergelung nyaman di kain alas depan pendiangan.
"Sudah lama tidak ada pendatang yang mengatakan hal tersebut," ungkap perempuan itu. "Namaku Roberta, aku adalah salah satu dari sedikit penduduk tua yang masih bertahan di kota ini. Riverdale. Itulah nama kota ini sebenarnya. Dulunya kota ini penuh penduduk dan banyak wisatawan yang datang kemari karena kami memiliki sumur permohonan di tengah alun-alun."
"Sumur permohonan? Apakah yang tadi hendak kudatangi?" tanya Sabina membuka suara.
Roberta mengangguk. "Sumur itu merupakan keajaiban di kota ini. Dulunya air di dalam sumur itu dapat menyembuhkan segala penyakit dan racun. Lalu siapapun yang memanjatkan permohonan di sana juga akan terkabul. Sumur itu seperti anugerah bagi kami. Meski begitu, penduduk kota ini tidaklah tamak. Kami hanya menggunakan sumur itu sewajarnya, hanya di saat-saat sangat genting dan tak ada harapan. Selebihnya kami selalu merawat sumur itu dan membiarkannya menjadi ikon kota ini.
"Sayangnya keadaan tidak selamanya menyenangkan. Kabar tentang sumur itu diketahui oleh pendatang dan orang luar. Mereka semua berbondong-bondong datang ke kota ini dan mulai menguras habis anugrah di dalam sumur. Permohonan-permohonan mereka pun lambat laun merupakan permohonan yang jahat dan mengandung kebencian. Sejak saat itu, sumur permohonan kami mulai berubah.
"Sumur itu tidak lagi memiliki air jernih. Setiap kali kami mengambil airnya, hanya lumpur dan kotoran yang didapat. Selain itu, setiap malam sumur itu mulai mengeluarkan suara tangisan yang memilukan hati. Beberapa orang dilaporkan hilang setiap suara itu muncul. Awalnya hanya beberapa pendatang, lambat laun begitu banyak orang hilang di sekitar sumur, termasuk para penduduk kota.
"Sejak saat itu kota kami dikenal sebagai Kota Kelam Terlarang. Tidak ada lagi pendatang yang berani kemari. Pun kami para penduduk mulai mewaspadai setiap pendatang karena kenangan buruk akan ketamakan mereka hingga merusak sumur permohonan kami," jelas Roberta panjang lebar.
Aiden dan Sabina memperhatikan penjelasan itu dengan seksama. Mereka tidak pernah tahu bahwa kota tua ini ternyata memiliki sejarah kelam yang menyedihkan.
"Apakah suara tangisan dimalam hari itu adalah ratapan banshee?" tanya Aiden kemudian.
"Benar sekali. Entah sejak kapan sumur itu dihuni oleh banshee. Ada yang mengatakan kalau peri penjaga sumur telah ternggelam dalam kegelapan karena begitu banyaknya permohonan jahat yang dibuat di sana. Ada juga yang mengatakan bahwa banshee itu adalah jiwa-jiwa orang yang mati dengan tidak adil akibat permohonan dari orang-orang jahat di depan sumur. Tak ada yang tahu pasti, tapi yang jelas kini kota kami dihantui banshee setiap malam. Tidak ada satu orang pun yang berani keluar di malam hari," terang Roberta.
"Kalau begitu bagaimana cara mendapatkan ratapan banshee itu? Kami bahkan harus menyimpannya dalam sebuah teko emas," tanya Aiden mencari saran.
"Aku tidak tahu, anak muda. Tapi kata-katamu seperti membawa harapan padaku. Kalian mungkin saja bisa mengentikan hantu gentayangan itu. Bukankah kalian datang kemari untuk memburunya?" Roberta balik bertanya.
"Itu… eh…" jawab Aiden gagap.
"Tentu saja. Kalau kami harus memburunya, kami akan melakukannya," sergah Sabina kemudian. Entah bagaimana pun caranya, Sabina yakin akan segera menemukannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments