Tak terasa sudah dua Minggu Qiya dan Cita di Kabupaten itu X untuk menjalani internship. Pagi itu putri Ayra itu dan Cita sengaja menyewa sepeda warga karena mereka ingin menikmati pemandangan di pagi hari. Karena ketika mereka berangkat kesana. Mereka bisa melihat pemandangan padi yang begitu hijau. Hal itu memanjakan setiap mata yang memandang.
Sepasang sahabat itu pun beriringan mengayuh sepeda itu. Sesekali mereka akan saling mendahului. Sungguh persahabatan yang begitu indah. Orang yang tak mengerti keyakinan Cita tak menyangka jika ia non muslim. Bahkan teman satu kelas ketika kuliah melongo tak percaya ketika melihat beranda medsos dokter itu ketika hari raya. Mereka menyangka ia muslim karena ketika di kampus bisa di katakanlah dimana ada Qiya, disitu ada Cita.
Saat tiba di tempat yang cukup ramai. Cita yang merasa mereka sudah cukup jauh bahkan sudah melewati satu desa dari desa mereka. Ia merasa lapar.
"Qiy... cari sarapan yok. Lapeerrr..." Suara Cita seraya memelas.
"Ya sudah coba berhenti di sana siapa tahu ada yang bisa kita beli untuk mengganjal lapar." Ucap Qiya sambil mengayuh sepedanya sedikit lebih cepat ke arah orang yang berjualan.
Mereka memarkirkan sepeda mereka di tepi penjual yang terlihat cukup kewalahan melayani pembeli. Qiya pun menarik lengan Cita untuk duduk di bangku yang ada di belakang tukang nasi uduk.
"Duduk saja dulu. Biar antri." Pinta Qiya yang telah duduk di bangku kayu yang cukup panjang.
Qiya sedikit berbisik ke arah Cita. Ia meminta sahabat nya agar bisa makan nasi uduk di sana.
"Makan disini saja ya Qiy. Cacing di perut ku sudah terlanjur demo." Ucap Cita sambil memegangi perutnya.
Qiya tersenyum. Ia hapal betul jika sahabatnya itu bukan tipe yang kuat menahan lapar. Bahkan ia bisa membaca novel online atau mengerjakan tugas sambil memakan banyak Snack.
Saat mereka menunggu pesanan mereka. Tiba seorang perempuan yang turun dari mobil. Perempuan itu adalah Nur. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Qiya. Pagi itu ia sangat ingin makan nasi uduk. Maka ia berinisiatif keluar bersama asisten rumah tangganya untuk mencari nasi uduk. Ia meminta asisten rumah tangganya menuggu di sisi penjual nasi uduk.
Dia yang melihat sosok Qiya. Cepat menemui dokter yang tak lain kakak iparnya. Ada rasa sayang pada saudara suaminya. Wajah yang sedikit mirip Ibrahim membuat Nur merasakan sedikit melepas rasa rindu pada wajah yang tak bisa ia tatap satu bulan ini.
"Assalamualaikum..." Ucap Nur pelan.
Qiya dan Cita menoleh. Qiya tersenyum pada Nur.
"Wa'alaikumussallam. Mbak..... Nur Hasanah?" jawab Qiya dengan sedikit mengingat perempuan yang ada di depannya.
"Wah dokter masih mengingat saya?" Ucap Nur kagum. Padahal tanpa ia bertanya pun. Ia bisa menilai dari penampilan dan cara berbicara jika kakak suaminya itu memiliki kecerdasan.
"Alhamdulilah saya masih mengingat. Mbak Nur disini rumah nya?" Tanya Qiya.
"Ia di ujung perbatasan desa. Pagi ini lagi ingin sekali makan nasi uduk. Dan seprtinya kita kembali berjodoh. Boleh saya ikut makan disini?" Tanya Nur.
Qiya dan Cita menjawab kompak.
"Boleh dong." ucap dua dokter muda itu.
Namun saat Nur kembali ke arah asisten rumah tangganya. Ia setengah bersembunyi dari pandangan Qiya. Ia tak ingi.Anak Ayra itu melihat dirinya dan bertanya tentang perihal ia bekerja sebagai asisten Nur. Qiya tentu mengenal dirinya. Karena ia cukup lama bekerja di kediaman Rafi dan Aisha. Anak-anak Ayra sering bermain dengan Bilqis anak majikannya.
"Aduh Non... Maaf kita makan dirumah saja. Ini bahaya. Pak Bram sudah pesan sama saya." Ucap perempuan paruh baya itu. Namun Nur tersenyum. Ia tahu jika asistennya khawatir jika dirinya bertemu Qiya. Melihat sang asisten rumah tangga yang terlihat gelisah ia pun kembali ke arah Qiya dan Cita yang asyik menikmati nasi uduk dan teh hangat.
"Maaf sepertinya asisten suami saya tidak mengizinkan untuk makan disini. Saya makan dirumah saja. Maaf ya Dok..." Ucap Nur pelan lalu pergi meninggalkan satu pasang sahabat itu.
Nur mengambil pesanannya. Ia pun meninggalkan warung nasi uduk itu. Namun selepas kepergian Nur. Tanpa penjual nasi uduk sadari jika asisten rumah tangga Nur meninggalkan ponselnya tepat di tempat ia duduk tadi.
"Wah kunci rumahnya sepertinya yang ketinggalan ini." Ucap penjual nasi uduk itu.
Mereka pun menawarkan diri untuk mengantar kunci itu kekediaman Nur. Setibanya di sebuah Vila cukup mewah membaut Qiya menganga dan tak percaya.
"Wowow... Ada vila bagus dan mewah kek gini di tengah desa dan perkebunan ya Qiy." Ucap Cita.
Qiya hanya tersenyum. Ia pun mengajak sahabat nya untuk masuk. Mereka telah di hadang oleh satpam yang bertugas di kediaman Nur.
"Maaf mbak. Mau bertemu siapa? Dan ada perlu apa?" Tanya sang satpam.
Cita pun menyatakan apa yang menjadi maksudnya. Lalu sang satpam pun menghubungi pemilik vila itu melalui interkom. Mereka pun diperbolehkan masuk. Setibanya di dalam ruangan depan. Mereka disambut pemilik vila itu.
"Dokter Qiya..." Ucap Nur tak percaya.
"Ini Mbak. Saya mau kembalikan benda yang tertinggal. Kami pikir kunci rumah. Jadi kami antar kemari." Ucap Qiya.
Ia menyerahkan kunci yang di ikat dengan sebuah mainan kunci. Mereka pun berbicara saling berbagi pengalaman. Cita pun merasa senang karena mendapatkan makanan lagi alias puding yang diberikan Nur. Sang asisten yang tak tahu jika tamunya adalah Qiya. Kaget setengah mati, ketika ia membawa nampan yang berisi dua gelas jus dan satu puding.
Qiya yang melihat asisten Aisha itu sedikit mengerutkan dahinya.
"Mbok... " Ucap Qiya sambil penasaran.
"Eh... Non Qiya... Wah kok bisa sampai disini?" Tanya asisten Rumah tangga Nur.
Tangannya terlihat sedikit gemetar. Ia pun menyerahkan minuman dan puding itu ke arah tamunya.
"Saya internship disini. Mbok sendiri?" Tanya Qiya cepat.
"Owh... ini keponakan saya... jadi saya berhenti dari tempat Bu Aisha." Ucap Asisten rumah tangga Nur itu.
Saat mereka selesai berbincang mereka pun berpamitan. Namun satu hal yang mengganggu Qiya. Parfum yang di gunakan Nur sama persis dengan parfum Ayra dan Bram. Dan Qiya sedikit mengerutkan dahinya saat pipinya menempel pada pipi Nur.
"Kenapa aromanya bisa mirip sama aroma Parfum Mama dan Papa?" Tanya dirinya dalam hati.
Nur yang suka dengan aroma Ayra. Ia meminta sang ibu mertua membelikannya parfum itu. Namun seketika otaknya yang pintar itu kembali teringat akan percakapan Beberapa perawat yang .beberapa hari dulu berbicara tentang Nur. Perawat yang merupakan tetangga Nur itu mengatakan jika Nur adalah simpanan pengusaha sukses di kota.
"Astaghfirullah.... Qiy... jangan berpikir yang tidak-tidak. Semua orang bisa membeli parfum yang sama. Papa mu tak mungkin serendah. Papa begitu mencintai Mama. Maka tak mungkin Papa berpaling apalagi sampai mendua." Qiya kembali bermonolog di dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Muammanatul Khoir
Saya penasaran kk, kira2 parfum apa yang biasa dipakai ayra dan bram???
2023-10-13
4
AFie YoGie's
apanya yg dibuat thor.. hihi
2023-07-23
1
Laila Atstanie
masyaallah karya autor semoga selalu membawa kebaikan untik semua pembacanya amin
sehat selalu thor
2023-02-07
4