20 Hati Qiya Yang Terusik

Tak terasa sudah dua Minggu Qiya dan Cita di Kabupaten itu X untuk menjalani internship. Pagi itu putri Ayra itu dan Cita sengaja menyewa sepeda warga karena mereka ingin menikmati pemandangan di pagi hari. Karena ketika mereka berangkat kesana. Mereka bisa melihat pemandangan padi yang begitu hijau. Hal itu memanjakan setiap mata yang memandang.

Sepasang sahabat itu pun beriringan mengayuh sepeda itu. Sesekali mereka akan saling mendahului. Sungguh persahabatan yang begitu indah. Orang yang tak mengerti keyakinan Cita tak menyangka jika ia non muslim. Bahkan teman satu kelas ketika kuliah melongo tak percaya ketika melihat beranda medsos dokter itu ketika hari raya. Mereka menyangka ia muslim karena ketika di kampus bisa di katakanlah dimana ada Qiya, disitu ada Cita.

Saat tiba di tempat yang cukup ramai. Cita yang merasa mereka sudah cukup jauh bahkan sudah melewati satu desa dari desa mereka. Ia merasa lapar.

"Qiy... cari sarapan yok. Lapeerrr..." Suara Cita seraya memelas.

"Ya sudah coba berhenti di sana siapa tahu ada yang bisa kita beli untuk mengganjal lapar." Ucap Qiya sambil mengayuh sepedanya sedikit lebih cepat ke arah orang yang berjualan.

Mereka memarkirkan sepeda mereka di tepi penjual yang terlihat cukup kewalahan melayani pembeli. Qiya pun menarik lengan Cita untuk duduk di bangku yang ada di belakang tukang nasi uduk.

"Duduk saja dulu. Biar antri." Pinta Qiya yang telah duduk di bangku kayu yang cukup panjang.

Qiya sedikit berbisik ke arah Cita. Ia meminta sahabat nya agar bisa makan nasi uduk di sana.

"Makan disini saja ya Qiy. Cacing di perut ku sudah terlanjur demo." Ucap Cita sambil memegangi perutnya.

Qiya tersenyum. Ia hapal betul jika sahabatnya itu bukan tipe yang kuat menahan lapar. Bahkan ia bisa membaca novel online atau mengerjakan tugas sambil memakan banyak Snack.

Saat mereka menunggu pesanan mereka. Tiba seorang perempuan yang turun dari mobil. Perempuan itu adalah Nur. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Qiya. Pagi itu ia sangat ingin makan nasi uduk. Maka ia berinisiatif keluar bersama asisten rumah tangganya untuk mencari nasi uduk. Ia meminta asisten rumah tangganya menuggu di sisi penjual nasi uduk.

Dia yang melihat sosok Qiya. Cepat menemui dokter yang tak lain kakak iparnya. Ada rasa sayang pada saudara suaminya. Wajah yang sedikit mirip Ibrahim membuat Nur merasakan sedikit melepas rasa rindu pada wajah yang tak bisa ia tatap satu bulan ini.

"Assalamualaikum..." Ucap Nur pelan.

Qiya dan Cita menoleh. Qiya tersenyum pada Nur.

"Wa'alaikumussallam. Mbak..... Nur Hasanah?" jawab Qiya dengan sedikit mengingat perempuan yang ada di depannya.

"Wah dokter masih mengingat saya?" Ucap Nur kagum. Padahal tanpa ia bertanya pun. Ia bisa menilai dari penampilan dan cara berbicara jika kakak suaminya itu memiliki kecerdasan.

"Alhamdulilah saya masih mengingat. Mbak Nur disini rumah nya?" Tanya Qiya.

"Ia di ujung perbatasan desa. Pagi ini lagi ingin sekali makan nasi uduk. Dan seprtinya kita kembali berjodoh. Boleh saya ikut makan disini?" Tanya Nur.

Qiya dan Cita menjawab kompak.

"Boleh dong." ucap dua dokter muda itu.

Namun saat Nur kembali ke arah asisten rumah tangganya. Ia setengah bersembunyi dari pandangan Qiya. Ia tak ingi.Anak Ayra itu melihat dirinya dan bertanya tentang perihal ia bekerja sebagai asisten Nur. Qiya tentu mengenal dirinya. Karena ia cukup lama bekerja di kediaman Rafi dan Aisha. Anak-anak Ayra sering bermain dengan Bilqis anak majikannya.

"Aduh Non... Maaf kita makan dirumah saja. Ini bahaya. Pak Bram sudah pesan sama saya." Ucap perempuan paruh baya itu. Namun Nur tersenyum. Ia tahu jika asistennya khawatir jika dirinya bertemu Qiya. Melihat sang asisten rumah tangga yang terlihat gelisah ia pun kembali ke arah Qiya dan Cita yang asyik menikmati nasi uduk dan teh hangat.

"Maaf sepertinya asisten suami saya tidak mengizinkan untuk makan disini. Saya makan dirumah saja. Maaf ya Dok..." Ucap Nur pelan lalu pergi meninggalkan satu pasang sahabat itu.

Nur mengambil pesanannya. Ia pun meninggalkan warung nasi uduk itu. Namun selepas kepergian Nur. Tanpa penjual nasi uduk sadari jika asisten rumah tangga Nur meninggalkan ponselnya tepat di tempat ia duduk tadi.

"Wah kunci rumahnya sepertinya yang ketinggalan ini." Ucap penjual nasi uduk itu.

Mereka pun menawarkan diri untuk mengantar kunci itu kekediaman Nur. Setibanya di sebuah Vila cukup mewah membaut Qiya menganga dan tak percaya.

"Wowow... Ada vila bagus dan mewah kek gini di tengah desa dan perkebunan ya Qiy." Ucap Cita.

Qiya hanya tersenyum. Ia pun mengajak sahabat nya untuk masuk. Mereka telah di hadang oleh satpam yang bertugas di kediaman Nur.

"Maaf mbak. Mau bertemu siapa? Dan ada perlu apa?" Tanya sang satpam.

Cita pun menyatakan apa yang menjadi maksudnya. Lalu sang satpam pun menghubungi pemilik vila itu melalui interkom. Mereka pun diperbolehkan masuk. Setibanya di dalam ruangan depan. Mereka disambut pemilik vila itu.

"Dokter Qiya..." Ucap Nur tak percaya.

"Ini Mbak. Saya mau kembalikan benda yang tertinggal. Kami pikir kunci rumah. Jadi kami antar kemari." Ucap Qiya.

Ia menyerahkan kunci yang di ikat dengan sebuah mainan kunci. Mereka pun berbicara saling berbagi pengalaman. Cita pun merasa senang karena mendapatkan makanan lagi alias puding yang diberikan Nur. Sang asisten yang tak tahu jika tamunya adalah Qiya. Kaget setengah mati, ketika ia membawa nampan yang berisi dua gelas jus dan satu puding.

Qiya yang melihat asisten Aisha itu sedikit mengerutkan dahinya.

"Mbok... " Ucap Qiya sambil penasaran.

"Eh... Non Qiya... Wah kok bisa sampai disini?" Tanya asisten Rumah tangga Nur.

Tangannya terlihat sedikit gemetar. Ia pun menyerahkan minuman dan puding itu ke arah tamunya.

"Saya internship disini. Mbok sendiri?" Tanya Qiya cepat.

"Owh... ini keponakan saya... jadi saya berhenti dari tempat Bu Aisha." Ucap Asisten rumah tangga Nur itu.

Saat mereka selesai berbincang mereka pun berpamitan. Namun satu hal yang mengganggu Qiya. Parfum yang di gunakan Nur sama persis dengan parfum Ayra dan Bram. Dan Qiya sedikit mengerutkan dahinya saat pipinya menempel pada pipi Nur.

"Kenapa aromanya bisa mirip sama aroma Parfum Mama dan Papa?" Tanya dirinya dalam hati.

Nur yang suka dengan aroma Ayra. Ia meminta sang ibu mertua membelikannya parfum itu. Namun seketika otaknya yang pintar itu kembali teringat akan percakapan Beberapa perawat yang .beberapa hari dulu berbicara tentang Nur. Perawat yang merupakan tetangga Nur itu mengatakan jika Nur adalah simpanan pengusaha sukses di kota.

"Astaghfirullah.... Qiy... jangan berpikir yang tidak-tidak. Semua orang bisa membeli parfum yang sama. Papa mu tak mungkin serendah. Papa begitu mencintai Mama. Maka tak mungkin Papa berpaling apalagi sampai mendua." Qiya kembali bermonolog di dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

Muammanatul Khoir

Muammanatul Khoir

Saya penasaran kk, kira2 parfum apa yang biasa dipakai ayra dan bram???

2023-10-13

4

AFie YoGie's

AFie YoGie's

apanya yg dibuat thor.. hihi

2023-07-23

1

Laila Atstanie

Laila Atstanie

masyaallah karya autor semoga selalu membawa kebaikan untik semua pembacanya amin
sehat selalu thor

2023-02-07

4

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!