Disaat Keluarga Bram saling menenangkan, saling memberikan semangat. Di keluarga Pak Rendra harus terlihat perdebatan. Hilman yang cepat pulang karena merasa frustasi akan kejadian di rumah sakit. Ia sebenarnya sangat menyukai Qiya. Namun karena ayahnya adalah pimpinan tertinggi partai di kotanya. Maka ia yang di telpon saat sang ayah menghadiri proses pemakaman Pak Erlangga.
Lelaki sarjana ilmu politik itu masuk kerumah berniat untuk menenangkan diri di kamarnya. Namun langkahnya harus terhenti karena mendengar penuturan dari lelaki yang merupakan ayahnya.
"Papa sudah menemui Pak Bram tadi.Papa juga sudah membatalkan pernikahan kamu dengan Qiya." Ucap Pak Rendra dengan santai sambil memberi makan ikan yang ada di Aquarium miliknya.
Hilman cepat berjalan ke arah lelaki itu.
"Pa... Kenapa papa tidak menanyakan pada Hilman dulu? Hilman sudah besar Pa. Dan apakah papa tak punya hati nurani? Keluarga mereka sedang berduka Pa...." Hilman berdiri di belakang Pak Rendra.
Lelaki paruh baya itu tak membalik tubuhnya. Ia masih menatap ikan hias di hadapannya. Hilman menarik napasnya dalam. Ia duduk di sofa yang nada diruangan itu.
"Dari dulu. Papa selalu membuat keputusan untuk hidup ku. Aku tahu, aku anak satu satunya Papa. Tapi... aku punya hati pa. Aku ingin memilih sendiri jalan hidup ku." Ucap Hilman pelan.
Ia kecewa pada Pak Rendra. Ia bahkan belum membuat keputusan. Tetapi ayahnya justru memutuskan lebih dulu. Dan langsung menyampaikan pembatalan pernikahan itu dengan keluarga Bram.
"Papa tahu, jika bukan karena kakek. Mungkin lamaran ku kemarin akan ditolak oleh Qiya. Banyak lelaki yang ingin meminangnya Pa. Banyak lelaki yang mengagumi dia. Papa menghancurkan hidup ku berkali-kali. Aku seperti boneka di dalam kehidupan ku!" Hilman berjalan meninggalkan Pak Rendra yang tak bergeming sedikitpun dari tempatnya.
Tiba di kamarnya, Hilman membersihkan diri. Ia membaca kalam-kalam yang tertulis indah. Entah kenapa ketika membuka lembaran kitab suci bernama Al Qur'an itu, tangannya memilih membuka lembaran di mana ia menangis ketika bibirnya membaca surat Qs. Al-Baqarah ayat 216 .
Matanya terus meneteskan butiran bening itu. Ia berhenti lalu membaca terjemahan demi terjemahan ayat yang ia baca.
"Sungguh aku berharap bisa memiliki istri secantik kamu Qi. Cantik luar dalam. Aku tidak akan membiarkan pernikahan kita batal. Aku akan menemui kakek. Aku yakin kakek bisa membantuku." Hilman
Hilman bergegas menuju satu kediaman. Dimana sang kakek yang bernama Pak Toha. Lelaki itu tinggal bersama anak bungsunya. Ia melajukan mobilnya cukup cepat. Hingga tak butuh waktu lama. Ia tiba di tujuannya dalam waktu 25 menit. (Pak Toha ini adalah seseorang yang dekat dengan Kyai Rohim di masa muda sang kyai. Kalian bisa baca kisahnya di Laila Untuk Kang Rohim).
Tiba di sebuah rumah yang bernuansa alam. Saat tiba di dalam. Ia menanyakan keberadaan sosok yang ia cari.
"Kakek mana Tan?" Tanya Hilman pada adik kandung ayahnya.
"Ada, sedang di kamarnya." Ucap sang bibi.
Lelaki itu menuju ke satu kamar tepat di dekat anak tangga. Ia mengetuk pintu kamar sang kakek.
"Masuk." Suara khas orang tua terdengar ketika Hilman mengetuk pintu kamarnya. Hilman masuk dan duduk di tempat tidur sang kakek. Pak Toha membuka kacamatanya. Ia sudah cukup lemah di usianya yang tak lagi mudah. Ia bahkan harus duduk di kursi roda karena sudah tak mampu untuk berjalan.
"Ada apa Man?" Tanya Pak Toha curiga.
Ia melihat wajah cucu yang semasa kecilnya selalu dititipkan sang anak. Karena sibuknya anak dan menantu mencari rezeki. Bahkan Pak Toha dan istri pun di boyong ke kota kala istri Pak Rendra mendapatkan pekerjaan. Jadi ia dan istri mengasuh cucunya yang tak lain adalah Hilman.
"Ada apa? katakan. Kamu ada masalah? apa kamu berselisih pendapat lagi dengan Papa mu?" Tebak Pak Toha.
Hilman memegang lutut Pak Toha yang berada di balik selimut.
"Papa membatalkan pernikahan ku dengan Qiya Kek. Dan keluarga Qiya sedang mengalami duka. Pak Erlangga meninggal dunia. Adik Qiya yang bernama Ibrahim juga meninggal dunia Kek." Ucap Hilman lirih.
"Selalu seperti itu. Papa mu itu selalu egois. Itulah kenapa dari dulu Kakek selalu cerewet untuk mendekatkan diri di agama. Agama akan menjadi bekal juga rem yang baik untuk diri kita. Papa mu itu terlalu sombong"
"Kek. Bantu Hilman untuk menjelaskan pada Keluarga Qiya jika aku tak ingin pernikahan itu di batalkan." Pinta Hilman.
Lelaki itu pun menceritakan semua sumber masalahnya.
"Wajar jika keluarganya marah. Kakek pun jika ada dia posisi mereka akan melakukan hal yang sama. Dan Qiya perempuan yang tumbuh sesuai perkembangan zaman dan Kakek yakin ia akan sama seperti Umi Laila, Ayra. Kakek saksi hidup bagaimana Umi Laila selama hidupnya dari muda hingga memiliki pesantren besar, dan ia bisa mendidik ke empat putrinya menjadi perempuan yang luar biasa. cantik luar dalam." Ucap Pak Toha sambil melihat foto dirinya dan ketiga orang yang terlihat berada di Mekkah.
"Sungguh aku Ingin memiliki istri seperti Qiya Kek..." Ucap Hilman pelan.
"Kita ke kali Bening besok. Kamu antar kakek. Kakek akan meminta bantuan Umi Laila. Mudah-mudahan beliau bisa membantu untuk memperbaiki hubungan ini. Dan pulang dari sana Kakek ingin berbicara dengan Papa mu." Pak Toha menghela napas nya pelan.
"Baik kek. Terimakasih." Ucap Hilman pelan..
"Itulah kenapa kakek tak ingin ikut Papa mu. Kakek lebih nyaman bersama Tante mu. Walau rumahnya tak semewah milik papa mu. Tapi Tante mu dan suaminya bisa menghargai perasaan orang lain terlebih kakek yang orang tua mereka." Kembali Pak Toha berkeluh kesah tentang sifat anaknya.
Hilman pun menyadari jika papanya cukup keras dan egois. Ia ingat betul saat kakenya meminta agar dulu dirinya mondok. Namun saat tamat SMA ia malah di tarik dari pondok pesantren. Bahkan ia masih ingat jelas kata-kata Pak Rendra ketika Hilman sudah nyaman di pondok dan ingin kuliah sambil mondok.
"Halah. Mau jadi apa kamu kalau mondok."
Karena bagi Pak Rendra, sukses itu adalah punya banyak harta dan jabatan di dunia. Baginya urusan akhirat adalah urusan nomor sekian. Yang terpenting adalah bagaimana dirinya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya selama hidup. Dan mendapatkan pujian dari banyak orang jika ia sukses.
Hilman masih bermunajat di dalam hatinya agar ia tetap bisa menikah.
"Kali ini aku tak ingin diatur lagi oleh Papa. Ini hidup ku. Aku akan menentukan sendiri jalan hidup ku." batin Hilman.
Keesokan harinya Pak Toha pun ke Kali Bening diantar oleh Hilman. Dan tanpa mereka sadari jika mobil mereka dengan mobil keluarga Bramantyo beriringan menuju satu kediaman.
Saat Hilman keluar dari mobilnya dan membantu sang kakek duduk di kursi roda, Satu keluarga memandang Hilman. Namun dua lelaki menatap tajam Hilman. Seperti singa yang masih terlihat lapar walau kemarin sempat meluapkan emosinya pada lelaki yang pernah melamar Qiya dengan sebuah mobil yang merk-nya ada RV nya.
"Qiya...." Kedua netra Hilman memotret gadis idaman hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Tantina Wyvaldia
boleh japri, minta nomer hp, kak?
2024-01-16
3
meE😊😊
krn brharap lbh sma makhluk itu hny akn kecewa yg qt dptkn
2023-02-02
4
Riana
orang tua ingin yang terbaik buat anaknya😁entahlah namanya jg orang tua yg gak ingin anaknya menderita
2023-01-12
0