(Izinkan aku minta maaf sama kalian yang kemarin sempet emosi. Adapun aku cuma ingin lihat seberapa merasuk sih Ayra ini di hati kalian. Ternyata aku terharu, kalian. begitu menyayangi Ayra dan Bram. Sungguh Pesona Ayra udah masuk ke hati kalian ya 🤗🤗🤗. Sungguh aku menunggu komentar kalian. Karena sungguh komentar adalah booster terbaik buat Auhtor.... jadi Like, dan Komentar ya biar aku ga kasih senam jantung lagi ,😁)
Hari itu putri Ayra sedang fokus di dalam kamarnya. Ia sedari pagi tidak keluar dari kamar. Kebetulan putri Ayra itu memang biasa puasa Senin Kamis. Maka pagi itu ia masih menjalankan puasanya. Ia belum keluar dari kamar setelah shalat Shubuh.
Beberapa hari sebelumnya putri Ayra itu sudah sibuk di depan laptopnya. Ia sibuk berselancar mencari wahana isip.
Wahana isip adalah adalah fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, dan Puskesmas yang digunakan untuk kegiatan praktik dokter internsip dan telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh KIDI Pusat.
Qiya sebenarnya sudah menentukan pilihan pada satu rumah sakit. Ia sering mendengar nama rumah sakit itu. Disamping itu jarang yang tak terlalu jauh dari ibukota. Ia masih ingin menemui keluarganya. Qiya terbilang gadis yang ceria, mandiri, cerdas dan sedikit manja pada Mama nya. Namun di mata teman-teman, ia adalah gadis yang welcome pada siapa saja. Bahkan Qiya memiliki teman satu profesi dari masuk kuliah bernama Cita. Dimana cita tidak beragama Islam.
Gadis Ayra itu sudah terbiasa di didik dari kecil tentang rasa welas asih. Bukan hanya pada yang seagama dan sama keyakinan. Tetapi juga pada mereka yang berbeda keyakinan. Bagi Qiya, orang non Islam akan melihat Islam itu sendiri dari pribadi muslim itu sendiri. Maka Qiya membawa agamanya dalam bermasyarakat tanpa mengucilkan teman yang tak seagama dengannya. Sehingga tak heran jika pagi itu teman nya yang bernama Cita juga terbiasa datang kerumahnya dan mengetuk pintu kamar putri Ayra setelah di persilahkan Ayra untuk mencari sendiri dimana temannya itu. Seluruh keluarga Ayra sudah mengenal teman nya yang biasa menggunakan motor matic ketika menjemput anak mereka.
"Kamu masuk saja Cit. Dari pagi dia tidak keluar kamar. Katanya lagi mencari wahana." Ucap Ayra setelah menerima tangan Cita padanya.
"Iya Bu. Pasti itu anak silent ponselnya. Saya dari tadi kirim pesan." Ucap Cita sambil berjalan ke arah kamar Qiya.
Saat Cita mengetuk kamar sahabatnya. Qiya pun membuka pintu kamar.
"Cepet banget nyampenya. Baru mau balas pesan mu Cit." Seloroh Qiya sambil cepat menutup pintunya. Karena ia sedang mengenakan daster berlengan pendek. Ia Kembali mengunci kamarnya.
"Ya ampun Bu dokter. itu pesan di lihat kirimnya jam berapa. Lah situ baru buka sekarang. Aku sudah lewat berpaa jembatan kesini. Situ malah baru mau bales. Gimana udah masuk web?" Tanya cita.
"sudah. Tapi masih menunggu." ujar Qiya.
"Berharap keajaiban biar kita bersama ya Qiy. Aku tak bisa jauh-jauh dari dirimu." Ucap Cita yang rambutnya sedikit keriting itu.
"Kacamata baru Cit? emang udah Minus matamu?" Tanya Qiya.
"Kan sudah dokter Qiy. Biar Gaya, keren ga? dapat ga feelnya? Udah kayak dokter spesialis ya?" Ucap Cita sambil berfose layaknya model. Kacamata yang bundar dan menutupi hampir pipi nya membuat ia memang terlihat seperti orang yang cerdas. Padahal ia bisa lulus kedokteran karena ketekunannya.
Cita banyak belajar melalui Qiya. Karena ketekunannya ia berhasil lulus. Berbeda dengan putri Ayra itu. Qiya memang memiliki cita-cita menjadi dokter. Hal itu timbul ketika ia kehilangan Kyai Rohim. Ia berniat ingin menjadi dokter. Maka kecerdasan yang ia miliki pun mengantarkan dirinya menjadi seorang dokter walau belum memiliki Surat Izin Praktek.
"Pilih yang Regional kan Cit?" tanya Qiya.
"Kemarin katanya ambil yang nasional. Gimana sih Qiy." Gerutu Cita ketika melihat layar laptop sahabatnya itu
"Aku ga bisa jauh-jauh. Kasihan Mama, Eyang." Ucap Qiya.
"Eh btw, kamu beneran batal nikah sama Hilman?" Tanya Cita sambil membuka layar laptopnya dan duduk di tempat tidur Qiya.
"Udah beredar pemberitahuannya ya Cit?" Tanya Qiya sambil membalik kursi hidrolik nya sehingga menghadap Cita.
"Udah. Satu alumni geger di grub. Kamu ga buka grub?" Tanya Cita.
"Ga. Males. Udah Deket pilihan gini pasti saling sindir calon pimpinannya masing-masing terus nanti salih hujat. Ntar jadi menurunkan imun ku... " Qiya melemparkan senyum. Kembali ia memutar kursinya hingga menghadap layar laptop.
"Pantes pintar, ga punya waktu buat hal yang ga ada gunanya." Ucap Cita.
Ia memang mengakui. Grub yang ada di ponselnya memang akhir-akhir ini dijadikan ajang saling sindir, saling pamer untuk kandidat calon bupati dan calek yang mereka jagokan. Dan bisa dipastikan akan ada perdebatan dan berakhir saling hujat di akhir perdebatan vya online itu. Dan Qiya tak pernah sakalipun muncul mengomentari hal-hal seperti itu. Gadis Ayra itu akan muncul jika hal yang menyangkut tugas atau informasi bermanfaat.
Menit berganti menit. Terlihat Qiya mulai reload webpage di layar laptopnya berkali-kali. Ia mengklik berkali-kali. Tangan Kiri Qiya sudah siap dengan 'klik command\+F" Untuk searching wahana yang akan ia pilih. Cukup lama Qiya menunggu loading di layar laptop itu berputar-putar.
Dan dengan sabar putri Bram itu sambil menyenandungkan shalawat favorit nya 'Man ana'. Sambil kepalanya ikut bergoyang-goyang namun jari dan tatapannya masih tertuju pada layar yang ada di hadapannya. Namun yang ditunggu tak muncul terbuka. Setelah gadis itu berkali-kali me refresh masih juga tampilan itu tak berubah.
"Servernya Down kali Cit." Ucap Qiya sambil menatap layarnya. Sedang yang diajak bicara sibuk mengunyah roti.
"Hehe... maaf Qiy. Lupa kalau kamu puasa. Aku tidak sempat sarapan tadi." Ucap Cita malu ketika sahabatnya menoleh ke arah ia yang ada di atas kasur Qiya.
"Ih.... Ga di atas kasur juga kali Citaaaa...." Ucap Qiya melotot. Ia tak percaya temannya makan roti diatas kasur dengan santainya.
"Hehehe... Lupa Bu Dokter." Seloroh Cita sambil cepat pindah ke atas karpet yang ada di sisi Qiya.
"Kayaknya tadi pas milih yang regional, down servernya." ucap Qiya pelan.
"Wei... Wei... Wei... rame bener di grub Qiy. Lah kita belum dapet Qiy. Nih malah mereka udah pada pamer gambar wahana yang mereka pilih... adem bener dah." Gerutu Cita melihat grub WA begitu ramai teman-teman mereka memamerkan bahwa mereka telah mendapat wahana.
Adik Ammar itu tampak menghela napas. Ia berdoa dalam hatinya.
"*Pasrah Rabb... terserah njenengan mau dapat wahana di mana. Saya manut Gusti*...." Batin Qiya.
Ia lupa, ia terlalu berambisi berapa hari ini. Ia ingin tempat sesuai keinginannya. Sehingga mungkin loading dibuat mengingatkan dirinya. Bahwa apa yang diajarkan guru dan ibunya bahwa lakukan semua sesuatu itu sesuai yang Allah inginkan bukan yang kita inginkan.
Dengan melafazkan basmalah, Qiya kembali merefresh laptopnya.
"Qiy. Nih ada yang nawarin di wahana mereka masih kosong. Siapa tahu bisa kesitu kita berdua. Pas ga jauh dari ibukota tapi cukup masih belum terlalu ramai kayaknya tempatnya." Ucap Cita cepat.
Qiya melihat ponsel Cita, ia mencoba saran temannya. karena ia merasa cocok dengan wahana yang ditawarkan teman mereka. Dan betul saja. Beberapa menit kemudian web itu terbuka dan laptop yang berwana hitam tadi berubah menjadi berisi web Isip.
Qiya mencari informasi beberapa wahana yang ia anggap cocok dan Cita pun mengikuti pilihan Sahabatnya. Ia mengklik sama dengan Qiya.
Dan mata cita seakan terbelalak ketika melihat ia resmi menjadi peserta Isip di salah satu kecamatan yaitu rumah sakit salah satu perkebunan milik pemerintah. Yang membuat sahabat anak Ayra itu hampir berteriak histeris. Daerah yang dipilih oleh Qiya adalah daerah yang masih masuk statusnya 3T.
Daerah 3T adalah daerah yang tergolong dalam daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
"Qiyaaaaaaa! Kamu mau kita mati lumutan di daerah itu. Itu daerah 3T.!" Teriak Cita yang baru saja menelan potongan roti terakhir nya.
"Hehehe.... Sesekali keluar dari zona aman dan nyaman. Setidaknya aku ingin merasakan hidup dimana orang tidak mengenal siapa papa ku. Siapa mama ku. Siapa Mbah Kung ku... Dan...." Ucapan Qiya terhenti. Ia seketika teringat adik kesayangannya yang di kabarkan menjadi salah satu jaringan teroriiiis.
Namun kabar dari Ammar yang mengatakan bahwa Ibrahim tidak terlibat jaringan itu. Ammar masih di luar negeri mencari informasi tentang adik laki-laknya. Sehingga Qiya merasa cukup tenang walau masih sedih.
"Semoga Kamu masih hidup Im. Dan Allah melindungi kamu dimanapun kamu berada."
Dan saat Sore hari, Qiya mengantar sahabatnya ke basah atau ruang makan untuk makan terlebih dahulu. Karena rumah temannya cukup jauh dari rumahnya. Saat bertemu Bram dan Ayra di ruang bawah, Qiya pun menyampaikan bahwa ia telah mendapatkan wahananya.
"Sudah di daerah X Pa."
Seketika Pupil mata Bram cukup membesar.
"Kenapa pa kok kaget gitu?" tanya Qiya.
"Tidak pindah saja ke tempat lain Qiy? Itu daerah 3T bukan." Ucap Bram.
"Ga bisa Pa. Itu milihnya aja susah. Lagian tidak apa-apa biar anak papa ini keluar dari nama besar Papa." Ucap Qiya semangat.
Ayra terlihat senang. Namun Bram sedikit khawatir. Ia sedang menyembunyikan Nur di tempat yang sama menjadi tempat Qiya Internship.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
asiah puteri mulyana
pokoe wess author jenius..aku pdmuu thoor 😁
2024-03-06
0
Ross Ariestha
duuh.. kenapa gak terbuka aja siih bram sm ayra. kok maen sembunyi" gt sii
2024-01-07
2
💞R0$€_22💞
Sebenarnya ga harus disembunyikan dr keluarga inti jg x Bram..bagaimanapun Nur itu kan menantu, mana lagi hamil anak ibrahim, kasian jika harus menanggung kesedihan sendiri...dan ga mgkn kan keluarga bs jaga rahasia..
2023-08-21
3