10 Memilih Wahana Internship

(Izinkan aku minta maaf sama kalian yang kemarin sempet emosi. Adapun aku cuma ingin lihat seberapa merasuk sih Ayra ini di hati kalian. Ternyata aku terharu, kalian. begitu menyayangi Ayra dan Bram. Sungguh Pesona Ayra udah masuk ke hati kalian ya 🤗🤗🤗. Sungguh aku menunggu komentar kalian. Karena sungguh komentar adalah booster terbaik buat Auhtor.... jadi Like, dan Komentar ya biar aku ga kasih senam jantung lagi ,😁)

Hari itu putri Ayra sedang fokus di dalam kamarnya. Ia sedari pagi tidak keluar dari kamar. Kebetulan putri Ayra itu memang biasa puasa Senin Kamis. Maka pagi itu ia masih menjalankan puasanya. Ia belum keluar dari kamar setelah shalat Shubuh.

Beberapa hari sebelumnya putri Ayra itu sudah sibuk di depan laptopnya. Ia sibuk berselancar mencari wahana isip.

Wahana isip adalah adalah fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, dan Puskesmas yang digunakan untuk kegiatan praktik dokter internsip dan telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh KIDI Pusat.

Qiya sebenarnya sudah menentukan pilihan pada satu rumah sakit. Ia sering mendengar nama rumah sakit itu. Disamping itu jarang yang tak terlalu jauh dari ibukota. Ia masih ingin menemui keluarganya. Qiya terbilang gadis yang ceria, mandiri, cerdas dan sedikit manja pada Mama nya. Namun di mata teman-teman, ia adalah gadis yang welcome pada siapa saja. Bahkan Qiya memiliki teman satu profesi dari masuk kuliah bernama Cita. Dimana cita tidak beragama Islam.

Gadis Ayra itu sudah terbiasa di didik dari kecil tentang rasa welas asih. Bukan hanya pada yang seagama dan sama keyakinan. Tetapi juga pada mereka yang berbeda keyakinan. Bagi Qiya, orang non Islam akan melihat Islam itu sendiri dari pribadi muslim itu sendiri. Maka Qiya membawa agamanya dalam bermasyarakat tanpa mengucilkan teman yang tak seagama dengannya. Sehingga tak heran jika pagi itu teman nya yang bernama Cita juga terbiasa datang kerumahnya dan mengetuk pintu kamar putri Ayra setelah di persilahkan Ayra untuk mencari sendiri dimana temannya itu. Seluruh keluarga Ayra sudah mengenal teman nya yang biasa menggunakan motor matic ketika menjemput anak mereka.

"Kamu masuk saja Cit. Dari pagi dia tidak keluar kamar. Katanya lagi mencari wahana." Ucap Ayra setelah menerima tangan Cita padanya.

"Iya Bu. Pasti itu anak silent ponselnya. Saya dari tadi kirim pesan." Ucap Cita sambil berjalan ke arah kamar Qiya.

Saat Cita mengetuk kamar sahabatnya. Qiya pun membuka pintu kamar.

"Cepet banget nyampenya. Baru mau balas pesan mu Cit." Seloroh Qiya sambil cepat menutup pintunya. Karena ia sedang mengenakan daster berlengan pendek. Ia Kembali mengunci kamarnya.

"Ya ampun Bu dokter. itu pesan di lihat kirimnya jam berapa. Lah situ baru buka sekarang. Aku sudah lewat berpaa jembatan kesini. Situ malah baru mau bales. Gimana udah masuk web?" Tanya cita.

"sudah. Tapi masih menunggu." ujar Qiya.

"Berharap keajaiban biar kita bersama ya Qiy. Aku tak bisa jauh-jauh dari dirimu." Ucap Cita yang rambutnya sedikit keriting itu.

"Kacamata baru Cit? emang udah Minus matamu?" Tanya Qiya.

"Kan sudah dokter Qiy. Biar Gaya, keren ga? dapat ga feelnya? Udah kayak dokter spesialis ya?" Ucap Cita sambil berfose layaknya model. Kacamata yang bundar dan menutupi hampir pipi nya membuat ia memang terlihat seperti orang yang cerdas. Padahal ia bisa lulus kedokteran karena ketekunannya.

Cita banyak belajar melalui Qiya. Karena ketekunannya ia berhasil lulus. Berbeda dengan putri Ayra itu. Qiya memang memiliki cita-cita menjadi dokter. Hal itu timbul ketika ia kehilangan Kyai Rohim. Ia berniat ingin menjadi dokter. Maka kecerdasan yang ia miliki pun mengantarkan dirinya menjadi seorang dokter walau belum memiliki Surat Izin Praktek.

"Pilih yang Regional kan Cit?" tanya Qiya.

"Kemarin katanya ambil yang nasional. Gimana sih Qiy." Gerutu Cita ketika melihat layar laptop sahabatnya itu

"Aku ga bisa jauh-jauh. Kasihan Mama, Eyang." Ucap Qiya.

"Eh btw, kamu beneran batal nikah sama Hilman?" Tanya Cita sambil membuka layar laptopnya dan duduk di tempat tidur Qiya.

"Udah beredar pemberitahuannya ya Cit?" Tanya Qiya sambil membalik kursi hidrolik nya sehingga menghadap Cita.

"Udah. Satu alumni geger di grub. Kamu ga buka grub?" Tanya Cita.

"Ga. Males. Udah Deket pilihan gini pasti saling sindir calon pimpinannya masing-masing terus nanti salih hujat. Ntar jadi menurunkan imun ku... " Qiya melemparkan senyum. Kembali ia memutar kursinya hingga menghadap layar laptop.

"Pantes pintar, ga punya waktu buat hal yang ga ada gunanya." Ucap Cita.

Ia memang mengakui. Grub yang ada di ponselnya memang akhir-akhir ini dijadikan ajang saling sindir, saling pamer untuk kandidat calon bupati dan calek yang mereka jagokan. Dan bisa dipastikan akan ada perdebatan dan berakhir saling hujat di akhir perdebatan vya online itu. Dan Qiya tak pernah sakalipun muncul mengomentari hal-hal seperti itu. Gadis Ayra itu akan muncul jika hal yang menyangkut tugas atau informasi bermanfaat.

Menit berganti menit. Terlihat Qiya mulai reload webpage di layar laptopnya berkali-kali. Ia mengklik berkali-kali. Tangan Kiri Qiya sudah siap dengan 'klik command\+F" Untuk searching wahana yang akan ia pilih. Cukup lama Qiya menunggu loading di layar laptop itu berputar-putar.

Dan dengan sabar putri Bram itu sambil menyenandungkan shalawat favorit nya 'Man ana'. Sambil kepalanya ikut bergoyang-goyang namun jari dan tatapannya masih tertuju pada layar yang ada di hadapannya. Namun yang ditunggu tak muncul terbuka. Setelah gadis itu berkali-kali me refresh masih juga tampilan itu tak berubah.

"Servernya Down kali Cit." Ucap Qiya sambil menatap layarnya. Sedang yang diajak bicara sibuk mengunyah roti.

"Hehe... maaf Qiy. Lupa kalau kamu puasa. Aku tidak sempat sarapan tadi." Ucap Cita malu ketika sahabatnya menoleh ke arah ia yang ada di atas kasur Qiya.

"Ih.... Ga di atas kasur juga kali Citaaaa...." Ucap Qiya melotot. Ia tak percaya temannya makan roti diatas kasur dengan santainya.

"Hehehe... Lupa Bu Dokter." Seloroh Cita sambil cepat pindah ke atas karpet yang ada di sisi Qiya.

"Kayaknya tadi pas milih yang regional, down servernya." ucap Qiya pelan.

"Wei... Wei... Wei... rame bener di grub Qiy. Lah kita belum dapet Qiy. Nih malah mereka udah pada pamer gambar wahana yang mereka pilih... adem bener dah." Gerutu Cita melihat grub WA begitu ramai teman-teman mereka memamerkan bahwa mereka telah mendapat wahana.

Adik Ammar itu tampak menghela napas. Ia berdoa dalam hatinya.

"*Pasrah Rabb... terserah njenengan mau dapat wahana di mana. Saya manut Gusti*...." Batin Qiya.

Ia lupa, ia terlalu berambisi berapa hari ini. Ia ingin tempat sesuai keinginannya. Sehingga mungkin loading dibuat mengingatkan dirinya. Bahwa apa yang diajarkan guru dan ibunya bahwa lakukan semua sesuatu itu sesuai yang Allah inginkan bukan yang kita inginkan.

Dengan melafazkan basmalah, Qiya kembali merefresh laptopnya.

"Qiy. Nih ada yang nawarin di wahana mereka masih kosong. Siapa tahu bisa kesitu kita berdua. Pas ga jauh dari ibukota tapi cukup masih belum terlalu ramai kayaknya tempatnya." Ucap Cita cepat.

Qiya melihat ponsel Cita, ia mencoba saran temannya. karena ia merasa cocok dengan wahana yang ditawarkan teman mereka. Dan betul saja. Beberapa menit kemudian web itu terbuka dan laptop yang berwana hitam tadi berubah menjadi berisi web Isip.

Qiya mencari informasi beberapa wahana yang ia anggap cocok dan Cita pun mengikuti pilihan Sahabatnya. Ia mengklik sama dengan Qiya.

Dan mata cita seakan terbelalak ketika melihat ia resmi menjadi peserta Isip di salah satu kecamatan yaitu rumah sakit salah satu perkebunan milik pemerintah. Yang membuat sahabat anak Ayra itu hampir berteriak histeris. Daerah yang dipilih oleh Qiya adalah daerah yang masih masuk statusnya 3T.

Daerah 3T adalah daerah yang tergolong dalam daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

"Qiyaaaaaaa! Kamu mau kita mati lumutan di daerah itu. Itu daerah 3T.!" Teriak Cita yang baru saja menelan potongan roti terakhir nya.

"Hehehe.... Sesekali keluar dari zona aman dan nyaman. Setidaknya aku ingin merasakan hidup dimana orang tidak mengenal siapa papa ku. Siapa mama ku. Siapa Mbah Kung ku... Dan...." Ucapan Qiya terhenti. Ia seketika teringat adik kesayangannya yang di kabarkan menjadi salah satu jaringan teroriiiis.

Namun kabar dari Ammar yang mengatakan bahwa Ibrahim tidak terlibat jaringan itu. Ammar masih di luar negeri mencari informasi tentang adik laki-laknya. Sehingga Qiya merasa cukup tenang walau masih sedih.

"Semoga Kamu masih hidup Im. Dan Allah melindungi kamu dimanapun kamu berada."

Dan saat Sore hari, Qiya mengantar sahabatnya ke basah atau ruang makan untuk makan terlebih dahulu. Karena rumah temannya cukup jauh dari rumahnya. Saat bertemu Bram dan Ayra di ruang bawah, Qiya pun menyampaikan bahwa ia telah mendapatkan wahananya.

"Sudah di daerah X Pa."

Seketika Pupil mata Bram cukup membesar.

"Kenapa pa kok kaget gitu?" tanya Qiya.

"Tidak pindah saja ke tempat lain Qiy? Itu daerah 3T bukan." Ucap Bram.

"Ga bisa Pa. Itu milihnya aja susah. Lagian tidak apa-apa biar anak papa ini keluar dari nama besar Papa." Ucap Qiya semangat.

Ayra terlihat senang. Namun Bram sedikit khawatir. Ia sedang menyembunyikan Nur di tempat yang sama menjadi tempat Qiya Internship.

Terpopuler

Comments

asiah puteri mulyana

asiah puteri mulyana

pokoe wess author jenius..aku pdmuu thoor 😁

2024-03-06

0

Ross Ariestha

Ross Ariestha

duuh.. kenapa gak terbuka aja siih bram sm ayra. kok maen sembunyi" gt sii

2024-01-07

2

💞R0$€_22💞

💞R0$€_22💞

Sebenarnya ga harus disembunyikan dr keluarga inti jg x Bram..bagaimanapun Nur itu kan menantu, mana lagi hamil anak ibrahim, kasian jika harus menanggung kesedihan sendiri...dan ga mgkn kan keluarga bs jaga rahasia..

2023-08-21

3

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!